
KAMPUS
Darel, Evan, Raffa dan keempat saudara sepupu mereka yaitu Melvin, Rendra, Dylan dan Aldan sudah berada di kampus.
Raffa sudah berada di dalam kelasnya karena mereka ada kuis pagi ini, begitu juga dengan Darel. Melvin dan Aldan berada di kelas musik. Sementara Rendra dan Dylan berada di ruang komputer.
^^^
Di kelas Darel sedang duduk di kursi sembari fokus dengan tugasnya. Dirinya sama sekali tidak melirik atau mempedulikan ocehan-ocehan para teman-teman sekelasnya.
Disaat Darel tengah fokus dengan tugasnya, 7 pemuda yang tak lain adalah teman sekelasnya menghampiri mejanya. Mereka adalah kelompok Block B.
BRAAKK..
Darel terkejut saat seseorang mengebrak mejanya, namun Darel tidak mempedulikan hal itu.
"Yak! Belagu amat nih bocah," ucap Korry.
"Hei, bocah! Kau anak baru ya?" tanya Nardy.
Sementara Darel tidak berniat sama sekali untuk menjawab atau pun melayani mereka semua.
Merasa tak dianggap, Nardy dan teman-temannya marah. Nardy ingin mengambil buku yang saat ini digunakan oleh Darel untuk menulis.
Namun bukan Darel namanya, jika Darel membiarkan kegiatannya diganggu.
Darel dengan gesitnya menahan tangan Nardy dengan kuat menggunakan tangan kirinya.
"Pergilah! Jangan menggangguku," sahut Darel tanpa melihat wajah lawan bicaranya.
Sementara para teman-teman sekelas lainnya hanya diam dan tidak ingin ikut campur. Mereka masih sayang dengan nyawa mereka.
"Yak! Beraninya kau melawan kami, hah?!" bentak Torra.
"Pergi dan jangan ganggu aku." Darel kembali mengulangi perkataannya.
Merasa diabaikan, Torra langsung menyerang Darel. Dengan gesitnya Darel menendang tempat di tulang kering kaki Torra dengan kuat.
DUUAAGHH..
"Aaakkhhh!" Torra berteriak kesakitan sembari melompat-lompat memegangi kakinya.
"Pergi! Atau aku patahkan tangan teman kalian ini!" teriak Darel sembari Darel yang meremat kuat tangan Nardy sehingga membuat Nardy merasakan perih di bagian pergelangan tangannya.
Sargy, Yolly, Herry dan Donny yang melihat wajah kesakitan Nardy akhirnya memilih mundur.
Melihat para musuhnya mundur, Darel tersenyum di sudut bibirnya lalu kemudian menghempaskan tangan Nardy.
"Tunggu pembalasanku," ucap Nardy.
"Ayo, pergi!"
^^^
Samuel bersama dengan sahabat-sahabat barunya berada di Perpustakaan. Mereka memang sengaja berkumpul disana untuk membahas sesuatu.
"Juan. Apa kau yakin, jika pemuda yang kemarin menolong kita adalah DL?" tanya Samuel.
"Yakin, Sam! Kebetulan saat itu aku duduk di sampingnya. Sama seperti saat ini. Kursi yang kau duduki itu adalah kursi yang diduduki oleh DL."
"Saat itu baik aku dan DL juga sama-sama sedang bermain game A Chinese Ghost Story. Dan dari situlah aku tahu, kalau dia adalah DL. Saat aku memperkenalkan namaku, dianya langsung pergi begitu saja. Bahkan wajahnya datar dan dingin gitu, beda saat waktu aku yang tidak sengaja menabraknya."
"Menabrak? Maksudmu?" tanya Razig.
Flashback On
BRUUKK..
Sarel terjatuh dan pantatnya terlebih dahulu mendarat sempurna di tanah.
"Aarrgghh!" Darel berteriak. "Aish. Kenapa sih hari ini aku sial sekali? Ini yang kedua kalinya aku diseruduk banteng. Lama-lama pantatku bisa tepos kalau setiap hari harus dipaksa mencium tanah," gerutu Darel.
Mendengar ucapan dari Darel membuat orang-orang yang berlalu lalang tersenyum gemas dan juga kasihan, termasuk Juan yang menabraknya. Lalu Juan pun segera membantunya dengan mengulurkan tangannya.
"Maaf. Aku tidak sengaja. Tadi aku buru-buru mau ke Perpustakaan!"
__ADS_1
Darel menatap wajah orang yang yang menabraknya itu, lalu berpikir sejenak atas perkataan orang tersebut.
"Perpustakaan."
Sementara Juan memperhatikan Darel bingung lalu tersenyum gemas melihat wajah imut Darel.
"Wajahnya cantik, manis, tampan, imut dan menggemaskan sekali. Padahal dia laki-laki," batin Juan.
"Hai," panggil Juan.
"Ach, iya." Darel menerima uluran tangan orang tersebut
Kini Darel telah berdiri sembari menepuk-nepuk pantatnya.
"Sekali lagi aku minta maaf ya. Aku benar-benar tidak sengaja. Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Juan.
Setelah itu, Juan pun pergi meninggalkan Darel sendiri. Baru beberapa langkah, Juan berhenti karena Darel memanggilnya.
"Hei, tunggu!"
Juan langsung berbalik dan menatap kearah Darel.
"Iya, ada apa?"
"Tadi kau mengatakan Perpustakaan?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Itu.. anu.. boleh aku ikut bersamamu kesana. Dari tadi aku memang sedang mencari letak Perpustakaan itu tapi tidak ketemu."
"Hm, baiklah. Ayo!"
Akhirnya Darel dan Juan pun pergi bersama menuju Perpustakaan.
Flashback Off
Mendengar cerita dari Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig pun tersenyum.
"Waktu itu DL terlihat kebingungan mencari letak Perpustakaan. Sama hal denganku yang juga buru-buru ingin ke Perpustakaan. Jadi aku tidak sengaja menabraknya. Tapi seketika wajahnya berubah tidak bersahabat saat aku memperkenalkan diri padanya."
Razig, Lucas, Juan dan Zelig yang mendengar ucapannya itu menjadi bingung.
"Samuel. Apa maksud dari ucapanmu itu?" tanya Zelig.
"Kami mendengarnya, Samuel!" sela Lucas.
"Maksudku adalah aku curiga jika DL itu adalah sahabat dari kak Azri, kakak sepupuku. Paman dan Bibi mengatakan padaku bahwa kak Azri memiliki tujuh sahabat. Paman dan Bibi juga menyebutkan satu persatu namanya. Nama mereka adalah Brian, Damian, Evano, Farrel, Kenzo dan Gavin. Saat aku bertanya siapa yang ketujuhnya, Paman dan Bibi tidak memberitahuku. Paman dan Bibi menyuruhku untuk mencarinya sendiri," sahut Samuel.
DEG..
Razig, Zelig, Lucas, Juan terkejut mendengar perkataan Samuel.
"Darel!" seru Juan, Razig, Lucas dan Zelig. bersamaan
Juan, Razig, Lucas dan Zelig saling berpandangan. Begitu juga dengan Samuel.
"Kalian kenal dengan Darel juga?" tanya Razig.
"Aku tahu namanya saja, tapi tidak dengan orangnya. Papa dan Mama yang memberitahu soal orang yang bernama Darel itu," kata Lucas.
"Aku juga. Papa dan Mamaku juga mengatakan hal yang sama padaku mengenai orang yang bernama Darel. Papa dan Mama mengatakan padaku kalau Darel itu adalah sahabat kak Damian, kakak sepupuku. Mereka sudah bersahabat selama 12 tahun lamanya. Dari mereka SD sampai mereka menyelesaikan SMA. Bahkan mereka memutuskan untuk kuliah di kampus yang sama. Namun, Tuhan berkata lain. kakakku pergi meninggalkan sahabatnya untuk selama-lamanya.." Razig menangis saat mendengar kabar kematian Damian, kakak sepupunya.
"Jadi kalian......?!" Perkataan Samuel terpotong.
"Iya. Aku adik sepupunya, kak Brian!" sahut Juan.
"Aku adik sepupunya, kak Evano!" ucap Zelig.
"Aku adik sepupunya, kak Farrel!" ucap Lucas.
"Jadi nama sahabat dari kak Azri yang ketujuh itu adalah Darel?" tanya Samuel.
"Dan aku juga yakin denganmu, Sam! Jika DL itu adalah Darel, sahabat dari kakak-kakak kita," ujar Juan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan. Seperti yang kita lihat, dia susah untuk didekati!" seru Razig.
__ADS_1
"Iya. Kemarin saja saat Juan mengenalinya. Justru dia mengatakan bahwa dia tidak mengenali Juan," pungkas Zelig.
"Saat aku memperkenalkan namaku padanya. Dia sama sekali tidak menyukaiku. Dia hanya menunjukkan wajah datar dan dinginnya," kata Juan.
"Bahkan Samuel, Lugas saat menunjuk kearah Darel. Begitu juga Darel yang menunjuk kearah kalian. Terlihat tatapan tak suka terhadap kalian berdua," kata Zelig.
"Hm!" Lucas dan Samuel mengangguk.
"Wajar saja jika dia tidak suka saat melihatku. Aku juga pernah tidak sengaja menabraknya," sahut Samuel.
"Apa?" teriak Razig, Juan, Lucas dan Zelig terkejut.
"Jadi kau juga pernah menabraknya, Sam?" tanya Juan.
"Hm." Samuel mengangguk.
"Kenapa kita bertiga melakukan hal yang sama?" celetuk Lucas.
"Apa?" Razig, Zelig, Juan dan Samuel terkejut.
"Jangan bilang kalau kau juga......." ucapan Samuel terpotong.
"Iya. Aku juga tidak sengaja saat itu menabraknya hingga kami berdua sama-sama terjatuh dan pantat kami mendarat di tanah," jawab Lucas.
"Ya, sudah! Yang penting sekarang ini kita sudah tahu seperti apa wajah dari sahabat kakak-kakak kita. Mulai sekarang kita harus memikirkan bagaimana cara mendekatinya dan menjadikan dia sahabat kita," tutur Zelig.
"Hm!" Juan, Samuel, Razig dan Lucas mengangguk.
"Lebih baik kita ke kelas sekarang," ajak Lucas.
Lalu mereka semua pun pergi meninggalkan Perpustakaan untuk menuju kelas.
^^^
Rendra dan Dylan yang sudah selesai dengan materi kuliah kini melangkahkan kakinya untuk mencari kelima saudaranya.
Saat Rendra dan Dylan melangkahkan kaki menyusuri koridor kampus, tiba-tiba ada suara yang memanggil mereka.
"Rendra, Dylan!"
Merasa dipanggil, Rendra dan Dylan pun melihat keasal suara. Dapat mereka lihat Melvin dan Aldan berlari kearah mereka.
"Melvin, Aldan!" seru Rendra dan Dylan bersamaan.
"Kalian mau kemana?" tanya Melvin.
"Yang jelas saat ini kita ingin mencari kalian berdua, Darel, Evan dan Raffa!" jawab Dylan.
"Apa jam kalian masih ada? Apa sudah selesai?" tanya Rendra.
"Jam kuliah kami masih ada. Mungkin sekitar pukul 1 siang kami pulang," jawab Melvin dan diangguki oleh Aldan.
"Lalu bagaimana dengan kalian?" tanya Aldan.
"Mungkin kami sampai sore. Sekitar pukul 5 baru kelar," jawab Dylan.
"Semoga Darel tidak sampai sore jadwal kuliahnya hari ini," ucap Melvin.
"Ya, semoga! Secara kan kesehatan Darel sedikit menurun dua hari ini. Apalagi semalam Darel sempat jatuh pingsan, walaupun Darel tidak sampai demam seperti yang dikatakan oleh kakak-kakaknya. Tapikan kita khawatir aja, jika terjadi sesuatu pada Darel saat masih di kampus!" kata Rendra.
Dylan, Melvin dan Aldan mengangguk dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Rendra.
Ketika Dylan, Melvin, Aldan dan Rendra sedang berjalan menuju lapangan kampus, salah satu dari mereka melihat keberadaan Darel.
"Itu Darel!" Aldan menunjuk kearah Darel yang kini berjalan menuju lapangan.
^^^
Darel melangkahkan kakinya kelapangan. Darel sedang mencari keberadaan kedua kakaknya yaitu Evan dan Raffa.
"Ach, sial. Kenapa aku pake acara banting ponsel segala sih? Jadi pusing sendirikan sekarang. Nggak bisa menghubungi si alien dan si bantet kan. Aaiisshh." gerutu Darel dengan terus melangkahkan kakinya.
Namun tiba-tiba Darel menghentikan langkanya saat melihat beberapa orang yang dikenalnya. Seketika raut wajah dan tatapannya berubah. Raut wajah yang dingin dan datar, serta tatapan yang tajam.
"Akhirnya aku menemukan kalian!" seru Darel.
__ADS_1