
Darel saat ini berada di lapangan bersama dengan sahabat-sahabatnya minus Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon. Mereka tengah memberikan hukuman kepada Raihan dan Atta. Keduanya melakukan kesalahan karena kedapatan membully salah satu mahasiswa. Dan juga keduanya datang terlambat.
"Ayo, lakukan lagi! pinta Brian.
"Apa kalian berdua mau berlama-lama disini sambil berpanas-panasan, hum?" tanya Azri.
"Lakukan push up sebanyak seratus kali," perintah Damian.
Mendengar perkataan dari Damian seketika membuat Raihan dan Atta membelalakkan matanya.
Ketika mereka hendak mengajukan protes. Evano dan Farrel langsung bersuara.
"Tambah menjadi seratus lima puluh kali!"
"Brengsek!"
"Sialan!"
Baik Raihan maupun Atta mengumpat di dalam hatinya masing-masing. Dan setelah itu, Raihan dan Atta melakukan apa yang diperintahkan oleh Darel dan sahabat-sahabatnya.
Melihat kepatuhan sekaligus ketakutan dari Raihan dan Atta membuat Darel, Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel tersenyum penuh kemenangan.
"Ini baru permulaan. Aku tahu kalian berdua terlibat dalam aksi sabotase rem motorku. Dikarenakan dewi fortuna memihak kepada kalian berdua sehingga kelakuan kalian tidak ketahuan. Hanya Zamy dan Arman yang ketahuan oleh sahabatku," batin Darel.
"Kenapa berhenti?" tanya Damian yang melihat Raihan yang berhenti melakukan push up.
"Gue capek, sialan!"
"Emangnya kita peduli? Jawabannya tentu saja tidak," sahut Farrel.
"Lakukan sampai selesai. Jika tidak selesai. Jangan harap kalian berdua meninggalkan lapangan ini," sahut Evano.
Ketika Darel, Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel sedang memberikan hukuman sembari mengerjai keduanya, tiba-tiba sang Dosen Luan Malachi datang. Laki-laki itu melihat dua mahasiswanya sedang melakukan push up. Sedangkan enam mahasiswa yang lainnya berdiri dengan senyuman mengembang di bibir masing-masing dengan tatapan mata menatap kearah Raihan dan Atta.
"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Luan.
Mendengar perkataan dan teriakan dari Luan membuat Darel, Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel langsung melihat kearah Luan.
"Menghukum mereka?"
Mendengar jawaban kompak dari Darel dan kelima sahabatnya membuat Luan menggeram marah.
"Memangnya mereka salah apa sehingga kalian memberikan hukuman kepada mereka?"
"Mereka terlambat datang ke kampus," jawab Azri.
"Kami tidak suka jika ada yang datang terlambat ke kampus disaat kami sedang melakukan tugas kami sebagai anggota Organisasi," jawab Brian dengan menatap wajah Luan sembari tersenyum manis.
Mendengar jawaban dari salah satu mahasiswanya yang bernama Brian membuat Luan merasa tersindir. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Anda sudah melakukan satu kesalahan tuan Luan! Anda tidak menerapkan ketidaksukaan anda kepada Raihan dan Atta. Jelas-jelas Raihan dan Atta datang terlambat. Bahkan mereka berdua kedapatan membully salah satu mahasiswa yang kuliah disini melalui jalur prestasi. Tapi anda meloloskan mereka berdua. Sementara untuk mahasiswa lainnya, anda dengan seenaknya memberikan hukuman!" Darel berbicara dengan tatapan matanya menatap wajah Luan yang juga menatap dirinya tak kalah tajam.
"Jadi Dosen itu harus adil dong. Jangan pilih kasih dan berat sebelah," ucap Farrel.
"Itulah alasan kami kenapa memberikan hukuman kepada Raihan dan Atta. Kami melakukan ini untuk menggantikan tugas anda," ucap Damian.
"Mungkin anda tidak sengaja atau lupa untuk memberikan hukuman kepada Raihan dan Atta. Jadi kami melakukannya," ucap Evano.
Mendengar perkataan dari Darel, Farrel, Damian dan Evano membuat Luan menatap marah kearah keempat mahasiswanya itu.
Luan menatap kearah Raihan dan Atta yang saat ini benar-benar kelelahan akibat push up yang tidak ada hentinya.
Kemudian Luan menarik pergelangan tangan Raihan dan Atta bermaksud meminta keduanya untuk menyudahi hukumannya.
Setelah itu, Luan membawa kedua mahasiswanya itu pergi meninggalkan lapangan, namun seketika langkahnya terhenti karena mendengar ucapan dan teriak dari Darel.
"Silahkan anda bawa mereka dari sini. Tapi ingat satu hal! Jika anda berbuat hal buruk terhadap mahasiswa dan mahasiswi lainnya hanya karena mereka terlambat dan sebagainya, maka aku dan sahabat-sahabatku akan lebih kejam lagi memberikan hukuman kepada kedua mahasiswa anda itu!" teriak Darel.
"Satu mahasiswa atau mahasiswi yang anda perlakukan buruk, maka dua kali lipat kami akan membalasnya kepada Raihan dan Atta!" teriak Brian.
__ADS_1
"Sampai detik ini dua mahasiswa anda yaitu Zamy dan Arman belum menampakkan batang hidungnya. Kami sudah menyiapkan hukuman untuk mereka berdua saat mereka datang ke kampus!" teriak Azri.
Mendengar ucapan dari Darel dan kedua sahabatnya membuat Luan benar-benar marah.
Setelah itu, Luan pergi dengan membawa Raihan dan Atta ke ruangannya untuk membahas hilangnya Zamy dan Arman. Padahal keduanya berada di markas Black Sharks milik Darel.
***
Di kediaman Nazik terlihat beberapa orang sedang berkumpul di ruang tengah.
"Bagaimana? Apa kau berhasil membuat bocah sialan itu mempercayai setiap ucapanmu?" tanya pria paruh baya yang berstatus kakak laki-laki tertua di keluarga Nazik.
"Belum kak. Aku juga heran kenapa bocah sialan itu tiba-tiba berani melawan setiap perkataanku ketika aku menghubunginya kemarin. Padahal ketika aku menghubunginya yang pertama kalinya. Bocah itu sepertinya percaya padaku. Terdengar jelas dari suara yang bergetar. Aku sangat yakin jika dia menangis," jawab sang adik laki-laki.
"Terus apa rencana selanjutnya kak? Kita tidak mungkinkan membiarkan orang yang sudah menyakiti Yagar dan kak Mala berkeliaran bebas diluar sana," sahut adik perempuannya.
"Tentu saja tidak, sayang! Kakakmu ini tidak akan membiarkan orang yang sudah menyakiti istri dan anaknya berkeliaran bebas diluar sana. Maka dari itu kita tetap terus meyakinkan bocah itu kalau dia bukan putra kandung dari Arvind Wilson dan Adelina Wilson. Jadi, dengan begitu bocah sialan itu akan pergi meninggalkan anggota keluarganya. Dengan begitu kita akan lebih mudah menghabisinya."
Mendengar perkataan dan perencanaan yang dibuat oleh kakak laki-lakinya membuat pria dan wanita itu tersenyum. Mereka tidak sabar untuk segera melakukan hal itu terhadap orang yang sudah menyakiti kakak iparnya dan keponakannya.
Pria paruh baya itu adalah Paxton Rafe Nazik, ayah kandung dari Yagar Nazik dan juga suami dari Heidi Mala Nazik, perempuan yang sudah disakiti oleh Darel ketika mendatangi kampus putranya.
Untuk kedua adiknya adalah Josh Dael Nazik dan Rissa Esmee Skylar. Serta suaminya yang bernama Hendrick Skylar.
"Lalu bagaimana kabar dari keponakannya kak Mala yaitu Luan? Apa dia berhasil melakukan pekerjaannya untuk menyakiti Darel dengan alibi sebagai seorang Dosen yang memberikan hukuman kepada mahasiswa atau mahasiswinya?" tanya Rissa.
"Masih sesuai rencana. Luan masih berperan sebagai Dosen disana dan fokus kepada bocah sialan itu. Saat ini masih aman," jawab Rafe.
"Sampai kapan rencana ini akan kita jalankan?" tanya Dael.
"Kita coba selam dua minggu. Jika dalam dua minggu bocah itu masih bersikap biasa saja, maka kita akan langsung bertindak."
Mendengar jawaban dari Raafe membuat Dael, Rissa dan Hendrick menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah!"
***
Saat ini semua anggota keluarga termasuk Darel berkumpul di ruang tengah untuk sekedar menghabiskan waktu bersama.
Darel kini tengah bermanja-manja dengan kakak tertuanya yaitu Davian Wilson dengan tidur di paha sang kakak sembari bermain game di ponselnya.
Mereka semua tersenyum ketika melihat Darel yang tiduran di paha Davian sembari bermain game di ponselnya.
Ketika Darel sedang asyik bermain game di ponselnya, tiba-tiba terdengar bunyi ponselnya yang satunya.
Darel memiringkan kepalanya ke samping lalu mengangkatnya sedikit. Tatapan matanya menatap kearah layar ponselnya. Tertera nama 'Noah' di layar ponselnya itu.
Darel seketika langsung menduduki pantatnya ketika melihat nama salah satu tangan kanannya di layar ponselnya. Kemudian tangannya itu mengambil ponsel tersebut lalu menjawabnya segera.
"Hallo, Noah! Apa kau sudah mendapatkannya?" Darel langsung ke pokok permasalahannya.
Sedangkan Noah yang berada di seberang telepon sedikit terkejut akan reaksi dari Bosnya itu.
Sementara anggota keluarganya menatap kearah Darel yang sedang berbicara dengan orang yang bernama 'Noah'.
"Siapa Noah?"
"Apakah dia salah satu tangan kanannya Darel yang lain?"
Itulah yang saat ini sedang dipikirkan oleh anggota keluarga Wilson tentang Noah.
Namun detik kemudian, Noah tersenyum. Dirinya benar-benar kagum akan kepekaan Bosnya itu setiap dirinya dan yang lainnya ingin memberikan kabar.
"Sepertinya Bos sudah tidak sabaran?" ledek Noah.
"Iya, Noah! Aku memang tidak sabaran lagi. Sekarang katakan!"
"Baiklah, Bos! Saya sudah mendapatkan latar belakang keluarga dari orang-orang yang sudah menghubungi dan juga yang mengirimkan pesan kepada Bos!"
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Noah, seketika terukir senyuman manis di bibir Darel. Dirinya benar-benar bahagia mendengarnya.
Melihat senyuman manis terpampang di bibir Darel membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga Wilson lainnya langsung paham. Mereka meyakini bahwa Noah memberikan kabar baik kepada Darel.
"Katakan! Dari keluarga mana saja mereka?" tanya Darel.
"Hanya dua keluarga saja. Sementara untuk yang mengirim Bos pesan itu adalah orang-orang suruhan dari kedua keluarga itu."
"Siapa?"
"Kedua keluarga itu adalah keluarga Nazik dan keluarga Malachi!"
"Apa?!"
Darel seketika berdiri dari duduknya ketika mendengar dua nama keluarga yang disebut oleh Noah.
"Keluarga Nazik adalah keluarga dari Yagar. Dan aku memang sudah mencurigainya sejak awal ketika aku mendapatkan telepon misterius itu. Lalu apa hubungannya dengan keluarga Malachi?"
"Ada Bos!"
"Apa? Katakan!"
"Keluarga Malachi itu adalah keluarga dari ibunya Yagar."
"Brengsek! Jadi tujuan mereka melakukan hal menjijikkan itu untuk membalas dendam padaku?"
"Benar Bos."
"Jangan bilang kalau Luan Malachi itu adalah....."
"Apa yang Bos pikirkan itu benar? Luan Malachi adalah keponakan dari ibunya Yagar."
"Wah! Pembalasan yang sangat sempurna. Aku salut dengan kerja keras mereka. Apa kau tahu siapa-siapa saja mereka?"
"Tentu aku tahu Bos. Nama untuk kedua orang tua Yagar adalah Paxton Rafe Nazik dan Heidi Mala Malachi sekarang berubah menjadi Nazik. Orang yang menghubungi Bos kemarin adalah adik laki-lakinya yang bernama Josh Dael Nazik. Yang mengirimkan pesan WhatsApp dua hari yang lalu adalah adik perempuannya yang bernama Rissa Esmee Nazik berubah menjadi Skylar. Sementara orang-orang yang mengirim pesan biasa untuk Bos adalah orang-orang suruhan mereka."
"Siapa orang yang menghubungiku untuk pertama kalinya?"
"Hendrick Skylar suami dari Rissa Esmee Skylar."
"Dan satu lagi, Bos!"
"Apa?!"
"Luan Malachi dan keempat sahabat-sahabatnya Yagar Nazik bekerja sama. Laki-laki itu yang sudah memberikan perintah kepada keempat sahabatnya Yagar untuk merusak rem motornya Bos."
Mendengar pengakuan dari Noah tentang Luan yang sebagai dalang merusak rem motornya membuat Darel mengepal kuat tangannya.
"Baiklah, Noah! Sekarang dengarkan aku. Aku ingin segera menyelesaikan masalah ini. Aku tidak ingin berlarut-larut."
"Apa rencanamu Bos?"
"Kerahkan anggota-anggotamu lalu serang dan bunuh semua anak buah dari dua keluarga sialan itu. Pastikan kedua keluarga itu tidak memiliki anak buah lagi."
"Siap Bos!"
"Blokir nama-nama mereka dan juga nama keluarga mereka dari semua kelompok-kelompok atau geng yang ada di kota Hamburg agar mereka tidak bisa menyewa para kelompok atau para geng tersebut."
"Baik, Bos! Lalu bagaimana dengan mereka Bos?"
"Urusan mereka aku yang urus bersama kakak Arzan dan Zayan."
"Baik, Bos!"
"Minta bantuan sama Sonny, Niko dan Zola biarkan pekerjaannya cepat selesai sehingga kita bisa fokus dengan rencana selanjutnya."
"Siap, Bos!"
Setelah mengatakan itu, baik Darel maupun Noah sama-sama mematikan panggilannya.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukan kalian. Dan untuk kau Luan Malachi! Tunggu kejutan dariku," ucap Darel pelan.
Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga Wilson lainnya menatap khawatir kearah Darel. Apalagi ketika mereka mendengar ucapan dari Darel. Dan juga ucapan demi ucapan Darel ketika berbicara dengan Noah di telepon.