
[KEDIAMAN ANDREAN]
Suasana pagi hari di kediaman Andrean tampak sepi. Bagaimana tidak sepi. Di rumah itu hanya ada Andrean bersama 2 pelayannya, ditambah lagi dua penjaga rumahnya.
Sedangkan putri kesayangannya menginap di rumah kelima putranya. Putra dari istrinya Agatha.
Saat ini Andrean tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor miliknya. Sedangkan dua pelayannya sibuk menyiapkan sarapan pagi untuknya.
Tak butuh lama, dua pelayan itu telah selesai menyiapkan sarapan pagi dan telah menatanya di atas meja. Selang beberapa menit kemudian, Andrean pun datang dan langsung duduk di kursinya. Andrean pun mulai menyantap sarapan paginya tersebut.
"Hari ini aku sarapan paginya tanpa putri kesayanganku," ucap Andrean.
Saat Andrean tengah menyantap sarapan paginya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Andrean langsung mengambilnya.
Saat ponselnya itu sudah berada ditangannya, Andrean tersenyum bahagia saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Andrean tanpa menunggu lama lagi, langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, putri Papa yang cantik.."
"Hallo, Papa. Apa Papa sudah bangun?"
"Kalau Papa belum bangun, bagaimana bisa Papa menjawab panggilan darimu, sayang?"
"Hehehehe.. iya juga!! Papa sudah sarapan?"
"Ini Papa sedang sarapan sayang. Tapi Papa sarapannya sendiri. Tidak ada kamu menemani Papa."
"Maafkan Alisha, Pa."
Andrean yang mendengar nada suara putrinya merasa bersalah. Padahal dirinya hanya menggoda putrinya saja.
"Hei, kenapa nada suaranya jadi nangis gitu, hum? Papa cuma bercanda sayang. Papa akan bahagia, jika Alisha bahagia."
"Alisha juga, Pa. Alisha akan bahagia, jika Papa juga bahagia. Alisha akan sedih, jika Papa sedih. Alisha menyayangi, Papa."
***
[KEDIAMAN RAYYAN BERSAUDARA]
Alisha saat ini berada di rumah kelima kakak laki-laki tampannya. Sekarang ini Alisha masih di dalam kamarnya. Dirinya sudah dalam keadaan rapi dan lengkap dengan seragam sekolahnya.
Alisha sedang berbicara dengan sang Ayah di telepon. Dirinya bahagia bisa mendengar suara Ayahnya. Padahal baru kemarin sore dirinya meninggalkan Ayahnya. Tapi pagi ini dirinya sudah menelepon sang Ayah.
"Papa juga menyayangimu, sayang. Kamu baik-baik saja disana. Jangan sampai merepotkan kelima kakak kamu."
"Iya, Pa. Alisha mengerti!"
"Sekarang Alisha sedang apa?"
"Alisha masih di kamar, Pa! Alisha sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Hari ini kak Dzaky yang akan mengantar Alisha ke sekolah."
Mendengar penuturan dari Alisha. Andrean sangat bahagia. Dirinya benar-benar bersyukur bertemu dengan kelima putra dari istrinya Agatha. Kelima putra tirinya itu sangat menyayangi dan menjaga putri satu-satunya.
__ADS_1
"Sebelum berangkat ke sekolah, jangan lupa sarapan, oke! Papa tahu bagaimana watak Alisha jika sudah berurusan dengan jadwal makan."
Saat Alisha ingin menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
TOK
TOK
TOK
"Alisha, ini kakak Aldan. Kakak masuk ya!"
"Iya, kak. Masuk saja!"
CKLEK
Pintu kamar Alisha terbuka dan Aldan pun melangkah masuk ke dalam.
"Oh.. lagi menelepon? Alisha nelpon siapa?"
"Nelpon Papa, kak! Ada apa, kak?"
"Kakak kesini mau bangunin kamu. Kakak pikir kamu masih tidur.. eehh.. ternyata kamu nya udah rapi dengan seragam sekolah." Aldan tersenyum saat melihat adik perempuannya sudah rapi.
"Hehehe.. maafkan Alisha, kak! Alisha nggak langsung ke bawah. Biasa.. Absen dulu sama Papa."
"Kamu ini. Ya, sudah buruan! Nanti kamu terlambat ke sekolahnya."
"Iya, kak."
Setelah itu, Alisha kembali berbicara dengan sang Ayah.
"Papa. Sudah dulu ya. Nanti Alisha hubungi Papa lagi. Papa baik-baik saja ya. Papa jangan telat makan. Jangan terlalu forsir tenaganya saat kerja. Alisha nggak mau Papa jatuh sakit."
"Iya, sayang. Kamu harus jadi adik yang baik untuk kelima kakak laki-laki kamu. Jangan membantah setiap perkataan dan juga perintah mereka. Selama perkataan dan perintah mereka itu baik dan positif. Kamu harus nurut. Dan Papa nggak masalah dengan hal itu."
"Iya, Pa! Selama Alisha masih bernafas, selama itulah Alisha akan selalu menjadi anak dan adik yang baik. Alisha akan selalu dengerin kata-kata Papa dan kelima kakak-kakaknya Alisha."
Baik Andrean maupun Aldan tersenyum bahagia saat mendengar penuturan dari Alisha.
"I Love You, Pa!"
"I Love You, sayangnya Papa!"
Setelah mengatakan hal itu, Andrean yang di seberang telepon langsung mematikan panggilan tersebut. Dirinya saat ini benar-benar bahagia. Dirinya memiliki putra dan putri yang sangat sopan, rukun dan saling menyayangi. Walau mereka baru bertemu tiga tahun yang lalu.
Setelah berbicara dengan sang Ayah. Alisha pun langsung pergi bersama Aldan untuk turun ke bawah. Sesekali Aldan menjahili dan juga menggoda adik perempuannya itu sehingga membuat Alisha tertawa. Dan berakhirlah keduanya tertawa.
Rayyan, Kevin, Caleb dan Dzaky mendengar suara tawa Alisha dan Aldan membuat hati mereka ikut bahagia. Kebahagiaan mereka sekarang ini terasa lengkap semenjak kehadiran Alisha didalam kehidupan mereka.
***
__ADS_1
[KEDIAMAN UTAMA WILSON]
Seluruh anggota keluarga bersiap-siap untuk sarapan pagi. Mereka yang tadinya berada di ruang tengah, kini melangkah menuju meja makan.
Saat mereka ingin melangkahkan kaki menuju ruang makan. Andre melihat ibunya pergi menuju lantai dua. Andre tahu kalau ibunya ingin membangunkan adik bungsu kesayangannya itu.
"Mama," panggil Andre.
"Iya, sayang!" Adelina menjawab panggilan dari putranya itu.
"Mama pasti mau ke kamar Darel kan?"
"Ya. Kenapa, hum?"
"Biarkan aku saja yang membangunkan sikelinci nakal itu. Mama langsung saja ke ruang makan bersama yang lainnya."
"Hm, baiklah. Tapi ingat! Jangan sampai kau membuat sikelinci nakal Mama itu berteriak."
"Siap, Ma."
"Wah! Jika si pemilik nama keramat itu mendengar kalian berdua menyebut kata keramat itu. Bisa-bisa si pemilik nama keramat itu ngamuk pada kalian berdua. Bahkan bisa saja merajuk berhari-hari," goda Salma.
Mendengar penuturan dari Salma membuat Adelina dan Andre langsung melihat kearah lantai dua. Siapa tahu kesayangan mereka tiba-tiba saja sudah berdiri di atas dan menatap ke bawah.
Sedangkan yang lainnya melihat Adelina dan Andre yang secara bersamaan melihat ke lantai Atas tertawa kecil.
"Ach, Salma. Kau ini menakutiku saja. Putra bungsuku pasti masih tidur. Jadi mana mungkin dia akan mendengarnya."
Adelina benar-benar takut jika putra bungsunya mendengar ucapan dari mulutnya. Bukan takut akan kemarahan putra bungsunya. Karena dirinya tahu, putra bungsunya itu sangat menyayanginya dan juga menghormatinya. Yang Adelina takutkan adalah putra bungsunya yang imut dan manis itu akan mengabaikan dirinya berhari-hari, jika putra bungsunya itu mendengar ucapannya itu. Bisa hancur dunia seorang Adelina jika diabaikan oleh simanis nya.
"Iya, nih Bibi. Mana mungkin Kookie bakal dengar. Darel saja masih di kamarnya," sela Andre.
Sama seperti halnya dengan Ibunya, Andre juga tidak ingin ucapannya itu didengar oleh adik bungsunya itu. Dirinya juga tidak ingin diabaikan oleh sang adik.
"Hei, Andre. Jangan kau pikir adikmu itu anak yang polos dan tidak tahu apa-apa. Apa kau lupa satu hal tentang adikmu itu, hum? Diantara kita, dia yang paling licik. Bahkan kelicikannya itu tidak tercium oleh kita. Kau tidak lupakan, bagaimana cara adikmu itu menghancurkan Mathew Wilson dan si ular betina itu?" ucap dan tanya Evita sembari tersenyum evil menatap wajah Andre.
"Dan kalian masih ingatkan, bagaimana Darel yang hampir membunuh Agatha saat Agatha menyakiti Mama kalian dan juga menyakiti Bibi," sela Salma. "Dan satu lagi. Saat kita pulang dari pengadilan. Kita semuanya berkumpul di ruang tengah. Sedangkan Darel memiliki mengendap di dalam kamarnya. Nah, saat kita bersenda gurau dan tertawa bersama. Tiba-tiba Darel berteriak dari lantai atas. Itu berarti menandakan Darel mendengar suara kita," ucap Salma lagi.
Baik Andre maupun anggota keluarga yang lainnya membenarkan ucapan dari Evita dan Salma. Kesayangan mereka memang terlihat begitu polos, penurut dan selalu bersikap manja di depan mereka semua, terutama pada para kakak-kakaknya. Tapi kesayangan mereka itu juga bisa mengamuk, jika salah satu anggota keluarganya atau sahabat-sahabatnya disakiti tepat dihadapannya.
"Sifat Darel itu turun darimu, kak Arvind. Kalian memiliki sifat yang sama. Memiliki sifat yang sangat kejam dan juga sadis. Bahkan Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga juga memiliki sifat sepertimu. Untuk Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa. Walau mereka memiliki sifat yang sama sepertimu, tapi mereka masih bisa mengontrol emosi mereka. Apalagi saat menghadapi musuh. Mereka tidak akan menghajar musuh yang sudah tidak berdaya. Tapi jika itu kalian atau Darel. Kemungkinan musuh-musuh itu sudah mati ditangan kalian." Sandy berucap sembari mengingat sifat-sifat kakak laki-lakinya dan keponakannya.
"Aku bangga dengan Darel. Diantara kita, Darel yang paling kecil. Tapi Darel juga yang paling dewasa diantara kita. Setiap Darel punya masalah, Darel tidak pernah mengeluh atau pun mengadu pada kita. Darel selalu menyimpannya sendiri. Aku saja yang lebih tua dari Darel, selalu sering mengeluh dengan pekerjaanku. Bahkan dulu saat jaman aku kuliah, aku juga sering mengadukan masalahku pada Papa dan Mama." Naufal berucap sambil mengingat sifatnya.
"Apalagi aku. Aku bahkan bertindak seperti anak kecil dan merengek didepan Papa dan Mama setiap menghadapi masalah," sahut Steven.
"Berarti kalian berdua itu cemen!" seru seseorang tiba-tiba.
DEG
Mereka semua terkejut saat mendengar penuturan dari seseorang tersebut, mereka dengan kompaknya langsung mengalihkan pandangannya melihat ke asal suara.
__ADS_1
Saat mereka melihat orang itu, mereka semua melotot. Ternyata orang itu tidak lain adalah sikelinci nakal kesayangan mereka yang kini sudah berdiri di anak tangga dengan kedua tangan dilipat di dada.