
Farraz, Deon, Keenan dan Tristan tersenyum gemas dan juga bahagia melihat sifat Dylan yang manja dan ceria.
"Kakak juga menyayangimu. Kamu harus sehat terus ya. Gak boleh sakit."
"Hm! Kakak juga. Kakak gak boleh capek dalam bekerja. Kakak gak boleh telat makan."
"Siap, Bos." Farraz menjawabnya dengan penuh semangat.
Farraz melepaskan pelukannya dari Dylan. Lalu menatap satu persatu adik-adiknya.
"Ya, sudah. Sekarang kalian ganti pakaian, jangan lupa bersih-bersih. Setelah itu kita akan makan siang bersama," sahut Farraz.
"Siap, Kapten!" seru mereka kompak, sembari tangan mereka mempraktekkan seperti orang lagi hormat. Farraz tersenyum gemas melihat keempat adiknya itu.
^^^
Kini mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Mereka makan dengan nikmat dan tenang. Walau sesekali Dylan menggoda keempat kakak-kakaknya itu.
"Oh, iya. Kakak ingin bilang sama kalian. Setelah makan siang ini, Kakak akan ke rumah sakit," sahut Farraz.
"Apa Kakak akan menemui Paman itu lagi?" tanya Deon.
"Iya, Deon." Farraz menjawabnya.
"Bagaimana keadaan Paman itu, Kak?" tanya Keenan.
"Masih sama saat pertama ditolong. Belum ada perubahan," jawab Farraz.
"Kasihan sekali Paman itu. Pasti saat ini keluarganya sangat merindukannya," sahut Dylan.
"Ya. Kau benar Dylan. Kalau kita tahu alamat rumahnya atau nomor ponsel salah satu anggota keluarganya pasti kita sudah memberitahu mereka," ujar Tristan.
"Sudah... Sudah. Lanjutkan makan kalian," tegur Farraz.
"Baik, Kak."
Mereka pun kembali melanjutkan makan siang mereka.
***
Saat ini Farraz sudah berada di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat seorang pria yang sudah ditolongnya. Farraz duduk di samping ranjang dimana seorang pria paruh baya terbaring.
"Hei, Paman. Apa kabar? Aku Farraz. Aku datang lagi Paman. Apa Paman akan seperti ini terus setiap aku datang mengunjungimu? Apa Paman tidak berniat untuk bangun dan melihatku?"
"Paman. Seandainya kau adalah Ayahku. Aku sangat bahagia. Aku dan keempat adik-adikku tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tua kami. Kedua orang tua kami sudah meninggal saat kami masih kecil-kecil dulu. Apa Paman bersedia menjadi Ayah kami?"
Farraz menggenggam tangan pria yang terbaring di tempat tidur tersebut. Dirinya sangat berharap pria itu mau membuka matanya.
"Paman. Aku pulang dulu ya. Aku berharap besok saat aku datang lagi, Paman sudah bangun dari tidurnya.
***
Keesokkan harinya di minggu pagi di kediaman keluarga Wilson tampak ramai dimana mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Para anak-anak lagi duduk santai di ruang tengah. Dan para orang tua berada di ruang tengah yang satunya lagi. Ada dua ruang tengah di rumah tersebut.
Sedangkan Agatha dan putra-putranya berada di dalam kamar mereka. Untuk Dirga dan Marcel, mereka juga ikut duduk di ruang tengah. Walau mereka berdua terlihat canggung. Tapi Dirga dan Marcel berusaha untuk mengakrabkan dirinya pada saudara-saudaranya. Ini adalah pertama kalinya untuk mereka berdua.
"Kakak," panggil Darel.
Mereka yang dipanggil pun langsung melihat kearah Darel, termasuk Dirga dan Marcel.
"Yak! Kenapa kalian semua melihatku?" tanya Darel bingung.
"Kan Darel sendiri yang memanggil kami semua!" seru Steven sembari tersenyum.
"Betul-betul," sahut Satya.
"Aish. Aku memanggil Kakak itu bukan kalian semua. Kakak yang aku maksud itu adalah kakak-kakak kandungku," ucap Darel mempoutkan bibirnya.
"Yaaaahh," para Kakak sepupunya, kecuali Dirga dan Marcel. Tapi mereka berdua tersenyum saat melihat Darel.
"Memangnya kami ini bukan kakak-kakakmu ya?" tanya Gilang dengan memasang wajah sedih.
"Tega sekali dirimu, Rel. Kau tidak menganggap kami kakak-kakakmu." ucap Erick yang memasang wajah menangisnya.
__ADS_1
"Udah deh. Jangan baper gitu. Dan tidak usah juga perlihatkan tampang jelek kalian seperti itu, Kak! Jangan kalian pikir dengan wajah seperti itu, aku akan luluh dan kasihan. Iih! Ogah." Darel berbicara seenak jidatnya.
Mereka yang mendengar penuturan dari Darel membelalakkan mata mereka. Lalu detik kemudian mereka semua merengut kesal. Tapi tidak untuk para kakak-kakak kesayangannya. Mereka semua tertawa.
"Hahahahahaha."
Dirga dan Marcel juga ikut tersenyum melihat para saudara-saudara sepupunya. Darel sempat melirik kearah Dirga dan Marcel. Darel tersenyum melihat kedua kakaknya itu.
"Sebenarnya kalian orang baik. Hanya saja kalian sudah terlalu lama dicuci otaknya oleh singa betina itu," batin Darel.
Davian dan Nevan sedari tadi memperhatikan adik bungsunya yang tengah menatap Dirga dan Marcel.
"Kenapa Darel melihat Dirga dan Marcel seperti itu? Bahkan kali ini tatapannya begitu teduh dan hangat," batin Davian.
"Kenapa tatapan mata Darel begitu lembut saat melihat Dirga dan Marcel? Tatapannya kali ini begitu hangat," batin Nevan.
PUK!
Davian menepuk pelan bahu adik bungsunya. Dan hal itu sukses membuat adiknya terkejut.
"Aish, Kakak Davian." Darel menatap kesal kakak tertuanya itu dan jangan lupa bibir yang dimanyunkan.
"Hehehe. Maafkan Kakak. Habisnya Darel betah sekali melihat dua mahkluk abstrak itu," ucap Davian sembari menunjukkan Dirga dan Marcel dengan dagunya.
Mereka yang mendengar ucapan Davian pun melihat kearah Dirga dan Marcel. Kemudian mereka melihat kearah Davian dan Darel.
"Aish, Kakak Davian. Mereka itu manusia dan mereka punya nama. Panggil nama kenapa sih?" kesal Darel.
"Sebenarnya, ada apa? Kenapa kamu memperhatikan mereka? Dan cara kamu melihat mereka sangat berbeda." ucap dan tanya Nevan.
"Apa Darel masih memikirkan ucapan Kak Dirga waktu itu, hum?" tanya Alvaro.
"Ada apa ini? Apa yang tidak kami ketahui soal masalah kemarin?" tanya Ghali.
"Alvaro, Axel." Davian berucap penuh penekanan.
"Kemarin itu Kak Dirga menemui Darel dan mereka sempat duduk bersama. Dan Darel bilang kalau Kak Dirga meminta maaf kepada Darel." Axel yang menjawabnya.
Para kakak-kakaknya, kecuali Alvaro dan Axel menatap Darel penuh selidik. Tak kecuali para kakak sepupunya.
"Aish. Apaan sih! Memang benar kemarin Kak Dirga menemuiku. Tapi Kak Dirga tidak melakukan apapun padaku. Kak Dirga hanya mengucapkan kata maaf padaku. Kak Dirga benar-benar tulus minta maaf padaku. Dan aku bisa lihat dari tatapan matanya," ucap Darel.
Saat mendengar penuturan dari Darel, Marcel terkejut. Lalu Marcel melihat sang Kakak. Dirga yang menyadari bahwa adiknya menatapnya. Dirinya pun langsung melihat kearah adiknya itu.
"Iya. Kakak memang meminta maaf pada Darel karena selama ini kita sudah salah bermusuhan dengan mereka. Untuk saat ini Kakak belum bisa cerita padamu. Tapi Kakak janji, kalau waktunya sudah benar-benar pas, Kakak akan ceritakan semuanya," sahut Dirga menggenggam tangan Marcel.
Marcel mengangguk. "Baiklah, Kak. Aku mengerti."
"Apa Kakak boleh minta sesuatu darimu?" tanya Dirga.
"Jangankan satu. Seribu pun aku akan berikan. Selama aku sanggup melakukannya," jawab Marcel.
Dirga tersenyum. "Jangan bermusuhan lagi dengan Darel dan saudara-saudara kita yang lainnya. Kakak tidak memintamu untuk langsung berdamai dengan mereka. Tapi Kakak hanya ingin masalah ini selesai sampai disini."
"Lalu bagaimana kelima adik-adik kita, Kak. Dan Mama?" tanya Marcel.
"Kau tidak perlu khawatir tentang mereka. Biarkan saja mereka mau melakukan yang mereka suka di rumah ini. Yang Kakak pikirkan saat ini adalah kau. Jadi, Kakak mohon hentikan semua ini. Kau bisa?"
"Baiklah, Kak."
"Bagus."
Davian, Steven, Naufal beserta adik-adik mereka memperhatikan dan mendengar apa yang dibicarakan oleh Dirga dan Marcel. Disatu sisi mereka bahagia kedua saudara mereka berubah menjadi baik. Tapi disisi lain, mereka dibuat bingung akan perubahan drastis dari seorang Dirga.
'Apa yang membuatmu berubah, Dirga' Itulah kira-kira yang saat ini mereka pikirkan.
Saat mereka semua tengah asyiknya dengan dunia mereka. Dan para orang tua juga asyik dengan dunia mereka, tiba-tiba terdengar bell berbunyi.
TING!
TONG!
Salah satu pelayan di rumah mewah tersebut berlari untuk membukakan pintu.
__ADS_1
CKLEK
Pintu di buka oleh pelayan tersebut. Saat pintu telah terbuka. Dapat dilihat oleh pelayan itu seorang pria paruh baya berdiri tegap di depan pintu tersebut.
"Maaf. Tuan siapa? Mencari siapa?" tanya pelayan wanita itu.
"Oh, perkenalkan. Saya Mathew. Mathew Wilson. Keponakan dari Bapak Antony Wilson."
"Ooh, begitu. Kalau begitu silahkan masuk, Tuan."
Pelayan wanita itu mempersilahkan Mathew memasuki rumah mewah tersebut. Lalu menuntunnya menuju ruang tengah.
"Maaf Tuan, Nyonya, tuan muda. Ada Tuan Mathew datang berkunjung," ucap pelayan tersebut.
"Selamat siang. Apa kedatanganku mengganggu kalian?!" seru Mathew.
Mereka semua yang ada di ruang tengah mengalihkan pandangan mereka melihat kearah Mathew.
"Mathew. Kaukah itu!" seru Willian dan Sandy bersamaan.
Mathew langsung menghampiri William dan Sandy. "Aku merindukan kalian!"
"Kami juga merindukanmu, Mathew." William dan Sandy menjawab secara bersamaan
Disisi lain, dimana para anak-anak berkumpul. Tanpa mereka sadari, Darel menatap tajam kearah Mathew. Tangannya mengepal kuat. Matanya memerah.
"Pembunuh," batin Darel.
"Kemana saja kau, Mathew? Kenapa baru sekarang kau datang mengunjungi kami?" tanya William antusias.
"Biasalah. Tugas-tugasku sangat banyak. Tidak ada waktu istirahat. Saat aku mendapatkan waktu istirahat, aku sempatkan untuk main kesini," jawab Mathew.
"Oh, iya. Putra-putra kalian mana? Dari tadi aku tidak melihat mereka."
"Itu mereka disana." Evita menjawab sembari menunjuk kearah putra-putra mereka berada di ruang tengah yang lainnya.
Lalu mereka semua menghampiri para putra-putra mereka yang berada di ruang tengah yang lainnya.
"Anak-anak. Kalian masih ingatkan dengan Paman Mathew?" tanya Sandy.
"Kami ingat, Pa." Dhafin menjawabnya.
Lalu putra-putranya Sandy dan Salma memberi salam pada Mathew. Disusul oleh putra-putranya Evita dan Daksa. Lalu kedua putra William yaitu Dirga dan Marcel. Terakhir putra-putranya Arvind dan Adelina.
Tapi tidak dengan Darel. Darel tetap berdiri pada posisinya dengan menatap tajam kearah Mathew. Matanya sudah memerah berusaha menahan tangisnya. Lalu detik kemudian kilasan-kilasan kecelakaan itu berputar-putar dipikirannya.
Davian, Nevan dan Vano yang menyadari keterdiaman adik bungsu mereka dan tidak memberi salam pada Mathew, akhirnya mereka menghampiri Darel.
"Darel. Kenapa, hum?" tanya Davian.
Darel tidak menjawab pertanyaan dari Davian. Matanya tetap menatap tajam kearah Mathew. Vano dan Nevan melihat tatapan mata Darel mengarah pada Mathew.
"Kak Nevan. Kenapa Darel menatap Paman Mathew seperti itu?" tanya Vano.
"Kakak juga tidak tahu Vano."
"Tapi kenapa tatapan Darel tajam seperti itu pada Paman Mathew. Seperti tatapan penuh amarah dan juga dendam," batin Nevan.
FLASBACK ON
"Papa. Sepertinya ada yang mengikuti kita di belakang."
Antony melihat kearah belakang dan Arvind melihat dari kaca spionnya. Dan benar saja. Ada dua mobil yang mengikuti mereka di belakang.
"Arvind."
"Papa tidak usah khawatir. Semuanya akan baik-baik saja."
Arvind duduk di depan alias mengemudi. Sedangkan Antony dan Darel duduk di belakang.
"Papa, Darel. Berpegangan." Arvind menambahkan kecepatan laju mobilnya agar bisa menghindari kejaran dua mobil di belakang.
DOR!
__ADS_1
DOR!