
Darel berada di kelasnya saat ini. Dirinya duduk di kursi dengan pikiran melayang jauh.
Ya! Darel masih mengingat akan pembicaraan ayahnya Kenzo bersama ayahnya Azri.
FLASHBACK ON
"Aku juga Fayyadh. Selama dua bulan ini hatiku benar-benar takut dan hatiku tak nyaman menyembunyikan masalah ini dari Darel, Kenzo dan Gavin. Aku takut kalau mereka sampai tahu bahwa Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel masih hidup. Mereka bertiga pasti sangat kecewa sekali pada kita. Dan disini aku memikirkan Darel. Darel yang tersakiti dan terluka disini."
"Kemarin aku bertemu dengan Arvind dan Lucio. Arvind yang saat itu baru pulang dari kantornya. Sementara Lucio baru dua hari pulang ke Jerman untuk mengurus beberapa keperluan di sini. Itupun putra sulungnya yang memintanya pulang dan mendadak." Ditto berbicara sembari menyeruput minumannya.
"Kalian bicara apa saja?" tanya Fayyadh.
"Seperti biasa. Kita membahas tentang kondisi Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel." Ditto menjawabnya.
FLASHBACK OFF
Seketika air mata Darel mengalir membasahi wajah tampannya ketika mengingat apa yang dibicarakan oleh ayahnya Kenzo dan ayahnya Azri. Hatinya benar-benar sakit saat ini.
Darel benar-benar marah akan kebohongan yang dilakukan oleh anggota keluarganya dan juga oleh orang-orang yang sudah dianggap keluarga baginya.
"Hiks... Hiks. Kenapa kalian tega melakukan ini padaku? Apa salahku? Kenapa kalian harus menyembunyikan masalah ini dariku? Bagaimana pun aku berhak tahu... Hiks?" teriak Darel.
"Darel!" seru Kenzo dan Gavin bersamaan yang datang bersama dengan Juan, Razig, Lucas, Samuel, Zelig, Charlie dan Devon.
Mereka terkejut ketika melihat Darel yang menangis. Dan mereka pun langsung menghampiri Darel.
"Rel, kamu kenapa? Apa ada masalah?" tanya Gavin.
"Rel. Jika ada masalah. Pleaseee... ceritakan padaku, pada Gavin dan kita semua. Kita-kita ini sahabat-sahabat kamu." Kenzo duduk di samping Darel dan tangannya mengusap-ngusap punggung Darel lembut.
Darel tidak langsung menjawab pertanyaan dari Kenzo. Justru Darel menatap wajah Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig. Air mata Darel kembali turun disaat menatap kelima sahabatnya itu.
__ADS_1
Melihat Darel yang menatap Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig membuat Kenzo, Gavin, Charlie dan Devon menjadi bingung.
"Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Darel.
"Menyembunyikan apa, Rel?" tanya Samuel bingung.
"Iya, Rel! Kami benar-benar tidak mengerti," ucap Razig.
"Kalian pasti tahukan tentang kabar para kakak sepupu kalian itu kan? Sekarang katakan padaku bagaimana kabar mereka sekarang?" tanya Darel dengan menatap penuh harap.
Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig saling melirik satu sama lainnya. Mereka bahkan benar-benar bingung arah pertanyaan dari Darel. Mereka kembali menatap wajah Darel dengan tatapan bingung.
"Rel. Kami sangat tahu bagaimana awal mula perjalanan hubungan persahabatan kalian sehingga terjalin selama 12 tahun," ucap Juan.
"Kami semua sangat mengerti akan hal itu. Jadi kami mohon. Jangan seperti ini. Kelima sahabatmu itu yang tak lain adalah kakak-kakak kami sudah bahagia di atas sana. Mereka akan menangis melihatmu seperti ini." Samuel berbicara lembut dengan Darel. Dirinya benar-benar sedih melihat Darel yang kembali teringat akan kakaknya.
"Rel, kami disini untukmu. Untuk menyembuhkan luka di hatimu. Kita semua sayang sama kamu," sahut Lucas.
"Rel, ikhlasin mereka. Mereka sudah bahagia di sana. Kami mohon, Rel! Jangan seperti ini." Zelig menyentuh bahu Darel, namun langsung ditepis oleh Darel.
Darel tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menatap nyalang Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig. Dan jangan lupa air matanya kembali mengalir membasahi wajahnya.
"Kalian semua pembohong. Kalian membohongiku. Kalian tahu yang sebenarnya, tapi kalian tidak memberitahuku. Kalian jahat padaku. Apa ini yang dinamakan sahabat? Kalian mendekatiku dengan cara yang salah dan juga licik!" bentak Darel.
Setelah mengatakan hal itu, Darel mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan mereka semua.
Sementara Kenzo, Gavin, Charlie dan Devon menatap bingung Darel, terutama Kenzo dan Gavin. Bagi mereka berdua, baru kali ini mereka melihat kemarahan Darel. Mereka juga dapat melihat ada kekecewaan di mata sahabatnya itu.
Baru beberapa langkah Darel melangkahkan kakinya. Seketika langkahnya terhenti karena seseorang mencekal tangannya.
"Rel. Aku dan yang lainnya benar-benar tidak mengerti arah pembicaraanmu. Kau tiba-tiba saja mengatakan kami semua telah membohongimu. Tolong katakan pada kami. Apa yang terjadi, Rel? Kenapa kau mengatakan bahwa kami ini adalah pembohong?" ucap dan tanya Samuel.
__ADS_1
"Katakan pada kami, Rel! Ada apa denganmu? Kenapa kau mengatakan bahwa kami ini pembohong?"tanya Razig.
"Kalian itu memang pembohong. Kalian... Hiks... Kalian tega membohongi. Kalian... Hiks... Kalian tahu se-sebenarnya kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano dan kak Farrel masih hidup. Ta-tapi kalian sama sekali tidak memberitahuku... Hiks." Darel berteriak sambil terisak. Air matanya mengalir begitu deras membasahi wajahnya.
DEG!
Baik Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig maupun Kenzo, Gavin, Charlie dan Devon terkejut ketika mendengar penuturan dari Darel. Dan yang paling berteriak adalah Kenzo dan Gavin. Mereka menatap wajah kelima sahabat barunya itu.
"Juan, Razig, Lucas, Samuel, Zelig." Kenzo dan Gavin berucap.
Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mereka sama sekali tidak mengetahui hal ini.
"Tidak Zo, Vin? Kami benar-benar tidak tahu hal ini," jawab Zelig.
"Kami berani bersumpah," jawab Juan, Razig, Lucas, Zelig bersamaan.
Kenzo dan Gavin menatap wajah Darel yang saat ini tampak kacau. Mereka benar-benar tidak tega melihatnya. Mereka tahu bagaimana watak, sifat dan ucapan Darel selama ini. Darel tidak akan mungkin asal bicara jika tidak ada buktinya.
"Rel," ucap Kenzo lembut sembari menyentuh bahu Darel.
Darel menatap wajah Kenzo dengan air matanya yang masih mengalir. "Hiks... Zo. Mereka masih hidup. Kak Brian, kak, Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel masih hidup. Mereka koma selama dua bulan di rumah sakit Amerika... Hiks," isak Darel.
"Kamu yakin, Rel? tanya Gavin.
Baik Gavin maupun Kenzo sangat bahagia ketika mendengar perkataan Darel yang mengatakan bahwa kelima sahabatnya itu masih hidup.
Darel mengalihkan perhatiannya untuk melihat wajah Gavin. "Apa selama aku bersahabat denganmu aku pernah membohongimu, membohongi kalian berdua dan yang lainnya?" tanya Darel.
Gavin hanya diam ketika Darel balik memberikan pertanyaan kepadanya. Begitu juga Kenzo. Selama 12 tahun mereka bersahabat, Darel tidak pernah membohongi mereka. Darel selalu berbicara apa adanya tanpa ditambah-tambah maupun dikurang-kurangi.
"Aku mau pulang. Aku tidak akan fokus mengikuti kuliah hari ini. Jika kalian masih belum percaya dengan ucapanku. Lebih baik kalian tanyakan langsung kepada ayah kalian. Kalian berdua akan mendapatkan jawabannya." Darel berbicara sambil menatap wajah Kenzo dan Gavin.
__ADS_1
Darel mengalihkan perhatiannya dan melihat kearah Juan, Razig, Lucas, Samuel, Zelig. "Dan kalian juga bisa tanyakan kepada para orang tua dari kakak-kakak kalian itu."
Setelah mengatakan hal itu. Darel langsung pergi meninggalkan para sahabatnya itu dengan wajah sedih dan terlukanya.