Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Zamy, Arman Dan Pemuda Misterius


__ADS_3

Zelig dan Kenzo baru saja keluar dari perpustakaan. Kedua meminjam buku untuk materi kuliah Sastra. Kaki mereka melangkah menyusuri luasnya koridor kampus


Seketika Zelig menghentikan langkahnya ketika tatapan matanya melihat dua teman kampusnya yang berjalan mengendap-endap.


"Nzo, itu bukannya Zamy sama Arman!" Zelig berbicara sambil menunjuk kearah dua teman kampusnya itu.


Kenzo langsung melihat kearah tunjuk Zelig. Dan dapat dilihat oleh Kenzo kedua teman kampusnya saat ini tengah menuju suatu tempat.


Zelig dan Kenzo saling memberikan tatapan, kemudian keduanya tersenyum di sudut bibirnya.


Setelah itu, Kenzo dan Zelig memutuskan untuk menyusul kedua teman kampusnya itu. Baik Kenzo maupun Zelig menaruh curiga terhadap Zamy dan Arman, kedua teman kampusnya itu.


^^^


Zamy dan Arman sekarang ini berada di belakang kampus. Keduanya tengah merencanakan sesuatu untuk mencelakai Darel.


"Bagaimana? Apa kalian berdua berhasil membuat anak sialan itu celaka?" tanya seorang pemuda yang wajahnya tertutup masker hitam dan kepala menutup kepalanya sehingga siapa pun tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya.


"Kami berhasil merusak rem motor Darel sehingga membuat Darel Kecelakaan, walau dia baik-baik saja. Hanya pergelangan kirinya saja yang terluka."


"Tidak apa-apa. Tapi usahakan lain kalian buat dia koma di rumah sakit. Jangan hanya mengalami luka-luka ringan seperti sekarang ini."


"Baik, kak."


"Ya, sudah! Kakak harus pergi. Kalian buruan kembali ke kelas. Takutnya ada yang melihat dan mendengar pembicaraan kita."


"Baik, kak."


Setelah itu, Zamy dan Arman langsung pergi meninggalkan taman belakang tersebut untuk kembali ke kelas.


Sementara pemuda yang berbicara dengan Zamy dan Arman langsung melepaskan masker dan topinya dan menyimpan dengan hati-hati di tempat aman. Kemudian kakinya melangkah memasuki area kampus sembari mengetik sesuatu di ponselnya.


TO : +4912120xxx


Sekarang lakukan rencana selanjutnya. Kali ini buat dia percaya setiap apa yang kau katakan.


Setelah menuliskan sesuatu di ponselnya, pemuda itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


^^^


"Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai orang yang sudah menghubungi adikku dan mengatakan berita palsu?" Davian kepada Arjuna.


"Belum Davian. Masih dalam penyelidikan," jawab Arjuna.


Davian menghempaskan tubuhnya di punggung sofa. Pikirannya dua hari ini selalu memikirkan adiknya. Dia takut jika adiknya itu percaya setiap perkataan orang tersebut sehingga membuat adiknya pergi meninggalkan dirinya dan keluarganya.


Puk..


Arjuna seketika menepuk pelan bahu Davian. Dia tahu bahwa sahabatnya ini tengah memikirkan adik bungsunya.


"Kita berdoa saja semoga Darel lebih mempercayai keluarganya dari pada orang lain yang tidak dia kenal. Jangan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Yang harus kamu lakukan adalah tetap berikan kenyamanan kepada Darel agar dia lebih yakin bahwa kamu dan keluarga Wilson adalah keluarga kandungnya."


Mendengar perkataan dari Arjuna sahabatnya membuat Davian seketika menganggukkan kepalanya. Di dalam hatinya mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Arjuna ada benarnya. Dia harus memberikan kenyamanan kepada adik bungsunya itu setiap berada di rumah.


"Ya! Kau benar Arjuna. Seharusnya aku tidak perlu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Seharusnya aku percaya kalau adik bungsuku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan memberikan kenyamanan kepadanya setiap dia berada di rumah!" Davian berucap dengan penuh semangat.

__ADS_1


Mendengar perkataan serta wajah semangat Davian membuat Arjuna tersenyum.


"Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah! Ingat Davian! Adikmu itu tidak bodoh. Justru adikmu itu licik. Aku sangat yakin, adikmu itu tidak akan semudah itu mempercayai ucapan dari orang yang tidak dia kenal sama sekali."


"Kamu tahu masalah ini dari kedua orang tuamu, bukan?"


"Iya."


"Dan orang tuamu tahu dari Darel."


"Iya."


"Nah! Itu satu bukti bahwa Darel lebih mempercayai kedua orang tuanya dengan dia langsung mempertanyakan masalah tersebut kepada orang tuanya."


"Ya! Kau benar Arjuna! Jika adikku tidak mempercayai keluarganya, maka adikku memilih diam. Bahkan menjauh."


"Sekarang cukup kita lihat apa yang akan dilakukan oleh adikmu itu. Aku sangat yakin sekali jika adikmu itu tidak akan diam saja jika ada orang yang sudah mengusik hidupnya. Orang lain saja jika kesusahan, adikmu langsung memberikan bantuan. Masa untuk dirinya sendiri, adikmu tidak berbuat apa-apa?"


"Iya, kau benar!"


"Kita cukup mengawasinya diam-diam. Dan kita akan bergerak jika adikmu dalam bahaya," ucap Arjuna.


"Baiklah."


***


Bugh.. Bugh..


Duagh..


"Aakkhh!" teriak kedua pemuda itu akibat pukulan dan tendangan kuat dan dua pemuda di hadapannya.


"Kalian benar-benar menjijikkan!"


Zelig menatap kearah Kenzo. "Nzo, mending lo hubungi Darel dan yang lainnya. Suruh mereka kesini."


"Baiklah."


Setelah mengatakan itu, Kenzo mengambil ponsel lalu menghubungi Darel, sahabatnya itu.


Beberapa detik kemudian..


"Hallo, Nzo! Lo sama Zelig kemana? Kenapa la....."


"Nanya dipending dulu. Mending lo dan yang lainnya kesini."


"Emangnya lo dimana?"


"Gue sama Zelig ada di ruangan latihan taekwondo. Buruan kesini!"


"Ach, baiklah!"


Setelah itu, baik Kenzo maupun Darel sama-sama mematikan panggilannya.


"Kalian berdua sudah salah mencari masalah dengan Darel. Kalian berdua tidak tahu siapa Darel dan keluarganya. Bersiaplah kalian berdua bahkan keluarga kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal dari keluarga Darel," ucap Kenzo dengan menatap tajam Zamy dan Arman.

__ADS_1


Cklek..


Pintu dibuka oleh seseorang. Dan setelah itu, masuklah beberapa pemuda tampan ke dalam ruangan latihan taekwondo.


"Kenzo! Zelig!" panggil Darel dengan melangkah kakinya mendekati Kenzo dan Zelig bersama dengan sahabat-sahabatnya yang lain.


Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Lucas, Charlie dan Devon melihat kearah dua pemuda yang terduduk dalam keadaan terikat.


"Zamy! Arman!" seru Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.


"Kenzo, Zelig! Ada apa? Kenapa kalian memukul mereka berdua?" tanya Gavin.


Tanpa mau membuang banyak kata. Zelig langsung memberikan ponselnya kepada Darel.


"Lo lihat video ini. Setelah itu, lo akan tahu alasan gue dan Kenzo memukuli mereka berdua," ujar Zelig.


Darel mengambil ponselnya Zelig. Di layar ponselnya Zelig sudah terlihat sebuah video dimana di dalam video itu ada tiga orang. Dua orang teman kampusnya dan satu orang lagi tak dikenal karena pemuda itu memakai masker dan topi hitam.


Seketika Darel terkejut dan syok. Dirinya tidak menyangka jika Zamy dan Arman yang telah memutusi rem motornya sehingga ketika di perjalanan dia tidak bisa menginjak rem motornya itu.


Duagh..


Duagh..


Zamy dan Arman mendapatkan tendangan keras tepat di dada kirinya dari Darel sehingga membuat mereka sesak seketika.


"Benar-benar menjijikkan kalian! Gue nggak pernah nyari masalah dengan kalian berdua. Bahkan gue nggak pernah ngusik kehidupan kalian! Tapi kenapa kalian berdua mengusik kehidupan gue!"


Darel mengambil ponselnya. Dirinya ingin menghubungi Zayan dan memintanya untuk datang ke kampusnya.


"Hallo Zayan."


"Hallo, Bos! Ada apa, Bos?"


"Bisa kau datang ke kampusku?"


"Sekarang Bos?"


"Iya."


"Baik, Bos!"


"Bawa sekitar 10 anggotamu."


"Baik, Bos!"


"Jika kau sudah sampai di depan gerbang kampus, kabari aku."


"Sial, Bos!"


Setelah selesai berbicara dengan Zayan. Darel langsung mematikan panggilannya.


"Aku tidak akan melepaskan kalian sebelum aku mengetahui motif kalian berdua yang sebenarnya selain masalah sakitnya Yagar. Dan aku sangat yakin jika ada orang di belakang kalian. Dan....."


Darel menghentikan perkataannya dengan menatap tajam Zamy dan Arman.

__ADS_1


"Pemuda yang berbicara dengan kalian berdua itu... Eemmm... Aku yakin dia salah satu anggota keluarga Yagar. Kalau tidak! Kalian berdua tidak akan memanggilnya dengan sebutan 'kak'."


Darel tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan matanya yang masih menatap tajam Zamy dan Arman.


__ADS_2