Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Ancaman Darel Untuk Kenzo


__ADS_3

"Papa! Kakak Davian!" teriak Darel memanggil ayah dan kakak sulungnya sembari berlari kecil menuruni anak tangga.


Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya yang berada di ruang terkejut ketika mendengar panggilan dari Darel yang begitu keras.


"Sayang, hei!" Adelina menegur putra bungsunya yang berlari menuruni anak tangga.


Kini Darel sudah di ruang tengah bersama dengan anggota keluarganya. Dirinya duduk di samping ayahnya.


Arvind langsung mengusap lembut kepala putranya ketika kepala putranya sudah berada di bahunya.


"Ada apa, hum? Kenapa teriak-teriak begitu manggil Papa dan kakak Davian?"


"Aku ada kabar baik untuk Papa dan kakak Davian," sahut Darel.


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Darel membuat semuanya tersenyum dengan menatap kearah Darel.


"Kabar apa, hum?" tanya Arvind.


"Tadi kakak Arzan kasih tahu aku bahwa dalang penyerangan kakak Elvan, kakak Andre dan kakak Arga sudah diketahui."


Mendengar jawaban dari Darel membuat Arvind seketika tersenyum. Begitu juga dengan Davian serta anggota keluarga lainnya.


"Sayang."


Darel langsung menjauhkan kepalanya dari bahunya ayahnya, lalu menatap wajah tampan ayahnya itu sembari memperlihatkan senyuman manisnya.


"Kapan Papa dan kakak Davian membalas mereka?" tanya Darel sembari menatap ayahnya dan kakak sulungnya secara bergantian.


"Jadi ini benaran sayang?" tanya Davian.


Seketika Darel merengut kesal. Apa-apaan ayah dan kakaknya itu. Sudah dibantu mencari tahu dalang tersebut, bahkan dengan semangat dia memberitahu. Justru tanggapan yang diberikan oleh ayah dan kakaknya tak mengenakkan.


Sedangkan Arvind dan Davian seketika tersenyum melihat wajah merajuk putranya/adiknya.


"Oke, Oke! Maafkan Papa. Sekarang katakan pada Papa. Siapa mereka?"


"Mereka dari keluarga Santino dan keluarga Alvarez. Nama perusahaan dari keluarga Santino adalah SNT Advertising. Untuk keluarga Alvarez adalah AVZ Corp."


Mendengar ucapan dari Darel seketika Arvind dan Davian tersenyum di sudut bibirnya. Begitu juga dengan Sandy, Daksa, William dan para putra sulungnya. Mereka tahu seperti apa sepak terjang dari dua perusahaan tersebut di dunia bisnis.

__ADS_1


"Dan satu lagi informasi untuk kalian, terlebih lagi ini untuk kakak Nevan, kakak Steven dan kakak Marcel!"


Mereka menatap wajah Darel yang tampak serius. Mereka berpikir pasti akan ada masalah baru yang akan mendatangi mereka.


"Ada apa, Rel?" tanya Steven, Marcel bersamaan.


"Ada apa, hum?" tanya Nevan lembut.


"Kakak Arzan mengatakan padaku bahwa akan ada seorang wanita yang akan mendekati kalian. Kalian pasti paham apa maksud dari perkataanku itu." Darel berucap dengan tatapan matanya menatap kakak keduanya dan kedua kakak sepupunya.


"Jadi maksud kamu seorang wanita akan mendekati kami lalu menjadikan kami kekasihnya, begitu?" tanya Marcel.


"Benar sekali," jawab Darel.


"Lalu apa yang akan dilakukan oleh mereka jika mereka berhasil menjadikan kami kekasihnya?" tanya Steven.


"Mudah saja. Pertama, mereka ingin mengincar kekayaan utama Keluarga Wilson yang mana sampai kapan pun hal itu tidak akan pernah terjadi karena aku pewaris semua kekayaan keluarga utama Wilson. Kedua, mereka ingin mengincar kekayaan keluarga masing-masing. Seperti kekayaan milik Papa, kekayaan milik Paman Sandy dan kekayaan milik Paman William. Dan ketiga, mereka ingin menghancurkan keluarga kita dengan cara mengadu domba kita semua."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darel membuat mereka semua mengepal kuat tangannya masing-masing terutama untuk Nevan, Steven dan Marcel.


"Dan untuk kakak Nevan. Kakak harus berhati-hati menghadapi wanita yang satu ini. Dia sangat licik. Ditambah lagi, dia tahu kalau kakak Nevan sudah punya kekasih. Takutnya dia akan gunakan kak Nella untuk mendapatkan kakak. Dan takutnya lagi, jika dia sampai tahu bahwa kak Nella ada di Singapura tengah menyelesaikan studinya."


"Ide bagus. Bagaimana pun mereka juga berhak tahu masalah ini biar tidak ada kesalahpahaman. Kasihan Nella jika nanti dia melihat kamu bersama perempuan lain," ucap Adelina.


"Kalau memang seperti itu tujuan mereka mendekati kak Nevan, kak Steven dan kak Marcel. Ada baiknya kita ikuti saja permainan mereka. Ketika Endingnya, kita yang menentukan bagaimana akhir permainannya." Vano berucap sembari menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


"Setuju. Jika itu rencana mereka, kita tinggal mengikuti permainan mereka saja. Hasil akhirnya, kita yang menentukannya." Dirga ikut menyetujui ucapan Vano.


Ghali melihat kearah adik bungsunya dengan tatapan mata yang penuh kekhawatiran. Ghali sangat yakin jika hal itu benar-benar terjadi, satu-satunya orang yang akan tersakiti adalah adik bungsunya itu.


"Rel," panggil Ghali.


Darel langsung melihat kearah kakaknya itu. Dan dapat Darel lihat bahwa kakak ketiganya itu menatap dirinya dengan tatapan khawatir.


"Iya, kak Ghali. Ada apa?" jawab Darel.


"Apa perempuan yang bernama Paula akan melakukan hal yang sama seperti perempuan yang akan mendekati kak Nevan, Steven dan Marcel?" tanya Ghali.


"Iya, kak! Memang itu niat gadis itu mendekati kakak dengan menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan kita," jawab Darel.

__ADS_1


"Kakak memikirkan kamu, Rel!" lirih Ghali.


Mendengar ucapan serta suara lirih Ghali membuat semuanya menatap kearah Ghali dan beralih menatap Darel.


"Kakak takut kamu yang akan menjadi korbannya, Rel! Walau kita hanya bersandiwara demi memuluskan niat jahat mereka, tapi pasti kamu yang akan menjadi yang tersakiti. Bisa saja mereka sudah mengetahui tentang kamu di keluarga Wilson lalu mereka gunakan kamu."


"Tapi aku rasa tidak sepenuhnya mereka gunakan Darel hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bisa jadi mereka juga menekan kita semua dengan menggunakan Darel. Jadi intinya, mereka akan menekan kita dengan menggunakan Darel. Dan mereka juga akan menekan Darel dengan menggunakan kita. Yang terpenting adalah kita saling menguatkan. Dan jangan sampai lengah hingga masuk perangkap mereka." Naufal berucap sembari menjelaskan situasinya.


Mendengar ucapan dari Naufal membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju atas apa yang dikatakan oleh Naufal.


Ketika mereka sedang membicarakan orang-orang yang akan datang mengusik keluarganya, tiba-tiba ponsel milik Darel berbunyi.


Darel yang mendengar suara bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku celananya.


Setelah ponselnya di tangannya, Darel melihat nama 'Kenzo' di layar ponselnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darel pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Kenzo."


"Hallo, Rel. Lo dimana?"


"Di rumah. Kenapa?"


"Besok lo kuliah?"


"Iya, gue kuliah besok. Kenapa? Kangen lo sama kata-kata manis gue, hum?"


"Najis. Gue nelpon lo buat ngasih tahu lo kalau besok akan ada dua puluh mahasiswa dan mahasiswi baru. Sepuluh mahasiswa dan sepuluh mahasiswi."


"Busyet dah! Banyaknya? Itu benaran manusia semua? Apa nggak ada nyempil satu atau dua ekor kambing?"


"Mereka semua manusia. Tampan dan cantik. Nggak kayak lo yang manusia jadi-jadian."


Mendengar ucapan dari Kenzo seketika Darel mendengus.


"Karena lo udah ngatain gue manusia jadi-jadian. Gue putusin besok gue nggak jadi masuk kuliah. Lo urus tuh dua puluh mahasiswa dan mahasiswi baru itu. Ogah gue!"


Pip..


Setelah mengatakan itu, Darel langsung mematikan panggilannya dengan mulut yang tak henti-hentinya mengedumal kesal.

__ADS_1


Sementara Kenzo yang ada di seberang telepon langsung membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan Darel. Ketika hendak membalas, Darel sudah terlebih dulu mematikan panggilannya.


__ADS_2