
Di sebuah rumah kecil tapi tidak terlalu kecil terlihat seorang pemuda sedang menikmati kope hangatnya di teras depan rumahnya. Pemuda tersebut adalah Rolland Ramendra, berasal dari keluarga Ramendra sekaligus sepupunya Paula Rocio.
Rolland saat ini tengah memikirkan rencananya malam ini untuk membunuh salah satu keturunan keluarga Wilson sekaligus putra bungsu dari Arvind Wilson.
Ketika Rolland tengah memikirkan rencananya sembari menikmati kopi hangatnya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara bunyi ponsel miliknya.
Rolland langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja di sampingnya. Terlihat nama 'Sonny' di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi dan tidak ingin membuat Sonny menunggu lama, Rolland pun langsung menjawab panggilan dari Sonny yang tak lain adalah temannya.
"Hallo, Sonny!"
"Kau dimana?"
"Di rumah. Kenapa?"
"Apa kau tetap dengan rencanamu untuk membunuh Darel malam ini?"
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya ketika kita di Cafe beberapa hari yang lalu bahwa aku akan menuntut balas akan kematian semua anggota keluarga Rocio."
"Tapi disini keluarga Rocio yang terlebih dahulu melakukan kesalahan dengan mengusik keluarga Wilson dengan cara ingin merebut semua kekayaan milik keluarga Wilson melalui perantara sepupumu Paula."
"Aku tidak perduli dengan hal itu. Aku tetap pada niat awalku."
"Kau pikirkan lagi Rolland. Setidaknya pikirkan keluarga Ramendra. Jangan hanya karena balas dendammu membuat semua anggota keluarga Ramendra ikut terseret. Hanya keluarga Ramendra yang tersisa saat ini. Dan aku yakin anggota keluarga Ramendra sudah mengetahui alasan dibalik kematian semua anggota keluarga Rocio termasuk Bibi kamu yang berasal dari keluarga Ramendra."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Sonny membuat Rolland seketika diam. Di dalam hatinya, Rolland membenarkan apa yang dikatakan oleh Sonny.
"Keluarga Wilson bukan lawanmu. Mereka bisa menjadi lebih ganas lagi jika kesayangannya disentuh."
"Kau tahu bukan. Pemuda yang ingin kau bunuh itu adalah permata di keluarga Wilson. Dia begitu disayang dan jaga oleh seluruh anggota keluarganya tak terkecuali. Kau bisa lihat sendiri buktinya ketika kecelakaan yang dia alami atas perintah Paula, semua anggota keluarga Rocio mati. Perusahaan serta rumah mewah milik keluarga Rocio sudah menjadi abu alias hangus terbakar. Itu semua adalah perbuatan keluarga Wilson."
"Karena kau adalah temanku, makanya aku menasehatimu sekaligus memintamu untuk membatalkan niatmu itu."
"Baiklah. Hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu. Semoga kau mau mendengarkanku, Rolland!"
Tutt..
Tutt..
Setelah mengatakan itu, Sonny langsung mematikan panggilannya. Setidaknya dia sudah melakukan tugasnya. Berhasil atau tidaknya, itu semua ada ditangan sahabatnya itu.
***
Di rumah sakit tepatnya di ruang rawat Darel tampak ramai. Semua anggota keluarga Wilson telah berkumpul disana. Bahkan semua sahabat-sahabatnya Darel juga ada disana.
Darel yang memang sejak tadi terjaga menatap bingung sekelilingnya. Di dalam hatinya berkata 'Ada apa? Kenapa ramai sekali?'
Arvind yang peka langsung melihat kearah putra bungsunya. Dia tersenyum lalu melangkah mendekati ranjang putra bungsunya itu.
"Ada apa, hum?" tanya Arvind bersamaan dengan belaian di kepala putranya.
Darel melihat kearah ayahnya yang tersenyum menatap dirinya.
__ADS_1
"Kenapa ramai sekali di ruang rawatku? Apa ada masalah?" tanya Darel.
Mendengar pertanyaan dari Darel membuat Arvind seketika bungkam. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Mereka semua takut akan melukai Darel, ditambah lagi kondisi Darel yang saat ini masih Amnesia.
"Kenapa Papa diam? Kenapa pertanyaanku tidak dijawab?"
Deg..
Seketika Arvind terkejut ketika mendengar pertanyaan balik dari putra bungsunya.
"Jangan merahasiakan apapun dariku. Aku paling tidak suka dibohongi."
Mendengar ucapan dari Darel membuat Arvind terkejut. Begitu juga dengan Adelina, putra-putranya, anggota keluarga Wilson dan sahabat-sahabatnya.
Mereka semua terkejut ketika Darel mengatakan bahwa dia paling tidak suka dibohongi, padahal Darel sedang Amnesia.
"Rel," panggil kakak-kakaknya.
Darel langsung melihat kearah kedua belas kakak-kakaknya yang saat ini melihat dirinya.
"Kenapa?" tanya Darel.
"Kamu udah ingat, Sayang?" tanya Nevan.
"Udah ingat? Maksud kakak Nevan, apa? Memangnya aku kenapa?" Darel menatap Nevan dengan tatapan bingungnya.
"Kecelakaan yang menimpa kamu beberapa hari yang lalu membuat kamu melupakan kakak dan kita semua. Dengan kata lain, kamu mengalami Amnesia!" Nevan berucap sembari menjelaskan maksud dari perkataannya itu.
"Benarkah begitu?" tanya Darel.
"Hm!" semua yang ada di dalam ruang rawat tersebut berdehem sembari menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Tapi aku ingat mengenali kalian semua!"
Kini mereka semua yang membelalakkan matanya saking terkejutnya ketika mendengar ucapan dari Darel. Mereka semua menatap intens manik coklat Darel. Terlihat kejujuran disana.
"Sayang," ucap Arvind sembari mengusap lembut kepala putranya itu.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah kecelakaan itu. Tapi aku benar-benar ingat Papa, ingat Mama dan ingat kalian semua. Aku nggak bohong."
Arvind tersenyum lalu kemudian mencium kening putih putranya itu penuh sayang.
"Papa percaya, Sayang!"
"Sejak kapan, Rel?" tanya Davian.
"Aku nggak tahu, kak!"
"Sudah-sudah! Jangan ada yang bertanya apapun sama Darel. Biarkan saja dulu," ucap William.
Hening...
Semuanya tampak hening dengan tatapan mata yang fokus menatap kearah Darel dan juga sekitarnya secara bergantian.
__ADS_1
"Pa," panggil Darel.
"Ya, Sayang! Ada apa, hum?" Arvind menjawab panggilan dari putra bungsunya dengan lembut.
"Katakan padaku, apa yang terjadi? Tidak mungkinkan kalian semua ada disini. Ditambah lagi Zayan, kak Arzan dan para anggotanya juga ada disini. Pasti terjadi sesuatu."
Mendengar pertanyaan sekaligus ucapan dari Darel membuat mereka menatap Darel tidak tega, apalagi ketika melihat tatapan matanya.
"Please...."
Arvind menatap keenam putra tertuanya. Begitu juga dengan keenam putra tertuanya itu. Mereka saling memberikan tatapan.
Setelah itu, Arvind dan keenam putra tertuanya itu kembali menatap Darel.
"Ada yang ingin membunuh kamu, Sayang." Arvind berucap dengan suara lirihnya.
Deg..
Darel seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari ayahnya yang mengatakan bahwa ada yang membunuhnya.
"Kapan?" tanya Darel.
"Malam ini, Nak! Tapi Papa dan kita semua tidak tahu pukul berapa orang itu akan melakukan aksinya," sahut Arvind.
Darel seketika mengalihkan pandangannya menatap lurus ke depan. Pikiran langsung tertuju pada saat kejadian dimana mobilnya yang ditabrak dari dua arah berlawanan yaitu arah belakang dan depan. Kemudian kedua mobil itu mengarahkan mobilnya menuju pembatas jalan yang mana di bawahnya jurang terjal.
Flashback On
"Ach, sial! Kalau begini aku akan benar-benar mati."
"Siapa mereka? Kenapa mereka ingin membunuhku?"
Braakk..
Braakk..
Gedebag..
Gedebug..
Bunyi suara hantaman mobil yang mana dia mobil menghantam mobil milik Darel.
Mobil Darel sudah berada di ujung jurang. Dengan kata lain, mobil Darel sudah merusak pembatas jalan tersebut.
Darel dalam keadaan terluka di bagian kepala, perut dan kaki akibat benturan yang dia dapatkan.
Sebelum kesadaran mengambil alih tubuhnya, Darel melihat sosok pemuda yang keluar dari dalam mobil. Darel dapat melihat dengan jelas wajah pemuda tersebut.
Flashback Off
"Pasti dia orangnya," ucap Darel pelan.
Walaupun Darel berucap dengan suara pelan, namun ucapannya itu dapat didengar oleh ayahnya, kakak-kakaknya yang memang kebetulan berdiri tak jauh dari ranjangnya.
__ADS_1