Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Obrolan Darel Dengan Ketujuh Sahabatnya


__ADS_3

Mendengar penuturan dari Dirga dan Marcel mereka hanya bisa pasrah. Mereka semua tahu bahwa keduanya masih belum bisa menerima semua kebohongan yang telah diciptakan oleh kedua orang tua mereka. Makanya keduanya melampiaskan kekesalan dan kekecewaan mereka pada Rayyan dan keempat adiknya.


"Dirga, Marcel. Paman tahu kalian kesal, marah dan kecewa dengan mereka. Tapi ingat dua hal. Pertama, mereka tidak salah sepenuhnya. Yang salah itu orang tua mereka. Mereka juga korban disini. Korban kebohongan kedua orang tua mereka. Kedua, bagaimana pun mereka masih saudara kita. Bagian dari keluarga Wilson. Kakek Antony Wilson dan Kakek Ziggy Wilson ayahnya Mathew Wilson, mereka berdua adalah saudara. Mereka satu ayah. Ayah mereka itu adalah Kakek buyut kalian. Kalian semua adalah cicit-cicitnya, termasuk Rayyan dan keempat adiknya. Dan mereka juga keponakan kami." Sandy berbicara lembut terhadap Dirga dan Marcel.


"Dirga, Marcel. Satu lagi yang harus kalian ingat. Kalian dari kecil diberi kasih sayang, dijaga, dirawat dan dibesarkan oleh Papa yang sama yaitu William Wilson. Dan kalian juga sudah bersama-sama selama ini. Saling berbagi, saling menyayangi dan saling melindungi. Apakah di hati kalian berdua sudah tidak ada rasa sayang untuk adik-adik kalian itu?" ucap dan tanya Arvind dengan menatap lembut Dirga dan Marcel.


"Kalau kalian ingin menyalahkan seseorang. Hanya ada satu orang yang bersalah. Dan orang itu yang sudah membuat keadaan menjadi kacau sehingga membuat kita menjadi seperti ini. Renggang!" ucap Arvind.


Mereka semua menatap wajah Arvind seakan-akan bertanya siapa orang itu?


"Siapa orangnya Paman?" tanya Dirga dan Marcel.


"Iya, Pa. Siapa orangnya?" tanya Ghali.


"Akar mulanya berawal dari istri kedua Kakek buyut kalian. Yang tidak lain adalah ibu tiri dari kakek Antony. Perempuan itu menghalalkan segala cara untuk menguasai seluruh kekayaan Kakek buyut kalian. Dia ingin semuanya menjadi milik putranya Ziggy Wilson. Setelah rencananya berhasil, dia mengusir Kakek kalian. Mendengar kabar kesuksesan Kakek kalian. Ziggy datang untuk menemui Kakek kalian dan meminta bantuannya. Tapi Kakek kalian langsung menolaknya. Dan kemungkinan besar pasti perempuan itu yang sudah mengatakan pada Mathew kalau Papanya meninggal gara-gara Kakek kalian. Maka dari itulah kenapa Mathew ingin membalaskan dendamnya pada Kakek kalian." Arvind menjelaskan kronologi yang sebenarnya kepada anggota keluarganya.


"Jadi Paman mohon, jangan membenci Rayyan dan keempat adiknya. Mereka tidak bersalah sepenuhnya," ujar Arvind.


Arvind menatap wajah-wajah tampan putra-putranya. "Papa juga meminta pada kalian untuk tidak membenci mereka. Walau mereka pernah menyakiti adik kesayangan kalian. Papa sangat yakin adik kesayangan kalian pasti sudah memaafkan kesalahan kakak-kakaknya itu." Arvind berbicara lembut sembari melihat kearah putra bungsunya.


Darel melepaskan pelukannya dari sang ibu dan menatap wajah tampan sang ayah.


"Iiihh. Papa kepedean sekali. Dari mana Papa bisa mengetahui kalau seseorang itu sudah memaafkan kesalahan orang lain?" Darel merengut tak suka pada ayahnya yang mengatakan bahwa dirinya sudah memaafkan kesalahan Rayyan dan keempat adiknya itu.


Baik Arvind, Adelina, Sandy, William, Evita, Salma, Daksa dan para kakak-kakaknya yang melihat wajah merengut Darel dan mendengar penuturan dari Darel tersenyum.


"Dari kamu yang sudah memaafkan kesalahan Dirga dan Marcel. Bukankah Dirga dan Marcel juga sama seperti Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan. Mereka sama-sama berlaku buruk pada kamu," jawab Arvind tersenyum hangat pada putra bungsunya itu.


Darel tidak langsung menjawab. Dirinya hanya diam. Dan masih dengan wajah merengutnya.


"Papa benarkan?"


"Apanya?"


"Haah!"


Mereka semua menghela nafas sambil menepuk jidat saat mendengar jawaban dari Darel. Sebenarnya bukan jawaban itu yang mereka ingin dengar.


"Ayolah, sayang. Kamu tahu apa yang Papa maksud."


"Haah!" Kini Darel yang menghela nafasnya. "Iya, iya. Aku sudah memaafkan kesalahan Kak Rayyan, Kak Kevin, Kak Caleb, Kak Dzaky dan Kak Aldan. Lagian mereka juga masih ada hubungan dengan keluarga kita, keluarga Wilson."


Mereka yang mendengar jawaban dari Darel tersenyum bahagia.


"Oh, iya. Papa lupa memberitahu kamu."


"Apa?"


"Besok persidangan pertama Mathew dan Agatha. Kamu harus hadir sebagai saksinya, sayang."


Mendengar ucapan dari Ayahnya, Darel tak langsung menjawabnya. Darel terdiam seketika. Sekilas kejadian itu berputar-putar di kepalanya.


Melihat keterdiaman Darel membuat anggota keluarganya menjadi panik. Adelina yang berada di samping putra bungsunya itu langsung menggenggam tangan putranya. Adelina tahu saat ini putranya pasti teringat akan kejadian itu.


Darel yang merasakan genggaman tangan ibunya menolehkan wajahnya melihat wajah cantik ibunya itu. Lalu tersenyum. Entahlah! Apakah senyuman tulus atau senyuman terpaksa.


"Aku mau ke kamar. Nanti kalau teman-teman aku sudah datang. Kasih tahu aku ya, Ma."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Darel bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai dua. Mereka semua menatap punggung Darel yang menaiki anak tangga.


"Pa, Ma. Aku takut kalau Darel memiliki trauma," ucap Arga.


"Setiap kita membahas masalah Mathew. Darel lebih banyak diam. Darel akan bicara kalau kita ajak bicara. Dan saat Papa membahas tentang persidangan, mimik wajah Darel seketika berubah." Andre ikut berbicara.


Mendengar ucapan dari Arga dan Andre membuat Arvind khawatir akan kondisi kesehatan putra bungsunya itu. Apalagi putra bungsunya sekarang hanya memiliki satu ginjal. Kalau putra bungsunya itu benar-benar memiliki trauma, bisa dipastikan kondisi kesehatan putra bungsunya akan kembali down.


Melihat keterdiaman Arvind. Sandy, William dan Evita menjadi tidak tega.


"Kak Arvind tidak perlu khawatir. Aku yakin Darel itu kuat. Semoga Darel tidak memiliki trauma," ucap William.


"Walaupun itu terjadi. Kakak tidak sendiri. Ada kami disini. Kami akan menjaga Darel. Kita semua ada untuk Darel." Sandy berbicara sambil menghibur kakaknya.


"Iya, Kak. Kakak tidak sendirian. Ada kami disini. Aku yakin Darel tidak memiliki trauma. Semoga saja tidak. Mungkin Darel sedikit lelah tadi. Jadi saat Darel mendengar kata pengadilan, Darel menjadi gugup. Kan ini pertama kalinya Darel akan ke pengadilan dan menjadi saksi pula." Evita berbicara meyakinkan kakaknya.


Mendengar penuturan dari Evita mereka sedikit lega. Dan mereka juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Evita kalau besok adalah kali pertamanya Darel menginjakkan kakinya ke pengadilan dan menjadi saksi di sana. Dan mereka juga berharap semoga kesayangan mereka semua tidak memiliki trauma.


^^^


Darel sedang bersama ketujuh sahabatnya. Saat ini mereka berada di kamar Darel.


"Rel. Bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Kenzo.


"Udah mendingan," jawab Darel.


"Ach, syukurlah." mereka menjawab bersamaan, kecuali Gavin.


Gavin sedari tadi fokus dengan ponselnya. Saat ini Gavin sedang membuka Instagram. Gavin membaca salah satu status di Instagram tersebut, lalu detik kemudian Gavin nangis bombay.


"HUUAAAA."


"Yak! Gavin, kau kenapa?" tanya Brian.


"Kenapa kau menangis?" tanya Damian.


"Aku baca status salah satu warga Indonesia. Besok mereka akan merayakan hari raya idul Adha," jawab Gavin.


"Terus apa masalahnya?" tanya Darel bingung.


"Bukankah itu sudah menjadi tradisi agama mereka," sahut Azri.


"Karena Shaun The Sheep bakal dikurbanin. Padahalkan itu film favoritku," jawab Gavin tanpa dosa.


Mereka semua menepuk jidat masing-masing saat mendengar jawaban dari Gavin.


TAK!


TAK!


BUGH!


Evano dan Kenzo melayangkan masing-masing satu jitakan di kening Gavin sehingga membuat Gavin meringis. Sedangkan Brian melemparkan bantal kelinci milik Darel ke wajah Gavin.


"Aww."


"Kenapa kalian pada menyerangku?" protes Gavin.

__ADS_1


"Mau lagi?" seru mereka semua sembari menatap horor padanya. Dan hal itu sukses membuat Gavin ciut.


Darel melihat kearah Kenzo. "Kenzo,"


Kenzo yang merasa dipanggil pun langsung menolehkan wajahnya melihat kearah Darel.


"Ada apa, Rel?"


"Kau punya hutang denganku. Dan kau belum bayar," sahut Darel dengan wajah yang penuh selidik.


"Hutang? Belum bayar? Memangnya kapan aku punya hutang sama kelinci buluk ini," batin Kenzo.


"Hei, Kenzo. Kalau kau punya hutang sama sikelinci buluk ini buruan bayar. Ntar hidupmu tak tenang, nak!" ejek Gavin.


Baik Kenzo maupun Darel menggeram kesal. Mereka berdua menatap horor pada Gavin. Sedangkan Brian, Evano, Damian, Azri dan Farrel tersenyum melihat ketiganya. Mereka tidak berniat untuk ikut campur. Mereka hanya menjadi pendengar setia saja sembari tetap berkutat dengan ponsel dan ada juga yang sedang bermain video game milik Darel.


"Perasaan aku tidak punya hutang apapun padamu, Rel. Kalau pun ada. Aku bakal bayar dan gak bakal lupa," jawab Kenzo.


Dirinya benar-benar tidak pernah punya hutang apapun pada Darel. Baik pada Darel maupun pada yang lainnya. Sedangkan Darel sedari berusaha menahan tawanya saat melihat wajah bingung Kenzo yang berusaha untuk mengingatnya.


"Kau memang tidak punya hutang uang padaku, Kenzo!" seru Darel.


"Lalu kenapa tadi kau bil..." ucapan Kenzo terpotong.


"Tapi kau punya hutang penjelasan padaku tiang listrik kamprett," ucap Darel sarkas dan juga kesal.


"Hahahahaha." yang lainnya tertawa mendengar ucapan Darel.


"Yak! Diam kalian. Kalau tidak aku akan sumpal mulut kalian pake kaus kaki sikelinci bongsor ini," kesal Kenzo sembari menatap horor Brian, Evano, Damian, Damian, Farrek dan Gavin.


Mereka semua pun langsung mengatup mulut masing-masing.


Kenzo mengalihkan pandangannya melihat Darel. "Hu-hutang penjelasan? Maksudmu apa, Rel?"


TAK!


Darel menjitak kening Kenzo tak tanggung-tanggung.


"Yak, Rel! Kenapa kau malah menjitakku?" tanya Kenzo kesal sembari mengelus-elus keningnya.


"Sudah tahu salah masih berani protes, Kenzo Alberto!" seru Darel. Matanya menatap horor Kenzo.


Kenzo membelalakkan matanya saat Darel menyebut namanya lengkap dengan marganya.


"Masih belum ada niat untuk memberitahuku, hah!"


"Hehehe! Maaf, Rel" jawab Kenzo sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hah." Darel menghela nafas akan sikap Kenzo.


"Sekarang katakan padaku. Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa Paman Fayyadh atau Dokter Fayyadh itu Papamu?"


"Yak, Rel! Aku juga tidak sengaja merahasiakan hal ini darimu. Lagian aku juga baru tahu. Aku mengetahuinya saat kau dan yang lainnya main ke rumah. Sepuluh menit kalian pergi, Papaku pulang. Dari situlah aku tahu bahwa Papaku dan Papamu bersahabat," jawab Kenzo.


"Kenapa kau tidak langsung memberitahuku setelah kita bertemu di sekolah?" tanya Darel yang matanya masih menatap horor Kenzo.


"Hehehe.. Sorry. Aku lupa," jawab Kenzo seenaknya udelnya.

__ADS_1


"Dasar tiang listrik bodoh, gila. Mati saja kau," ucap Darel kesal. Lalu membuang wajahnya kearah lain.


__ADS_2