
Darel bersama sahabat-sahabatnya sudah berada diluar kelas. Ketik di kelas Darel merasakan perasaan tak enak terhadap kakak ketujuhnya yaitu Daffa. Dia sudah berusaha bersikap tenang, namun tetap saja perasaan tak enaknya itu makin kuat sehingga membuat Darel berlari keluar meninggalkan kelas.
Untuk sahabatnya yaitu Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon yang meliha Darel yang tiba-tiba berlari keluar meninggalkan kelas ikut mengejar Darel. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Darel.
Di kelas lain dimana Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel sempat melihat Darel yang tiba-tiba berlari. Beberapa detik kemudian disusul oleh Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.
Melihat Darel, adik-adik sepupunya dan sahabat-sahabatnya yang lain berlari mengejar Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel berdiri dari duduknya, meminta izin kepada sang dosen pengajar. Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kelas.
"Rel," panggil Farrel.
"Aku... Aku kepikiran kakak Daffa. Bukan hanya kakak Daffa saja, melainkan kakak Dario dan kakak Aditya."
"Semoga tidak terjadi sesuatu terhadap mereka ya. Kita berdoa saja," hibur Gavin yang saat ini duduk di samping Darel.
Mereka semua menatap khawatir. Terlihat wajah Darel yang sedikit pucat.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo dan Gavin sangat tahu bagaimana rasa sayangnya, rasa pedulinya dan rasa hormatnya Darel terhadap semua kakak-kakaknya. Mereka juga tahu bagaimana hubungan Darel dengan semua kakak-kakaknya. Begitu juga dengan kakak-kakaknya terhadap Darel. Jadi, jika terjadi sesuatu terhadap salah satunya, maka yang lainnya akan merasakan hal tersebut.
***
Di rumah sakit dimana Caleb dan Dzaky sedang menjaga ibunya yang koma. Caleb izin kepada Dzaky untuk membeli makanan.
Ketika Caleb melangkahkan kakinya menyusuri koridor, tatapan matanya Caleb tak sengaja melihat beberapa perawat berlari sambil mendorong tiga Brankar menuju pintu masuk rumah sakit.
"Apa yang terjadi? Apa ada pasien kecelakaan atau bagaimana?" tanya Caleb pada dirinya sendiri dengan tatapan matanya menatap kearah para perawat itu.
Caleb kembali melangkahkan kakinya untuk pergi membeli makanan. Di hadapannya terlihat beberapa perawat mendorong tiga brangkar yang mana di atas brangkar itu terlihat seorang pemuda yang kondisinya tak baik-baik saja.
Para perawat mendorong tiga brangkar itu dan melintas di hadapan Dzaky seketika Dzaky membelalakkan matanya ketika mengetahui wajah dari pemuda yang ada di atas brangkar tersebut.
"Kakak Aditya!" teriak Dzaky.
Dzaky kemudian mendekati brangkar tersebut sembari memanggil nama kakak sepupunya itu.
"Kakak Aditya!"
Dzaky melihat kearah dua brangkar di belakang bersamaan dengan kakinya mendekati kedua brangkar tersebut.
__ADS_1
"Kakak Daffa! Kakak Dario!"
"Suster, apa yang terjadi dengan ketiga kakak sepupunya saya?"
"Mereka mengalami kecelakaan. Ada beberapa warga yang membawa mereka kesini."
Setelah itu, para perawat tersebut kembali mendorong tiga brangkar itu untuk menuju ruang operasi untuk segera ditindaklanjuti.
"Apa keluarga Wilson sudah tahu kecelakaan ini?" tanya Dzaky di dalam hatinya.
"Sebaiknya aku segera mengabari keluarga Wilson mengenai kecelakaan yang menimpa kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya!"
Setelah mengatakan itu, Dzaky pun langsung menghubungi salah satu anggota keluarga Wilson.
***
Di Hyundai Grup perusahaan milik Arvind Wilson tampak sedikit ribut dimana semua karyawan dan karyawati sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang berlalu lalang guna mengantarkan dokemen ke meja satu menuju meja lain, ada yang keluar dari ruangan dengan membawa berkas lalu memberikan kepada karyawan yang ada diluar untuk diminta mengerjakannya, ada juga dua office boy dan office girl yang membawakan beberapa minuman dan makanan untuk para karyawan dan karyawati dan lain sebagainya.
Sementara para Bos besar yang berada di ruangan masing-masing juga tak kalah sibuknya dengan karyawan dan karyawatinya. Bos besar yang dimaksud adalah Arvind dan keenam putra tertuanya.
Davian tengah sibuk dengan pekerjaannya, terutama dengan berkas-berkas yang saat ini menumpuk di hadapannya. Semua berkas-berkas itu harus dicek dan dibaca secara teliti baru kemudian ditandatangani.
"Hallo, Dzaky!"
"Hallo, kak. Maaf kalau aku mengganggu."
"Tidak apa-apa. Ada apa?"
"Ini kak. Aku... Aku hanya ingin memberitahu kakak bahwa kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya kecelakaan. Sekarang mereka berada di ruang operasi."
Deg..
Mendengar penuturan dari Dzaky membuat dunia Davian seketika hancur. Hatinya sesak mendengar kabar kecelakaan adiknya dan kedua adik sepupunya.
"Kapan kejadiannya Dzaky!"
"Aku nggak tahu kapan kejadiannya. Yang jelas aku berpapasan dengan beberapa perawat sembari mendorong tiga brangkar. Ketika melintas di hadapanku, aku melihat kalau yang didorong oleh perawat-perawat itu adalah kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya."
__ADS_1
"Ya, sudah! Kakak akan beritahu keluarga yang lainnya. Kakak titip mereka ke kamu selama kakak dan keluarga lainnya belum sampai disana."
"Baik, kak!"
Setelah mengatakan itu, Davian langsung mematikan panggilannya. Dirinya langsung berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang kerja untuk menuju ruang kerja ayahnya.
***
"Bagaimana? Apa pekerjaan kalian membuahkan hasil?" tanya Dikson, laki-laki yang gagal menjalin kerjasama dengan Daffa.
"Berhasil tuan. Mobil tuan Daffa mengalami rusak parah karena menabrak tiang listrik."
"Begitu juga dengan mobil yang ditumpangi oleh tuan Dario dan tuan Aditya. Mobil keduanya menambrak pembatas jalan."
Mendengar jawaban yang menurut ketiga laki-laki itu sangat memuaskan membuat ketiga laki-laki itu tersenyum kebahagiaan. Ketiganya puas dari hasil pekerjaan dari orang-orang yang mereka bayar untuk mencelakai ketiga calon mantan rekan kerjanya.
"Ini akibat karena kau sudah berani membatalkan rencana kerjasama kita secara sepihak."
"Jika kau tidak membatalkan kerjasama ini, maka kau akan baik-baik saja."
"Ini akibat dari keputusanmu."
Ketiga laki-laki itu tersenyum di sudut bibirnya sembari membayangkan bagaimana wajah-wajah ketiga calon mantan rekan kerjanya itu.
"Apa cukup sampai disini saja kita mencelakai ketiga manusia busuk itu, hum? tanya Lana laki-laki yang gagal menjalin hubungan kerjasama dengan Dario.
Mendengar pertanyaan dari Lana membuat Dikson, laki-laki yang gagal bekerja sama dengan Daffa dan Suresh laki yang gagal bekerja sama dengan Aditya tersenyum menyeringai.
"Menurut kalian berdua, bagaimana? Apa sudah cukup atau kita melakukannya lagi?" tanya Dikson.
"Aku berencana ingin menyiksa bajingan itu. Mumpung bajingan itu sedang tidak beradaya di rumah sakit," jawab Lana.
"Terdengarnya sangat menarik. Eemm... Aku juga ingin melakukan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh saudara Lana," pungkas Suresh senyuman liciknya.
"Jadi kalian setuju?" tanya Lana.
"Iya, kami setuju!" jawab Dikson dan Suresh bersamaan.
__ADS_1
"Baiklah. Kita akan atur kapan akan melakukan itu kepada ketiga bajingan tersebut," ucap Lana.
"Baiklah!" Suresh dan Dikson menganggukkan kepalanya bersamaan.