
Darel saat ini berada di ruang tengah bersama anggota keluarganya. Dirinya tengah fokus dengan ponsel miliknya.
Melihat Darel yang tengah fokus dengan ponselnya membuat semua anggota keluarganya tersenyum gemas. Apalagi ketika melihat wajah bahagia Darel ketika fokus menatap layar ponselnya. Mereka meyakini bahwa Darel sedang bermain Game.
"Darel sayang," panggil Arvind lembut.
"Iya, Pa!" Darel menjawab panggilan dari ayahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Kalau Papa boleh tahu. Kemarin pulang dari kampus, kamu kemana dulu? Kenapa sampai di rumah pukul 8 malam? Seharusnya kan pukul 4 sore sudah di rumah?" tanya Arvind.
Darel memang pulang pukul 8 malam setelah menolong sang bibi dan adik sepupunya dari para preman. Setelah menolong sang bibi dan adik sepupunya, sang Bibi membawanya pulang ke rumah dikarenakan Darel yang penasaran dan ingin mengetahui bagaimana bisa bibinya itu berada di kota Jerman. Yang diketahui oleh Darel, kakak-kakaknya, kedua orang tuanya serta Salma Bibinya. Bibinya itu berada di Singapura. Dan
Mendengar pertanyaan dari ayahnya membuat Darel tanpa sadar mengatakan yang sebenarnya bahwa dirinya bertemu dengan Chiara adik perempuan ibunya.
"Aku bertemu dengan Bibi Chiara," jawab Darel .
Mendengar jawaban dari Darel yang mengatakan bahwa dirinya bertemu dengan Chiara membuat Adelina dan Salma terkejut. Begitu juga dengan Arvind, putra-putranya dan anggota keluarga Wilson lainnya.
"Darel," panggil Adelina dan Salma bersamaan.
Seketika Darel terkejut ketika mendengar panggilan dari ibunya dan bibinya. Sementara Adelina dan Salma seketika tersenyum ketika melihat putranya/keponakannya terkejut akan ulahya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Darel menatap kearah ibunya dan bibinya dengan wajah super kesalnya sehingga membuat Adelina dan Salma semakin tersenyum.
"Aish!"
"Sayang, sekarang katakan pada Mama. Tadi barusan kamu bilang kalau kamu bertemu dengan Bibi Chiara?" tanya Adelina dengan tatapan matanya menatap kearah putra bungsunya.
"Bertemu dimana?" tanya Salma.
"Memangnya aku mengatakan itu ya?" Darel balik mengajukan pertanyaan kepada ibunya.
"Darel!" Adelina membesarkan kedua matanya seolah-olah dirinya sedang marah, padahal tidak sama sekali. Begitu juga dengan Salma.
"Aish!" Darel berucap kesal dengan wajah yang terlihat tampak suram akan kelakuan ibunya dan bibinya.
"Sayang!"
"Iya. Aku kemarin bertemu dengan Bibi Chiara dan Cherry."
"Dimana sayang?" tanya Salma.
"Di jalan ketika hendak membeli sesuatu. Bibi Chiara dan Cherry dihadang beberapa preman. Mereka meminta semua barang berharga milik Bibi Chiara dan juga Cherry, tapi sepertinya Bibi Chiara lebih memilih mempertahankan harta bendanya dari pada memikirkan nyawanya dan nyawa putri bungsunya."
Mendengar ucapan, nada bicara dan mimik wajah Darel membuat mereka meyakini bahwa Darel kecewa akan sikap Chiara yang lebih memilih mempertahankan harta bendanya dari pada nyawanya dan nyawa putri bungsunya.
"Lalu apa yang terjadi sayang?" tanya Sandy sang Paman.
"Nolongin Bibi Chiara dan Cherry. Setelah itu aku ancam para preman itu kalau aku akan menghubungi polisi. Mendengar kata polisi, mereka semua kabur."
"Terus apa kamu ada nanya sama bibi Chiara kenapa ada di kota Hamburg?" tanya Vano.
"Ada. Dan Bibi Chiara malah justru jawab antar Bibi pulang nanti setelah sampai di rumah bibi akan ceritakan semuanya. Begitu?"
Mereka semua tersenyum gemas ketika mendengar cerita Darel. Apalagi ketika melihat wajah super kesal Darel. Mereka semua meyakini terutama Adelina dan Salma meyakini bahwa Chiara tengah menjahili Darel. Adelina dan Salma tahu bahwa Chiara selalu menunjukkan sifat jahilnya jika sudah bertemu dengan Darel.
"Setelah kamu tiba di rumah bibi Chiara. Apa Bibi Chiara menepati janjinya?" tanya Andre.
__ADS_1
"Nggak sama sekali. Bibi Chiara ngerjain aku. Bahkan Bibi Chiara nggak ngasih aku makan dan minum. Boro-boro kasih makan, nyuguhkan minuman saja nggak ada sama sekali."
Mendengar ucapan demi ucapan sekaligus jawaban dari Darel membuat mereka semua tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka tidak sepenuhnya percaya perkataan Darel yang mengatakan bahwa Chiara tidak memberikan dia makan dan minum. Alasan Darel berbicara seperti itu hanya untuk membalas Chiara di depan ibunya agar nanti ibunya memarahi sang adik.
"Eh, masa bibi Chiara begitu. Tidak mungkin Bibi Chiara tidak ngasih kamu makan dan nyuguhkan minuman untuk kamu?" tanya Raffa.
"Jadi kakak Raffa nggak percaya padaku? Kakak Raffa anggap aku bohong, begitu?" tanya Darel dengan menatap horor kakaknya itu.
"Bukan begitu. Tapi...."
"Ach, bodoh!"
Setelah mengatakan itu, Darel kembali memainkan games di ponselnya. Dirinya mengabaikan semua anggota keluarganya yang saat ini masih menatap dirinya dengan tersenyum.
Adelina beranjak dari duduknya lalu menghampiri putra bungsunya yang saat ini fokus kembali dengan ponselnya.
Setelah tiba di dekat putra bungsunya, Adelina langsung menduduki pantatnya di samping putra bungsunya itu. Kemudian tangannya terangkat untuk menyentuh kepala belakang putranya itu.
Darel yang merasakan sentuhan di kepala belakangnya langsung melihat kearah samping yang mana tatapan matanya melihat ibunya yang duduk di sampingnya sembari tersenyum.
"Mama mau tahu apa lagi tentang bibi Chiara?" tanya Darel dengan tatapan matanya masih fokus menatap layar ponselnya.
Adelina seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari putra bungsunya, padahal dirinya belum mengatakan apapun.
"Banyak yang ingin Mama tanyakan sama kamu tentang keberadaan bibi kamu itu di Jerman. Bukannya bibi kamu itu bersama keluarganya menetap di Singapura?"
"Mana aku tahu. Bibi Chiara itukan adik kandung Mama. Kenapa Mama nggak nanya sendiri sama adik Mama itu? Nanti jika aku kasih tahu, Mama justru sama seperti kakak Raffa yang tidak mempercayaiku."
Mendengar jawaban dari Darel membuat Adelina tersenyum sembari tangannya mengacak-acak rambutnya. Begitu juga dengan yang anggota keluarga lainnya. Mereka tersenyum menatap wajah manyun Darel ketika mengatakan hal itu pada ibunya.
Ketika Darel tengah berkumpul dengan anggota keluarganya sembari bercerita tentang Chiara, tiba-tiba ponsel milik Darel berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Darel melihat nama salah satu tangan kanannya yaitu Noah di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darel pun segera menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
Sementara anggota keluarganya memperhatikan dirinya dan memasang telinga masing-masing untuk mendengarkan pembicaraan Darel dengan seseorang di telepon.
"Hallo, Bos!"
"Iya, Noah. Ada apa?"
"Begini Bos. Saya ingin menginformasikan bahwa saya sudah mendapatkan data-data dari tiga gadis yang akan masuk ke dalam kehidupan pribadi tuan Nevan, tuan Marcel dan tuan Steven."
Mendengar ucapan dari dari Noah membuat Darel seketika tersenyum lebar. Dirinya benar-benar bahagia mendengar informasi tersebut.
"Siapa mereka dan dari keluarga mana saja mereka berasal?"
Mendengar pertanyaan dari Darel membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarganya meyakini bahwa Noah sudah mendapatkan sesuatu informasi penting.
"Untuk ketiga gadis itu adalah Mika Bailey, Marnella Dawson dan Laudya Martin."
"Oh! Jadi mereka berasal dari keluarga Bailey, Dawson dan Martin?"
"Benar, Bos!"
"Lalu siapa diantara ketiga nama itu yang akan menggoda dan mengusik kehidupan ketiga kakakku?"
"Ach, maaf saya lupa. Untuk perempuan yang bernama Mika Bailey untuk akan menggoda tuan Steven Wilson, Untuk perempuan yang bernama Marnella Dawson akan menggoda tuan Marcel Wilson. Dan untuk...."
__ADS_1
"Laudya Martin akan bertugas untuk menggoda kakakku Nevan Wilson, bukan begitu?"
"Iya, Bos! Apa rencana Bos untuk menghancurkan ketiga keluarga itu?"
"Mudah saja. Kita bermain cantik dengan mengusik kekayaan tiga keluarga itu, salah satunya adalah kita buat perusahaan utama dari tiga keluarga itu diambang kehancuran. Disaat perusahaan dari ketiga keluarga tersebut sudah dalam ambang kehancuran, kita akan datang sebagai dewa penyelamat. Dengan begitu kita akan ambil alih ketiga perusahaan utama milik ketiga keluarga tersebut."
Mendengar ide cemerlang yang dilontarkan oleh sang Bos membuat Noah di seberang telepon tersenyum sembari menganggukkan kepalanya tanda setuju akan ide gila bos nya itu.
Bukan hanya Noah saja yang menyetujui ide gila Darel. Bahkan kedua orang tuanya, ke 12 kakak-kakak kandungnya dan anggota keluarga lainnya juga setuju akan ide dari Darel tersebut.
"Bagaimana menurutmu, Noah?"
"Aku setuju sekali dengan ide Bos itu. Jadi dengan begitu kita sudah memegang kartu mati mereka. Jika mereka memutuskan menyerang kita. Kita langsung menyerang mereka dengan menunjukkan bukti kepemilikan perusahaan utama milik mereka yang mana semua itu sudah menjadi milik kita. Saya juga akan membuat mereka kehilangan semua pendukung dan juga para rekan kerja yang bekerja sama dengan perusahaan tersebut."
"Aku suka dengan ide kamu itu."
"Terima kasih, Bos! Dan satu hal yang harus Bos ketahui tentang tiga keluarga itu."
"Apa itu. Katakan!"
"Ketiga keluarga itu hidup dari penghasilan perusahaan utama. Jika perusahaan utama mereka dalam keadaan tak baik-baik saja, maka hancurlah mereka semua. Alasan itulah kenapa mereka mengincar tuan Nevan, tuan Steven dan tuan Marcel."
"Iya, aku mengerti akan hal itu. Dengan mereka mendekati ketiga kakakku, maka hidup mereka akan baik-baik saja. Mereka tidak akan merasakan penderitaan, tapi justru keluargaku yang menderita akan ulah mereka."
"Oh, iya! Itu hanya keluarga dari pihak ayah dari ketiga gadis itu kan?"
"Iya, Bos!"
"Aku juga mau kau juga melakukan hal yang sama dengan keluarga dari pihak ibu dari tiga gadis itu."
"Siap, Bos! Saya akan melakukan sesuai yang Bos inginkan."
"Terima kasih, Noah!"
"Sama-sama, Bos!"
Setelah mengatakan itu, baik Darel maupun Noah sama-sama mematikan panggilannya.
"Permainan akan segera dimulai para gadis," ucap Darel dengan tersenyum di sudut bibirnya.
Mendengar ucapan dari Darel membuat mereka semua menatap kearah Darel.
"Rel," panggil Nevan.
Darel langsung melihat kearah kakak keduanya itu. "Iya, kak."
"Sekarang katakan kepada kakak. Siapa nama ketiga gadis yang akan mendekati kakak dan kedua kakak sepupu kamu?" tanya Nevan.
"Iya, Rel! Kasih tahu kita!" seru Steven dan Marcel.
"Untuk kakak Nevan, gadis yang akan mendatangi kakak adalah Laudya Martin. Dia berasal dari keluarga Martin. Untuk kakak Steven, gadis yang akan mendatangi kakak adalah Mika Bailey. Dia dari keluarga Bailey. Dan untuk gadis yang mendatangi kakak Marcel adalah Marnella Dawson. Dia dari keluarga Dawson."
"Nanti kemungkinan ketiga gadis itu akan menemui kak Nevan, kak Steven dan kak Marcel sama seperti perempuan bernama Paula dimana perempuan itu menjalin kerjasama dengan kak Ghali."
"Baiklah, Rel!" seru Nevan, Steven dan Marcel bersamaan.
"Dan sepertinya permainan tersebut akan segera dimulai. Persiapkan semuanya untuk menjamu para parasit di rumah ini!"
__ADS_1
"Siap!" semua anggota keluarganya menjawab secara bersamaan.