
Ke esokkan paginya di kamar Hotel Darel sudah bangun dari tidurnya. Ketika Darel ingin memposisikan tubuhnya untuk duduk, tiba-tiba Darel merasakan sakit di kepalanya. Dan tanpa sadar Darel mengerang kesakitan dengan suara yang sedikit keras.
"Aakkkhhh!" Darel meremat rambutnya.
"Kenapa sa-sakitnya datang lagi," ucap Darel.
Dan tanpa Darel sadari. Erangan dan ucapannya itu terdengar oleh ketiga kakaknya. Ketiga kakaknya itu langsung menghampirinya dengan wajah panik.
"Darel," panggil Davian, Nevan dan Ghali.
Darel terkejut dengan membelalakkan matanya ketika mendengar tiga suara yang dikenalnya.
Davian membelai lembut kepala adiknya dengan matanya menatap khawatir adiknya itu. Sementara Darel tidak menunjukkan reaksi apapun. Menoleh pun tidak.
"Kamu nggak apa-apa, sayang?" tanya Nevan.
Nevan mengusap punggung adik bungsunya. Sama halnya dengan Davian. Nevan juga menatap khawatir adiknya.
Bagaimana tidak khawatir? Barusan dirinya mendengar erangan kesakitan dan juga ucapan dari adiknya.
Darel hanya diam dan tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan dari ketiga kakak-kakaknya.
Melihat keterdiaman adiknya. Davian, Nevan dan Ghali hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Mereka tahu saat ini mood adiknya sedang buruk.
"Kita pulang ya?" tanya Ghali sambil memberikan kecupan di kening Darel. Masih sama, Darel tetap menutup mulutnya.
Darek menyentuh tangan adiknya, lalu menariknya untuk digenggam. Namun tiba-tiba, Davian, Nevan dan Ghali terkejut apa yang dilakukan oleh Darel.
Darel langsung menarik kasar tangannya sembari berucap, "Pergi!"
Davian, Nevan dan Ghali terkejut mendengar ucapan dari adiknya yang menyuruh mereka untuk pergi.
"Darel," lirih Davian, Nevan dan Ghali.
Darel bangkit dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi. "Lebih baik kalian pulang. Aku akan tetap disini. Aku tidak akan pernah pulang lagi," ucap Darel yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
BLAM!
__ADS_1
Pintu kamar mandi di tutup secara kasar oleh Darel sehingga membuat ketiga kakaknya terkejut.
"Rel, kamu cuma bercanda kan?" tanya Ghali.
"Kamu nggak seriuskan, sayang?"tanya Nevan.
"Aku serius. Aku tidak akan pernah pulang ke rumah itu lagi. Aku sudah memutuskan mau tinggal sendiri. Aku nggak mau tinggal sama orang-orang pembohong seperti kalian!" teriak Darel dari dalam kamar mandi.
"Darel. Dengar du..." perkataan Davian terpotong.
"Aku tidak sudi dan tidak akan mau mendengarkan apapun alasan kalian. Palingan alasan kalian itu sama seperti alasan-alasan kalian sebelumnya. Alasan-alasan kalian itu tak lain adalah aku. Kalian setiap hari beralasan tidak ingin melihatku sakit, tidak ingin melihatku terluka. Kalian semua seakan-akan menganggapku anak dan adik yang lemah. Kalian membuatku tidak bisa melakukan apapun yang aku mau dan membuatku selalu bergantung pada kalian semua. Mau sampai kapan kalian memperlakukanku seperti ini? Tidak selamanya kalian akan seperti ini terus kepadaku. Suatu saat kalian pasti akan memiliki seorang kekasih dan aku tidak ingin menjadi perusak dalam hubungan asmara kalian dikarenakan kalian terlalu memanjakan aku dan overprotektif padaku!" teriak Darel dari dalam kamar mandi.
Hening..
"Dan aku tidak ingin menjadi beban untuk kalian!" teriak Darel lagi.
"Darel!" teriak Davian, Nevan dan Ghali bersamaan.
Davian, Nevan dan Ghali tidak suka ketika mendengar ucapan dari adiknya itu. Mereka tidak suka jika adiknya menganggap dirinya sendiri sebagai beban untuk mereka maupun anggota keluarga.
Pintu kamar mandi dibuka. Darel keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang cerah. "Aku sudah mantap dengan keputusanku. Aku mau tinggal sendiri. Aku nggak mau pulang."
Davian menggeram marah ketika mendengar ucapan dari adiknya itu. Davian beranjak dari duduknya dan menghampiri adiknya.
Davian menyentak tubuh adiknya agar menghadap padanya. Setelah itu, Davian menatap lekat matanya. "Sampai kapan pun kakak tidak akan pernah mengizinkan niatmu untuk tinggal sendiri. Kamu harus pulang dan tinggal bersama kami." Davian berucap dengan penuh penekanan.
Darel melepaskan kedua tangan kakaknya dari bahunya dengan kuat sehingga tangan kakaknya itu terlepas. "Aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa dan usiaku sudah sudah 21 tahun," jawab Darel.
"Iya. Usia kamu memang sudah 21 tahun. Tapi bagi kami semua kau tetaplah adik kecil kami. Dan kami akan selalu dan terus menjaga dan mengawasimu." Davian menatap tajam adiknya.
"Aku tidak peduli," jawab Darel.
"Tapi kakak peduli. Kita pulang sekarang!"
Davian menarik kasar tangan adiknya dan membawanya keluar dari kamar Hotel. Sementara Nevan dan Ghali menatap khawatir Darel.
"Lepas." Darel menarik kasar tangannya. "Apa kakak tidak dengar. Aku tidak mau pulang. Jika kakak mau pulang. Pulang sana bersama kak Nevan dan kak Ghali. Tapi aku tetap disini."
__ADS_1
"Kamu benar-benar keras kepala, Darel!"
"Keras kepalaku karena kesalahan kalian. Kalian semua jahat. Kalian semua pembohong. Kalian membohongiku tentang kelima sahabat-sahabatku. Mereka semua masih hidup, tapi dengan tega kalian menyembunyikannya dariku!" teriak Darel.
Darel menatap tajam kakak tertuanya itu. "Aku menyesal telah memilih untuk bertahan. Jika aku tahu orang-orang yang aku sayangi semuanya pada kompak membohongiku. Lebih baik aku tidak kembali kepada kalian. Lebih baik saat itu aku memilih untuk ikut bersama kakek!"
Mendengar ucapan dari Darel yang menurut Davian, Nevan dan Ghali sangat kejam dan menyakitkan hati. Mereka menatap marah Darel. Tidak seharusnya adiknya berbicara seperti itu.
"Jaga bicaramu, Darel Wilson! Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu!" bentak Davian kelepasan.
"Kenapa? Kakak tidak terima aku berbicara seperti itu? Tapi kenyataannya aku sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Semangat hidupku telah hilang. Semangat hidupku adalah kalian semua. Tapi kalian telah merusaknya dengan cara membohongiku."
"Kalian jahat. Kalian semua jahat padaku. Aku benci kalian! Aku benci kalian! Lebih baik aku pergi saja dari dunia ini agar aku tidak selalu menjadi beban untuk kalian!"
PLAAKK!
"Kak Davian!" teriak Nevan dan Ghali ketika melihat untuk pertama kalinya kakaknya itu menampar adik bungsunya.
Setetes liquit bening jatuh membasahi wajah tampannya ketika merasakan sakit di pipinya akibat tamparan dari Kakak kesayangannya.
Sementara Davian menatap dengan air mata telapak tangannya yang sudah menampar adiknya barusan. Tangan Davian bergetar.
Davian kemudian menatap wajah merah adiknya. Tangannya terangkat ingin mengusapnya. Namun Darel langsung memundurkan langkahnya.
"Rel... Hiks. Maafkan kakak. Kakak tidak sengaja." Davian berucap lirih.
Nevan merangkul sang Kakak dan berusaha menghiburnya. Sementara Ghali mendekati adiknya dan langsung memeluknya.
"Hiks... Hiks... Aku benci kalian. Aku benci kalian. Kakek... Hiks... Aku ingin ikut Kakek... Jemput aku... Hiks," isak Darel.
Davian, Nevan dan Ghali menangis ketika mendengar ucapan dari adiknya. Hati mereka benar-benar hancur dan juga terluka.
Ghali memberikan kecupan sayang di pucuk kepala adiknya. Dirinya sudah tidak bisa membendung kesedihan dan air matanya ketika mendengar ucapan dari adiknya itu.
"Kita pulang ya!" Ghali berlahan membawa Darel keluar dari kamar Hotel.
Melihat Ghali yang berhasil membujuk dan membawa Darel untuk meninggalkan kamar Hotel. Davian dan Nevan pun menyusul keduanya. Tak lupa Nevan yang membereskan tas milik adiknya.
__ADS_1