Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Air Mata Darel


__ADS_3

Davian dan anggota keluarga Wilson sudah berada di rumah sakit. Kini semuanya sudah berada di ruang rawat. Mereka semua menatap sedih anak/adik/kakak/keponakannya yang terbaring di tempat tidur.


Di ruang rawat itu, Daffa dan kedua kakak sepupunya berada di dalam satu ruangan sehingga memudahkan anggota keluarganya untuk menjaganya.


"Sayang ini Mama, Nak! Kenapa jadi begini."


Adelina, Salma dan Evita sama-sama menangis ketika berbicara kepada putranya yang terbaring di rumah sakit.


Bukan hanya Adelina, Salma dan Evita sebagai seorang ibu yang sedih dan menangis melihat anaknya kesakitan. Arvind, Sandy dan Daksa juga sedih dan menangis melihat anaknya masuk rumah sakit. Terlebih lagi Arvind. Dia sebagai seorang ayah tak pernah lepas yang namanya rumah sakit karena anak-anak sering masuk rumah sakit, terutama si bungsu kesayangannya.


"Kita belum memberitahu Evan, Raffa dan Darel!" seru Alvaro.


"Biarkan kakak nanti menghubungi Evan. Diantara mereka bertiga, Evan orangnya sedikit tenang jika mendapatkan berita buruk. Beda dengan Raffa dan Darel," sahut Ghali.


Axel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul 12 siang.


"Kakak Ghali bisa hubungi Evan pukul setengah satu. Biasanya pukul segitu para mahasiswa dan mahasiswi sedang beristirahat," ucap Axel.


"Baiklah," jawab Ghali.


***


Di kampus Darel bersama sahabat-sahabatnya berada di lapangan. Dua jam yang lalu mereka habis mengikuti materi kuliah ekonomi. Saat ini Darel masih memikirkan kakaknya.


"Sudahlah, Rel! Kita berdoa saja untuk kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya. Semoga mereka baik-baik saja," hibur Kenzo.


"Iya, Rel! Kamu harus tenang dan berusaha untuk tetap berpikir positif. Jangan seperti ini. Kalau kamu seperti ini yang ada kesehatan kamu yang akan terganggu," bujuk Samuel.


"Bagaimana aku bisa tenang? Sejak tadi aku sudah berusaha bersikap tenang dan berpikir positif. Bahkan aku juga berulang kali menghubungi kakak Daffa. Tapi kakak Daffa nggak angkat panggilan dari aku. Aku benar-benar khawatir." Darel berbicara dengan nada lirih dan bergetar. Dan tanpa diminta air matanya jatuh begitu saja membasahi pipinya.


Grep..


Brian menarik tubuh Darel dan membawanya ke pelukannya. Hatinya benar-benar tak kuat jika melihat Darel seperti ini. Di dalam hatinya Brian mengatakan bahwa apa yang dikatakan Darel barusan bahwa sejak tadi Darel sudah berusaha bersikap tenang. Bahkan dia dan yang lainnya berhasil membujuk Darel dan membawa Darel kembali ke kelas.


Brian juga paham akan perasaan Darel terhadap kakaknya. Adik mana yang tidak sedih dan khawatir jika kita berulang kali menghubungi orang yang kita sayangi, namun panggilan kita tidak diangkat.


"Hiks... Kak Brian. Sumpah! Aku benar-benar khawatir terhadap kakak Daffa. Begitu juga dengan kakak Dario dan kakak Aditya. Hiks... Hati aku mengatakan kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya tidak baik-baik saja."


Mendengar ucapan sedih dan ketakutan Darel serta isak tangisnya membuat Brian ikut menangis. Begitu juga dengan Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon. Mereka semua menangis. Mereka secara bergantian mengusap punggung dan bahu Darel.


Ketika mereka semua sedih sembari menenangkan Darel. Tiba-tiba ponsel Darel berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.

__ADS_1


Brian seketika melepaskan pelukannya ketika mendengar ponsel milik Darel berbunyi. Setelah pelukan keduanya terlepas, Darel langsung mengambil ponselnya di saku celananya.


Kini ponselnya sudah ada di tangannya. Matanya melihat nama 'Paman Arkan' di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang lagi, Darel langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Paman Arkan!"


"Hallo, tuan. Maaf kalau saya mengganggu."


"Tidak apa-apa, Paman! Ada apa, Paman?"


"Sebelum saya mengatakan ini kepada tuan. Saya minta sama tuan untuk tetap tenang. Jangan terlalu berpikir keras atau terlalu kepikiran hal-hal lainnya. Saya tidak ingin tuan kenapa-kenapa."


Yah! Arkan sudah tahu tentang kondisi kesehatan Darel dari Antoni sang majikan yang terdahulu. Antoni menceritakan semua tentang Darel kepada Arkan.


Bukan hanya kepada Arkan saja Antoni menceritakan tentang kesehatan Darel. Kepada semua orang-orang yang bekerja padanya, Antoni menceritakannya. Jadi semua tangan kanannya sudah mengetahui kondisi Darel.


"Sebenarnya ada apa, Paman? Kenapa Paman meminta hal itu?"


"Hanya untuk berjaga-jaga saja tuan. Bagaimana tuan?"


"Baiklah, aku akan baik-baik saja ketika mendengar informasi dari Paman."


Mendengar ucapan dan janji dari tuan nya membuat Arkan tersenyum lega. Setidaknya dengan cara seperti ini tuan nya itu bisa bersikap tenang.


"Iya, aku janji. Sekarang katakan padaku."


"Begini. Tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya kecelakaan. Sekarang mereka berada di rumah sakit."


Deg..


Seketika air matanya kembali jatuh ketika mendengar penuturan dari Arkan yang mengatakan bahwa kakaknya dan kedua kakak sepupunya kecelakaan.


"Kapan kejadiannya Paman?"


"Beberapa menit yang lalu, Tuan!"


"Apa Paman tahu apa penyebab kecelakaan itu?"


Deg..


Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon terkejut ketika mendengar ucapan dari Darel yang mengatakan kecelakaan. Di hati mereka mengatakan apa kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya kecelakaan?

__ADS_1


"Belum, tuan. Tapi tuan tenang saja. Saya akan menyelidiki masalah ini. Dan saya janji jika kecelakaan itu disengaja. Secepatnya saya akan bawa pelakunya ke hadapan tuan."


Seketika terukir senyuman di bibir Darel. Bukan senyuman yang biasa diperlihatkan oleh Darel kepada orang-orang terdekatnya, melainkan senyuman iblisnya.


"Baik, Paman. Aku tunggu akan hal itu."


"Baik, tuan! Ya, sudah kalau begitu. Saya matikan panggilannya."


"Baik, Paman."


Tutt..


Tutt..


Arkan seketika langsung mematikan panggilannya setelah meminta izin kepada Darel sang majikannya.


"Rel, ada apa?" tanya Juan.


"Apa yang terjadi?" tanya Razig.


"Tadi lo bilang kecelakaan. Siapa yang kecelakaan?" ucap dan tanya Zelig.


Darel menatap satu persatu wajah-wajah sahabat-sahabatnya yang terlihat khawatir. Darel berusaha untuk tersenyum, walau hatinya ingin menjerit dan menumpahkan kesedihannya akan kabar kecelakaan kakaknya dan kedua kakak sepupunya.


"Ada apa?" tanya Damian sembari mengusap lembut kepala Darel.


Darel seketika menundukkan kepalanya. Dirinya tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di hadapan sahabat-sahabatnya.


"Kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya kecelakaan. Sekarang mereka di rumah sakit," ucap Darel dengan suara lirihnya.


Deg..


Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Darel yang mengatakan bahwa kakaknya dan kakak sepupunya kecelakaan. Dan kini mereka semua sudah mengetahui tentang perasaan dan firasat Darel beberapa menit yang lalu sampai sekarang.


Puk..


Evano menepuk pelan bahu Darel. Dia tahu bahwa saat ini Darel berusaha untuk kuat dan tidak akan menangis di hadapan dirinya dan sahabat-sahabatnya.


Mendapatkan tepukan di bahunya membuat Darel langsung mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sahabat-sahabatnya itu.


Dapat Evano dan yang lainnya lihat mata Darel yang merah karena berusaha untuk tidak menangis.

__ADS_1


"Menangislah, Rel! Jangan ditahan. Lepaskan semua beban yang ada di dalam diri kamu. Setelah itu, kamu dilarang untuk menangis. Kamu harus kuat." Evano berucap sembari tangannya masih bermain-main di bahu Darel.


Setelah Evano mengatakan itu, air matanya yang sejak tadi dia tahan, akhirnya meluncur dengan derasnya.


__ADS_2