Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Tatapan Curiga Darel


__ADS_3

Darel sudah di kampus. Begitu juga dengan Evan dan Raffa. Sesampainya di kampus, keduanya menghampiri Darel. Mereka berusaha mengajak adiknya itu untuk bicara terlebih dahulu.


"Rel," panggil Evan dan Raffa bersamaan.


Darel yang saat ini baru saja turun dari motornya langsung melihat kearah kedua kakaknya. Dapat Darel lihat bahwa kedua kakaknya menatap khawatir dirinya.


"Kita bicara dulu ya," ucap Evan.


"Baiklah," jawab Darel.


^^^


Disinilah mereka di lapangan basket. Mereka duduk di bawah pohon rindang buatan. Disana ada meja bulat dan kursi sebanyak sepuluh.


"Kakak Evan dan kakak Raffa mau bicara apa?" tanya Darel dengan menatap wajah kedua kakaknya itu.


Raffa mengusap lembut kepala belakang adiknya itu agar adiknya itu merasakan kenyamanan. Dia tahu bahwa adiknya saat ini masih dalam mood yang buruk.


"Kakak sama kakak Evan mau bicarakan masa tentang kamu ngelarang kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya untuk pergi menemui calon rekan kerjanya itu," jawab Raffa.


"Apa kamu....." perkataan Evan terhenti karena Darel sudah terlebih dulu bersuara.


"Aku tidak marah sama siapa pun termasuk kakak Dario. Hanya saja aku kecewa dengan sikap kakak Dario yang langsung mengatakan bahwa dia lebih mempercayai temannya itu. Jadi, dengan kata lain. Kakak Dario meragukan bahkan tidak mempercayai setiap informasi yang diberikan oleh tangan kananku. Apalagi terhadap Paman Arkan. Paman Arkan itu terlebih dahulu mengabdi sama kakek dibandingkan yang lain."


Evan dan Raffa seketika berubah sedih ketika mendengar cerita dan alasan adiknya berbicara seperti itu kepada ketiga kakaknya terutama kepada Dario.


"Aku nggak mau semua kakak-kakak aku salah mengambil langkah. Aku nggak mau semua usaha kakek menjadi sia-sia. Tujuan kakek memperkerjakan banyak orang dan menjadikan orang-orang tersebut orang-orang kepercayaannya dan juga anggotanya untuk melindungi anak-anak dan cucu-cucunya dan juga melindungi semua aset kekayaannya dari orang-orang jahat."


Grep..


Evan seketika menarik tubuh Darel dan membawa tubuh adiknya itu ke dalam pelukannya. Dan seketika tangis Darel pecah.


"Hiks... Hiks... Hiks," isak Darel di pelukan Evan.


Mendengar isak tangis adiknya membuat hatinya sesak. Begitu juga dengan Raffa. Mereka paling tidak bisa melihat adiknya menangis, apalagi kalau sudah berurusan dengan orang-orang terdekatnya.


Beberapa detik kemudian, Evan pun melepaskan pelukannya lalu tatapan matanya menatap wajah tampan adiknya itu.


"Udah ya. Jangan nangis lagi," ucap Evan lalu menghapus air mata adiknya.


"Maaf jika aku buat keributan ketika sarapan," ucap Darel.


"Tidak apa-apa! Kakak ngerti," jawab Evan.


"Kamu melakukan hal itu hanya untuk membuat ketiga kakak kamu itu mau mendengarkan kamu. Tidak lebih dari itu," ucap Raffa.


"Ya, sudah! Sekarang pergilah ke kelas. Bukannya kamu akan membahas masalah Dana Organisasi yang habis secara gaib itu bersama sahabat-sahabat kamu, hum!" ledek Evan.


"Aish! Gaib apanya," kesal Darel.


"Lah, buktinya uang itu secara tiba-tiba kan? Kamu dan Devon tidak tahu kemana pergi uang itu. Apa coba kalau bukan uang gaib," jawab Evan menjahili adiknya.

__ADS_1


"Terserah kakak ajalah. Mending aku ke kelas sekarang. Males lama-lama berhadapan sama kakak," ucap Darel lalu beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan kedua kakaknya.


Sementara Evan dan Raffa seketika tersenyum ketika melihat kekesalan adiknya. Setidaknya mood adiknya yang tadi hilang dan berganti dengan kekesalan terhadap dirinya.


Setelah mematikan kepergian adiknya, Evan dan Raffa memutuskan ke kelasnya masing-masing.


***


Di sebuah Cafe terlihat tiga orang pemuda dari tiga perusahaan yang berbeda. Mereka sedang menunggu kedatangan tiga calon rekan kerjanya untuk melakukan hubungan kerjasama.


Namun setelah menunggu selama dua jam. Orang yang mereka tunggu tidak kunjung datang sehingga membuat ketiganya tampak marah dan tak terima diperlakukan seperti sekarang ini.


"Kenapa tuan Daffa tidak datang juga."


"Iya, nih! Tuan Aditya juga tidak datang."


"Begitu juga dengan tuan Dario."


"Ini sudah dua jam kita menunggu kedatangan mereka."


"Apa kita hubungi saja mereka?"


"Jangan!"


"Kenapa?"


"Kalau kita menghubungi mereka. Bisa-bisa mereka curiga terhadap kita. Nanti mereka bisa berpikir bahwa kita yang begitu bersemangat melakukan pertemuan ini. Dan berakhir mereka mencurigai kita akan rencana itu."


Mendengar ponselnya berbunyi, ketiga pemuda itu langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah ponselnya sudah berada di tangannya, mata ketiganya melihat nama dari calon rekan kerjanya itu.


Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing ketika melihat nama calon rekan kerjanya di layar ponselnya.


"Hallo, tuan Daffa/tuan Aditya/tuan Dario!" ketiga pemuda itu menjawab secara bersamaan.


"...."


"...."


"...."


"Apa?!"


Ketiga pemuda tersebut berteriak secara bersamaan ketika mendengar penuturan dari calon rekan kerjanya itu.


"Kenapa tuan?"


"Apa alasannya?"


"Kenapa tiba-tiba tuan!"


"...."

__ADS_1


"...."


"...."


Setelah mengatakan itu, panggilan pun terputus sehingga membuat ketiga pemuda itu seketika marah.


"Brengsek!"


"Sialan!"


"Ini tidak bisa dibiarkan!"


Pemuda yang akan menjalin hubungan kerjasama dengan Dario menatap dua rekannya yang duduk di hadapannya.


"Kita harus balas mereka. Jangan seenaknya saja mereka memperlakukan kita seperti ini."


"Ya. Anda benar. Kita sudah berjam-jam menunggu mereka di cafe ini. Tapi hasilnya mereka seenaknya membatalkan pertemuan ini secara sepihak," ucap pemuda yang ingin menjalin hubungan kerjasama dengan Daffa.


"Dan parahnya lagi. Dia seenaknya membatalkan perjanjian kerjasama perusahaan kita," ucap pemuda yang ingin menjalin hubungan dengan Aditya.


"Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka?"


"Kita buat mereka celaka dengan kita membayar sebuah kelompok. Kita minta kepada kelompok itu memberikan kecelakaan kecil. Setelah itu, kita minta kepada ketua kelompok itu untuk membawa ketiganya ke markas."


"Wah! Aku setujui dengan rencana itu."


"Biarkan aku yang mencari kelompok untuk melakukan rencana ini."


"Baiklah."


"Tunggu saja pembalasan dari kami," batin ketiga pemuda itu.


***


Darel bersama para sahabat-sahabatnya sudah berada di Aula tempat mereka mengada rapat Organisasi Kampusnya. Bukan hanya Darel dan sahabat-sahabatnya saja yang ada disana, melainkan semua anggota-anggotanya juga berada di Aula itu.


Darel menatap satu persatu wajah-wajah para anggotanya. Baik dari anggotanya sendiri maupun anggota dari sahabat-sahabatnya.


Melihat tatapan mata Darel kearah para anggota Organisasi membuat para sahabatnya penasaran. Mereka semua berpikir apakah Darel mencurigai sesuatu. Terutama Devon karena Devon sudah mengetahui arti dari tatapan mata Darel tersebut.


"Kenapa Darel menatap para anggota seperti itu?" batin para sahabat-sahabatnya.


"Lusa kita akan mengunjungi tiga Panti Asuhan. Dan untuk Dananya sudah tersedia sekitar USD$2000!" Darel berbicara dengan menekan kata jumlah dana dan disertai tatapan matanya menatap kearah para anggota-anggotanya secara bergantian.


Mendengar perkataan dari Darel membuat semua yang ada di Aula tersebut terkejut dan juga melongo. Yang paling terkejut disini adalah Devon.


Devon menatap kearah Darel yang saat ini menatap kearah para anggota Organisasi. Dirinya berpikir apakah sahabatnya itu mencurigai salah satu atau beberapa anggota-anggotanya atas hilangnya Dana tersebut.


"Persiapkan semua keperluan untuk kita ke panti Asuhan lusa. Jangan sampai ada yang kelupaan!"


"Siap!"

__ADS_1


Darel masih menatap wajah anggota-anggotanya. Dia meyakini bahwa ada satu diantara anggota-anggotanya itu yang mengambil uang tersebut.


__ADS_2