Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kedatangan Arzan Dan Anggotanya


__ADS_3

Duagh.. Duagh..


Duagh..


Evan dan Raffa memberikan tendangan kuat ke beberapa orang yang hendak melukai putri dari Andrean yaitu Alisha.


Bukan hanya Evan dan Raffa saja yang menghajar para pengendara motor tersebut, Andrean juga ikut bertarung dengan para pengendara motor tersebut.


Beberapa pengendara motor tersebut tersungkur di aspal akibat tendangan dari Evan, Raffa dan Andrean.


"Siapa kalian?! Kenapa kalian menghadang mobil saya?" tanya Andrean.


Mendengar pertanyaan dari Andrean dari pengendara motor tersebut tidak ada yang buka mulut. Hanya tatapan matanya yang mewakili sebagai jawabannya.


"Apa kalian tuli ya?!" teriak Evan.


Mendengar perkataan dan teriakan dari Evan membuat laki-laki yang berstatus pemimpin menatap tajam kearah Evan sambil tangannya menunjuk kearah Evan dengan menggunakan pisau Karambit.


"Jangan ikut campur."


Tiga kata itulah yang keluar dari mulut sang pemimpin dari pengendara motor tersebut.


Evan dan Raffa menatap laki-laki itu dengan tak kalah tajamnya. Begitu juga dengan Andrean.


Andrean benar-benar penasaran siapa mereka? Dan siapa yang mengirim mereka semua untuk menyerang dirinya ketika sedang bersama putrinya.


"Ikutlah bersama kami, maka kau dan putrimu selamat." laki-laki itu berbicara sambil menatap kearah Andrean.


Andrean seketika tersenyum menyeringai dengan menatap balik laki-laki itu.


"Tidak sudi aku ikut bersama kalian," jawab Andrean.


Mendengar jawaban serta penolakan dari Andrean membuat laki-laki itu marah. Dan kemudian, laki-laki itu pun memberikan perintah kepada rekan-rekannya untuk menyerang Andrean, Evan dan Raffa.


"Serang mereka!"


Ketika ke 17 laki-laki pengendara motor itu hendak menyerang Andrean, Evan dan Raffa. Seketika terdengar suara letusan senjata api.


Dor.. Dor..


Dor.. Dor..


Bruk..


Bruk..


Semua pengendara motor tersebut mati seketika di aspal dengan darah keluar dari kepala, perut dan jantung.


Laki-laki yang berstatus sebagai pemimpin langsung melihat ke belakang dan seketika matanya membelalakkan ketika melihat semua rekan-rekan mati.


Laki-laki itu kembali terkejut ketika melihat sekilas 25 orang berjalan menghampirinya dengan senjata di tangan masing-masing.


Evan dan Raffa seketika tersenyum bahagia ketika melihat beberapa anggota dan satu tangan kanan adiknya datang tepat waktu.


Orang-orang yang datang dan langsung menembaki semua pengendara motor dan hanya menyisakan satu itu adalah Arzan dan anggotanya.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Arzan yang sudah berdiri di hadapan Evan, Raffa dan Andrean.


"Kita baik-baik saja. Kamu datang tepat waktu," jawab Evan.


Sementara untuk laki-laki yang berstatus pemimpin sudah dalam keadaan terikat. Laki-laki itu akan dibawa ke markas Black Sharks.

__ADS_1


Andrean yang bingung akan orang-orang yang datang lalu berbicara dengan Evan dan Raffa seketika bersuara.


"Mereka siapa Evan, Raffa?"


Evan dan Raffa langsung melihat kearah Andrean. Keduanya tersenyum ketika melihat wajah bingung serta wajah penasaran Andrean.


"Ini Arzan salah satu tangan kanannya Darel. Dulu dia tangan kanannya kakek. Sekarang menjadi tangannya Darel," jawab Evan.


Andrean langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti akan jawaban dari Evan.


"Terima kasih, nak Arzan!"


"Sama-sama tuan. Ini juga berkat Evan. Dia menghubungi saya dan meminta saya kesini," jawab Arzan.


"Oh iya! Mau kamu buat apa tuh laki-laki jelek itu?" tanya Raffa sambil tatapan matanya menatap kearah pemimpin pengendara motor itu.


Mendengar pertanyaan dari Raffa membuat Evan, Andrean dan Arzan menatap dengan geleng-geleng kepala.


"Memangnya dia itu makanan sampai kamu bilang mau dibuat apa," ucap Evan kesal.


"Yah, mana aku tahu! Siapa tahu Arzan dan anggotanya berniat ingin membuat SOP daging manusia. Kan kita nggak ada yang tahu. Iyakan Arzan?" ucap dan tanya Raffa sembari menatap wajah Arzan.


"Bagaimana kalau kamu saja yang aku jadikan makanan pembukanya?" Arzan balik bertanya kepada Raffa sembari memasang wajah yang super duper mengerikan.


Mendengar pertanyaan dari Arzan dan ditambah lagi dengan wajah Arzan yang benar-benar mengerikan (menurut Raffa) seketika Raffa menelan ludahnya kasar.


Sedangkan Evan dan Andrean tersenyum melihat wajah takut Raffa ketika mendengar pertanyaan dari Arzan. Begitu juga dengan Arzan. Di dalam hatinya Arzan berucap "Ternyata kakak dari majikanku ini penakut juga orangnya. Benar juga apa yang dikatakan oleh Darel bahwa kakaknya yang bernama Raffa memang penakut jika sudah diancam dengan kata-kata yang tidak disukainya." Arzan tersenyum melihat wajah takut Raffa.


"Kalau begitu aku dan anggota-anggotaku kembali ke Markas. Kalian jika kalian ingin pergi, langsung pergi. Jangan singgah kemana-mana pun. Dan jika kalian melihat kejadian di jalanan. Tidak usah pedulikan."


"Baiklah!" seru Evan dan Andrean bersamaan.


Sedangkan Raffa masih menatap kearah lain. Dirinya masih takut menatap wajah Arzan.


Arzan seketika menepuk pelan bahu Raffa sehingga membuat Raffa terkejut.


"Santai saja tuh wajah. Nggak usah terlihat ketakutan seperti itu. Lagian mana mungkin aku akan menjadikan kamu makananku. Jika itu terjadi, justru aku yang akan menjadi santapan dari anak kelinci itu." Arzan berucap sembari membuat Raffa tidak takut lagi dengan menjadikan Darel bahan ejekan.


Seketika Raffa memberanikan diri untuk menatap wajah Arzan. Dan dapat dilihat olehnya wajah Arzan sudah kembali normal.


"Hehehehe." Raffa hanya terkekeh.


Mereka tersenyum melihat wajah Raffa yang sudah kembali seperti sedia kala dan mendengar kekehannya.


"Tapi bolehkan kalau aku menjadikan tubuhmu makananku?" tanya Arzan menjahili Raffa.


"Yak, Arzan!" teriak Raffa kencang.


"Hahahahaha!"


Arzan tertawa keras ketika mendengar teriakkan dari Raffa sembari melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Raffa, Evan dan Andrean.


"Dasar," kesal Raffa.


"Ya, sudah kalau begitu Paman! Aku dan Raffa mau langsung ke Kampus," ucap Evan.


"Ach, baiklah. Kalian hati-hati di jalan!"


"Paman juga," balas Raffa.


Evan, Raffa maupun Andrean sama-sama masuk ke dalam mobilnya masing-masing.

__ADS_1


Setelah ketiganya berada di dalam mobilnya, mereka pun pergi meninggalkan lokasi untuk menuju tempat tujuan mereka.


***


Darel bersama kesembilan sahabatnya yaitu Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon sudah berada di kelas. Beberapa menit yang lalu mereka habis sarapan pagi bersama kelima sahabatnya dan para kakak sepupunya.


"Razig," panggil Darel.


Razig langsung melihat kearah Darel yang saat ini tengah menatap dirinya. Kemudian Razig tersenyum.


"Ada apa, Rel?"


"Boleh aku bertanya?"


"Kenapa harus izin dulu? Kalau kamu mau nanya, langsung nanya aja. Nggak apa-apa kok," ucap Razig yang langsung paham akan sikap Darel itu.


Darel tersenyum ketika mendengar ucapan dari Razig. Terlihat dari tatapan matanya.


"Aku nggak enak kalau nanya langsung, makanya aku izin dulu."


"Hahahaha."


Mereka semua tertawa mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Darel. Menurut mereka apa yang dikatakan oleh Darel itu adalah lucu.


"Yak! Kenapa kalian tertawa? Memangnya ada yang lucu ya?" tanya Darel kesal.


Seketika Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung mengangguk-angguk kepalanya secara brutal.


"Kalian benar-benar menyebalkan!"


Darel langsung berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar. Dirinya ingin pergi menemui lima sahabatnya yang berada di lapangan basket karena kelima sahabatnya itu tengah mengikuti materi kuliah olahraga.


"Yak, Rel!" teriak Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.


Setelah itu, mereka semua langsung berdiri dari duduknya dan langsung mengejar Darel.


^^^


"Yak, Rel! Lo mau kemana?" tanya Kenzo.


"Gitu aja kok marah sih," ucap Gavin.


"Mau kemana? Kita ikut ya?" tanya Samuel.


"Maafin kita ya," mohon Razig dan Lucas bersamaan.


"Kembali ke kelas yuk," ajak Juan.


"Atau kita traktir makan nanti ketika jam istirahat. Bagaimana?" ucap dan tanya Zelig.


"Atau kita akan catat semua materi kuliah hari. Sementara lo bebas mau melakukan apa saja," sahut Devon.


"Atau kamu mau aku belikan susu pisang satu kotak," ucap Charlie.


Mendengar nama susu pisang kesukaannya disebut oleh Charlie membuat Darel menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka ikut berhenti ketika melihat Darel yang berhenti.


Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon melihat wajah Darel. Begitu juga dengan Darel yang menatap satu persatu wajah kesembilan sahabatnya dan berakhir menatap wajah Charlie.


Di dalam hati mereka masing-masing berharap bujukan dan rayuan serta iming-iming susu pisang satu kotak dari Charlie berhasil membuat Darel tidak marah lagi. Termasuk Charlie sendiri.


Setelah puas menatap wajah kesembilan sahabatnya itu, Darel kembali melanjutkan langkahnya untuk menemui kelima sahabatnya yang lain.

__ADS_1


"Yak, Rel!"


Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon mengejar Darel.


__ADS_2