Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Keberhasilan Mikko


__ADS_3

Di kota Munich, terlihat sebuah rumah mewah dan juga luas. Di luar rumah terlihat banyak para penjaga berpakaian serba hitam sedang berjaga. Penjagaan super ketat.


Sementara di dalam rumah terlihat beberapa orang tengah berkumpul di ruang tengah.


"Bagaimana dengan pekerjaan yang aku berikan kepada Kendrick dan Gerald?" tanya Donny Archa, selaku ketua LOS ZETAS.


"Semua beres, Bos. Mereka berdua melakukan pekerjaannya dengan sangat baik." salah satu tangan Donny menjawabnya.


Donny tersenyum ketika mendengar jawaban dari salah satu tangan kanannya.


"Awasi mereka terus, terutama si Gavin. Jangan sampai mereka kabur dari sini. Perketat keamanan di kamar Gavin. Jangan biarkan dia sering-sering bertemu dan berbicara dengan Kenzo. Aku takut sikurus itu bisa membuat ingatan Kenzo kembali." Donny berbicara dengan senyuman menyeringainya.


"Kita butuh mereka berdua disini. Mereka sangat ahli dalam ilmu bela diri. Kita bisa memanfaatkan keahlian mereka itu untuk menguasai kota Hamburg," sela Julian Archa.


"Baik, Bos."


Para tangangnya Donny dan Julian mengangguk.


***


Keesokkan paginya di kediaman keluarga Wilson terlihat begitu ramai dan rusuh dimana seluruh anggota keluarga sudah bangun dari tidurnya. Dan juga sudah dalam keadaan rapi dan wangi. Hanya dua manusia yang tidak tidak ada bersama dengan anggota keluarganya. Siapa lagi kalau bukan kedua bungsu Arvind Wilson dan Adelina Wilson yaitu Darel Wilson dan Raffa Wilson. Keduanya masih terlelap di kamar Darel. Lebih tepatnya Raffa tidur di kamar adiknya. Mereka saat ini berada di ruang tengah.


Kenapa Raffa bisa tidur di kamar Darel? Karena semalam Raffa membawakan makan malam untuk adiknya dan juga berniat untuk meminta maaf kepada adiknya karena telah membuat adiknya sedih.


Raffa membujuk dan juga memohon maaf kepada adiknya dengan berbagai cara. Segala cara dilakukan oleh Raffa, tapi usahanya gagal.


Melihat keras kepala dan pendirian adiknya membuat Raffa mengeluarkan jurus andalannya yaitu Raffa akan mogok makan dan juga akan mengurung diri di kamar selama satu minggu jika adiknya tidak mau menghabiskan makan malamnya dan memberikan maaf untuknya.


Awalnya, Raffa sempat khawatir jika jurus andalannya akan gagal. Namun, ketika Raffa yang berpura-pura ingin pergi meninggalkan kamar adiknya dengan wajah ditekuk. Tiba-tiba adiknya menahan tangannya disertai air matanya yang sudah jatuh membasahi wajah tampannya. Melihat adiknya menangis tentu saja membuat hati Raffa tambah sakit. Raffa pun langsung memberikan pelukan hangat seorang kakak kepada adiknya. Raffa sangat tahu jika adiknya butuh sandaran.


Pada akhirnya,Raffa berhasil membuat adiknya sedikit lebih tenang. Dan Raffa juga berhasil membujuk adiknya untuk makan malam dan berakhir mereka tidur bareng.


"Oh, iya. Raffa dan Darel mana? Apa mereka masih tidur?" tanya Salma yang tidak melihat kedua keponakannya itu.


"Sepertinya, iya!" sahut Evan.


"Aku yang akan membangunkan sikelinci nakal itu!" seru Andre.


"Dan aku yang akan membangunkan sialien busuk itu," sela Alvaro.


Setelah itu, Andre dan Alvaro pergi meninggalkan anggota keluarganya yang berada di ruang tengah untuk menuju kamar adik-adik mereka.


Sementara anggota keluarga yang mendengar ucapan dari Andre dan Alvaro hanya tersenyum dan juga geleng-geleng kepala.


Kini Andre dan Alvaro sudah berada di lantai dua. Andre melangkah menuju kamar Darel, sedangkan Alvaro menuju kamar Raffa.


CKLEK!


Andre membuka pintu kamar adik bungsunya. Setelah pintu kamar adiknya terbuka, Andre melangkah masuk ke dalam.


Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika melihat pemandangan indah di atas tempat tidur.


Andre melangkah keluar kamar. Setelah tiba di luar, Andre berdiri bersandar pada terali pembatas dan menatap ke bawah.


"Pa, Ma, Kalian," panggil Andre dari lantai dua.


Adelina, Arvind, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya melihat ke atas. Dan dapat mereka lihat Andre yang sedang berdiri di atas.


"Kemarilah," ucap Andre sembari memberikan kode untuk ke atas. Sementara Alvaro sudah berada di dalam kamar adik kelincinya.


Mereka kini sudah berada di atas, lebih tepatnya di depan pintu kamar Darel.


"Ayo, masuklah. Kalian lihatlah sendiri!" seru Andre dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar adik bungsunya, lalu diikuti oleh anggota keluarganya di belakang.


Setelah mereka berada di dalam kamar sibungsu. Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing, tak terkecuali Arvind, Adelina dan para kanak-kanaknya. Mereka semua tersenyum hangat ketika melihat duo bungsu dari Arvind Wilson dan Adelina Wilson tengah tertidur lelap sambil berpelukan.


"Bagaimana? Apa kita bangunkan keduanya?" tanya Sandy yang tersenyum melihat dua keponakan manisnya yang tidur sambil berpelukan.


Adelina melangkah mendekati ranjang putra bungsunya. Setelah tiba disana. Adelina duduk di samping, tepat di samping putra bungsunya. Adelina membelai rambut kedua putranya secara bergantian dan tak lupa kecupan sayang di masing-masing kening keduanya.


"Raffa, Darek. Bangun, sayang. Ini sudah pukul setengah delapan. Nanti telat loh ke Kampusnya." Adelina berbicara lembut membangunkan kedua putranya.


Ada pergerakan dari salah satunya yaitu dari Raffa. Raffa pun berlahan membuka kedua matanya. Dan orang yang pertama dilihat olehnya adalah ibunya yang sedang tersenyum kepadanya.


"Mama," ucap Raffa khas bangun tidur.


"Selamat pagi, sayang." Adelina tersenyum gemas melihat wajah bantal putranya.


"Pagi, Ma." Raffa membalas sapaan dari ibunya.


Raffa melirik kearah adiknya yang masih tidur, lalu Raffa tersenyum. Kemudian Raffa memberikan kecupan sayang di kening adiknya itu. Mereka yang melihat tersenyum bahagia.


Mereka semua sangat tahu bagaimana rasa sayang dan rasa peduli Raffa terhadap adik manisnya itu. Walaupun Raffa selalu bersikap jahil dan selalu mengganggu adiknya. Tapi Raffa orang pertama yang mengkhawatirkan adik manisnya itu jika terjadi sesuatu padanya.

__ADS_1


"Raffa. Lebih baik kau bangunkan, Darel. Ini sudah pukul setengah delapan. Nanti kalian bisa terlambat kuliahnya!" seru Nevan.


Mendengar suara Nevan, sontak Raffa membelalakkan kedua matanya. Kemudian Raffa mengalihkan pandanganya untuk melihat kakaknya itu.


Raffa kembali membelalakkan kedua matanya ketika melihat semua anggota keluarganya berada di dalam kamar Darel yang kini sedang menatap kearahnya dan adiknya.


"Kalian semua kenapa ada disini?" tanya Raffa menatap bingung anggota keluarganya.


Sementara anggota keluarganya hanya tersenyum melihat wajah terkejutnya Raffa.


"Oke, oke! Kami semua akan keluar. Jangan lupa, bangunkan anak kelinci itu!" ucap Davian.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kamar Darel, termasuk Adelina.


Melihat semua anggota keluarganya telah pergi meninggalkan kamar Darel. Raffa melihat kearah adiknya yang masih terlelap. Raffa tersenyum ketika menatap wajah tampan, cantik, imut dan menggemaskan adiknya ketika sedang tertidur.


Raffa mengelus lembut rambutnya, sehingga terlihat kening adiknya. Raffa mengecup kening itu.


"Sehat terus adiknya kakak yang manis. Jangan sakit-sakit lagi. Kakak menyayangimu." Raffa berbicara pelan.


Setelah puas menatap wajah tampan adiknya, Raffa pun memutuskan untuk membangunkan adiknya.


"Darel. Ayo, bangun."


Darel menggeliat dan tangannya makin mengeratkan pelukannya di pinggang Raffa. Raffa yang melihat reaksi adiknya hanya tersenyum.


"Hei, sayang. Ini sudah pukul setengah delapan. Apa kamu berniat untuk membolos kuliah hari ini, hum?" Raffa berbicara lembut sembari tangannya bermain-main di rambut adiknya.


"Euungghh." terdengar lenguhan dari bibir Darel. Dan beberapa detik kemudian, Darel membuka kedua matanya.


Ketika matanya telah terbuka sempurna dapat Darel lihat wajah tampan kakaknya di hadapannya.


"Kakak Raffa," ucap Darel.


"Selamat pagi, adiknya kakak yang tampan dan manis."


"Selamat pagi juga kakaknya Darel yang tampan dan jelek."


"Hei." Raffa menggeram sembari berpura-pura memperlihatkan wajah marahnya.


Darel tersenyum. "Kakak Raffa yang tampan dan terbaik."


Terukir senyuman manis di bibir Raffa ketika mendengar ucapan dari adiknya.


"Ya, sudah. Sekarang kamu bangun dan segera mandi. Setelah selesai bersiap-siap segera turun ke bawah."


Darel langsung bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandinya.


Melihat adiknya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Raffa membersihkan tempat tidur adiknya. Setelah terlihat rapi, Raffa pun pergi menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar adiknya.


***


Kini Raffa dan Darel sudah berada di meja makan dan berkumpul dengan anggota keluarganya.


"Bagaimana tidurnya, sayang?" tanya Arvind kepada putra bungsunya.


"Nyenyak, Pa." Darel menjawabnya sambil tangannya mengambil sepotong ayam goreng.


Mendengar jawaban dari Darek mereka semua tersenyum. Tak terkecuali Arvind, Adelina dan para kakak-kakaknya.


Mereka menikmati sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan. Ketika mereka tengah menikmati sarapan paginya, tiba-tiba terdengar ponsel milik Darel berbunyi.


DRTT!


DRTT!


"Maaf, ini ponselku." Darel berseru. Sementara mereka semua hanya tersenyum.


Darel merogoh ponselnya yang ada di dalam saku. Ketika ponsel itu sudah ada di tangannya, Darel melihat nama 'Mikko' di layar ponselnya. Tanpa membuang waktu lagi, Darel langsung menjawabnya.


"Hallo, Mikko. Ada apa?"


Sementara anggota keluarganya hanya menyimak apa yang dibicarakan oleh Darel di telepon.


"Bos. Saya sudah mendapatkan informasi mengenai kehidupan Nyonya Pingkan dan Mirza selama ini. Termasuk masalah Nyonya Pingkan dengan suami pertamanya. Dan saya juga mendapatkan informasi mengenai kehidupan mantan suami keduanya."


Mendengar kabar yang diberikan oleh Mikko. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Anggota keluarganya yang melihat senyuman itu merasakan kehangatan di hati mereka masing-masing.


"Apa hanya itu saja?"


"Tidak, Bos. Ada lagi."


"Kalau begitu, katakan!"

__ADS_1


"Saya dan beberapa anggota WHITE EAGLE telah berhasil merebut apa yang sudah menjadi milik Nyonya Pingkan dan Nyonya Kayana."


"Maksudnya apa? Kalau yang ini aku benar-benar tidak mengerti."


"Bos tahukan hubungan Nyonya Pingkan dan Nyonya Kayana?"


"Iya, aku tahu. Mereka kakak adik sepupu. Ayah mereka adik kakak. Dan ibu mereka juga adik kakak adik."


"Dan Bos juga tahukan nama marga mereka?"


"Iya. Marga Robert untuk Ayah mereka. Sedangkan marga Madhavi untuk Ibu mereka."


"Iya. Bos benar. Semua kekayaan milik pribadi dari ayahnya Nyonya Pingkan dan ayahnya Nyonya Kayana direbut paksa oleh saudara sepupu dari ayah-ayah mereka, Bos."


Mendengar ucapan dari Mikko, akhirnya Darel pun mengerti.


"Jadi maksud dari ucapanmu tadi kalau kau sudah berhasil merebut kekayaan itu dari tangan bajingan tengik itu?"


"Iya, Bos. Itu maksud saya."


Darel tersenyum. Dirinya benar-benar bahagia dengan hasil kerja Mikko dan juga tangan kanannya yang lainnya. Seketika Darel rindu akan kakeknya.


"Kakek," lirih Darel.


Anggota keluarganya yang sedari tadi memperhatikannya dan mendengar pembicaraannya di telepon menjadi terkejut ketika tiba-tiba Darel menyebut kakeknya.


Flashback On


"Kakek akan menyerahkan semuanya padamu. Semua tanggung jawab kepadamu. Mulai dari perusahaan, rumah mewah ini sampai semua yang kakek miliki. Kakek percayakan semuanya padamu. Kakek yakin kau bisa seperti Kakek kelak. Kakek percaya dengan kemampuan dan kepintaranmu. Kau tidak sendirian. Ada dua puluh lebih tangan kanan kakek yang akan selalu mematuhi perintahmu. Mereka semua akan patuh kepadamu seperti mereka patuh kepada Kakek."


"Dan kau bisa menunjuk sepuluh orang yang akan kau jadikan kepercayaanmu. Dan dengan begitu mereka akan membantu pekerjaanmu. Sepuluh orang yang kau tunjuk itu juga akan dipatuhi perintahnya oleh dua puluh lebih tangan kanan Kakek. Mereka semua tidak akan mengecewakanmu."


Flashback Off


Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika mengingat pembicaraannya dengan Kakeknya.


"Kakek, benar. Mereka semua benar-benar hebat. Mereka semua bisa diandalkan. Dan pekerjaan mereka selalu membuahkan hasil. Terima kasih, Kek. Terima kasih karena kakek sudah memberikan kepercayaan kepadaku. Aku merindukanmu. Semoga kakek bahagia di atas sana." Darel berucap sambil tersenyum.


Arvind, Adelina, para kakak-kakaknya dan anggota keluarga lainnya juga ikut tersenyum ketika mendengar ucapan dari Darel.


"Hallo, Bos. Apa kau masih di sana?"


Mendengar suara Mikko membuat Darel pun tersadar. Dan segera membalasnya.


"Ach, iya. Maaf Mikko. Apa masih ada lagi?"


Mereka semua tersenyum gemas ketika melihat wajah terkejut Darel.


"Masih, Bos. Ini mengenai kekayaan milik keluarga Madhavi. Keluarga dari ibunya Nyonya Pingkan dan ibunya Nyonya Kayana. Saya dan anggota WHITE EAGLE juga berhasil merebut kekayaan keluarga Madhavi. Saya sudah memberikan semua bukti-bukti tentang kejahatan mereka kepada pihak kepolisian. Bahkan saya juga sudah mengajukannya ke pengadilan. Dan pihak pengadilan sudah mengirimkan surat panggilan untuk kedua keluarga itu."


"Ini kabar yang bagus, Mikko. Aku sangat bahagia mendengarnya. Kapan pengadilan itu akan dibuka?"


"Satu minggu lagi, Bos. Oh, iya! Kira-kira Bos pulang jam berapa dari Kampus?"


"Eeemmm! Aku pulang dari Kampus sekitar pukul 3 sore. Kenapa?"


"Saya akan ke rumah untuk menemui Bos. Sekalian saya akan memberikan beberapa berkas untuk Bos, untuk Nyonya Pingkan dan juga untuk Nyonya Kayana. Dikarenakan Nyonya Kayana sudah tidak ada. Maka akan diwakilkan oleh ketujuh putra-putra Nyonya Kayana. Dan juga beberapa bukti tentang suami pertamanya Nyonya Pingkan."


"Baiklah. Jika nanti aku pulang sedikit terlambat. Kau temui saja anggota keluargaku."


"Baik, Bos. Kalau begitu saya tutup teleponnya."


Setelah itu, Mikko pun mematikan panggilannya setelah mendapatkan izin dari Darel.


"Darel, sayang." Arvind memanggil putra bungsunya dengan lembut.


Darel langsung mengalihkan pandangannya menatap wajah ayahnya.


"Ya, Pa."


"Kalau Papa boleh tahu. Siapa itu Mikko? Apa dia juga tangan kanan kakekmu yang bekerja untuk kamu?"


"Hm." Darel menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Apa yang dibicarakan oleh Mikko kepada kamu?" tanya Nevan.


"Mikko bilang kepadaku bahwa dia sudah mendapatkan sebuah bukti tentang suami pertama Bibi Pingkan yang tak lain adalah Ayah kandung Mirza." Darel menjawabnya dengan menatap wajah Pingkan.


Mendengar perkataan Darel membuat Pingkan terkejut. Mereka semua dapat melihat raut tak suka Pingkan ketika Darel membahas masalah suami pertamanya.


"Nanti sekitar pukul 3 sore. Aku minta kepada kalian semua, termasuk Bibi Pingkan dan Mirza untuk menungguku di ruang tengah. Ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua, terutama untuk Bibi Pingkan dan Mirza. Jadi ketika aku pulang kuliah nanti. Kalian semua sudah berada di ruang tengah."


Setelah mengatakan hal itu, Darel pun langsung berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan untuk segera ke Kampus. Melihat adiknya pergi, Evan dan Raffa pun pergi menyusul.

__ADS_1


"Pa, Ma, kak, semuanya. Kami pamit pergi ke Kampus!" seru Evan dan Raffa secara bersamaan.


Setelah itu, Evan dan Raffa pun pergi meninggalkan meja makan.


__ADS_2