
Darel saat ini berada di markas Black Sharks. Tujuan Darel kesana hanya untuk melihat dua teman kampusnya yang sudah merusak rem motornya.
Darel bersama dengan Arzan dan Zayan kini berada di ruang tahanan yang ada di markas Black Sharks.
"Kak."
"Ya, Rel!"
"Apa mereka sudah mengaku siapa yang menyuruh mereka? Atau alasan mereka melakukan itu padaku?" tanya Darel kepada Arzan.
"Mereka masih tutup mulut, Rel. Tidak ada diantara mereka yang mau buka mulut," ucap Arzan.
"Bahkan aku dan Arzan sudah berulang kali bertanya. Kami juga sedikit memberikan kejutan terapi berupa sengatan listrik agar mereka mengaku. Tapi tetap saja, mulut mereka masih tertutup rapat," pungkas Zayan.
Mendengar jawaban dari Arzan dan Zayan membuat Darel tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan matanya menatap kearah Zamy dan Arman secara bergantian.
Sementara Zamy dan Arman yang ditatap oleh Darel balik memberikan tatapan kepada Darel. Keduanya menatap tajam Darel.
"Aku nggak masalah jika kalian tidak mau buka mulut. Aku punya cara lain untuk membuat kalian buka mulut." Darel seketika tersenyum menatap wajah Zamy dan Arman.
"Eeemm... kalian berdua memiliki satu adik, bukan? Lo punya adik perempuan. Dan lo punya adik laki-laki. Bagaimana kalau aku bermain-main dengan adik kalian," sahut Darel sembari menatap wajah Zamy dan Arman secara bergantian.
Mendengar perkataan dari Darel membuat Zamy dan Arman terkejut. Keduanya tidak menyangka jika Darel mengetahui bahwa dirinya memiliki adik.
"Dari mana lo tahu kalau gue punya adik perempuan, hah?!" tanya Zamy.
"Hahahaha." Darel seketika tertawa. "Dari mana gue tahu. Kalian berdua nggak perlu tahu," jawab Darel.
"Gue nggak percaya kalau lo tahu gue punya adik laki-laki," tantang Arman.
"Lo nantangin gue? Apa perlu gue tunjukin wajah adik laki-laki lo di depan lo. Atau perlu gue kasih lihat sama lo wajah-wajah anggota keluarga lo, hum! Jika lo bersedia, maka hari ini gue lihatin." Darel berucap sembari menatap remeh kearah Arman.
Deg..
__ADS_1
Arman seketika terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus tantangan dari Darel. Kini dirinya benar-benar ketakutan.
"Bagaimana Arman? Dan lo Zamy! Apa lo juga ingin gue perlihatkan wajah-wajah anggota keluarga lo?" tanya Darel.
Darel memang sudah mengetahui seperti apa wajah dari kedua orang tua dan saudara-saudari kandung dari Zamy dan Arman. Darel mengetahui semua itu dari tangan kanannya bernama Noah dan Zola.
Darel meminta kepada Noah dan Zola untuk menyelidiki latar belakang keluarga dari Zamy dan Arman. Bahkan Darel meminta untuk mengambil wajah-wajah seluruh anggota keluarga dari Zamy dan Arman.
"Jika kalian masih tutup mulut dan tidak juga mengaku alasan kalian merusak rem motorku, maka jangan salahkan aku jika aku akan melakukan apa yang kalian lakukan kepadaku. Itu juga yang akan aku lakukan kepada adik kalian."
Mendengar perkataan sekaligus ancaman dari Darel membuat Zamy dan Arman terkejut. Di dalam hati mereka masing-masing, mereka tidak ingin Darel melakukan hal yang buruk terhadap adiknya maupun keluarganya.
Namun disisi lain, Zamy dan Arman juga tidak ingin membeberkan orang yang sudah menyuruhnya. Bahkan Zamy dan Arman sudah mengetahui apa saja yang sudah dikerjakan oleh orang itu kepada Darel.
"Aku beri waktu kalian 2 hari. Dimulai hari ini. Berarti besok aku akan datang lagi kesini. Jika besok kalian masih tutup mulut, maka kalian akan mendapatkan kabar adik kalian masuk rumah sakit dengan keadaan kaki lumpuh."
Zamy dan Arman yang terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus ancaman dari Darel.
Setelah mengatakan itu, Darel pun pergi meninggalkan ruang tahanan dan diikuti oleh Arzan dan Zayan.
***
Mendengar perkataan dari Rania membuat Tora menatap jijik Rania. Di dalam hatinya Tora, bisa-bisanya Rania mengarang cerita seperti itu.
"Rania, Rania! Apa kau pikir aku percaya dengan ucapanmu itu, hum? Oke, anggap saja semua itu benar. Tak seharusnya kau membalas putriku seperti itu sebelum tahu kebenarannya. Seperti yang aku katakan padamu beberapa menit yang lalu bahwa putriku menerimamu dan menyukaimu sebagai ibunya. Banyak orang diluar sana membicarakanmu, tapi Neylan lebih memilih percaya padamu karena kau adalah ibunya. Seharusnya kau melakukan apa yang dilakukan oleh Neylan."
"Sekarang dengarkan aku Rania. Dan apa yang akan aku sampaikan ini akan berpengaruh kepada seluruh anggota keluargamu. Kita akan bercerai. Aku tidak sudi memiliki istri yang tidak bisa menerima putriku."
"Tidak, Tora! Jangan ceraikan aku. Berikan aku kesempatan untuk merubahnya. Aku berjanji akan menjadi ibu yang baik untuk Neylan."
"Tidak bisa. Kesalahanmu sudah sangat besar. Kau sudah membunuh Lili, kucing kesayangan Neylan. Kau memukulinya dan juga memakinya. Bahkan kau sampai membawa-bawa mendiang istriku. Dan lebih parahnya lagi adalah kau berniat ingin membawa putriku keluar negeri lalu sampai disana kau akan menjadikan putriku sebagai wanita penghibur."
Deg..
__ADS_1
Rania seketika terkejut ketika mendengar ucapan terakhir dari Tora yang mengatakan bahwa dirinya berniat untuk menjadikan Neylan wanita penghibur diluar negeri. Rania benar-benar tidak menyangka jika Tora mengetahui rencana tersebut.
"Sekarang katakan padaku. Apa masih pantas kau diberikan kesempatan kedua, hum?" tanya Tora dengan menatap nyalang Rania.
"Ingat Rania! Aku tahu siapa keluargamu. Baik keluarga dari pihak ibumu maupun dari pihak ayahmu. Dan aku juga tahu sepak terjang mereka seperti apa di dunia bisnis. Jangan sampai aku membongkar semuanya di depan para pebisnis. Dan kau tahukan apa yang akan terjadi jika aku membeberkan semua itu? Dan satu lagi, kau tidak lupakan siapa aku dan siapa keluargaku?"
"Jika kau dan seluruh keluargamu ingin aman dan damai dalam menjalani kehidupan, maka aku minta padamu untuk menjauh dariku dan putriku. Jangan usik kehidupan kami lagi. Jika terjadi sesuatu padaku atau pada putriku. Ach, lebih tepatnya jika kami kecelakaan. Maka orang pertama yang aku curigai adalah kau. Dan apalagi kau pelakunya atau salah satu anggota keluargamu, maka aku akan membalasnya. Jangan kau pikir aku akan diam saja. Banyak orang-orangku diluar sana mengawasimu dan seluruh anggota keluargamu."
"Sekarang pergi kau pergi dari rumahku. Dan datanglah ke pengadilan untuk proses perceraian kita!" bentak Tora.
Rania seketika terkejut dan juga ketakutan ketika mendengar bentakan dari Tora. Apalagi ketika melihat tatapan mata Tora.
Rania berdiri dari duduknya lalu kemudian menarik dua koper miliknya yang sudah sejak tadi dua pelayan membawakan ke bawah untuk pergi meninggalkan kediaman Lunara.
Setelah kepergian Rania, seketika Isak tangis Tora pecah. Dirinya menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada putrinya.
"Neylan, sayang! Maafkan Papi, nak! Maafkan Papi yang sudah membuatmu menderita akibat pernikahan Papi," ucap Tora.
"Neylan! Kamu dimana sekarang, sayang? Papi kangen kamu."
***
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon saat ini berada di ruang latihan tinju. Mereka disana sedang latihan sembari menunggu kedatangan Darel.
Sepuluh menit yang lalu Gavin mengirimkan pesan kepada Darel yang isinya jika sudah sampai di kampus, Gavin meminta Darel langsung ke ruangan latihan tinju.
"Aku mencurigai keluarganya Yagar yang menyuruh Zamy dan Arman untuk merusak rem motornya Darel," sahut Juan tiba-tiba.
"Kakak juga mencurigai keluarganya Yagar. Alasannya adalah mereka marah terhadap Darel karena sudah menyakiti Yagar, lalu kemudian disusul Darel yang menyakiti ibunya Yagar. Jadi mereka tidak terima sehingga nekat membalas Darel dengan cara merusak rem motornya Darel," sahut Farrel.
Mendengar perkataan dari Juan dan Farrel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menganggukkan kepalanya tanda setuju akan perkataan keduanya. Bahkan mereka juga mencurigai keluarganya Yagar.
Ketika mereka semua tengah latihan sembari membahas masalah Darel, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang berbicara di mic. Orang itu meminta semua mahasiswa dan mahasiswi berkumpul di lapangan.
__ADS_1
Mendengar pengumuman tersebut yang meminta semua mahasiswa dan mahasiswi berkumpul di lapangan membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon memutuskan untuk menyelesaikan latihannya.
Setelah itu, mereka semua pun keluar meninggalkan ruang latihan tinju untuk menuju lapangan.