Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kabar Mengenai Kepemilikan Gedung Panti Asuhan


__ADS_3

Darel, dua kakaknya Evan dan Raffa serta keempat kakak sepupunya sudah berada di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat. Sedangkan Aldan sudah kembali ke ruang rawat ibunya setelah beberapa menit mengunjungi Daffa, Dario dan Aditya.


"Kakak, aku bahagia kakak sudah bangun. Maafkan aku. Untuk kakak Dario dan kakak Aditya juga. Aku minta maaf," ucap Darel dengan suara lirihnya.


Mendengar ucapan dari Darel membuat Daffa, Dario dan Aditya terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darel akan mengatakan hal itu.


Daffa menggenggam tangan adik bungsu kesayangannya sembari tatapan matanya menatap teduh sang adik.


"Kenapa bicara seperti itu, hum? Kenapa kamu minta maaf? Kamu nggak salah," ucap Daffa lembut.


"Iya, Rel! Kamu nggak salah," sahut Aditya yang menatap sedih adik sepupunya itu.


"Tapikan kalian kecelakaan gara-gara aku melarang kalian pergi menemui calon rekan kerja kalian itu. Seandainya aku tidak melarang kalian. Kalian tidak akan celaka," ucap Darel.


"Oke! Anggap kamu nggak larang kita pergi. Dengan kata lain kita tetap pergi menemui calon rekan kerja kita itu. Apa kamu pikir masalah dan musibah tidak akan datang. Bukankah Paman Arkan, tangan kanan kamu itu mengatakan bahwa calon rekan kerja kami itu ingin berbuat jahat kepada kami. Mereka tidak benar-benar ingin bekerja sama dengan kami bertiga." Daffa berucap dengan lembut sembari tangannya menghapus air mata adiknya itu.


"Apa yang dikatakan oleh kakak kamu itu benar, Rel! Larang atau kamu tidak melarang kami sekali pun, musibah akan tetap datang. Hanya saja musibahnya berbeda," sahut Aditya.


"Bedanya adalah saat ini. Kami bertiga kecelakaan atas ulah dari ketiga manusia busuk itu. Mereka marah karena kita nggak datang. Jika kita tetap datang menemui mereka, sekali pun kamu sudah larang kita. Musibah yang datang adalah kita akan kehilangan perusahaan. Kakak secara pribadi lebih ikhlas kecelakaan demi menyelamatkan perusahaan dari pada kakak kehilangan perusahaan karena egois dan keras kepalanya kakak." Dario berbicara dengan lembut sembari tatapan matanya menatap wajah sedih adik sepupunya itu.


Daffa mengusap lembut pipi adiknya. Dia sangat paham bagaimana sensitifnya adiknya itu. Daffa benar-benar bahagia Tuhan sudah memberikan adik yang memiliki sifat baik hati kepada siapa pun.


"Udah ya. Jangan dibahas masalah itu lagi. Apapun yang kamu lakukan, apapun tindakan kamu dan jenis larangan apapun yang kamu berikan kepada kakak dan semua anggota keluarga Wilson termasuk anak-anaknya Paman Mathew. Selama semuanya itu positif, selama semuanya untuk kepentingan bersama. Kakak orang pertama yang akan langsung mematuhi peraturan dan larangan kamu itu." Daffa berbicara dengan penuh keyakinan, ketulusan dan kesungguhan. Dia akan mematuhi dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya itu.


Sedangkan Darel langsung menatap lekat manik hitam kakak ketujuhnya itu. Terlihat kesungguhan disana. Bukan sekedar bualan semata.


"Aku sayang kakak. Cepat sembuh."


"Kakak juga sayang kamu. Jangan sakit-sakit lagi. Tetaplah sehat."


Mendengar obrolan antara Darel dengan kakaknya dan kedua kakak sepupunya membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga yang lainnya tersenyum bahagia. Apalagi ketika mendengar ucapan dari Darel yang masih menyalahkan diri sendiri atas kecelakaan yang menimpa ketiga kakaknya itu.


***

__ADS_1


"Jadi perempuan sialan itu mengganggu dan mempermalukan istriku di depan orang banyak?"


"Benar, tuan! Mantan istri tuan itu juga bersikap kasar terhadap nyonya. Bukan itu saja, wanita itu membawa tiga temannya dan tiga temannya itu menyakiti dan menghina nyonya habis-habisan. Kejadian itu di sebuah cafe yang sering dikunjungi oleh tuan Sammy."


"Brengsek! Berani sekali mereka berbuat keji terhadap istriku. Tunggu saja pembalasanku," batin Davi.


"Apa putraku Sammy tahu masalah itu?"


"Justru tuan Sammy yang memberikan pembalasan terhadap orang-orang yang sudah menghina nyonya."


"Tapi kenapa Sammy tidak memberitahu masalah itu padaku?"


"Mungkin tuan Sammy lupa atau bisa juga dilarang sama nyonya."


"Eemm... bisa juga. Saya tahu seperti apa sifat istri saya itu."


Saat ini Davi berada di ruang kerjanya bersama tangan kanannya yang selalu setia padanya selama ini. Davi selain pemilik sebuah Universitas ternama di kota Hamburg, Davi juga seorang CEO yang sukses, sama seperti kakak laki-laki tertuanya yaitu Ditto Ramero.


Davi membagi waktu antara pekerjaannya di Kampus dengan pekerjaannya di perusahaan DV'Ro Advertising.


Kenapa baru sekarang sang tangan kanannya mengadukan permasalahan tersebut kepada atasannya? Itu dikarenakan anggotanya baru mendapatkan berita tersebut baru beberapa jam yang lalu. Kemungkinan besar kejadian itu telah dihilangkan oleh Sammy agar ayahnya tidak mengetahui kejadian tersebut.


Sammy melakukan hal itu agar sang ayah tidak berurusan dengan mantan istrinya. Sammy juga tidak ingin ayahnya mengotori tangannya untuk melukai mantan istrinya itu. Menurut Sammy, selama dia masih kuat, selama dia masih sehat. Selama itulah dia yang akan melindungi keluarganya dari orang-orang yang ingin menyakiti keluarganya.


"Kau cari tahu latar belakang dari ketiga teman wanita itu. Setelah itu, kau kerahkan beberapa orang untuk datang ke rumah mereka."


"Baik, tuan."


Setelah mengatakan itu, sang tangan kanannya langsung pergi untuk melakukan apa yang sudah diperintahkan oleh atasannya.


"Tunggu kejutan dariku," batin Davi.


***

__ADS_1


Darel saat ini sedang duduk sofa ruang rawat Daffa, Dario dan Aditya. Dia sedang berkutat dengan laptop miliknya. Dia bersama dengan para sahabatnya di sofa.


Yah! Darel dan para sahabatnya tengah menyusun jadwal kegiatan untuk besok yang mana besok adalah kegiatan mereka mengunjungi tiga Panti Asuhan. Kegiatan tersebut akan dilakukan mulai pukul 9 pagi sampai selesai. Sekitar pukul 5 sore.


Bukan hanya jadwal saja yang mereka susun, melainkan keperluan lainnya yang berhubungan dengan Panti Asuhan tersebut. Mereka berbagi tugas.


Melihat Darel dan para sahabat-sahabatnya yang tampak sibuk membuat anggota keluarganya tersenyum bangga dan bahagia, terutama Arvind dan Adelina.


Ketika Darel dan para sahabat-sahabatnya tengah fokus dengan pekerjaannya masing-masing, sedangkan anggota keluarganya sibuk menatap kagum kearah Darel dan sahabat-sahabatnya. Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara dering ponsel milik Darel berbunyi.


Darel yang mendengar bunyi ponselnya langsung menjawab panggilan tersebut setelah melirik sekilas kearah layar ponselnya itu.


"Hallo kakak Arzan."


"Hallo, Rel! Kamu dimana?"


"Di rumah sakit. Kenapa kak?"


"Kalau kakak boleh tahu apa besok kampus kamu akan mengunjungi tiga Panti Asuhan?"


"Iya," jawab Darel.


"Atur ulang jadwalnya. Jangan besok."


"Lah kenapa?"


"Kakak dapat informasi dari salah anggota kakak. Dia mengatakan kepada kakak bahwa ada orang yang datang disaat kamu dan pihak kampus datang kesana memberikan bantuan, salah satunya adalah bantuan uang. Uang tersebut akan orang itu ambil dengan alasan sebagai ganti rugi gedung yang di tempati oleh anak-anak panti itu milik orang itu. Sementara pemilik panti asuhan tersebut mengatakan bahwa gedung tersebut milik pribadi mereka."


Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Arzan membuat Darel seketika terkejut. Bagaimana bisa orang itu berbuat hal sekeji itu demi uang.


"Baiklah kakak Arzan. Aku serahkan semua masalah tersebut sama kakak Arzan dan anggota Black Shark. Sementara aku akan bahas masalah ini sama semua sahabat-sahabat aku dan anggota Organisasi lainnya."


"Baiklah. Kakak akan urus masalah ini. Jika sudah beres, kakak akan segera hubungi kamu."

__ADS_1


"Baik, kak. Terima kasih."


Setelah mengatakan itu, baik Darel maupun Arzan sama-sama mematikan panggilannya.


__ADS_2