
Di rumah sakit terlihat ramai dimana tiga anggota keluarga saat ini berada di depan ruang UGD. Tiga anggota keluarga tersebut adalah keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin.
Mereka semua dalam keadaan menangis dan tak baik-baik saja memikirkan dan mengkhawatirkan anak-anak yang ada di dalam ruang UGD. Apalagi untuk yang berstatus ibu.
"Siapa yang melakukan hal keji ini pada putriku," ucap nyonya Dawson.
"Terkutuklah untuk orang-orang yang telah menyakiti putriku," ucap nyonya Martin.
"Semoga apa yang dirasakan oleh putriku. Hal itu juga yang dirasakan oleh orang yang sudah menyakiti putriku," ucap marah nyonya Bailey.
Ketika ketiga anggota keluarga sedang bersedih dan takut akan anak-anaknya di ruang UGD, tiba-tiba datang tiga laki-laki berpakaian hitam. Mereka adalah tangan kanan dari ketiga keluarga tersebut.
"Bos!" ketiga laki-laki itu berucap bersamaan.
Xavier, Stephen dan Richard langsung melihat kearah tangan kanannya masing-masing.
"Ada apa?" ketiganya bertanya secara bersamaan.
"Saya menemukan ini di dalam mobil nona."
Tiga tangan kanan tersebut menjawab pertanyaan dari tuannya secara bersamaan sembari memberikan satu kotak kecil kepada tuannya.
Xavier, Stephen dan Richard langsung mengambil kotak tersebut dari tangan kanannya. Setelah itu, ketiganya langsung membuka tutup kotak tersebut.
Ketika tutup kotak tersebut telah terbuka, terlihat di dalamnya sebuah potongan kain dan sebuah foto yang mana foto tersebut foto anak perempuannya yang berlumuran darah. Di dalam kotak itu juga terdapat sepucuk surat.
Xavier, Stephen dan Richard mengambil kertas tersebut dan kemudian membaca isinya.
PESAN :
INI PERINGATAN PERTAMA UNTUK ANDA. MENJAUHLAH DARI KELUARGA WILSON. JANGAN COBA-COBA UNTUK MENGUSIK APALAGI BERNIAT UNTUK MENYAKITI MEREKA. JIKA SAYA MENDAPATKAN INFORMASI TENTANG ANDA YANG MASIH MENGUSIK DAN MENYAKITI KELUARGA WILSON, MAKA SAYA AKAN BUAT ANDA KEHILANGAN SATU PERSATU ANGGOTA KELUARGA ANDA.
Setelah membaca isi dari kertas tersebut seketika tubuh Xavier, Stephen dan Richard membeku di tempat. Mereka tidak menyangka kalau rencana mereka yang mengusik keluarga Wilson diketahui oleh seseorang. Dan seseorang itu telah membuat anak perempuannya celaka.
Xavier, Stephen dan Richard saling memberikan tatapan. Mereka tampak terkejut ketika mendapatkan surat peringatan sekaligus ancaman.
"Apa rencana kita sekarang?" tanya Stephen menatap wajah Xavier dan Richard.
__ADS_1
"Tidak ada cara lain. Kita kembali keawal. Dengan kata lain, biarkan saja anak perempuan kita yang melakukan rencana untuk menguras semua pundi-pundi kekayaan keluarga Wilson," sahut Richard.
"Terus bagaimana dengan pemuda yang bernama Darel itu? Jika kita membiarkan dia, rencana anak-anak kita akan gagal." Xavier ikut bersuara.
"Lupakan dia. Yang sekarang ini kita pikirkan adalah anak perempuan kita. Jika kita sampai salah melakukan rencana, maka anak perempuan kita yang menjadi korbannya. Kalian tidak inginkan terjadi sesuatu dengan anak perempuan kalian?" Richard berucap sembari memberikan penjelasan.
Mendengar ucapan serta penjelasan dari Richard membuat Stephen dan Xavier seketika menganggukkan kepalanya. Mereka langsung menyetujui apa yang dikatakan oleh pria itu. Ditambah lagi mereka juga tidak ingin terjadi sesuatu terhadap anak-anaknya.
***
[Kediaman Utama Wilson]
Di ruang tengah terlihat seorang pemuda tampan, manis dan juga cantik. Wajahnya perpaduan antara tampan dan cantik. Pemuda itu adalah Darel Wilson.
Darel saat ini tengah bersantai di ruang tengah sembari menonton televisi. Dan ditemani dengan beberapa cemilan dan minuman kesukaannya di atas meja.
Sementara para anggota keluarga Wilson lainnya berada di kamar dan juga di ruang kerjanya masing-masing. Dan memang kebetulan hari ini adalah hari minggu hari dimana semua anggota keluarga berkumpul di rumah.
Darel tampak serius menatap kearah televisi dengan mulutnya yang tak berhenti mengunyah. Sudah satu toples keripik kentang yang dalam keadaan kosong. Dan sekarang ini Darel memakan keripik kentang toples kedua. Begitu juga dengan minuman. Sudah ada sekitar lima botol susu pisang yang dalam keadaan kosong di atas meja.
Beberapa detik kemudian, semua anggota keluarga keluarga Wilson telah selesai urusannya di dalam kamar dan di ruang kerjanya. Dan saat ini mereka semua melangkahkan kaki menuju ruang tengah.
Yang membuat mereka semua terkejut, syok dan disertai geleng-geleng kepala ketika tatapan mata mereka tertuju kearah dimana tersaji begitu banyak makanan dan minuman diatas meja. Dan lebih parahnya satu toples besar yang mereka yakini toples penyimpanan keripik kentang dan lima botol susu pisang berukuran sedang dalam keadaan kosong.
Setelah puas memperhatikan kesayangannya yang asyik dengan dunianya sendiri di ruang tengah. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk menghampiri kesayangannya itu.
"Astaga, sayang!" Adelina berseru sembari menduduki pantatnya di samping putra bungsunya itu. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
Darel melirik sekilas kearah ibunya yang tersenyum manis padanya, lalu melihat kearah dimana semua anggota keluarganya yang sudah duduk cantik di sofa dengan tatapan mata menatap dirinya. Setelah itu, Darel kembali fokus menatap televisi.
"Ngapain sih. Ganggu aja," ucap Darel.
Mendengar ucapan dari Darel membuat mereka semua hanya bisa menghela nafas pasrahnya.
"Rel, itu semua kamu yang habiskan?" tanya Axel dengan menatap kearah toples besar dan lima botol ukuran sedang yang sudah kosong di atas meja.
Darel melihat kearah meja lalu kembali menatap ke layar televisi.
__ADS_1
"Iya, kenapa?"
"Astaga, Rel! Kenapa harus dihabiskan sekaligus. Kan bisa dilanjutkan nanti atau besok. Tuh lihat!" ucap Elvan sembari menunjuk kearah toples yang di peluk oleh adiknya itu. "Tuh isinya tinggal setengah. Isinya tadi penuh loh."
Baik Elvan, Axel dan anggota keluarga lainnya tidak marah terhadap apa yang dilakukan Darel. Mereka seperti ini karena mereka tidak ingin kesayangannya itu kenapa-kenapa karena terlalu banyak mengkonsumsi cemilan dan juga minum kemasan botol, kecuali susu pisang.
"Apa perut kamu sudah diisi nasi sebelum makan cemilan-cemilan itu?" tanya Arga.
"Belum," jawab Darel.
Mendengar jawaban dari Darel membuat mereka semua terkejut, terutama para kakak-kakak kandungnya.
"Kamu belum makan nasi, tapi kamu sudah menghabiskan satu setengah toples keripik kentang dan lima botol susu pisang. Apa kamu......!" perkataan Davian seketika terhenti karena Darel langsung menatap dirinya. Ditambah lagi nada bicara Davian sedikit meninggi sehingga membuat Darel terkejut.
Melihat tatapan mata adik bungsunya seketika Davian merutuki kebodohannya. Dirinya lupa bahwa adiknya itu tidak bisa dan tidak suka dikerasi.
"Rel, kakak.....,"
Darel meletakkan toples yang dia peluk diatas meja. Setelah itu, Darel langsung berdiri dengan tatapan matanya menatap Davian. Dan detik kemudian, air matanya jatuh begitu saja membasahi pipinya.
"Mulai besok aku tidak akan menyentuh makanan dan minuman haram itu," ucap Darel.
"Rel, kakak tidak.....,"
Darel langsung pergi begitu saja meninggalkan semua anggota keluarganya untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Melihat kepergian Darel dan ditambah lagi melihat Darel yang menangis membuat mereka semua meras bersalah. Seharusnya mereka mengatakan hal itu kepada Darel dengan secara hati-hati tanpa menyakiti hatinya.
"Pa, Ma! Bagaimana ini?" tanya Evan.
"Darel pasti salah paham dengan kita," ucap Alvaro.
"Kita kan hanya bertanya. Bukan sedang memarahinya," ucap Axel.
"Kakak Davian juga sih. Kenapa tadi kakak nanyanya pake nada tinggi? Kan kakak tahu sendiri Darel paling tidak suka jika kita bicara dengan nada tinggi dengan dia," ucap Raffa.
"Iya, kakak salah. Tadi kakak Kelepasan. Terus bagaimana sekarang?" ucap dan tanya Davian yang saat ini hatinya merasa bersalah terhadap adik bungsunya itu.
__ADS_1
"Sudah-sudah! Biarkan dulu adik kalian sendiri di dalam kamarnya. Nanti setelah satu jam. Kalian temui adik kalian dan ajak adik kalian itu bicara," hibur Arvind.
"Baiklah, Pa!" seru Davian dan adik-adiknya bersamaan.