Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Bertemu Dengan Gadis Si Pemilik Kucing


__ADS_3

Di sebuah toko buku terlihat seorang gadis remaja tengah fokus memilih-milih beberapa buku. Buku yang akan dibeli oleh gadis itu adalah tiga buku pelajaran dan dua novel kesayangannya. Apalagi dua novel itu adalah novel kelanjutan dari novel pertama dan novel kedua.


Selesai dengan urusannya memilih-milih buku. Gadis itu pun memutuskan untuk pergi menuju kasir untuk membayar lima buku tersebut.


Ketika gadis itu hendak melangkahkan kakinya menuju kasir, tiba-tiba dirinya tidak sengaja menabrak tubuh seseorang sehingga membuat buku-bukunya itu terjatuh dan berserakan di lantai.


Sementara orang yang ditabraknya itu hanya mematung di tempat sambil menatap buku-buku berserakan di lantai tanpa niat untuk membantu untuk mengumpulkan buku-buku tersebut.


Jangankan untuk mengumpulkan buku-buku itu, membantu sang yang punya buku-buku itu saat ini masih terduduk di lantai tengah kesakitan pun tidak.


"Uuhhh!"


Gadis itu meringis kesakitan sembari tangannya mengusap-usap pantatnya bersamaan tangannya berusaha meraih buku-bukunya.


Setelah buku-bukunya itu sudah dia dapatkan dan di pelukannya, gadis itu pun berlahan berdiri dari jatuhnya.


Kini gadis itu dalam keadaan berdiri. Dan seketika gadis itu menatap wajah orang yang sudah membuatnya terjatuh.


Baik pemuda tersebut maupun gadis yang terjatuh itu saling memberikan tatapannya.


Gadis tersebut berusaha untuk melihat wajah pemuda yang berdiri di hadapannya saat ini. Gadis itu seakan-akan pernah bertemu dengan pemuda tersebut.


Flashback On


"Hei, kau. Kembali kucingku. Dasar pencuri!" teriak seorang gadis di bawah balkon kamarnya. Lebih tepatnya di luar gerbang mansionnya


Darel melihat seorang gadis yang berteriak sembari menunjuk kearahnya. "Aku? Pencuri? Kucing?" tanyanya bingung.


Lalu matanya mengarah ke kucing tersebut. "Hei, kau. Apa benar aku menculikmu?" tanya Darel pada kucing yang ada di pangkuannya. Kucing itu justru menjilati wajah Darel. "Aku menyuruhmu untuk menjawab bukan menjilatiku," kesal Darel mempoutkan bibirnya.


"Hei, kau. Kembalikan kucingku. Dia itu milikku!" teriak gadis itu lagi.


"Hei, nona. Kau itu perempuan. Apa kau tidak malu teriak-teriak di depan rumah orang. Apalagi orang yang kau teriaki adalah seorang pemuda yang sangat tampan?" teriak Darel balik.


"Sudahlah. Aku tidak mau ribut dengan manusia sepertimu. Cepat kembalikan kucingku. Bawa kemari!" teriak gadis itu sembari mengangkat kedua tangannya.


"Kau mau kucingmu, oke! Kalau begitu ambil ini!" teriak Darel seakan-akan ingin melempari kucing itu kepada gadis tersebut.


"Jangan!" teriak gadis itu.


"Yak! Kenapa kau berteriak? Bukannya kau menyuruhku untuk memberikan kucingmu padamu?"


"Tapi aku tidak menyuruhmu untuk melempari kucingku itu gila. Kau bisa membawanya kemari."

__ADS_1


"Dasar nenek lampir cerewet. Kalau aku gila, sudah dari tadi ini kucing mati di tanganku."


Saat gadis itu ingin membalas perkataan Darel. Darel sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Kalau kau ingin kucingmu kembali padamu. Kau datang kesini dan kau ambil sendiri kucingmu. Memang kau siapa? Seenaknya saja menyuruhku."


Setelah mengatakan hal itu, Darel masuk ke kamarnya lalu menutup jendela kamarnya tersebut.


Flashback Off


Seketika gadis itu membelalakkan matanya ketika telah mengingat siapa pemuda yang ada di hadapannya ini.


"Kau!" teriak gadis itu sembari menunjuk kearah pemuda itu.


Pemuda yang berdiri di hadapannya itu masih berdiri mematung tanpa suara sembari tatapan matanya terus menatap wajah gadis tersebut langsung menepis kasar jari telunjuk gadis itu.


"Lo pemuda yang waktu itu yang nyulik kucing gue! Lo juga waktu itu yang ingin melempar kucing gue dari balkon kamar lo!" teriak gadis itu kencang sehingga teriakannya itu terdengar oleh para pengunjung toko lainnya.


Mendengar ucapan dan teriakkan dari gadis di hadapannya membuat pemuda itu berusaha untuk mengingat tentang gadis yang ada di hadapannya.


Namun ketika pemuda itu ingin membuka mulutnya untuk mengeluarkan sesuatu yang indah dari mulutnya, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil dan disertai suara langkah kaki beberapa orang menuju kearah dirinya.


"Darel!"


Orang yang memanggil Darel itu adalah Brian. Brian bersama dengan Azri, Damian, Evano Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.


Darel bersama semua sahabat-sahabatnya berada di toko buku. Pulang dari kampus mereka memutuskan untuk pergi ke toko buku hanya untuk sekedar jalan-jalan.


Kini Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon sudah berdiri masing-masing di samping kiri dan kanan Darel.


Mereka semua melihat kearah gadis yang berdiri di hadapan mereka dengan tatapan gadis itu menatap kearah Darel.


"Rel, gadis ini siapa?" tanya Kenzo.


"Orang gila," jawab Darel.


Setelah mengatakan itu, Darel langsung pergi meninggalkan gadis tersebut. Dan diikuti oleh semua sahabat-sahabatnya dengan tatapan bingung masing-masing.


Sementara gadis itu menatap syok pemuda yang dulu pernah menculik kucingnya ketika mendengar ucapan kejam dari pemuda itu.


Lalu detik kemudian..


"Gue nggak gila! Lo yang gila!" teriak gadis itu dengan kerasnya.

__ADS_1


Darel langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar teriakkan dari gadis itu. Begitu juga dengan semua sahabat-sahabatnya.


Darel kemudian membalikkan badannya dan langsung menatap wajah gadis itu. Tatapan dingin dan juga tajam.


"Apa lo bilang?!"


"Gue nggak gila!"


"Kalau lo nggak gila. Lo ngapain teriak-teriak disini. Lo pikir ini di hutan. Lo lihat noh!" Darel berucap sambil menunjuk kearah orang-orang yang kini menatap dirinya dan gadis itu dengan memalingkan wajahnya ke samping.


Gadis itu seketika langsung melihat ke sekelilingnya. Dan benar, semua pengunjung pada melihat kearah dirinya.


Setelah itu, gadis itu kembali menatap kearah Darel. Dan memberikan tatapan mematikan miliknya.


"Sekarang siapa yang gila? Gue atau lo?" tanya Darel.


"Tetap lo yang gila. Lo cowok yang jelek, cowok yang nggak punya hati dan perasaan. Lo juga cowok yang suka nyulik kucing milik orang!" teriak gadis itu.


"Nggak usah nuduh lo!"


"Gue nggak nuduh! Buktinya kucing gue ada di rumah lo," ucap gadis itu.


"Lo punya bukti kalau gue yang nyulik kucing lo dan membawanya ke rumah gue?" tanya Darel menatap tajam kearah gadis itu.


Seketika gadis itu terdiam mendengar pertanyaan dari pemuda yang ada di hadapannya.


"Kenapa lo diam? Nggak bisa jawab? Dengar ya. Bisa aja kucing lo itu keluar meninggalkan rumah ketika ada kesempatan untuk keluar. Kucing itu sama seperti manusia. Dia juga butuh udara segar dan butuh sedikit kebebasan. Jadi dia milih untuk kabur. Dan kebetulan kaburnya ke rumah gue. Jadi lo nggak bisa seenaknya nuduh gue yang udah nyulik kucing lo."


Gadis itu masih diam di tempatnya sembari mendengarkan perkataan dari Darel.


Sementara para pengunjung yang sejak tadi mendengar perkataan dari Darel seketika menganggukkan kepalanya. Mereka semua setuju atas apa yang mereka dengar itu.


"Baik lo dan siapa pun yang ada di dunia ini nggak bisa langsung menuduh orang lain telah menculik hewan peliharaannya hanya karena melihat hewan peliharaannya ada di rumah orang itu. Bisa saja hewan peliharaannya itu datang sendiri kesana. Ingin mengembalikan, tapi tidak tahu siapa miliknya. Termasuk aku pribadi."


"Kucing lo itu datang sendiri ke rumah gue. Saat itu gue berdiri di balkon kamar gue karena gue lagi banyak pikiran. Ketika gue lagi melamun. Gue merasa ada yang menjilat-jilati kaki gue. Dan ketika gue lihat ke bawah ternyata seekor kucing cantik dan manis. Gue ambil lalu gue peluk. Karena gue memang suka kucing. Dan kucing suka sama gue."


"Besoknya lo dan ibu lo datang untuk menjemput kucing itu. Jika gue jahat saat itu. Gue ogah balikin tuh kucing sama lo. Apalagi gue udah kasih nama bagus buat dia."


"Dan sekarang kucing itu udah sama lo kan? Jadi nggak usah diributkan lagi. Jadi disini siapa yang gila? Gue atau lo? Dasar norak!"


Setelah mengatakan itu, Darel langsung pergi meninggalkan gadis itu dengan wajah yang super kesal. Dan diikuti oleh semua sahabat-sahabatnya.


Sementara gadis itu hanya diam sembari tatapan matanya menatap kepergian Darel.

__ADS_1


Setelah itu, gadis itu pun melangkahkan kakinya menuju kasir untuk membayar buku-buku miliknya itu.


__ADS_2