Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Terlalu Percaya Diri


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Arzan. Zayan menghubungi Darel kembali. Tapi masih sama. Ponsel Darel masih belum aktif.


"Aku harus menyuruh dua orang untuk datang ke sekolah, Bos." Zayan berucap.


Zayan menunjuk dua anak buahnya untuk pergi ke sekolah Darel.


"Kalian berdua pergi ke sekolahnya Bos. Katakan pada Bos bahwa Mathew datang dengan dua puluh orang anak buahnya ke kediaman keluarga Wilson dan berhasil melukai tuan muda Raffa."


"Baik."


Kemudian keduanya pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Wilson.


Kini Agatha dan putranya sudah berada di ruang tengah. Terlihat senyuman kebahagiaan dan kemenangan di wajahnya.


"Sayang, aku senang kau datang. Aku sudah tidak sabaran untuk melihat penderitaan mereka semua." Agatha berbicara sembari menunjuk kearah Arvind dan anggota keluarganya.


"Justru itu alasanku datang kemari. Aku akan membuat mereka terusir dari rumah yang besar dan megah ini," sahut Mathew.


"Maaf Arvind dan kau juga William. Aku terpaksa melakukan semua ini. Aku melakukan semua ini karena aku ingin....." ucapan Mathew terpotong.


"Karena kau ingin membalaskan kematian Ayahmu Ziggy Wilson kepada Papaku Antony Wilson. Benarkan?" ucap dan tanya Arvind.


"Woooww! Ternyata kau sudah tahu ya. Apakah si tua bangka itu sudah menceritakan semuanya padamu?" Mathew berbicara sembari menghina Antony.


"Brengsek. Tutup mulutmu, Mathew!" bentak Arvind.


"Sudahlah, Arvind. Lebih baik kau bawa pergi sampah-sampah itu keluar dari rumahku ini," ucap Mathew sembari menunjuk pada anggota keluarganya.


"Apa maksudmu, bajingan?!" teriak William.


"Hahahaha. Lihatlah, sayang. Suamimu sudah menunjukkan taringnya," ejek Mathew.


"Pria bodoh itu bukan suamiku lagi sayang. Kaulah suamiku yang sebenarnya. Pria itu hanya sampah dan babuku selama ini. Buktinya, pria itu selalu percaya apa yang aku ucapkan. Bahkan pria itu diam saja saat aku bersikap kasar pada anggota keluarganya, terutama pada si tua bangka itu." Agatha berucap dengan penuh kesombongan dan angkuh.


"Hahahaha." Agatha dan Mathew tertawa kemenangan.


Dirga dan keenam adik-adiknya menatap tajam kearahnya. Dan tangan mereka mengepal kuat.


"Brengsek. Dasar perempuan murahan tidak tahu diri." Dirga berucap dengan suara pelan dan namun penuh emosi.


"Rumah ini dan juga CJ GRUP sudah sah menjadi milik kami. Jadi, mulai sekarang kalian tidak punya hak lagi atas seluruh kekayaan Antony Wilson. Bocah sialan itu bukan lagi ahli waris kekayaan dari si tua bangka itu!" seru Mathew dengan lantang.


"Ini. Lihatlah. Di dalam berkas itu sudah ada tanda tangan dan cap jempol dari bocah sialan itu," sahut Mathew lagi sambil melempar dua map di atas meja.


Arvind, William, Sandy dan anggota keluarga lainnya melihat berkas-berkas tersebut. Dan memang di berkas itu ada tanda tangan dan cap jempol Darel. Mereka semua tampak sedih.


"Tidak. Ini tidak mungkin. Kau pasti bohongkan. Aku tahu Darel. Darel tidak akan mungkin menandatangani berkas-berkas ini. Darel sudah bekerja keras selama ini. Jadi, mana mungkin Darel bisa kecolongan dalam masalah ini!" teriak Dirga.


"Hei, Dirga. Sadarlah. Darel itu hanya bocah ingusan. Dan dia juga seorang pelajar. Apa yang bisa dilakukan oleh bocah sialan itu, hah?! Kau dengarkan aku baik-baik saudara Dirga. Berkas yang kau tanda tangani itu sebenarnya hanya sebagai pengalihan saja. Berkas yang sesungguhnya ada padaku. Tanda tanganmu itu tidak penting. Disini aku mengincar tanda tangan Darel, lengkap dengan cap jempol miliknya. Dan aku sudah berhasil mendapatkannya." Mathew berbicara dengan sangat bangganya.


"Kau benar-benar brengsek, Mathew!" bentak Sandy.


"Terima kasih pujiannya, Sandy. Tapi sayangnya, kalian harus pergi meninggalkan rumah ini karena kalian sudah tidak punya hak lagi di rumah ini." Mathew berucap penuh percaya diri.

__ADS_1


Mereka semua benar-benar sedih. Apakah benar jika rumah yang sudah mereka tempati dari mereka lahir sudah menjadi milik Mathew? Dan CJ GRUP yang sudah dibangun dari nol oleh ayah mereka juga menjadi milik Mathew. Mereka semua menangis. Lalu detik kemudian, mereka dikejutkan dengan suara seseorang.


"Siapa bilang kalau rumah ini sudah menjadi milikmu, Pembunuh!" teriak seseorang yang datang merusak kebahagiaan Mathew dan Agatha.


Mereka semua mengalihkan pandangannya melihat keasal suara tersebut, terutama Agatha dan Mathew.


"Darel!" seru mereka semua.


Anggota keluarganya tersenyum hangat saat melihat kedatangan Darel. Tapi tidak dengan Mathew dan Agatha. Mereka menatap tajam kearah Darel.


Darel melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dengan terus menatap tajam kearah Mathew. Ingatan-ingatan kecelakaan itu berputar-putar di otaknya. Anggota keluarganya dapat melihat tatapan penuh dendam di manik mata kesayangan mereka itu.


"Kau pikir, kau sudah berhasil menguasai seluruh kekayaan Kakek. Jangan mimpi, tuan Mathew. Sekalipun aku mati di tanganmu, kau maupun istrimu yang murahan itu tidak akan pernah menikmati seluruh kekayaan Kakek. Kau pikir aku tidak mengetahui semua yang telah kau lakukan selama ini, hum!" Darel berbicara dengan menatap tajam Mathew.


"Apa maksudmu bocah sialan? Apa yang bisa kau lakukan, hah? Kau hanya bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa!" bentak Mathew.


"Jangan melihatku dari penampilan luarnya saja, tuan. Aku memang masih bocah. Aku memang seorang pelajar. Tapi kau tidak tahu apa yang sudah aku lakukan di belakangmu, tuan Mathew yang terhormat." Darel menjawab perkataan Mathew dengan senyuman di sudut bibirnya.


"Memangnya apa yang sudah kau lakukan di belakangku, hah?!" teriak Mathew tepat di wajah Darel.


Darel tidak gentar ataupun takut. Justru Darel dengan beraninya menatap nyalang wajah Mathew. "Kau hanya seorang penjahat yang amatiran, tuan. Semua pekerjaanmu itu gagal total." Darel berbicara dengan senyuman mengejeknya.


Mendengar jawaban dari Darel membuat anggota keluarganya tersenyum. Mereka tertawa di dalam hati.


"Mampus," batin mereka semua.


Darel mundur dua langkah.


"Zayan," panggil Darel.


"Mana VCD itu?" tanya Darel.


"Ini, Bos." Zayan langsung memberikan VCD itu pada Darel.


"Kak Davian, bisa bantu aku."


"Tentu. Kamu mau apa?"


"Putarkan ini, Kak." Darel menyerahkan VCD itu kepada Davian. Dan Davian pun mengambil VCD tersebut.


"Baiklah." Davian melangkah menuju arah tv. Dan tak butuh lama, tv dan VCD itu telah dihidupkan.


"Sekarang lihatlah wahai, tuan Mathew. Dan kau pasti akan sangat menyukainya!" seru Darel.


Mereka semua pun menyaksikan di layar tv itu, termasuk Mathew dan Agatha. Di tv itu terpampang kejadian-kejadian yang dilakukan oleh Agatha dan Mathew. Baik di masa lalu mau pun di masa sekarang. Semua kejahatan mereka terlihat di tv itu. Termasuk pembunuh Kayana Wilson, istri William Wilson dan Antony Wilson.


"Brengsek." Mathew mengumpat ketika menonton semua kejahatannya di tv.


"Bagaimana, tuan mathew? Apakah kau masih menganggap aku hanya seorang bocah ingusan dan tidak bisa melakukan apapun, hum? Video yang barusan kau tonton itu adalah hasil kerja keras dari seorang bocah ingusan sepertiku ini." Darel berbicara dengan penuh rasa bangga.


Tatapan matanya tetap menatap wajah Mathew. Begitu juga dengan anggota keluarganya. Mereka semua menatap tajam kearah Mathew dan Agatha.


"Kau merencanakan apa lagi, Mathew?" tanya Arvind ketika melihat Mathew hanya diam dan menatap tajam wajah putra bungsunya itu. "Apa belum cukup kejahatan yang kau lakukan selama ini, hah?!" bentak Arvind.

__ADS_1


Darel mundur dua langkah lagi, lalu mengalihkan pandangannya melihat kearah Kakak kesayangannya yaitu Raffa Wilson. Dan tanpa diminta, air matanya pun mengalir.


"Ka-kakak Raffa," lirih Darel.


Raffa yang mendengar suara lirih adiknya langsung melihat kearah adiknya. Dapat dilihat olehnya adiknya sudah menangis. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka menatap wajah sedih Darel.


"Darel jangan nangis, oke! Kakak tidak apa-apa. Darel tidak perlu khawatir." Raffa berusaha untuk meyakinkan adiknya bahwa dirinya baik-baik saja. Raffa dapat melihat ketakutan di manik coklat adiknya itu.


Darel mengalihkan pandangannya melihat kearah Zayan.


"Zayan. Kau bawa Kak Raffa ke rumah sakit. Dan pastikan keadaannya baik-baik saja."


"Baik, Bos." Zayan dan tiga orang anak buahnya mengangkat tubuh Raffa.


"Kak Daffa, Kak Vano, Kak Alvaro, Kak Axel dan Kak Evan. Kalian pergilah menemani Kak Raffa di rumah sakit." Darel berucap.


"Baiklah, Darel." Mereka pun pergi meninggalkan ruang tengah.


"Berhenti!" teriak Mathew.


Mendengar teriakan Mathew membuat Daffa dan yang lainnya berhenti.


"Jangan ada yang berani pergi meninggalkan rumah ini!" bentak Mathew.


Darel menatap tajam kearah Mathew. "Biarkan mereka pergi. Kau tidak berhak melarang mereka!" bentak Darel.


"Kalau mereka tetap pergi. Aku akan menghabisi mereka semua," ancam Mathew.


"Berani kau menyakiti mereka. Aku juga akan menghabisi ibu dan adik perempuanmu, tuan Mathew!" teriak Darel dengan lantangnya.


DEG!


Mathew benar-benar terkejut saat mendengar penuturan dari Darel.


"Apa? Darel tahu tentang ibu dan adikku," batin Mathew.


"Kenapa? Kau tak percaya atas ucapanku barusan? Apa kau perlu bukti? Baiklah. Dengan senang hati aku akan memperlihatkannya." Darel berbicara sambil menatap wajah terkejut dan tak percaya Mathew.


"Zayan. Hubungi Arzan."


"Baik, Bos." Zayan langsung menghubungi Arzan melalui earphonenya.


Tersambung..


"Arzan, lakukan video call sekarang dan perlihatkan ibu dan adik perempuan dari si brengsek Mathew.


"Baik."


Tepat dalam hitungan detik. Arzan melakukan video call dengan Zayan. Terlihat jelas di sana wajah dua orang perempuan. Setelah itu, Zayan memberikan ponselnya kepada Darel.


"Ini, Bos."


Darel mengambil ponsel Zayan, lalu memperlihatkannya pada Mathew.

__ADS_1


"Lihatlah ini, tuan Mathew yang terhormat."


__ADS_2