
Darel menatap kesal para sahabat-sahabatnya dengan mulut yang mengeluarkan seribu sumpah serapahnya untuk semua sahabat-sahabatnya.
"Ach, kenyang!" seru Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
"Iya, kenyang! Itu semua kan gratis. Nggak bayar lagi," ucap Darel.
Mendengar perkataan sekaligus sindiran dari Darel membuat mereka semua memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan Darel.
"Nggak ada salahnya membuat sahabat senang," sahut Azri.
"Berpahala loh," ucap Brian.
"Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula," ucap Juan.
"Lagian kan nggak ada rugi juga memberikan makan gratis untuk sahabat sendiri. Jangan pelit gitu lah," ucap Zelig.
Mereka semua tersenyum ketika melihat wajah super kesal Darel akan ulah mereka.
"Udah selesai?" tanya Darel dengan memperlihatkan wajah masamnya.
Mereka semua tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Darel. Ditambah lagi ketika melihat wajah masam Darel.
"Oke, Oke! Kita semua minta maaf karena sudah buat kamu kesal," ucap Kenzo yang tidak tega melihat wajah kesal Darel.
"Kamu pasti marahkan karena kita telat datang ke kampus?" tanya Samuel yang paham akan mood Darel saat ini.
"Maaf, bukan kita sengaja atau kompak telat datangnya. Ini memang kebetulan kita telat barengan. Kita juga nggak tahu kenapa bisa kebetulan," ucap Razig berusaha meyakinkan Darel.
"Ayolah, Rel! Jangan jutek lagi dong," mohon Lucas.
"Kita beneran nggak kompak untuk telat datang ke kampus dan membiarkan lo nungguin kita sendirian," ucap Devon.
"Yeeeyy! Siapa bilang gue sendirian di kampus? Gue punya banyak kakak di kampus ini. Lo lupa?" jawab dan tanya Darel ngegas dengan tatapan matanya yang melotot.
"Oke, Oke! Gue ralat," ucap Devon.
"Basi," balas Darel.
Drrtt..
Drrtt..
Ponsel milik Darel berbunyi menandakan panggilan masuk.
Darel yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Darel melihat nama Kenzi di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darel langsung menjawab panggilan dari Kenzi, tangan kanannya itu.
"Hallo, Kenzi. Ada apa?"
"Hallo, Bos maaf kalau mengganggu."
"Tak apa. Kau mau menyampaikan informasi apa?"
__ADS_1
"Begini Bos. Sepertinya kita harus segera membawa pergi nona Neylan dari rumah itu."
"Kenapa? Apa perempuan tua itu makin berulah?"
"Benar Bos. Perempuan itu makin berulah. Dan kali ini perempuan itu berani main tangan Bos."
Mendengar perkataan dari Kenzi membuat Darel terkejut. Dirinya tidak menyangka kalau perempuan itu sudah melewati batasannya.
"Apa yang dia lakukan terhadap Neylan?"
"Perempuan itu memaksa nona Neylan untuk pergi ke bandara, namun nona Neylan langsung menolak karena nona Neylan tidak ingin berpisah dengan ayahnya."
"Dikarenakan mendapatkan penolakan dan perlawanan dari nona Neylan. Perempuan itu menampar pipi nona Neylan. Setelah itu, perempuan itu mendorong tubuh nona Neylan hingga tersungkur sehingga mengakibatkan kening nona Neylan terluka."
"Brengsek!"
"Rel, ada apa?" tanya Damian dan Farrel bersamaan.
Baik Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel maupun Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menatap khawatir Darel.
"Baiklah, Kenzi! Sekarang kerahkan anak buahmu lalu selamat Neylan. Setelah berhasil menyelamatkan Neylan. Langsung bawa ke rumahku dulu di kediaman utama Wilson."
"Baik, Bos!"
Setelah selesai berbicara dengan Bos nya. Kenzi langsung mematikan panggilannya.
"Rel, ada apa?" tanya Kenzo dan Gavin bersamaan.
"Ibu tirinya Neylan sudah melewati batasannya. Dia memukul Neylan karena Neylan tidak mematuhi perintahnya," jawab Darel.
"Iya. Perempuan itu merubah rencananya yang awalnya membawa Neylan dengan alasan sekolah. Sekarang berubah dengan mengatakan bahwa dia harus pergi meninggalkan Jerman untuk selamanya."
"Gila tuh perempuan," sahut Lucas.
"Terus apa rencana kamu sekarang?" tanya Evano.
"Aku memberikan perintah kepada Kenzi untuk menyelamatkan Neylan. Setelah itu membawa Neylan ke kediaman utama Wilson."
Darel menatap wajah Kenzo. "Nzo, nanti kamu hubungi Papa kamu ya. Suruh Papa kamu datang ke kediaman keluarga Utama Wilson."
"Baik, Rel!" Kenzo langsung mengiyakan permintaan dari Darel.
"Oh iya, Rel! Tuh tadi Yagar dan keempat teman-temannya ngapain?" tanya Razig.
"Mana aku tahu. Tanya sendiri aja sama orangnya. Mereka sekarang lagi di ruang kesehatan jika kalian ingin bertanya," jawab Darel.
"Balik lagi sifat awalnya."
"Dasar siluman kelinci sialan."
"Sebentar doang ngomong lembutnya. Sekarang balik lagi juteknya."
"Dikerangkeng juga nih anak."
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon membatin di dalam hatinya masing-masing.
__ADS_1
Darel menatap serius wajah serta gerakan bibir para sahabat-sahabatnya. Dirinya meyakini bahwa para sahabat-sahabatnya itu tengah mengumpati dirinya.
"Udah puas ngomongin gue yang jelek-jelek di hati kalian, hah!" sahut Darel.
Seketika Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menelan ludahnya secara kasar ketika mendengar ucapan dari Darel. Mereka merutuki kebodohannya karena telah mengumpati Darel di dalam hatinya tanpa menyadari bahwa Darel menatapnya.
"Hehehehe."
Mereka semua dengan kompak memperlihatkan senyuman termanis mereka di hadapan Darel.
"Aish!"
Darel berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan semua sahabat-sahabatnya.
Melihat kepergian Darel tiba-tiba tanpa berkata apapun membuat mereka semua menatap kesal Darel. Ingin mengumpat, namun takut ketahuan lagi. Dan bisa-bisa masalah makin panjang.
"Yak, Rel!"
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung menyusul Darel.
"Bibi, semua pesananku tadi mereka yang bayar!" Darel berucap sambil menunjuk kearah para sahabat-sahabatnya.
"Baik, nak Darel!"
Darel tersenyum lalu pergi meninggalkan kantin. Dan selang beberapa detik, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon terlihat.
Dan seketika si ibu kantin langsung memanggil mereka semua.
"Tunggu!"
"Iya, Bi! Ada apa?" tanya Evano.
"Itu, nak Darel belum bayar semua pesanannya."
Mendengar jawaban dari si ibu kantin membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon membelalakkan matanya tak percaya.
"Apa itu benar Bibi?" tanya Gavin.
"Iya, nak Gavin! Bibi nggak bohong. Bahkan Nak Darel sendiri yang menyuruh Bibi minta sama kalian ketika dia lewat."
"Darel!" mereka semua menggeram kesal akan ulah jahil Darel.
"Baiklah Bibi. Berapa semuanya?" tanya Damian.
"Semuanya $20," jawab ibu kantin itu.
Setelah itu, Damian mengeluarkan dompetnya. Lalu mengambil pecahan $20. Kemudian Damian memberikannya kepada ibu kantin."
"Ini Bi."
"Terima kasih ya nak!"
Setelah selesai urusan membayar, Damian dan yang lainnya pergi meninggalkan kantin untuk menuju kelas masing-masing.
Sementara disisi lain, Darel tersenyum puas karena berhasil mengerjai para sahabat-sahabatnya dengan membayar semua pesanannya. Lagian semua sahabat-sahabatnya itu ikut memakan makanannya. Bahkan sahabat-sahabatnya itu yang menghabiskan semuanya. Padahal Darel baru makan sedikit.
__ADS_1