Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Keputusan Pengadilan


__ADS_3

"Saat itu aku dan kakek jatuh di tempat yang berbeda. Hanya jarak saja yang memisahkan kami. Dari arah yang tidak begitu jauh. Aku bisa melihat keadaan kakek. Kakek dalam keadaan baik-baik saja hanya kepala, lengan dan kakinya yang terluka. Aku ingin menghampiri kakek. Saat aku ingin berdiri, kakiku benar-benar sakit dan sedikit susah digerakkan. Tapi aku menepis semua rasa sakit di kakiku. Apapun yang aku rasakan, aku akan tetap menghampiri kakek. Tapi.. tapi.. hiks.. hiks." Darel menangis.


Tangisannya akhirnya pecah. Darel memejamkan matanya agar bisa mengendalikan kesedihannya. Anggota keluarganya yang melihat makin khawatir terhadap dirinya.


Darel membuka kedua matanya setelah merasa kondisinya mulai stabil.


"Apa yang terjadi?" tanya JPU.


"Aku melihat seseorang menghampiri kakek. Orang itu tertawa dan berteriak di depan kakek sehingga membuat kakek terkejut. Aku yang melihat orang itu awalnya tidak mengetahui siapa dia. Tapi saat kakek menyebut namanya, barulah aku tahu bahwa dia adalah orang yang diceritakan oleh kakek padaku dan juga Papa. Saat aku ingin melangkahkan kakiku. Kakek memberikan isyarat padaku agar aku tetap di tempatku. Kakek tidak mau orang itu melihatku ada di sana."


"Apa yang dilakukan oleh orang itu pada kakek anda?"


"Dia.. dia.. hiks.. hiks.. dengan keji." Darel sudah tidak kuat untuk melanjutkan ucapannya. Darel menangis terisak sembari memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tanpa pikir panjang lagi, Davian berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri adik bungsunya itu.


GREP!


Davian langsung memeluk tubuh bergetar adiknya. Dan mengelus-elus lembut punggung sang adik.


"Darel, tenang. Ini Kakak. Kakak disini."


"Kakak.. Kakak.. hiks." Darel makin terisak dalam pelukan Davian.


"Kakak, disini. Darel tenang, oke!" Davian mengecup pucuk kepala adiknya. "Apa Darel masih mau melanjutkannya atau berhenti disini saja?"


"Aku masih mau melanjutkannya. Tapi Kakak temani aku disini."


"Anda boleh menemani saudara Darel," sahut Hakim.


"Terima kasih, pak hakim." 


"Lanjutkan," kata JPU.


"Bajingan itu dengan kejinya menginjakkan kakinya di leher Kakek sehingga membuat Kakek tak bergerak sama sekali. Saat merasakan tidak ada pergerakan dari kakek. Bajingan itu pergi dengan tawa yang kencang. Setelah aku memastikan kepergiannya. Aku langsung berlari menuju kearah kakek, tanpa mempedulikan rasa sakit di kakiku. Aku berteriak memanggil kakek. Aku memukul pelan wajahnya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya berharap Kakek bangun. Alhasil, kakek membuka matanya. Kakek mengatakan padaku agar aku tetap sehat dan kuat. Kakek meminta padaku untuk membalaskan kematiannya. Setelah mengatakan hal itu padaku. Kakek benar-benar pergi untuk selamanya. Dan aku seketika jatuh tak sadarkan diri saat setelah melihat kakek pergi. Bajingan itu juga melukai salah satu kakakku. Dan dia juga hampir membuatku kehilangan nyawa karena tembakannya di perutku saat aku berhasil membongkar semua kejahatannya dan istrinya di depan keluarga besarku."


"Bukan hampir lagi. Bahkan adikku sempat dinyatakan meninggal dunia saat dibawah ke rumah sakit!" teriak Raffa di dalam ruang persidangan. Raffa berdiri dan menatap tajam kearah Mathew.


Semua pengunjung melihat kearah Raffa. Bahkan Majelis Hakim dan Anggota lainnya melihat kearahnya.


"Raffa," tegur Evan. Raffa pun kembali duduk.


"Maafkan aku," lirih Raffa.


"Baiklah. Anda boleh kembali ke tempat duduk anda," kata JPU.


Davian membantu Darel untuk berdiri. Lalu memapahnya berjalan. Baru enam langkah, tiba-tiba tubuh Darel jatuh tak sadarkan diri. Hal itu membuat semua orang terkejut, terutama anggota keluarganya.


"Darel!" mereka semua panik dan khawatir.


"Nevan, Ghali. Bantu Kakak," panggil Davian.

__ADS_1


Nevan dan Ghali pun langsung berlari menghampiri Kakak dan adiknya lalu mereka membawa Darel keluar dari ruangan persidangan.


"Baiklah. Setelah melihat semua bukti-bukti dan mendengar pengakuan dari saksi. Pengadilan memutuskan bahwa terdakwa 101 dan terdakwa 102 atas nama ibu Agatha dan bapak Mathew dinyatakan bersalah dan akan dikenakan hukuman mati sesuai permintaan dari keluarga Wilson," ucap Hakim.


Saat hakim ingin mengetok palu yang pertama. Tiba-tiba...


"TUNGGU!"


Rayyan tiba-tiba berdiri dan bersuara di depan semua orang. Hal itu sukses membuat semua pengunjung terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga Wilson. Mereka semua melihat kearah Rayyan.


"Pak hakim saya mohon. Jangan berikan hukuman itu pada mereka. Saya tahu kejahatan mereka tidak bisa diampuni. Tapi.. tapi paling tidak berikan hukuman lain untuk mereka. Seperti hukuman seumur hidup di penjara sampai sisa masa hidup mereka," mohon Rayyan.


"Kak Rayyan, sudahlah. Jangan mengganggu jalannya sidang. Biarkan pihak pengadilan memberikan hukuman pada Mama dan pria itu," bujuk Kevin. Kevin sama sekali tidak menyembut kata Papa untuk Mathew.


"Tapi, Kevin. Kakak benar-benar tidak tega melihat mereka. Apalagi Mama."


"Aku tahu, Kak. Tapi itu sudah menjadi resiko mereka apa yang mereka tanam dulu, Kak! Dan sekarang mereka menerima hasilnya. Bahkan kita yang tidak tahu apa-apa juga ikut merasakan hasil dari perbuatan mereka. Kau lihat keadaan kita sekarang. Itu semua gara-gara mereka." Kevin berbicara dengan nada kecewa.


Anggota keluarga Wilson yang melihat dan mendengar ucapan Rayyan dan Kevin sedikit terenyuh. Hati mereka merasakan sakit dan juga merasa bersalah terhadap Rayyan dan adik-adiknya. Setelah kejadian dimana Agatha dan Mathew dibawah paksa oleh Daksa dan kedua anak buahnya Darel ke kantor polisi. Semenjak itulah mereka melupakan Rayyan dan adik-adiknya. Padahal mereka tahu, mereka tidak salah sepenuhnya. Yang bersalah itu adalah orang tua mereka.


"Sekarang kita duduk ya. Biarkan hakim melanjutkan keputusannya." Dan akhirnya Rayyan pun kembali duduk.


Agatha dan Mathew hanya bisa menangis. Dalam hati mereka saat ini adalah mereka benar-benar menyesal atas apa yang sudah mereka lakukan selama ini.


"Baiklah. Saya lanjutkan. Terdakwa Agatha dan Mathew akan divonis hukuman mati. Dan hukuman itu akan dilakukan satu minggu kedepannya." Setelah itu Hakim mengetuk palunya 3x.


Tangis Rayyan dan adik-adiknya pun pecah. Mereka tidak bisa membendung kesedihan mereka. Bagaimana rasa benci mereka pada Mathew, bagaimana rasa marah dan kecewanya mereka terhadap Agatha. Keduanya tetaplah orang tua kandung mereka.


CKLEK!


Pintu di buka oleh Nevan lalu Nevan, Ghali, Davian dan Darel masuk ke dalam ruang sidang yang hanya menyisakan anggota keluarganya.


Saat para petugas membawa Agatha dan Mathew, tiba-tiba seseorang memanggil Agatha.


"Mama."


Agatha yang tiba-tiba dipanggil Mama oleh seseorang langsung melihat kearah orang yang memanggilnya itu.


DEG!


Agatha terkejut saat melihat Andrean Alexander berdiri di hadapannya dengan seorang gadis cantik.


"Ma-mama. Ini aku, Alisha. Apa Mama tidak mengenaliku? Apa Mama sudah melupakanku?"


"A-alisha," lirih Agatha dan tanpa diminta air matanya pun mengalir.


"Mama."


GREP!


Alisha langsung memeluk tubuh Agatha. Begitu juga dengan Agatha. "Mama. Alisha sangat merindukan Mama."

__ADS_1


"Mama juga merindukan Alisha. Maafkan Mama yang tidak ada di samping Alisha."


"Aku mengerti."


Setelah puas memeluk sang ibu, Alisha melepaskan pelukannya itu. Para petugas mendekat ingin membawa pergi Agatha dan Mathew, namun saat para petugas hendak membawa mereka. Daksa yang kebetulan sahabat dekat kepala kepolisian meminta waktu untuk membiarkan Mathew dan Agatha berbicara dengan putra-putranya dan putrinya serta anggota keluarga Wilson. Dan kepala kepolisian tersebut pun memberikan waktu untuk keduanya.


Mathew yang melihat kejadian tersebut hanya bisa diam. Dirinya tidak tahu harus melakukan apa. Sekalipun dirinya ingin marah, percuma. Semua sudah terjadi. Dan disini dirinya yang paling bersalah.


Melihat Mathew hanya diam membuat Agatha benar-benar merasa bersalah. Agatha mendekati Mathew dan berjongkok di hadapannya.


"Mathew, Aku minta maaf telah mengkhianatimu. Bukan maksudku melakukan semua itu. Ini diluar dugaanku dan aku tidak pernah merencanakan apapun untuk menyakitimu karena aku sangat mencintaimu."


"Kalau kau benar-benar mencintaiku. Kenapa kau bisa memiliki anak dari pria lain sebelum semua rencana yang kita buat terlaksana?"


"Itu juga berawal dari kesalahanmu."


"Apa maksudmu, Agatha?"


"Kau lupa saat itu aku melihatmu dengan perempuan lain. Kau sangat mesra dengannya. Dan setelah itu kita ribut besar. Kau menamparku, sehingga aku pergi dari rumah," jawab Agatha.


Setelah mendengar ucapan Agatha, Mathew terdiam. Dirinya benar-benar menyesal telah menampar Agatha.


"Maafkan aku, Agatha." Mathew berucap lirih.


"Aku yang harusnya minta maaf padamu, Mathew. Aku gagal menjaga cintaku. Kejadian itu diluar kemauanku. Saat itu aku.. aku..." ucapan Agatha terhenti.


"Saat itu Agatha sedang mabuk berat!" seru Andrean Alexander melanjutkan ucapan Agatha.


Semua yang ada di dalam ruangan itu mengalihkan pandangannya melihat kearah Andrean.


"Saat itu aku berada di Club. Aku selalu kesana setiap aku ada masalah di kantor. Di Club itu juga aku bertemu Agatha. Aku melihat Agatha sudah banyak minum dan Agatha juga mabuk. Tanpa Agatha sadari ada dua pria yang mendekatinya, salah satunya dari pria itu memasukkan sesuatu ke dalam minumannya. Awalnya, aku tidak peduli. Tapi saat aku melihat kedua pria itu berusaha berbuat yang tidak-tidak dengan Agatha, akhirnya aku pun menolongnya. Aku membawa Agatha ke Apartemenku karena aku tidak tahu dimana rumahnya. Setelah sampai di Apartemenku, aku membawanya ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Kebetulan di Apartemenku itu ada dua kamar. Tapi saat aku ingin melangkah keluar kamar, Agatha tanpa sadar menarik tanganku. Dan...! Kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya. Maafkan aku." Andrean menjelaskan yang sebenarnya dengan wajah yang bersalah.


"Papa," lirih Alisha. Alisha langsung memeluk Andrean, sang ayah. Andrean juga memeluk putrinya.


"Setelah kejadian itu, Agatha tidak berani pulang ke rumah. Dirinya benar-benar takut. Makanya aku membiarkan Agatha tinggal di Apartemenku sampai dirinya ada keberanian untuk pulang ke rumahnya. Dan aku kembali pulang ke rumah orang tuaku. Satu minggu kemudian, Agatha menghubungiku dan minta bertemu. Aku pun mengabulkannya. Setelah kami bertemu, Agatha mengatakan padaku bahwa dirinya hamil anakku."


"Aku bersedia bertanggung jawab karena aku juga tidak ingin anakku lahir tidak memiliki ayah atau lebih tepatnya anak haram. Saat itu juga aku memutuskan menikahi Agatha secara sah," sahut Andrean.


"Mathew. Kau masih ingat kecelakaan yang menimpa Agatha?" tanya Andrean


"Iya. Aku ingat. Setelah Agatha pergi dari rumah, keesokannya aku dapat kabar mobil yang ditumpanginya jatuh ke jurang. Dan polisi bilang kemungkinan Agatha selamat dan berhasil keluar dari mobil itu. Dan aku berharap Agatha baik-baik saja," jawab Mathew yang tatapan matanya hanya fokus ke lantai.


"Kecelakaan itu aku yang buat untuk membantu menyembunyikan Agatha saat dirinya sedang hamil. Setahun kemudian kau mendapatkan kabar tentang polisi yang telah menemukan istrimu. Itu adalah saat-saat dimana Agatha akan segera pulang ke rumahnya dan bertemu denganmu serta kelima putranya. Dan kaulah yang akan menjemputnya. Dari situlah Agatha menyembunyikan semuanya darimu. Dirinya takut untuk memberitahumu. Jujur, Agatha ingin memberitahumu saat itu. Dikarenakan sifatmu yang gampang emosional, makanya Agatha memilih mencari aman. Dan membatalkan niatnya untuk memberitahumu." Andrean menjelaskan.


"Saat aku bersama Agatha. Agatha selalu memikirkanmu dan kelima putra-putranya. Agatha sangat mencintaimu, Mathew. Sedangkan kau hanya seorang pria brengsek. Seharusnya kau melindungi istrimu. Tapi kau malah menjual istrimu sendiri demi harta dan dendammu. Kalau tahu akan begini jadinya, aku tidak akan membiarkan Agatha kembali padamu." Andrean berucap dengan nada ketus dan dingin.


Setelah Andrean berbicara. Tidak ada satupun yang bersuara. Semuanya diam.


Darel yang ikut mendengar semua yang diucapkan oleh Andrean membuat dirinya bingung. Dirinya juga tidak menyangka kalau mantan bibinya itu sudah menikah dua kali sebelum menikah dengan Pamannya.


"Siapa Paman sebenarnya?" tanya Darel to the point.

__ADS_1


__ADS_2