Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Firasat Tak Enak


__ADS_3

"Rel," panggil Devon.


Darel langsung melihat kearah Devon yang juga tengah menatap dirinya.


"Iya, ada apa?"


"Gue mau nanya sama lo soal dana untuk ke panti asuhan lusa. Apa benar jumlah uangnya segitu?"


Mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Devon seketika Darel tersenyum.


"Aku mengatakan itu hanya untuk memancing seseorang," jawab Darel.


Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas dan Charlie menatap bingung Darel dan Devon. Mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua sahabatnya itu.


"Kalian ingin ngomong apa sih?" tanya Charlie.


Mendengar pertanyaan dari Charlie membuat Darel dan Devon langsung melihat kearah Charlie. Setelah itu, Darel dan Devon menatap semua sahabat-sahabatnya secara bergantian.


"Maaf, kalau aku dan Darel tidak cerita masalah Dana Organisasi kita."


Mendengar perkataan dari Devon membuat semuanya menatap bingung Devon.


"Ada apa?" tanya Brian.


"Ceritakan pada kami," pinta Gavin.


"Begini. Dana yang kita kumpulkan termasuk Dana dari keluarga kita masing-masing tidak tersisa sama sekali. Alias, Dana itu habis."


"Apa?!"


Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas dan Charlie terkejut ketika mendengar ucapan dari Devon.


"Bukannya dana tersebut cukup sampai satu tahun ke depan?"


"Di kegiatan kita yang terakhir. Seharusnya uangnya sisa banyak," sahut Zelig.


"Ditambah lagi dana tersebut cukup untuk 30 jenis kegiatan. Jadi kita tidak perlu memungut sumbangan," ucap Lucas.


"Itu dia yang buat gue bingung kemana perginya semua uang itu," pungkas Devon dengan wajah tampak sedih.


"Mana catatannya. Lihat gue," pinta Gavin.


Mendengar perkataan dari Gavin seketika Devon memberikan catatan pemasukan dan pengeluaran semua uang kepada Gavin.


Gavin mengecek catatan yang diberikan Devon padanya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka mengecek satu persatu catatan tersebut.


"Wah, gila! Von, duitnya hilang banyak!" seru Juan.


"Kegiatan yang sudah kita laksanakan ada enam. Sementara Dana yang sudah keluar sekitar $1000. Seharusnya tersisa sekitar $2500." Evano berucap sembari mengingat jumlah dana tersebut.


"Kegiatan yang terakhir kita laksanakan itu, sebenarnya pake uang pribadi aku buat nutupin kekurangannya," sahut Devon.

__ADS_1


Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan dari Devon yang mengatakan bahwa Devon menggunakan uangnya ketika di kegiatan terakhir.


"Yang benar?" tanya Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas dan Charlie bersamaan.


"Seperti itulah kenyataannya," jawab Devon.


Sementara Darel sejak tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan para sahabat-sahabatnya.


Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon secara bersamaan melihat kearah Darel.


"Jadi ini maksud lo ngomong di depan semua anggota kalau Dana untuk kegiatan lusa sudah ada sekitar $2000 untuk mancing orang itu?" tanya Kenzo kepada Darel.


"Hm!" Darel berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


"Dan lo curiga......?" Samuel menghentikan perkataannya dengan tatapan matanya menatap wajah Darel.


"Iya. Gue curiga dari timnya Devon," jawab Darel.


"Berapa orang yang lo curigai Rel?" tanya Damian.


"Eemm... Intinya satu orang! Orang itu mengajak temannya. Gue nggak tahu apa dia ngajak satu teman dua atau lebih," jawab Darel.


"Terus apa rencana kamu buat menjebak bajingan itu?" tanya Azri.


Darel tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar pertanyaan dari Azri. "Aku boleh minta tolong sama kakak Azri dan kakak Evano?"


"Tentu."


"Kau minta tolong apa?"


Setelah tasnya itu terbuka, Darel mengeluarkan sepuluh benda berwarna hitam dan berukuran kecil.


"Ini." Darel memberikan kesepuluh benda kecil itu kepada Azri dan Evano.


"Kamera pengintai!" seru Azri dan Evano bersamaan.


"Iya," jawab Darel.


"Apa yang akan kita lakukan dengan kamera-kamera ini?" tanya Evano.


"Cukup kakak tempel di setiap ruangan yang sering di masukin mahasiswa atau mahasiswi. Salah satunya ruangan penyimpanan data. Untuk ruang Aula pertemuan, pasang dua. Pasangnya harus terlihat ketika seseorang masuk ke dalam Aula. Dan terlihat jelas semua luas ruangan itu dari sudut ke sudut!"


"Baiklah, Rel!" jawab Azri dan Evano bersamaan.


***


Di waktu yang sama dan di lokasi yang berbeda. Daffa, Aditya dan Dario dalam perjalanan pulang. Mereka hanya sebentar berada di perusahaan karena tugas-tugas mereka sudah selesai mereka kerjakan. Baik Daffa maupun Dario dan Aditya sama-sama menggunakan mobil.


Ketika Daffa, Dario dan Aditya tengah fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba ada beberapa pengendara motor yang mengejar mobilnya. Pengendara motor tersebut mengejar mobilnya dari dua sisi sehingga membuat mereka kesulitan untuk mempercepat laju kendaraannya.


"Siapa mereka?"

__ADS_1


"Sial."


Daffa, Dario dan Aditya berusaha untuk keluar, namun para pengendara motor terus memepet mobilnya.


Ketika Daffa, Dario dan Aditya hendak menaikkan kecepatan laju mobilnya agar bisa lolos dari pengendara motor tersebut, namun usaha ketiganya gagal karena pengendara motor tersebut terus memepet mobilnya.


Detik kemudian..


Dug.. Dug..


Dug.. Dug..


Para pengendara motor tersebut memukul kuat kaca mobil ketiganya sehingga membuat kaca-kaca mobil itu pecah dan mengenai kepala serta wajah mereka. Akibat terkena pecahan kaca tersebut membuat konsentrasi Daffa, Dario dan Aditya terganggu.


Melihat Daffa, Dario dan Aditya yang tidak fokus mengendarai mobilnya, pengendara motor tersebut membubarkan diri bersamaan mereka menembakkan secara beruntun kearah ban mobil yang dikendarai oleh Daffa, Dario dan Aditya.


Mobil yang dikendarai oleh Daffa, Dario dan Aditya seketika menghantam tiang listrik dan pembatas jalan sehingga bagian depan mobil mereka rusak parah. Sedangkan mereka langsung tidak sadarkan diri.


***


Di kediaman Wilson tampak ramai, walau hanya beberapa anggota keluarga saja yang berada di rumah.


Adelina, Salma dan Evita saat ini sedang berada di dapur. Mereka sedang memasak menu makan siang untuk mereka dan untuk suami, keponakan dan anak-anaknya.


Ketika mereka sedang fokus memasak, seketika mereka dikejutkan dengan suara benda jatuh dari ruang tengah.


Mendengar suara benda jatuh dari ruang tengah membuat Adelina, Salma dan Evita langsung menuju ruang tengah.


Sesampainya di ruang tengah, mereka melihat bingkai foto anak-anak mereka jatuh berserakan di lantai. Dan detik kemudian, rasa khawatir dan rasa takut menjalar di tubuh mereka masing-masing.


"Daffa."


"Dario."


"Aditya."


Adelina, Salma dan Evita membersihkan bingkai foto putranya dari serpihan kaca bersamaan dengan air mata mengalir membasahi pipinya. Mereka benar-benar mengkhawatirkan anak-anaknya.


***


Darel sudah berada di kelas sekarang. Begitu juga dengan para sahabat-sahabatnya. Setelah membahas masalah Dana dan sang pencuri, Darel dan para sahabatnya memutuskan kembali ke kelas.


Di kelas Darel para mahasiswa dan mahasiswi sudah berada di dalam kelas. Sepuluh menit lagi kuliah akan dimulai.


Dan Detik kemudian..


"Aakkhhh!" tiba-tiba Darel merasakan sakit di bagian dada. "Ada apa ini? Kenapa dadaku sakit sekali seperti ada sesuatu yang terjadi?" batin Darel. "Kakak Daffa, kakak Dario, kakak Aditya." Darel tiba-tiba menyebut nama ketiga kakaknya itu.


Kenzo yang duduk di samping Darel seketika menatap kearah Darel dengan tatapan khawatir, apalagi Darel memegang dada kirinya.


"Rel, lo kenapa?" tanya Kenzo.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Kenzo yang ditujukan kepada Darel membuat Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung melihat kearah Darel. Seketika mereka terkejut ketika melihat Darel yang tak baik-baik saja.


"Rel!" mereka menatap khawatir Darel.


__ADS_2