Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Informasi Dari Arzan


__ADS_3

Setelah mengatakan itu, Darel menatap kearah Mikko untuk memberikan tugas kepadanya.


"Mikko. Kau urus para sampah ini. Karena mereka sudah berani bermain-main denganku. Sebagai balasannya kau cari tahu siapa keluarga mereka. Setelah itu, habisi mereka semua." Darel memberikan perintah kepada Mikko dengan penuh penekanan dan amarah


"Baik, Bos!" jawab Mikko.


Mendengar ucapan dari Darel. Dokter dan keempat perawat gadungan itu terkejut dan juga ketakutan. Mereka tidak menyangka jika pekerjaan mereka gagal dan berakhir tragis.


"Tolong jangan sakiti keluarga kami. Disini kami yang salah," ucap perawat perempuan itu.


"Iya, tolong maafkan kami!" mohon perempuan kedua.


"Mikko, lakukan dengan baik. Jangan ada yang selamat. Kau mengerti?!" ucap Darel.


"Saya mengerti, Bos!"


Lalu para anak buahnya Mikko langsung menyeret paksa keempat perawat beserta Dokter tersebut keluar dari ruang rawat Pingkan.


Darel menghampiri ranjang Pingkan. "Maafkan aku, Bi! Hampir saja karena kecerobohanku, Bibi dan Mirza akan dibawa pergi ke Amerika."


Pingkan menyentuh pipi Darel dengan lembut. "Tidak apa-apa, sayang. Memangnya apa alasan mereka ingin membawa Bibi ke Amerika?"


"Dokter sialan itu mengatakan bahwa Bibi harus segera di operasi karena ada pembengkakan di kepala. Dokter itu menyarankan untuk membawa Bibi ke Amerika karena kesembuhan lebih besar disana. Ya, aku percaya saja! Lagiankan ini juga untuk kebaikan Bibi dan Mirza juga," jawab Darel.


"Lalu apa yang membuat kamu tiba-tiba mengetahui jika ini semua hanya kebohongan?" tanya Dylan.


"Aku baru menyadari satu hal. Yang membawa Bibi Pingkan ke rumah sakit adalah Paman Fayyadh, ayah dari sahabatku. Aku yang menghubungi Paman Fayyadh dan memintanya untuk menjaga dan mengawasi Bibi Pingkan selama di rumah sakit. Jika ada sesuatu hal yang terjadi pada Bibi Pingkan, seharusnya Paman Fayyadh yang langsung menghubungiku. Ini malah Mirza yang menghubungiku dan menyuruhku datang ke rumah sakit," jawab Darel menjelaskan.


"Sebenarnya Bibi sudah tahu siapa dalangnya!" seru Pingkan.


"Mantan suami Bibi. Benarkan?" Darel langsung menjawab dari perkataan Pingkan.


"Iya. Kau benar, sayang. Mantan suami Bibi yang sudah menyuruh mereka. Mereka akan membawa Bibi ke Amerika, itu hanya alibi saja. Sebenarnya mereka ingin membawa Bibi dan Mirza kembali pulang ke rumah. Mantan suami Bibi dan istrinya itu sekarang sedang ketakutan takut kebohongan terbongkar didepan pengacara keluarga Bibi."

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Bi?" tanya Dylan.


"Karena Paman Pandy ingin bertemu dengan Mama dan juga aku. Karena selama ini setiap Paman Pandy ingin menemui kami, selalu saja gagal. Mungkin saja Paman Pandy langsung mendatangi rumah kami. Hal itulah yang membuat kedua manusia serakah itu ketakutan." Mirza yang menjawab pertanyaan dari Dylan.


"Bisa jadi begitu," sela Darel.


"Sekarang, bagaimana ini kak Darel? Kak Darel, Kami tidak ingin bertemu dengan mereka." Mirza berucap dengan suara lirihnya.


"Untuk sementara ini, Bibi dan Mirza ikut pulang bersama kami ke rumah keluarga Wilson. Apa Bibi mau?" ucap dan tanya Darel.


Pingkan ingin sekali mengatakan pada Darel bahwa dirinya adalah Bibinya Dylan. Kakak dari Ibu kandungnya Dylan. Tapi dikarenakan Pingkan yang sudah mendapatkan kedipan mata sebagai kode dari Dylan, makanya Pingkan mengurungkan niatnya. Mungkin Dylan sendiri yang akan memberitahu kepada Darel dan juga keluarga Wilson yang lainnya.


"Bibi mau sayang. Apa tidak merepotkan jika Bibi dan Mirza tinggal sementara disana?"


"Tidak, Bi! Kita adalah keluarga sekarang. Jadi yang namanya keluarga nggak ada istilah merepotkan," jawab Darel.


Pingkan benar-benar bersyukur telah dipertemukan dengan seorang pemuda manis dan baik hati seperti Darel.


Pingkan mengusap lembut pipi Darel. "Terima kasih, sayang." Darel tersenyum membalas ucapan terima kasih dari Pingkan.


DRTT... DRTT..


Darel yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambil ponsel itu di saku celananya.


Saat ponsel itu sudah berada di tangannya, Darel melihat nama Arzan tangan kanannya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Dirinya berharap ada kabar bagus yang akan disampaikan oleh orang kepercayaannya itu.


Dylan, Pingkan dan Mirza yang melihat senyuman manis Darrl merasakan kehangatan di hati mereka.


"Senyuman yang manis," batin mereka.


Darel langsung menjawab panggilan dari Arzan itu.


"Hallo, kak."

__ADS_1


"Hallo, tuan muda. Aku sudah mendapatkan informasi mengenai orang-orang yang telah mencelakai ketujuh sahabat-sahabat, tuan muda!"


Darel makin melebarkan senyumannya saat mendengar apa yang disampaikan oleh Arzan.


"Cepat katakan padaku, kak. Jangan buat aku penasaran."


"Kakak dan anak buah kakak hanya berhasil menangkap empat dari delapan orang-orang itu, tuan muda. Mereka adalah Rafif Chaim, Agra Roberto, Reymon Alexi dan Ronald Syafi. Sementara Lian Jevera, Khary Darka, Leo Xavier dan Fahri Carney. Kakak belum berhasil menemukan mereka."


"Tidak apa, kak. Empat orang itu sudah cukup untuk saat ini. Kita bisa mendapatkan informasi mengenai keberadaan ke empatnya dari mereka berempat."


"Iya. Kau benar, tuan muda. Kita bisa memaksa mereka untuk memberitahu kita dimana teman mereka itu."


"Sekarang jemput aku di rumah sakit Pladys Hospital, kak. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mereka dan jangan lupa bawa sekitar dua puluh anak buahnya kakak."


"Baik, tuan muda. Saya akan segera kesana bersama dua puluh anak buah saya."


"Terima kasih, kak."


PIP...


Darel pun mematikan teleponnya setelah selesai berbicara dengan Arzan.


"Siapa?" tanya Dylan.


"Kak Arzan, tangan kananku." Darel menjawab pertanyaan dari Dylan.


"Ada masalah?" tanya Dylan lagi.


"Tidak. Justru kakak Arzan memberitahuku jika dia berhasil menangkap orang-orang yang sudah mencelakai ketujuh sahabatku. Kakak Arzan hanya berhasil menangkap empat saja. Sedangkan jumlah mereka ada delapan. Aku meminta kakak Arzan untuk membawa mereka ke Markas BLACK SHARK."


"Oh iya, kak Dylan. Kakak Dylan pulang bersama Bibi Pingkan dan Mirza ya. Sementara aku mau pergi dengan kakak Arzan ke Markas BLACK SHARK. Aku mau melihat para pembunuh itu. Dan aku juga sudah menyuruh kakak Arzan untuk membawa beberapa anak buahnya kesini. Nanti beberapa anak buahnya kakak Arzan akan mengawal kalian pulang ke rumah. Takutnya ada anak buahnya dari mantan suami Bibi Pingkan yang menghadang di jalan."


"Baiklah, Rel!" jawab Dylan dan diangguki oleh Pingkan dan Mirza.

__ADS_1


👉Disini mengapa Arzan memanggil tuan muda kepada Darel. Karena Arzan lebih tua dari pada Darel. Jadi Darel tidak ingin Arzan memanggilnya dengan sebutan BOS. Darel meminta Arzan memanggil dirinya dengan sebutan nama saja. Arzan langsung menolaknya. Karena bagaimana pun, Darel adalah cucu dari Anthoni Wilson, BOS besarnya. Jadi Arzan memanggil Darel dengan sebutan tuan muda. Untuk yang lainnya, tetap dengan panggilan BOS👈


__ADS_2