
Di sebuah ruangan yang cukup besar dimana terlihat tiga pria sedang mendiskusikan sebuah rencana. Ketiga pria itu adalah orang yang mengaku ketiga gedung yang ditempati oleh anak-anak Panti Asuhan adalah milik mereka.
"Kapan kita akan menjalankan rencana kita ini?" tanya pria pertama.
"Besok," jawab laki-laki kedua.
"Kamu bagaimana?" tanya laki-laki pertama kepada laki-laki ketiga.
"Aku terserah kalian saja mau nya kapan. Yang pastinya aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan uang tersebut," ucap laki-laki ketiga.
Mendengar jawaban dari laki-laki ketiga membuat laki-laki pertama dan laki-laki kedua menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Bagaimana kalau besok kita temui mereka. Kita paksa mereka untuk memberikan uang-uang itu kepada kita" usul laki-laki pertama.
"Ide yang bagus. Jika mereka tidak mau memberikan uang-uang itu, kita ancam mereka kalau kita akan mengusir anak-anak Panti itu," usul laki-laki kedua.
"Jika mereka masih tidak mau menyerahkan uang-uang itu kepada kita, kita berikan ancaman kedua yaitu kalau kita akan membunuh anak-anak Panti tersebut," ucap laki-laki ketiga menambahkan.
Mendengar ucapan dari laki-laki ketiga membuat laki-laki pertama dan laki-laki kedua tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju akan perkataan dari laki-laki ketiga.
"Baiklah. Jadi besok kita akan temui mereka."
"Iya."
"Pukul 11 siang."
"Baiklah!"
***
Di kediaman utama Wilson terlihat semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah setelah selesai melaksanakan makan malam bersama. Darel saat ini tengah bermanja-manja dengan ayahnya sehingga membuat semua tersenyum menatap kearah dirinya.
"Elvan! Andre! Arga!" panggil Arvind kepada ketiga putranya.
"Iya, Pa!" jawab ketiganya dengan kompak.
"Jelaskan kepada Papa dan kita semua. Kenapa kalian pulang dalam keadaan wajah yang memar?"
"Kita dihadang beberapa orang, Pa!" Andre langsung menjawab pertanyaan dari ayahnya itu.
Mendengar jawaban dari Andre seketika membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya terkejut.
"Kalian tahu dari kelompok mana mereka?" tanya Davian.
"Tidak kak!" Elvan, Andre dan Arga menjawab bersamaan.
"Tapi kalian tidak apa-apa kan? Tidak ada luka serius kan?" tanya Adelina dengan tatapan khawatirnya.
"Kami baik-baik saja. Mama tidak perlu khawatir," jawab Arga mewakili Andre dan Elvan.
Mendengar jawaban dari ketiga putranya membuat Adelina merasakan kelegaan, walau masih ada sedikit kekhawatiran dalam dirinya.
Arvind kini menatap kearah putra bungsunya yang saat ini masih setia bersandar padanya dengan kepala ditiduri di bahunya. Arvind mengusap lembut kepala putranya lalu menciumi kening putihnya itu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan putra bungsu Papa yang tampan ini, hum?" tanya Arvind.
"Apanya?" tanya Darel yang tatapan matanya fokus pada layar ponselnya.
"Hah!" Arvind seketika menghela nafas pasrahnya ketika mendengar pertanyaan dari putra bungsunya itu. Padahal dia butuh jawaban, namun putra bungsu memberikan pertanyaan balik.
"Darel Wilson!" Arvind memanggil putra bungsunya lengkap dengan marganya.
Mendengar ayahnya memanggil namanya lengkap dengan marganya seketika membuat Darel menghentikan kegiatannya bermain game di ponselnya dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Sebenarnya Papa mau nanya apa? Pertanyaan Papa barusan tidak jelas," ujar Darel.
Mereka semua tersenyum gemas ketika mendengar ucapan dari Darel yang bertanya kepada ayahnya. Ditambah lagi melihat wajah manyun Darel.
"Hehehehe. Maafkan Papa. Sekarang jawab pertanyaan Papa. Kenapa kamu pulangnya telat?"
"Aku habis makan enak bersama kakak Farrel, Razig dan Devon di Cafe. Yang bayar kakak Farrel."
"Hanya berempat saja?" tanya Nevan.
"Iya," jawab Darel.
"Lalu sahabat-sahabatnya kamu yang lainnya, nggak ikut?" tanya Vano.
"Tidak. Mereka sedang melakukan misi dariku. Sementara aku, kakak Farrel, Razig dan Devon melalukan misi yang lain," jawab Darel.
"Melakukan misi?" tanya kompak semua anggota keluarganya.
"Iya," jawab Darel.
"Iya," jawab Darel.
"Misi apa yang kamu sama sahabat-sahabat kamu lakukan?" tanya Davian.
"Kepo," jawab Darel.
Mendapatkan jawaban yang tak memuaskan dari adik bungsunya membuat Davian seketika mendengus dengan tatapan matanya menatap horor adik bungsunya itu. Sedangkan Darel hanya bersikap acuh dan tak takut sama sekali.
Ketika mereka semua membahas tentang misi yang dikerjakan oleh Darel dan para sahabat-sahabatnya, tiba-tiba ponsel Darel berbunyi.
Darel langsung melihat kearah layar ponselnya. Dan dapat Darel lihat tertera nama 'Niko' di layar ponselnya itu.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darel langsung menjawab panggilan dari Niko. Sementara anggota keluarganya memasang telinganya masing-masing untuk mendengar pembicaraan Darel dengan tangan kanannya itu.
"Hallo, Niko."
"Hallo, Bos! Saya ingin memberikan informasi kepada Bos."
"Informasi apa? Katakan!"
"Ini mengenai orang-orang yang mengaku pemilik gedung tempat tinggal para anak-anak Panti Asuhan itu, Bos!"
"Kenapa dengan mereka?"
__ADS_1
"Seperti yang sudah saya sampaikan kemarin. Orang-orang itu akan datang menemui Bos."
"Ooh, jadi mereka serius?"
"Benar, Bos!"
"Baiklah. Kebetulan aku dan sahabat-sahabatku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka. Dan aku juga ingin tahu seberapa besar nyali mereka ketika bertemu denganku dan sahabat-sahabatku."
"Oh, iya! Kapan mereka akan menemui dan sahabat-sahabatku?"
"Besok siang pukul 11, Bos!"
"Baiklah. Kau persiapkan semuanya besok. Kita akan pesta besok siang."
"Siap, Bos!"
Pip..
Darel langsung mematikan panggilan setelah mendapatkan jawaban dari Niko.
"Tunggu kejutan dariku," batin Darel sembari tersenyum di sudut bibirnya.
"Darel," panggil Davian.
Darel langsung melihat kearah kakak tertuanya itu yang juga tengah menatap dirinya.
"Iya, kak!"
"Apa yang dikatakan oleh Niko sama kamu?" tanya Davian.
"Niko bilang bahwa mereka akan menemuiku dan sahabat-sahabat aku."
"Mereka? Siapa?" tanya Arvind, Sandy, William dan Daksa bersamaan.
"Orang-orang yang mengaku sebagai pemilik dari gedung tempat tinggal para anak-anak Panti Asuhan itu," jawab Darel.
"Kapan mereka akan datang menemui kamu dan sahabat-sahabat kamu?" tanya Nevan.
"Besok pukul 11 siang. Untuk tempanya belum ditentukan. Kemungkinan besok."
"Kalau begitu kakak akan ikut bersama kamu!" Davian berseru.
"Tapi kak..."
"Kakak tidak menerima penolakan. Atau kamu lebih memilih di rumah saja," ucap Davian dengan penuh penekanan.
Mendengar ucapan dan melihat wajah tak mengenakan dari kakaknya itu membuat Darel hanya diam tanpa mengatakan sesuatu.
Seketika Darel membuang tatapan matanya kearah lain guna menghindari tatapan mata kakaknya itu dengan wajah yang tampak tak menyenangkan.
Detik kemudian Darel berdiri dari duduknya. Setelah itu, Darel langsung pergi begitu saja meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju kamarnya di lantai dua.
"Darel," panggil Arvind dan Adelina bersamaan.
__ADS_1
Sedangkan Darel sama sekali tidak mengindahkan panggilan dari kedua orang tuanya itu. Kakinya terus melangkah menaiki anak tangga.