
Nevan menatap wajah tampan adik bungsunya itu, lalu tangannya mengusap lembut kepalanya.
"Memangnya Darel dengar siapa yang berteriak di luar?" Nevan lembut.
Jungkook mengangguk, lalu menjawabnya, "Papa."
"Papa!"
"Paman Arvind!"
Mereka saling lirik satu sama lain. Lalu menatap wajah Darel kembali. Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu di buka.
CKLEK!
Mereka semua menolehkan wajah melihat kearah pintu.
"Papa, Paman, Bibi!"
"Apa kami mengganggu?" tanya Sandy.
"Tidak," jawab mereka semua bersamaan.
Setelah itu, mereka semua menjauh dari ranjang Darel dan membiarkan orang tua mereka untuk melepaskan rindunya pada kesayangan mereka.
"Bagaimana keadaan keponakan Paman yang manis ini, hum?" tanya Sandy sembari menggoda Darel.
"Aish, Paman. Aku ini tampan bukan manis. Jadi berhentilah mengejekku," sahut Darel.
"Hei. Itu bukan ejekan tahu. Itu benar-benar sebuah pujian yang tulus dari hati Paman ini." Sandy mendramatisikan ucapannya.
"Lebay," jawab Darel.
Sandy tersenyum melihat wajah tampan keponakan manisnya itu. Tangannya membelai rambut Darel dan tak lupa memberikan kecupan sayang di keningnya.
"Terima kasih telah kembali. Terima kasih Darel sudah mau bangun dari tidurnya selama tiga hari. Jangan sakit lagi, oke!"
Salma yang berada di samping Sandy suaminya pun ikut tersenyum bahagia melihat mata keponakan manisnya itu kembali terbuka.
"Bibi bahagia sekali kau telah kembali, sayang. Jangan sakit lagi ya." Salma mengecup telapak tangan Darel.
Darel tersenyum bahagia menatap wajah tampan dan cantik Paman Bibinya.
"Paman juga ikut senang melihatmu bangun, sayang. Terima kasih telah kembali bersama kami. Maafkan kesalahan Paman selama ini." William berbicara sambil mengecup kening Darel.
Setelah William selesai, kini Daksa dan Evita yang mendekati ranjang Darel. Mereka secara bersamaan memberikan kecupan di kening dan juga di kedua pipi mulus Darel.
"Kami menyayangimu. Terima kasih telah kembali, sayang." Daksa dan Evita terucap secara bersamaan.
Setelah Sandy, Salma, William, Daksa dan Evita selesai. Kini barulah Arvind dan Adelina yang menghampiri ranjang putra bungsu mereka. Arvind dan Adelina bersamaan memberikan kecupan kedua pipi mulus serta kening putra bungsunya itu.
Arvind menatap wajah putra bungsunya itu. "Terima kasih, sayang. Terima kasih telah kembali." Arvind membelai rambut putranya lembut.
"Terima kasih sayangnya, Mama. Mama menyayangimu." Adelina mengelus lembut wajah tampan putra bungsunya.
Darel menatap satu persatu wajah-wajah anggota keluarganya yang saat ini menatapnya hangat. Dan tanpa diminta air matanya pun mengalir begitu saja.
__ADS_1
"Aku juga berterima kasih pada kalian semua. Kalian sangat menyayangiku, memanjakanku, memberikan perhatian padaku, peduli padaku dan selalu ada untukku. Kalau tidak ada kalian semua, aku belum tentu bisa sekuat ini." Darel berbicara dengan suara lirihnya.
Darel menatap kakak-kakak kandungnya. "Kakak, terima kasih. Kalian selalu ada untukku. Aku menyayangi kalian."
Davian dan adik-adiknya tersenyum hangat pada Darel. "Kami juga menyayangimu, Rel! Kau penyemangat hidup kami," sahut mereka bersamaan.
"Saat aku tidak sadar selama tiga hari. Aku bertemu dengan Kakek, Nenek dan Bibi Kayana. Mereka menyampaikan pesan dan juga salam untuk Papa, Paman dan Bibi."
"Apa sayang? Apa yang disampaikan oleh Kakek dan Nenekmu?" tanya Arvind.
"Kakek dan Nenek bilang kalau mereka sangat menyayangi Papa, Paman dan Bibi. Mereka ingin kalian hidup bahagia dan tidak bersedih lagi. Semuanya telah selesai. Kakek dan Nenek ingin kalian hidup bahagia, hidup rukun dan selalu bersama-sama."
"Dan untuk Paman William. Bibi Kayana juga bilang kalau Bibi Kayana sangat mencintai Paman. Dan Bibi Kayana meminta maaf karena telah pergi meninggalkan Paman bersama ketujuh putra-putra kalian. Dan Bibi Kayana juga sudah melihat dari atas sana wajah tampan Kak Farraz, Kak Deon, Kak Keenan, Kak Tristan dan Kak Dylan. Bibi Kayana juga menitipkan salam untuk kalian bertujuh."
Mereka semua tiba-tiba menangis. Menangis akan kerinduan mereka pada tiga sosok yang telah pergi.
Darel seketika memejamkan kedua matanya. "Kakek, Nenek, Bibi Kayana. Aku sudah menyampaikan pesan kalian. Semoga kalian bahagia di atas sana," batin Darel.
***
Setelah koma selama tiga hari ditambah dirawat selama tiga hari di rumah sakit dan kini pihak rumah sakit atau lebih tepatnya Dokter Fayyadh menyatakan bahwa sikelinci kesayangan keluarga Wilson dinyatakan sembuh.
Dan saat Dokter Fayyadh mengatakan hal itu, Darel langsung meminta pulang dengan alasan sudah sangat bosan. Dan mau tidak mau seluruh anggota keluarganya menuruti keinginannya.
Dan disinilah sekarang Darel berada. Di rumahnya, lebih tepatnya di ruang tengah. Seluruh anggota keluarga tampak bahagia atas kepulangan dirinya.
Saat ini Darel sedang duduk di samping Ayahnya dengan kepala yang menyender di bahu kiri sang Ayah sembari memejamkan kedua matanya. Kilasan-kilasan saat dirinya bersama dengan sang Kakek muncul di pikirannya.
FLASBACK ON
"Ada apa, kek?"
"Lihatlah kupu-kupu itu. Indah bukan?"
"*Iya, Kek. Indah sekali."
"Kelak kamu harus menjadi seperti kupu-kupu*."
"Kenapa?"
"Seekor kupu-kupu berasal dari ulat yang membungkus dirinya dalam kepompong. Sebelum menjadi kupu-kupu yang mampu terbang dengan sayap yang kuat dan indah, harus berusaha sekuat tenaga berjuang keluar dari kepompongnya." Antony menjawabnya.
"Kupu-kupu harus mampu berjuang keluar dari kepompong dengan kekuatannya sendiri jika ingin maju dan sukses. Memang bisa saja kepompong tersebut dipotong dengan bantuan dari luar. Namun ternyata hasilnya tidak terlalu baik."
"Walaupun kita mencobanya dengan memotong kepompong, akan menjadikan kupu-kupu keluar dengan mudah tanpa harus berjuang. Tanpa harus bekerja keras. Akan tetapi hal itu ternyata mengakibatkan kupu-kupu tersebut mempunyai sayap yang rapuh dan mudah patah."
"Jadi maksud dari kupu-kupu itu adalah bahwa sebaiknya jangan terlalu mengandalkan bantuan dari luar untuk mengatasi tantangan. Kerja keras dan kesungguhan akan membuat seseorang menjadi terlatih dalam persaingan."
"Dan jangan sesekali perlihatkan sisi lemahmu, rasa takutmu pada musuh-musuhmu. Sekalipun diri kita merasakan sakit. Kita harus tampak kuat di depan para musuh-musuh kita."
"Apa yang dilakukan oleh kupu-kupu perlu kita tanamkan dalam hidup." Antony menjelaskan arti dari kupu-kupu itu kepada cucunya.
FLASBACK OFF
Darel tersenyum saat teringat tentang Kakeknya yang memintanya untuk menjadi seperti kupu-kupu. Dirinya benar-benar bangga menjadi cucu dari seorang Antony Wilson.
__ADS_1
Kedua orang tuanya, para Kakak kandungnya, para Kakak sepupunya, Paman dan Bibinya yang melihat senyuman manisnya yang tercetak jelas di bibirnya itu membuat hati mereka semua menghangat. Senyuman manis itulah yang selalu mereka rindukan. Senyuman tulus dan tanpa beban. Mereka masih terus memperhatikan wajah tampan Darel yang masih memejamkan matanya.
"Setidaknya selama ini aku sudah menjadi seperti kupu-kupu, Kek!" Darel berucap.
"Ka-kek," lirih Darel.
Dan tanpa diminta air matanya pun mengalir membasahi wajah tampannya. Melihat hal itu membuat mereka semua khawatir. "Aku merindukanmu, Kek! Semua keinginan Kakek sudah terwujud sekarang. Jadi Kakek bisa tenang di sana bersama Nenek dan Bibi Kayana."
Arvind berlahan mengusap lembut air mata putra bungsunya. Darel yang merasakan sentuhan lembut tangan Ayahnya di wajahnya langsung membuka kedua matanya. Darel mengangkat kepalanya lalu menolehkan wajahnya untuk melihat wajah tampan ayahnya.
"Papa."
"Apa Darel barusan teringat akan kebersamaan Darel dengan Kakek, hum?"
"Hm." Darel mengangguk.
"Saat itu Kakek memintaku untuk menjadi seperti kupu-kupu. Dan sepertinya aku sudah menjadi seperti kupu-kupu sesuai keinginan Kakek." Darel menjawabnya.
Arvind dan yang lainnya tersenyum mendengar penuturan dari Darel. Jujur di dalam hati mereka masing-masing. Mereka benar-benar bangga terhadap Darel.
"Ya, sudah. Kalau begitu Darel ke kamar dan istirahat. Darel kan baru keluar dari rumah sakit. Darel harus banyak istirahat." Davian berbicara lembut kepada adiknya itu.
"Istirahat lagi? Apa tiga hari di rumah sakit kurang ya?" protes Darel dengan bibir yang dimanyunkan.
Mereka yang melihat bibirnya yang dimanyunkan tersenyum gemas.
"Itukan untuk Darel juga. Walau Paman Fayyadh mengatakan kalau Darel sudah baik-baik saja. Tapi Darel harus istirahat, apalagi luka di perutnya Darel. Kan belum kering lukanya." Nevan juga berbicara lembut terhadap adiknya itu.
"Kami tidak ingin Darel jatuh sakit lagi," kata Evan.
"Kami sangat menyayangimu. Makanya kami menyuruhmu istirahat," ucap Alvaro.
"Kan Darel gak harus istirahat dengan tidur lama-lama. Dengan Darel istirahat sambil baring-baring di tempat tidur itu sudah istirahat juga," kata Vano.
"Darel harus nurut gak boleh bandel," ujar Daffa.
"Ntar kalau Darel gak nurut, dua gigi Darel yang ada di depan itu akan Kakak cabut. Mau!" kata Axel sembari menjahili adiknya.
Mendengar penuturan Axel. Darel langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya sembari menggelengkan kepalanya cepat.
Anggota keluarganya tersenyum gemas ketika melihat Darel yang takut kalau gigi besarnya benar-benar akan dicabut oleh Axel.
Saat Raffa ingin mengucapkan sesuatu pada Darel. Darel sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Oke, aku mengerti!" Darel menggerak-gerakkan jari telunjuknya di udara menandakan kalau dirinya tidak butuh ceramah dari 12 kakaknya. Tujuh kakaknya sudah cukup memberikan ceramah padanya. Dirinya tidak mau mendengarkan ceramah dari lima kakaknya yang tersisa.
Sedangkan Raffa sudah kesal akan kelakuan adiknya itu. Dirinya berniat ingin mengatakan sesuatu, tapi adiknya sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Dasar siluman kelinci sialan," umpat Raffa di dalam hatinya.
"Sabar, sayang." Adelina mengelus lembut rambut Raffa. Dirinya tahu bahwa Raffa sedang kesal terhadap adiknya.
"Baiklah. Aku akan ke kamar dan istirahat," sahut Darel pasrah.
Para kakaknya tersenyum kemenangan. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka tersenyum melihat Darel yang pasrah dan nurut akan ucapan dari para kakaknya.
__ADS_1