
Flashback On
Rumah Sakit Amerika terlihat lima pemuda tampan tengah duduk di tempat tidur masing-masing. Kelima pemuda itu tengah menatap ke suatu benda di tangannya yaitu sebuah ponsel.
Tatapan mata kelima pemuda tampan itu menyenduh. Bahkan air mata tanpa diminta langsung keluar dengan sendirinya ketika melihat sebuah pemandangan yang begitu menyayat hati di layar ponsel yang mereka pegang.
"Rel... Hiks."
"Kenapa kamu harus masuk rumah sakit lagi?"
"Siapa yang melakukan semua itu padamu, Rel?"
"Kau terlihat kurus sekarang."
"Rel! Kakak rindu kamu."
Kelima pemuda tampan itu adalah Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.
Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel saat ini sedang menonton sebuah video dimana di dalam video tersebut terlihat Darel sedang tertidur di tempat tidur rumah sakit dengan kondisi tubuh terpasang beberapa alat medis. Alat medis itu terpasang tepat di dada kiri Darel. Bukan itu saja, pergelangan tangan kirinya terpasang infus dan jari telunjuk di jempit dengan alat Pulse Oxymetty dan setengah wajahnya di pasang masker oksigen.
"Hiks," isak tangis Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel melihat kondisi Darel saat ini.
Video yang di tonton oleh Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel adalah video Darel yang koma di rumah sakit. Video itu mereka dapatkan dari kakak sulung mereka yaitu Bruno Andrean, Alfhin Ramero, Darley Charles, Garret Hashim dan Ronan Alexander.
Sejak dokter mengatakan bahwa adik-adik mereka sudah berhasil melewati masa kritis. Sejak dokter mengatakan bahwa adik-adik mereka dalam kondisi baik-baik saja dan sejak dokter mengatakan bahwa adik-adik dalam masa pemulihan. Sejak itulah Bruno, Alfhin, Darley, Garret dan Ronan selalu memberikan informasi mengenai kehidupan Darel, Kenzo dan Gavin kepada adik-adiknya.
Cklek..
Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang. Setelah pintu terbuka, masuklah lima pasang suami istri ke dalam ruang rawat tersebut.
Sementara Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel masih menonton video Darel yang sedang koma. Mereka tidak menyadari jika kedua orang tuanya telah datang untuk menjemput mereka.
Melihat anak-anak yang saat ini dalam keadaan menangis membuat hati Rainart dan Aleta, Ditto dan Carola, Lucio dan Elsa, Mateo dan Siska, Ferino dan Indira sesak dan sakit. Mereka paham dan mengerti apa yang membuat anak-anaknya menangis.
Setelah puas memperhatikan anak-anaknya, mereka pun memutuskan untuk menghampiri anak mereka masing-masing.
Setelah tiba didekat anaknya seketika tatapan mata mereka melihat ke layar ponsel yang di pegang oleh sang anak. Dan detik kemudian, meluncurlah air mata mereka ketika melihat video itu.
"Darel," lirih mereka.
Setelah beberapa detik, mereka menghapus air matanya lalu kemudian menatap anaknya.
"Sayang!"
__ADS_1
Rainart dan Aleta, Ditto dan Carola, Lucio dan Elsa, Mateo dan Siska, Ferino dan Indira menyapa putranya bersamaan sembari mengusap lembut kepalanya.
Merasakan sentuhan di kepalanya seketika Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel langsung mendongakkan kepalanya.
"Papa, Mama!"
Rainart dan Aleta, Ditto dan Carola, Lucio dan Elsa, Mateo dan Siska, Ferino dan Indira tersenyum ketika mendengar sapaan dari anaknya.
"Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan ketiga adik kamu di Jerman," Rainart.
"Kamu dan keempat sahabat kamu akan bersama lagi dengan Darel, Kenzo dan Gavin." Ditto berucap.
Lucio menatap satu persatu wajah keempat sahabat putranya lalu berkata, "Hari ini kita semua akan pulang ke Jerman!"
Mendengar perkataan dari ayahnya seketika Damian langsung melihat wajah ayahnya. Begitu juga dengan Brian, Azri, Evano dan Farrel. Mereka menatap wajah ayah mereka masing-masing.
"Apa itu benar?" tanya Damian.
"Papa!" Brian, Azri, Evano dan Farrel.
Rainart, Ditto, Lucio, Mateo dan Ferino langsung menganggukkan kepalanya.
"Sudah saatnya kalian berkumpul kembali," sahut Mateo.
"Dari sini kita akan langsung terbang ke Jerman," ucap Ferino.
"Darel, Kenzo, Gavin. Tunggu kakak. Kakak pulang menemui kalian!" Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel berucap di dalam hati.
***
Setelah menempuh perjalanan selama 11 jam dengan kecepatan penerbangan 700 km/jam akhirnya Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel dan kedua orang tuanya sampai di negara Jerman. Mereka begitu bahagia bisa kembali lagi ke Jerman setelah setengah tahun berada di Amerika akibat ulah musuh lamanya.
"I AM HOME!" seru Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan.
Ditto menatap kearah putranya dan keempat sahabatnya Azri, Damian, Evano dan Farrel.
"Kalian mau pulang dulu atau mau langsung ke rumah sakit menjenguk Darel?" tanya Ditto.
Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel saling memberikan tatapan. Dan setelah itu, mereka tersenyum.
"Kami akan langsung ke rumah sakit!"
Mendengar jawaban kompak dari putranya dan keempat sahabatnya seketika Ditto dan Carola tersenyum. Begitu juga dengan Rainart dan Aleta, Lucio dan Elsa, Mateo dan Siska, Ferino dan Indira.
__ADS_1
"Kalau begitu kami langsung pergi!"
"Naik apa?" tanya Siska.
"Taxi!" Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan.
Setelah mengatakan itu, mereka pun pergi meninggalkan para orang tua untuk segera menuju rumah sakit.
Flashback Off
"Hiks... Kak Brian, kak Azri... Hiks... kak Damian... kak Evano... kak Farrel... Hiks," ucap Kenzo dan Gavin bersamaan dan disertai isakannya.
"Kak!" isak Samuel, Razig, Juan, Zelig dan Lucas.
Kenzo dan Gavin langsung berlari kearah Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel. Begitu juga dengan Samuel, Razig, Juan, Zelig dan Lucas.
Grep..
Mereka seketika memeluk tubuh orang yang mereka rindukan setengah tahun ini. Dan dibalas tak kalah erat oleh Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel. Mereka saling melepaskan kerinduan masing-masing.
Melihat pertemuan Kenzo dan Gavin dengan kelima sahabatnya serta pertemuan adik dengan kakaknya membuat semua anggota keluarga Wilson ikut merasakan kesedihan. Mereka semua menangis ketika melihat tatapan kerinduan dan mendengar sapaan lirih serta isakan dari Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig dan Lucas.
Apa yang mereka lihat itu baru reaksi dari Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig dan Lucas. Belum lagi reaksi dari Darel. Kemungkinan besar Darel yang akan lebih bersedih dan terisak jika melihat kelima sahabatnya berdiri di hadapannya.
Arvind berlahan melangkah mendekati Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel. Dirinya benar-benar bahagia bisa melihat kelima sahabat putra bungsunya.
"Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel!" Arvind memanggil kelimanya.
Mendengar panggilan dari ayah dari sahabat kelincinya. Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig dan Lucas langsung melepaskan pelukannya.
Arvind mengusap lembut pipi putih Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel secara bergantian.
"Paman bahagia melihat kalian kembali ke Jerman. Bahkan Paman lebih bahagia lagi melihat kalian yang sudah sembuh dari pasca kecelakaan itu," ucap Arvind.
Mendengar perkataan tulus dari Arvind membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel merasakan kenyamanan di hatinya. Apalagi ketika pipinya diusap oleh Arvind.
"Kami masih ada di dunia ini, semua itu tak lepas dari doa kalian dan doa dari keluarga kami." Azri berbicara lembut di hadapan ayah dari sahabat kelincinya.
"Berkat doa kalian, berkat doa keluarga kami dan berkat ketiga sahabat kami yaitu Darel, Kenzo dan Gavin. Kami semua bisa bertahan dan bangun dari koma selama beberapa bulan," ucap Evano.
"Darel."
Farrel menatap kearah ranjang dimana Darel tertidur. Tanpa diminta air matanya seketika mengalir membasahi wajahnya. Berlahan Farrel melangkah mendekati ranjang Darel. Diikuti oleh Brian, Azri, Damian dan Evano.
__ADS_1
Kini mereka sudah berdiri di samping kiri dan kanan ranjang Darel. Air mata mereka jatuh begitu saja ketika melihat kondisi Darel secara langsung.
"Rel, kita kembali!" ucap lirih Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan.