Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Terpuruk


__ADS_3

Setelah mengingat kejadian naas itu, tiba-tiba Darel berteriak histeris.


"Kakek! Papa!"


"Darel," lirih para kakaknya saat melihat Darel yang tiba-tiba berteriak.


Adelina langsung memeluk tubuh putra bungsunya dengan erat dan berusaha memberikan ketenangan padanya.


"Mama disini sayang. Kalau Darel ingin menangis. Menangislah. Jangan ditahan."


"Hiks... Hiks... Hiks." tangis Darel pun pecah.


Mereka semua yang mendengar isak tangis Darel merasakan sakit di dada mereka masing-masing, terutama para kakak-kakak kandungnya.


Nevan yang berada di sampingnya menggenggam erat tangan adiknya. Dan Nevan dapat merasakan bahwa adiknya membalas genggaman tangannya dengan kuat.


Raffa duduk berjongkok di hadapan adiknya dan menggenggam tangan adiknya yang satunya.


"Kakak akan selalu ada untukmu, oke!" Raffa mengelus lembut wajah tampan adiknya itu dan menghapus air matanya.


"Ya, sudah. Lebih baik Darel ke kamar sekarang ya. Kakak tidak mau Darel jatuh sakit. Darel baru saja keluar dari rumah sakit dan belum ada satu hari Darel di rumah," ucap Davian,


Davian mengambil alih tubuh adiknya dari pelukan ibunya. Sedangkan Darel hanya menurut saja apa yang dikatakan oleh Kakak tertuanya itu.


Saat baru sepuluh langkah, tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang seolah-olah mengejek mereka.


PROK!


PROK!


PROK!


Mereka semua menatap nyalang pada Agatha dan ketujuh putranya. Tapi mereka tidak berniat untuk mencari ribut dengan pembuat masalah seperti Agatha itu. Saat ini yang mereka pikirkan adalah Darel.


"Ayo." Ghali yang sedang memapah Darel bersama Davian melanjutkan langkahnya untuk menuju kamar adiknya di lantai dua.


"Wah, Darel. Aku salut padamu. Kenapa kau bisa selamat ya? Aku pikir kau ikut mati juga bersama dengan..." ucapan Agatha terhenti.


"Agatha!" teriak Salma menatap tajam kearah Agatha.


"Ooppss!!" ejek Agatha sambil menutup mulutnya. "Tapi maaf. Sepertinya aku harus memberitahukannya," ucap Agatha dengan memperlihatkan senyuman liciknya. "Hei, anak pembawa sial. Kau tahu tidak, Kakek kesayanganmu itu sudah mati. Dan Papamu yang brengsek itu menghilang ntah kemana. Semoga saja dia juga mati menyusul kakekmu."


Mereka semua geram mendengar ucapan Agatha, apalagi para putra-putra dari Arvind. Mereka mengepalkan tangan mereka kuat.


"Kau tahu Darel. Kau itu adalah pembunuh. Kaulah yang sudah membunuh kakekmu. Kau itu cucu tidak tahu diri. Kau sudah diberikan kepercayaan oleh kakekmu, tapi inikah balasanmu pada kakekmu, hah!" teriak Agatha.


"Darel, sayang. Jangan dengarkan Bibimu, nak! Anggap saja dia itu orang gila," ucap Adelina yang berusaha menenangkan putra bungsunya agar tidak terpancing.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan barusan, Adelina? Seenaknya saja kau mengatakan aku ini gila!" teriak Agatha tak terima.


"Kenapa kau yang marah? Aku mengatakan hal itu pada putra bungsuku agar putraku tidak terpancing akan ocehan murahanmu itu," jawab Adelina santai.


"Kau...!" ucapan Agatha lagi-lagi terhenti.


"Kau itu hanya berani bersikap seperti ini disaat kakakku sedang tidak ada di rumah. Kalau kakakku ada, mungkin kau tidak akan berani menghina Ayah dan Kakaknya. Bagaimana pun kakakku itu mencintaimu, tapi kakakku itu sangat menghormati Ayah dan Kakaknya," ucap Evita.


"Sudahlah. Lebih baik kita bawa Darel ke kamar," ajak Adelina.


"Adelina!" teriak Agatha. Sedangkan Adelina tak menghiraukan teriakan Agatha. "Aku belum selesai bicara denganmu perempuan murahan!"


Seketika Darel langsung berhenti dan diikuti oleh yang lainnya. "Mau kau bawa kemana anak pembunuh itu!" teriak Agatha lagi.


Darel yang sedari tadi sudah berusaha menahan untuk tidak emosi, seketika emosinya pun meledak. Darel dengan kalap melepaskan kedua tangan kakaknya yang memapahnya. Dan berjalan kearah Agatha dengan tatapan amarahnya.


Agatha yang melihat kemarahan dari mata Darel berlahan melangkah mundur disaat Darel yang terus maju mendekatinya.


Melihat ibu mereka terdesak, ketujuh putra-putranya berusaha menghalangi Darel, tapi hal itu sia-sia saja karena para kakaknya sudah terlebih dahulu menghadang mereka.


Darel makin dekat pada Agatha, sedangkan Agatha sudah tersudut di dinding. Darel menatap tajam kearah Agatha.


"Aku sudah cukup sabar dan berusaha untuk tetap menghormatimu. Tapi sepertinya kau tidak bisa diajak kompromi. Kau bahkan sudah melewati batasmu, Nyonya Agatha. Kau sudah menghina Kakek dan Papaku. Dan kau juga sudah berani menyebut ibuku perempuan murahan. Lalu kau juga menyebutku seorang pembunuh. Wah, aku salut padamu, Nyonya! Terlalu banyak kata-kata manismu yang kau berikan pada keluargaku. Apa kau tidak sadar dengan semua ucapanmu itu? Sebenarnya semua ucapanmu barusan itu adalah aibmu sendiri. Kau tanpa sadar membeberkannya padaku dan pada keluargaku," tutur Darel dengan senyuman seringainya.


"Apa maksudmu, hah?!" bentak Agatha.


"Kau mengerti maksudku, Nyonya." Darel berucap dengan senyuman di sudut bibirnya.


"Aku sudah memegang kartu matimu. Aku tahu kau sudah menikah sebelum menikah dengan William Wilson, Pamanku. Nama suamimu adalah Mathew Wilson. Dan kau memiliki lima orang putra, lalu kau menukarnya dengan kelima putra dari William Wilson. Hanya Dirga Wilson dan Marcel Wilson yang kau dan suamimu pertahanankan agar kau bisa leluasa menguasai harta Kakek. Kau dan suamimu jugalah yang telah menyebabkan kecelakaan yang menimpaku, Kakek dan Papa. Dan dengan kejinya, pria brengsek itu membunuh kakekku, padahal saat itu Kakek dalam keadaan selamat sama sepertiku. Dan satu lagi yang harus kau ketahui Nyonya. Seluruh harta kekayaan Antony Wilson sudah aku alihkan kepada yayasan. Dan hal itu sudah diketahui oleh pihak hukum, termasuk pihak kepolisian. Jadi, kalau seandainya saja kau dan suamimu berhasil menguasai hartanya kakek, tapi kau dan suamimu tidak bisa memindahkan atas namamu ataupun suamimu. Kalau sampai hal itu terjadi, bersiap-siap kalian berdua berurusan dengan hukum."


Setelah selesai mengatakan hal itu, Darel menatap wajah Agatha dengan senyuman mengejeknya.


Mendengar penuturan dari Darel, membuat Agatha benar-benar kehabisan kata-kata. Dirinya tidak menyangka, bagaimana bisa Darel mengetahui semua rahasianya dan suaminya. Masalah ini hanya dirinya dan suaminya saja yang tahu. Tidak ada orang lain yang mengetahui masalah ini. Dirinya dan suaminya sudah merencanakan semuanya selama ini, tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk keluarga Antony Wilson.


Sementara anggota keluarganya menatap wajah Agatha saat berhadapan dengan Darel. Mereka semua bisa melihat wajah tegang dan wajah ketakutan Agatha. Dan mereka juga tidak tahu apa yang dibisikkan oleh Darel pada Agatha sehingga membuat Agatha bungkam seketika.


"Kau terlihat cantik kalau seperti ini, Nyonya. Apalagi saat melihat wajah terkejutmu saat ini. Kau makin cantik. Tapi saat kau sedang marah. Kau seperti singa betina yang sedang kelaparan. Padahal kau tidak pernah kekurangan makanan di rumah ini." Darel berbicara sembari mengejek Agatha.


Sedangkan anggota keluarganya yang mendengar ucapan Darel tertawa dalam hati.


"Jangan lupakan perkataanku barusan, Nyonya. Semuanya sudah tertata dan tersimpan rapi olehku. Dan dalam hitungan detik semuanya akan meledak seketika. Jadi, berhati-hatilah saat bertindak," ucap Darel dengan suara yang sengaja dibesarkan agar semua anggota keluarganya bisa mendengarnya.


Setelah itu, Darel pun pergi meninggalkan Agatha untuk menuju kamarnya. Dan disusul oleh ibunya dan para kakak-kakaknya.


Sementara yang lainnya, kembali ke kamar masing-masing. Kini tinggallah Agatha dan ketujuh putranya di ruang tengah.


Steven saat ini tengah duduk di sofa yang ada di kamarnya. Dirinya sedang berpikir tentang masalah yang menimpa keluarga besarnya. Terlalu banyak masalah yang menimpa keluarganya sehingga dirinya kehilangan dua anggota keluarganya.

__ADS_1


"Paman Arvind. Semoga Paman baik-baik saja dimana pun Paman berada. Kakek! Aku merindukanmu. Semoga Kakek bahagia diatas sana," batin Steven.


"Lebih baik aku menelepon Papa dan menyuruh Papa pulang." Monolog Steven.


Steven mengambil ponselnya dan menghubungi Ayahnya.


"Hallo, Steven. Ada apa?"


"Papa dimana?"


"Papa dirumah, sayang. Kenapa?"


"Lebih baik Papa kembali ke rumah Kakek. Tidak ada gunanya Papa disana. Darel sudah tahu soal meninggalnya Kakek dan hilangnya Paman Arvind."


"Apa? Siapa yang memberitahu Darel?"


"Siapa lagi? Papa sudah tahu siapa orangnya."


"Brengsek! Ya, sudah. Papa pulang sekarang."


"Oke, Pa. Papa hati-hati di jalan."


"Baiklah, sayang."


PIP!


^^^


Darel sudah berada di dalam kamarnya dan ditemani oleh ibu dan para kakak-kakaknya.


"Tinggalkan aku sendirian," lirih Darel.


"Tapi, sayang." Adelina berkata.


"Aku mau sendiri. Dan aku tidak mau diganggu oleh siapapun," sahut Darel lagi.


"Jangan gitu dong, Rel. Biarkan kami disini menemanimu ya." Nevan berusaha membujuk adiknya.


"Aku mohon, tinggalkan aku. Aku ingin sendiri."


"Darel," lirih Raffa.


Raffa mengangkat tangannya hendak membelai rambut adiknya, tapi Darel menepis kasar tangan Raffa.


"Pergi!" teriak Darel.


"Baiklah, baiklah. Kita akan pergi. Darel jangan berteriak lagi, oke!" Davian berbicara lembut.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka semua pun terpaksa pergi meninggalkan kamar Darel.


Mereka memang pergi dari kamar Darel. Tapi mereka tidak benar-benar pergi. Mereka saat ini berdiri di depan pintu kamar kesayangan mereka dengan pintu yang sengaja tidak mereka tutup rapat. Mereka memperhatikan Darel dari luar.


__ADS_2