
Setelah selesai berbicara dengan Mathew, Agatha langsung mematikan panggilannya. William dengan kasarnya merampas ponsel milik Agatha.
"Aku akan memegang ponselmu ini," sahut William.
"Ingat! Putra-putramu di tangan kami. Jangan melakukan hal bodoh!" bentak Arvind.
"Enyahlah kau dari hadapanku. Aku sudah jijik melihat wajahmu itu!" bentak William.
Saat Agatha ingin melangkahkan kakinya menuju lantai dua, tiba-tiba Dirga berteriak. "Tunggu, Nyonya Agatha." Hal itu sukses membuat Agatha menghentikan langkahnya dan menatap wajah Dirga.
"Kau hanya sementara di rumah ini. Jadi kau tidur di kamar pembantu," ucap Dirga. "Pelayan," panggil Dirga.
Lalu datang salah satu pelayan ke ruang tengah. "Ada apa, tuan muda Dirga?"
"Bawa perempuan itu ke kamar pembantu. Masih ada kamar kosongkan?"
"Masih tuan muda. Baik, tuan muda." Pelayan tersebut membawa Agatha ke kamar pembantu.
Setelah kepergian pelayan dan Agatha. Seketika Arvind menyadari sesuatu.
"Astaga. Aku hampir lupa. Farraz, Deon, Keenan, Tristan, Dylan!" seru Arvind, lalu berlari menuju ruang tamu.
Mereka yang melihat Arvind yang tiba-tiba berlari menuju arah ruang tamu, akhirnya mereka pun ikut mengejar Arvind. Mereka penasaran pada Arvind yang tiba-tiba berlari kearah ruang tamu.
^^^
Arvind sudah berada di ruang tamu. Dirinya benar-benar tidak sengaja melupakan keberadaan Farraz dan keempat adiknya.
"Maafkan, Paman. Paman terlalu lama ya meninggalkan kalian disini?"
"Paman, kenapa lama sekali? Dylan haus, Paman! Paman meninggalkan kita disini tanpa memberikan kita minum," protes Dylan.
"Dylan," tegur Farraz.
"Maaf, Kak Farraz."
Arvind tersenyum gemas melihat tingkah Dylan. "Sudah... Sudah! Tidak apa-apa. Farraz, jangan marahi adikmu."
"Papa."
"Kak Arvind."
Mereka semua telah berada di ruang tamu.
"Farraz," sapa Dirga.
Mendengar sapaan dari Dirga membuat semua anggota keluarganya melihat kearah Dirga.
"Dirga. Kau mengenalnya, Nak?" tanya William.
"Iya, Pa! Farraz ini salah pegawai kita di Perusahaan CJ GRUP."
Arvind tersenyum melihat wajah William, Dirga, Marcel, Farraz, Deon, Keenan, Tristan dan Dylan, lalu Arvind berdiri dan menghampiri Farraz dan keempat adiknya.
"Kalian berdirilah!" seru Arvind pada Farraz dan keempat adiknya.
Farraz dan keempata adiknya pun langsung berdiri. Setelah itu, Arvind menatap wajah William.
"William, kemarilah."
Mendengar panggilan dari kakak pertamanya, William langsung melangkah mendekati kakaknya itu.
__ADS_1
"William. Mereka ini adalah putra-putramu. Putra-putra yang telah dibawa pergi oleh Agatha ke Panti Asuhan." Arvind berbicara sambil menatap wajah William.
Baik William maupun Farraz dan keempat adiknya meneteskan air matanya. Mereka menangis saat pertama kalinya mereka bertemu.
Dirga dan Marcel yang mendengar hal itu, langsung mendekat. Mereka tidak mau ketinggalan momen-momen tersebut.
William menatap wajah tampan sang kakak untuk memastikan bahwa Kakaknya itu tidak membohonginya. Arvind yang melihat tatapan mata William pun mengerti. Kemudian Arvind mengangguk.
"Mereka putra-putramu, William!"
William kembali menatap wajah kelima pemuda yang berdiri di hadapannya. Air matanya tak hentinya mengalir. Begitu juga dengan Dirga, Marcel, Farraz, Deon, Keenan, Tristan dan Dylan.
William menghampiri kelima putranya itu lalu kemudian tangannya menyentuh wajah tampan kelima putra-putranya secara bergantian. Dan seketika Dylan berteriak histeris.
"Hiks... Papaaaa... hiks."
William langsung memeluk tubuh Dylan saat mendengar teriakan histeris dari Dylan.
"Sayang... Hiks." William menangis saat memeluk tubuh putranya.
"Hiks... Dylan rindu Papa. Dylan rindu Papa... Hiks."
"Papa juga merindukanmu sayang." William memberikan bertubi-tubi ciuman di pucuk kepala Dylan.
"Papa," lirih Farraz, Deon, Keenan dan Tristan.
Mereka semua menghambur ke dalam pelukan William. Mendapatkan pelukan dari kelima putranya membuat William membalas pelukan putra-putranya. William memeluk erat kelima putra-putranya itu.
Arvind, Sandy, Evita ikut menangis menyaksikan pertemuan Ayah dan anak itu. Begitu juga anggota keluarga lainnya. Mereka semua menangis. Menangis karena bahagia.
"Apa kalian hanya memeluk Papa saja, hum? Apa kalian tidak ingin memeluk kami kakak-kakak kalian?" tanya Dirga dan Marcel sambil menyindir kelima adiknya.
"Kakak!" Farraz dan keempat adiknya berseru lalu menghambur ke dalam pelukan Dirga dan Marcel.
Mereka berpelukan untuk saling melepaskan rasa rindu mereka satu sama lain. Setelah puas berpelukan. Mereka pun melepaskan pelukannya.
"Lebih baik kita pindah ke ruang tengah saja," usul Sandy.
Dan mereka semua, termasuk Zayan dan beberapa anak buahnya melangkah menuju ruang tengah.
^^^
Kini mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah. Mereka semua tampak bahagia, terutama William dan putra-putranya.
"Kak Arvind. Bagaimana caranya kakak bisa menemukan kelima putra-putraku ini?" tanya William.
"Yang menemukan keberadaan kelima putra-putramu ini adalah Darel keponakan kelincimu itu, William! Kakak bertemu dengan mereka karena merekalah yang telah menyelamatkan nyawa Kakak. Kakak tidak tahu kalau mereka adalah putra-putramu. Kakak diberita oleh Zayan." Arvind menjawab pertanyaan dari William sambil menunjuk kearah Zayan.
Mereka melihat kearah Zayan dan beberapa anak buahnya.
"Terima kasih nak, Zayan." William berucap lembut sambil melihat kearah Zayan.
"Tuan William tidak perlu berterima kasih pada saya. Saya hanya menjalankan perintah dari Bos."
"Bos." ulang mereka, kecuali Arvind, Farraz dan keempat adiknya yang sudah tahu.
"Bos saya itu adalah Tuan muda Darel. Bos memberikan perintah pada saya untuk menyelidiki tentang kehidupan pribadi Nyonya Agatha dan Tuan Mathew, baik dulu maupun sekarang, lalu Bos juga memerintahkan saya dan Arzan untuk mencari keberadaan kelima putra-putra Tuan William. Arzan lah yang berhasil menemukan keberadaan kelima putra-putra Tuan. Setelah kami benar-benar yakin dan semua bukti menunjukkan kalau Tuan muda Farraz dan keempat adiknya itu adalah putranya Tuan William, barulah kami memberitahukannya pada Bos. Setelah Bos mengetahui tentang Tuan muda Farraz dan keempat adiknya, Bos meminta pada saya untuk selalu mengawasi dan menjaga Tuan muda Farraz dan keempat adiknya dari jarak jauh." Zayan menjelaskan secara detailnya kepada William dan anggota keluarga Wilson.
"Sudah berapa lama kalian bekerja untuk Darel keponakanku?" tanya Sandy.
"Saya dulunya sebagai kaki tangannya Tuan besar Antony. Saya dan juga yang lainnya sudah sangat lama mengabdi pada beliau. Saat Tuan besar Antony melimpahkan semua kekayaan dan kekuasaannya pada Tuan muda Darel, Tuan besar Antony meminta saya dan yang lainnya untuk mengabdi pada tuan muda Darel. Dan mematuhi semua perintahnya. Seperti kami mematuhi perintah beliau." Zayan menjawab pertanyaan dari Sandy.
__ADS_1
"Dan sekarang ini, saya dan teman-teman saya sudah mendapatkan banyak bukti tentang kejahatan yang dilakukan oleh tuan Mathew dan istrinya. Dan bukti-bukti itu sudah kami pegang. Yang aslinya ada pada Bos."
Mereka semua tersenyum bahagia dan bangga pada Darel. Diam-diam tanpa sepengetahuan mereka semua, Darel sudah melakukan tugasnya dengan baik.
"Ya, sudah. Sepertinya kalian lelah. Lebih baik kalian semua istirahat dulu. Nanti malam kita lanjut lagi. Kita akan membahas masalah untuk menghancurkan Mathew," ucap Sandy
"Dhafin, antar mereka ke kamar tamu." Sandy meminta kepada putranya untuk mengantar Zayan dan anggotanya ke kamar.
"Baik, Pa! Ayo ikut saya." Lalu mereka pun pergi meninggalkan ruang tengah.
^^^
Keesokkan paginya suasana keluarga Wilson tampak ramai. Seluruh anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah. Zayan dan beberapa anak buahnya berada di luar sekedar berjaga-jaga. Evan dan Raffa memohon kepada kedua orang tua dan juga para kakak-kakak mereka untuk tidak masuk sekolah hari ini. Alasannya adalah ingin berkenalan dengan Farraz, Deon, Keenan, Tristan dan Dylan. Mereka baru tahu paginya, saat mereka baru bangun.
Bagaimana dengan Darel? Kita lihat saja bagaimana reaksinya saat bertemu langsung dengan kelima kakak sepupunya itu.
"Pa, Ma, Kak. Boleh, ya! Sekali ini saja."
Evan dan Raffa memohon kepada kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Dan jangan lupakan wajah mereka yang seperti anak bayi yang minta dicium. Mereka yang melihat menjadi gemas sendiri.
"Baiklah. Kali ini Papa izinkan kalian tidak masuk sekolah. Tapi hanya hari ini saja. Tidak ada lagi besok, besok dan besoknya. Apapun alasannya kalian harus sekolah, kecuali sakit."
"Asiiaappp, kapten!" mereka menjawabnya secara bersamaan semangat sembari memberikan hormat pada sang Ayah.
"Bagaimana dengan kalian, Kak?" tanya Raffa karena Raffa memperhatikan wajah para kakaknya tidak bersahabat.
Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro dan Axel yang merasa ditatap oleh Evan dan Raffa menjadi tidak tega. Akhirnya mereka pun memberikan izin pada kedua adik mereka itu.
"Baiklah. Kami semua mengizinkan kalian hari ini tidak masuk sekolah," jawab Davian mewakili yang lainnya.
"Yeeeaaayyyyy!" teriak Evan dan Raffa.
Sedangkan anggota keluarga hanya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Jimin dan Raffa.
Detik kemudian, mereka semua dikejutkan dengan suara teriakan dari dalam kamar Darel di lantai dua.
"KAKAAKK!"
Tanda pikir panjang lagi, mereka pun berlari menuju kamar adik kesayangan mereka. Saat Arvind dan Adelina ingin bangkit dari duduknya, Daffa bersuara.
"Papa dan Mama disini saja. Biarkan kami saja yang ke kamar Darel."
"Baiklah, sayang." Arvind dan Adelina menjawab secara bersamaan.
Darel saat ini sibuk mencari dasi dan kaos kaki miliknya. Ditambah lagi keadaan kamarnya sudah seperti kapal pecah.
"Hiks... aku tidak mau terlambat datang ke sekolah... Hiks." Darel menangis.
Dirinya saat ini duduk di lantai dengan punggungnya bersandar di pinggiran tempat tidurnya.
BRAAKK!
Pintu kamarnya di buka paksa oleh Davian. Saat pintu kamar itu terbuka. Mereka dengan kompaknya membelalakkan matanya saat melihat kondisi kamar adik kesayangan mereka yang sudah berantakan.
Davian dan adik-adik melangkah masuk ke kamar dan dapat mereka lihat kesayangan mereka tengah duduk bersandar di pinggiran tempat tidur sambil menangis dan lengkap dengan seragam sekolahnya. Hanya saja ada yang kurang yaitu dasi dan kaos kaki yang belum dikenakan. Mereka semua pun menghampiri sang adik lalu mengerubunginya.
"Darel. Ada apa, hum? Kenapa kamarnya diberantakkin?" tanya Davian lembut.
Darel mendongakkan kepalanya dan menatap wajah tampan kakak tertuanya itu. "Hiks... Kak Davian... Hiks," tangis Darel makin kencang.
"Hei, ada apa?" tanya Nevan sembari membelai lembut rambut Darel.
__ADS_1