Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S3. Si Jangkung


__ADS_3

Kenzo saat ini berada di sebuah pertokoan. Lebih tepatnya di sebuah toko buku. Kenzo tidak sendirian, melainkan bersama seorang gadis cantik yaitu Amelia Johnson, sepupu dari Darel Wilson.


Baik Kenzo maupun Amelia, keduanya tampak bahagia. Mereka menjalin hubungan asmara ketika pertama kali bertemu yang mana Kenzo yang menolong Amelia dari beberapa orang yang hendak melecehkannya.


Kenzo dan Amelia saat ini sedang melihat-lihat dan memilih-milih buku yang akan mereka beli sembari berceloteh kecil dan juga tertawa kecil.


Setelah beberapa menit melihat-lihat dan memilih-milih, akhirnya Kenzo dan Amelia mendapatkan masing-masing 3 buku. Dua buah buku mata kuliah dan satu buat novel romance, itu untuk Amelia. Sedangkan untuk Kenzo ketiga bukunya semuanya tentang bisnis.


Setelah mendapatkan buku yang mereka cari. Keduanya memutuskan untuk ke kasir membayar buku-buku tersebut.


***


Di sebuah Cafe terlihat dua pemuda tampan yang berbeda marga. Jika yang satu bermarga Wilson, sedangkan yang satunya bermarga Fausta.


Kedua pemuda tampan itu adalah Nevan Wilson dan Rizky Fausta. Mereka berada di Cafe itu untuk membicarakan sesuatu. Lebih tepatnya Rizky yang ingin menyampaikan sesuatu kepada Nevan sahabatnya itu.


Yah! Nevan dan Rizky telah bersahabat sejak duduk di bangku kelas 1 SMP sampai duduk di bangku perkuliahan. Mereka berpisah dikarenakan Rizky memutuskan untuk ke Amerika. Dia kesana untuk memimpin perusahaan ayahnya yang ada disana.


"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan, Rizky? Apa tidak ada waktu lain? Kita baru saja bertemu setelah beberapa tahun berpisah. Apa kau tidak merindukan sahabatmu ini?" tanya Nevan sembari memasukkan sesendok spaghetti ke dalam mulutnya.


Mendengar pertanyaan dari Nevan membuat Rizky tersenyum. Di dalam hatinya dia juga begitu merindukan sahabatnya itu, malah lebih.


"Apa yang kau bicarakan? Justru aku yang lebih merindukanmu. Setiap hari, setiap menit, setiap detik dan setiap bulan aku selalu menyebut namamu."


Nevan memutar bola matanya malas ketika mendengar ucapan dari Rizky yang berlebihan.


"Oke, maafkan aku. Ini serius, Van!"


Nevan akhirnya menghentikan aksi makannya. Kemudian Nevan memandangi wajah sahabatnya itu. Dapat Nevan lihat bahwa sahabatnya itu tengah dalam masalah.


"Sekarang katakan padaku, ada apa?" tanya Nevan.


"Ini masalah keluargaku. Dan masalah ini ada hubungannya dengan adik-adikmu dan juga keluarga Alexander."


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Rizky membuat Nevan terkejut. Dia semakin penasaran, permasalahan apa yang sedang dilanda sahabatnya ini dan keluarganya.


"Pasti kau sudah tahu kan tentang kejadian dimana Tuan Andrean Alexander dan putrinya dicegat di jalanan. Dan kedua adikmu sebagai penolongnya?" tanya Rizky dengan menatap wajah Nevan.


"Iya. Aku sudah tahu masalah itu. Kedua adik-adikku Evan dan Raffa sudah menceritakannya."


"Begini, Van! Papi menceritakan kepadaku bahwa kelompok yang mencegat Tuan Andrean Alexander dan putrinya menggunakan marga keluargaku yaitu Fausta sehingga nama baik keluarga Fausta menjadi buruk. Padahal kami tidak pernah melakukan hal-hal buruk diluar sana. Kami juga tidak pernah menyakiti siapapun."


"Van, aku memberitahukan masalah ini kepadamu karena aku tidak ingin keluargamu dan keluarga Alexander berpikir bahwa memang kami lah yang melakukannya, padahal tidak."


"Van, aku mohon padamu. Jangan sakiti keluargaku, apalagi ingin menghancurkan mereka." Rizky berucap sembari memohon kepada Nevan. Dia sudah menangis saat ini.


Sementara Nevan yang sejak tadi mendengar ucapan demi ucapan dari Rizky menjadi terkejut, apalagi ketika mendengar ucapan terakhir Rizky dan ditambah lagi Rizky yang menangis.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, Rizky?" tanya Nevan.


"Karena... Karena dua hari yang lalu ada beberapa orang berpakaian hitam mendatangi kediaman utama Fausta. Mereka tampak marah. Mereka memberikan kami waktu satu minggu untuk kami menyerahkan salah satu dari kami kepada mereka. Jika tidak, mereka akan menghancurkan apa yang kami punya."


"Apa orang-orang yang datang ke kediaman keluarga Fausta adalah para orang-orangnya Darel?" batin Nevan.

__ADS_1


"Dan aku mendapatkan informasi bahwa orang-orang yang datang ke kediaman Utama Fausta adalah orang-orang dari adik bungsumu, Nevan!"


"Tuh kan benar jika orang-orang itu adalah orang-orangnya Darel," batin Nevan.


Hening...


Baik Nevan maupun Rizky sama terdiam. Dengan Nevan menatap sedih dan iba kearah Rizky.


"Van."


"Kau tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan membahas masalah ini dengan adik bungsuku."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Rizky ketika mendengar ucapan dan janji dari Nevan.


"Terima kasih, Van?"


Nevan menganggukkan kepalanya. "Kalau aku boleh tahu, siapa yang diincar oleh orang-orang dari adikku itu?"


"Mindy Fausta!"


"Siapa dia?"


"Adik angkatku."


"Kenapa? Apa yang sudah dia perbuat sehingga orang-orang dari adik bungsuku mengincarnya?"


"Dia membayar sebuah kelompok untuk menculik putri Tuan Alexander. Jika penculikan itu berhasil, dia meminta para kelompok itu untuk melecehkan gadis itu sebelum dibunuh."


Seketika mata Nevan membelalakkan matanya ketika mendengar cerita dari Rizky sahabatnya. Dia tidak menyangka jika adik angkat sahabatnya itu akan melakukan hal sekeji itu pada Alisha putri dari sahabat Pamannya.


"Jadi dia adik...."


"Bukan adik kandung, tapi aku dan semua anggota keluargaku sudah menganggap Paman Andrean dan putrinya bagian dari keluarga Wilson."


"Dia sakit hati dan juga cemburu terhadap Alisha."


"Oh, aku mengerti sekarang. Ini masalah hati."


"Hm." Rizky menganggukkan kepalanya.


Nevan menatap lekat wajah Rizky, lebih tepatnya tepat di manik hitam Rizky.


"Jika seandainya aku dan keluargaku mengincar adik angkatmu, lalu membunuhnya. Apa kau tidak marah?"


Mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu membuat Rizky seketika tersenyum.


"Untuk apa aku marah. Apa yang kau dan keluargamu bahkan adik bungsumu lakukan, itu adalah hal yang wajar. Disini dia yang bersalah. Jika seandainya kalian tidak mengetahui kejahatan yang dilakukan adik angkatku, maka sudah dipastikan Alisha sudah tidak ada di dunia ini. Dan dia sudah menjadi seorang pembunuh, bukan?!"


"Mau dia mati di tangan kamu, di tangan keluarga kamu, di tangan adik bungsumu atau dia mati karena mendapatkan hukuman mati dari pengadilan. Aku tidak akan melakukan apapun atau hanya sekedar membelanya. Kesalahan sudah sangat fatal. Perencanaan pembunuhan." Rizky berucap dengan ekspresi wajah yang tampak marah. Dirinya benar-benar sudah tidak peduli akan nasib adik angkatnya itu.


"Mau cerita?" tanya. Nevan ketika menatap wajah sedih sahabatnya itu. Dia tahu pasti ada masalah lain yang dialami oleh sahabatnya itu sehingga sahabatnya itu begitu membenci adik perempuannya.


"Maksud kamu?" tanya Rizky bingung.

__ADS_1


Nevan tersenyum. "Tentang adik angkatmu itu. Kenapa kau begitu membencinya?"


"Aku tidak membencinya. Hanya saja aku dan keluargaku kecuali Mami sudah muak akan kelakuannya selama ini. Dia selalu mencari masalah ketika berada diluar rumah. Hanya Mami yg tidak tahu. Dan Mami selalu mempercayai dan selalu membelanya."


"Dia anak perempuan dari mendiang sopir pribadi keluarga Fausta yaitu Judika. Dulu mobil yang ditumpangi oleh Mami dan Paman Judika mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang dialami mereka disengaja. Dengan kata lain ada yang ingin mencelakai Mami. Singkat cerita! Paman Judika menyelamatkan nyawa Mami ketika ada seseorang yang hendak menembakkan senjatanya kearah Mami. Dan berakhir Paman Judika yang terkena tembakan itu."


"Kejadian itu terjadi ketika umur Mindy sekita 2 tahun. Mindy hanya memiliki ayah saja saat itu. Ibunya sudah lama meninggal. Saat kejadian itu, Mami memutuskan mengangkat Mindy menjadi putrinya. Begitu juga dengan Papi. Lalu disusul olehku, adikku dan seluruh keluarga besar. Baik keluarga dari Papi maupun keluarga dari Mami. Kami semua menerima Mindy menjadi bagian keluarga besar kami. Dan menyembunyikan status aslinya."


Nevan seketika terkejut ketika mendengar cerita dari Rizky. Dia tidak menyangka jika perbuatan dari adik angkatnya itu membuat keluarga besarnya malu.


"Aku berjanji padamu, semuanya akan baik-baik saja. Siapa yang bersalah. Hanya yang bersalah itu saja yang dihukum."


Mendengar ucapan sekaligus janji yang diucapkan oleh Nevan membuat hati Rizky menjadi lebih tenang. Setidaknya untuk saat ini keluarganya baik-baik saja."


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Di sebuah restoran yang terdapat di dalam Mall, terlihat sekitar 13 pemuda tampan. Mereka adalah Darel bersama sahabat-sahabatnya yaitu Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon. Hanya satu yang tidak ada bersama mereka. Dia adalah Kenzo Roberto.


Darel dan sahabat-sahabatnya saat ini tengah menikmati makanan dan minuman yang tersaji di atas meja.


"Devon," panggil Darel.


"Iya," jawab Devon dengan melirik sebentar kearah Darel, lalu kembali menatap makanannya.


"Sepupu jangkung lo kemana? Kenapa dia nggak datang?"


"Ya mana aku tahu. Memangnya gue ibunya," jawab Devon asal.


"Yak! Setidaknya lo tahu. Kan dia sepupu lo, kampret!"


"Hahahaha." semua tertawa ketika mendengar ucapan sarkas Darel.


"Si jangkung itu memang sepupu gue, tapi bukan berarti gue harus tahu dimana keberadaan si jangkung itu kan?"


Darel mendengus. Kemudian Darel memberikan tatapan mematikan kearah Devon.


"Lo punya ponsel, apa lo nggak hubungi dia atau dia yang hubungi lo?" tanya Darel dengan nada ketus.


"Si jangkung nggak ada hubungi gue. Dan gue nggak ada hubungi dia. Data gue habis."


"Data lo habis, kan bisa menghubungi si jangkung itu melalui telepon biasa?"


"Data gue habis berarti pulsa gue juga habis. Kan isi datanya lewat pulsa."


Mendengar jawaban demi jawaban yang tak mengenakan dan tak memuaskan membuat Darel membelalakkan matanya bersamaan dengan bibirnya yang digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Devon.


Sementara Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig dan Charlie yang melihatnya tersenyum gemas. Begitu juga dengan Devon.


"Lo sama si jangkung itu sama-sama keturunan anak setan!" ucap Darel kesal. Terlihat dari wajahnya.


"Lah, berarti lo juga salah satunya."


"Kenapa bawa-bawa gue?"

__ADS_1


"Kan lo sahabat dari dua setan tersebut."


"Hahahaha." Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig dan Charlie tertawa keras ketika mendengar ucapan serta jawaban dari Darel dan Devon.


__ADS_2