
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan waktunya anggota keluarga akan melakukan ritual malamnya yaitu makan malam bersama.
Baik Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya saat ini berada di ruang tengah. Sementara Darel berada di dalam kamarnya.
"Tuan, Nyonya. Makan malamnya sudah siap di atas meja."
"Baiklah, Bi!" Adelina menjawabnya.
Setelah itu, pelayan itu pun pergi meninggalkan ruang tengah.
"Aku akan ke kamar Darel untuk ngajak Darel makan malam bersama," sahut Raffa.
"Aku ikut Raf," ucap Evan.
"Kita juga mau ikut!" seru Daffa, Vano, Alvaro dan Axel.
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar Darel di lantai dua.
Sementara Arvind, Adelina, keenam putra tertuanya dan anggota keluarga lainnya hanya tersenyum.
^^^
Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa sudah berada di dalam kamarnya Darel. Mereka tersenyum menatap wajah lelap adik kesayangannya.
Baik Daffa, Vano, Alvaro dan Axel maupun Evan dan Raffa secara bergantian membelai lembut pucuk kepala kesayangannya. Dan tak lupa juga memberikan kecupan sayang di keningnya.
"Darel." mereka berucap lirih.
Darel yang merasakan sentuhan dan kecupan di pucuk kepala serta keningnya berlahan membuka matanya.
Melihat kesayangannya membuka matanya membuat mereka sedikit takut. Mereka takut jika kesayangannya tiba-tiba marah dan mengamuk. Secara terakhir kesayangannya itu dalam keadaan marah ketika berangkat ke kampus.
Namun Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa berusaha untuk memberikan senyuman tulus mereka untuk kesayangannya. Mereka sangat menyayangi kesayangannya itu.
Darel bangkit dari tidurnya dan memposisikan tubuhnya untuk duduk. Matanya menatap satu persatu wajah tampan keenam kakaknya yang kini juga tengah menatapnya dengan senyuman terpampang di bibir masing-masing.
"Kakak," ucap Darel.
Mendengar kesayangannya memanggilnya membuat Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa makin tersenyum manis menatapnya. Mereka sangat bahagia ketika mendengar panggilan lembut dari kesayangannya itu.
Tangan Daffa terangkat untuk mengusap kepala adik bungsunya. "Kamu, oke!"
Darel menatap tepat di manik hitam tertua nomor tujuhnya itu. Detik kemudian, terukir senyuman manis di bibirnya.
"Aku baik-baik saja. Emangnya aku kenapa?" ucap dan tanya Darel.
Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa tersenyum ketika mendengar ucapan sekaligus pertanyaan lembut dari kesayangannya itu.
Raffa membelai lembut wajah tampan adiknya. "Kamu itu pingsan ketika pulang dari kampus." jawab Raffa lembut.
Mendengar jawaban dari kakak aliennya itu membuat Darel mengingat ketika dirinya pulang dari kampus.
FLASHBACK ON
Darel diantar pulang dari kampus oleh Kenzo dan Gavin.
"Kamu yakin gak apa-apa, Rel?" tanya Kenzo khawatir.
"Aku baik-baik saja, Kenzo."
"Kamu lagi gak nyembunyiin sesuatu dari kitakan, Rel?" tanya Gavin dengan nada mencurigai.
"Menyembunyiin apa maksud kamu, Vin?" tanya Darel.
"Sikap kamu aneh setelah kita ninggalin rumah sakit," sahut Gavin.
__ADS_1
"Benar kata Gavin. Bahkan selama perjalanan pulang ke rumah. Kamu banyak diam. Biasanya kamu itu paling cerewet," sela Kenzo.
Mendengar perkataan dari Kenzo dan Gavin. Darel hanya tersenyum. "Kalian terlalu berlebihan. Aku diam karena aku sedikit lelah saja. Percayalah! Aku baik-baik saja."
Mendengar jawaban dari Darel. Kenzo dan Gavin hanya bisa menghela nafasnya. Sekeras apapun mereka memohon untuk Darel berkata jujur. Hal itu tidak akan pernah berhasil. Darel tetaplah Darel. Sikeras kepala.
"Ya, sudah kalau begitu. Kami langsung balik aja ke kampus," ucap Kenzo.
"Ingat! Kalau kamu udah ketemu sama kasur, bantal dan guling kesayangan kamu itu jangan lupa langsung istirahat. Tuh lihat muka kamu udah kayak mayat berjalan," sahut Gavin.
Mendengar perkataan dari Gavin. Darel hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Siap kurus," jawab Darel.
"Aish." Gavin mendengus kesal mendengar jawaban dari Darel.
Setelah mengatakan itu, Kenzo dan Gavin pun pergi meninggalkan halaman rumah keluarga Wilson untuk kembali ke kampus.
Melihat kepergian kedua sahabat terbaiknya. Darel pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
^^^
Darel melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Ketika Darel sudah berada di ruang tengah, telinganya mendengar kakak alien dan kakak bantet memanggilnya.
"Darel," panggil Evan dan Raffa.
Darel langsung menghentikan langkahnya dan matanya matanya menatap ke arah ruang tengah. Terlihat semua anggota keluarganya tengah berkumpul di sana termasuk kedua orang tuanya dan ke 12 kakak-kakaknya.
Setelah puas menatap anggota keluarganya. Darel kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Melihat Darel yang pergi membuat hati mereka semua sedih. Bahkan mereka menatap khawatir Darel. Mereka sempat memperhatikan wajah Darel yang pucat.
Darel melangkah menaiki anak tangga. Sementara anggota keluarganya masih terus memperhatikannya.
Tepat di anak tangga ke sepuluh, tiba-tiba darel merasakan sakit di bagian perutnya dan bersamaan dengan sakit di kepalanya.
Dan detik kemudian...
"Darel!" teriak mereka semua.
Seketika tubuh Darel jatuh ke arah belakang. Dan dengan sigap ditangkap dan ditahan oleh Davian, Nevan dan Ghali.
FLASHBACK OFF
Setelah mengingat kejadian itu. Darel kembali menatap wajah keenam kakaknya yang masih setia menatapnya.
Darel dapat melihat dari tatapan mata keenam kakaknya itu. Tersirat tatapan khawatir di sana.
"Kakak, aku baik-baik saja. Jangan menatapku seperti itu," ucap Darel.
"Kakak sangat mengkhawatirkan kamu, Rel!" Vano berucap sambil membelai lembut kepala adik bungsunya itu.
"Terima kasih atas kekhawatiran kakak padaku. Aku beruntung memiliki kakak," ucap Darel.
"Kakak bahkan lebih beruntung memiliki adik sepertimu," jawab Vano tulus.
"Kami semua menyayangimu!" seru Daffa, Alvaro, dan Axel bersamaan.
"Kau adalah adik kesayangan kami," ucap Evan dan Raffa.
"Tapi aku tidak," jawab Darel dengan menatap wajah keenam kakaknya dengan tatapan tak bersalah sama sekali.
Mendengar jawaban dari kesayangannya membuat Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa membelalakkan matanya. Dan jangan lupa mulut mereka yang sudah berbentuk huruf o.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika melihat wajah syok keenam kakaknya.
__ADS_1
Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa melihat senyuman manis kesayangannya itu merasakan kehangatan di hati mereka masing-masing.
"Kakak," panggil Darel.
"Iya," jawab mereka dengan kompak.
"Peluk," ucap Darel.
Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa saling memberikan tatapan masing-masing. Setelah itu, mereka kembali menatap wajah tampan kesayangannya.
Dan detik kemudian...
Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan, dan Raffa langsung memeluk kesayangannya dengan penuh sayang. Mereka memberikan kecupan-kecupan sayang di kedua pipi dan kening kesayangannya itu.
Mereka semua melepaskan rasa rindunya selama beberapa hari ini terhadap kesayangannya. Beberapa hari ini kesayangannya itu menjauhi mereka dan membenci mereka.
Kini kesayangannya telah kembali ke dalam pelukan hangat mereka. Dan mereka berjanji tidak akan membiarkan kesayangannya itu untuk pergi menjauh.
"Kakak, lepas. Sesak," ucap Darel tiba-tiba.
Mendengar ucapan dari Darel. Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa langsung melepaskan pelukannya.
"Aish! Apa Kalian ingin membunuhku?" tanya Darel dengan mempoutkan bibirnya.
Mendengar perkataan dan melihat wajah kesal kesayangannya. Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa tersenyum gemas. Mereka bergantian mengacak-acak rambut kesayangannya itu gemas.
"Hehehe." mereka terkekeh.
"Hufff!" Darel menghembuskan nafas pasrahnya.
"Ya, sudah! Lebih baik kita sekarang ke bawah. Papa, Mama dan yang lain pasti sudah kelamaan nungguin kita buat makan malam!" seru Axel.
"Tujuan kita ke kamar kamu buat ngajakin kamu untuk makan malam bersama," sela Evan.
Mendengar ucapan dari Evan dan Axel membuat Darel mendengus kesal.
"Aish! Dasar bodoh," ucap Darel.
Setelah mengatakan itu, Darel langsung beranjak dari tempat tidurnya dan pergi meninggalkan keenam kakaknya itu dengan wajah syoknya.
Sementara Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari kesayangannya. Mereka semua mengeluarkan sumpah serapah untuk kesayangannya itu.
"Dasar adik gila," umpat Daffa, Vano dan Alvaro.
"Siluman kelinci sialan," umpat Axel, Evan dan Raffa.
Setelah puas mengumpati kesayangannya. Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa pun pergi meninggalkan kamar Darel untuk menuju lantai bawah.
^^^
Darel sudah berada di meja makan. Darel duduk di antara Davian dan Nevan.
Melihat adik manisnya duduk di tengah-tengahnya membuat Davian dan Nevan tersenyum bahagia. Ditambah lagi sifat adik bungsunya yang kembali manja padanya.
Inilah yang diinginkan dan dirindukan Davian dan Nevan. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Semuanya tampak bahagia ketika melihat kesayangan mereka telah kembali bersikap manja.
"Darel sayang," panggil Arvind.
"Iya, Pa!" Darel menatap wajah ayahnya dengan senyuman manisnya.
Arvind yang melihat senyuman manis putra bungsunya merasakan kehangatan di hatinya. Begitu juga dengan Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya.
"Keenam kakak kamu yang lainnya mana sayang? Bukannya mereka pergi ke kamar kamu buat ngajakin kamu makan malam?" tanya Arvind.
"Nggak tahu. Hilang kali. Atau mereka nyasar ke planet mars tempat tinggal kakak Raffa," jawab Darel sembari memasukkan beberapa potong kentang goreng ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Darel membuat Arvind tersenyum dan geleng-geleng kepala. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Akhirnya sifat manja dan sifat jahilnya kembali lagi," batin mereka semua tersenyum hangat menatap Darel yang kini tengah menikmati kentang gorengnya.