
Suasana Kampus siang ini benar-benar ricuh. Banyak mahasiswa dan mahasiswi berkerumun menonton dua pemuda tampan yang tengah berkelahi di tengah lapangan basket.
Sorak-sorak terdengar mendukung salah satu pihak namun tidak ada yang berniat memisahkan keduanya. Lebih tepatnya tidak berani. Kedua pemuda itu benar-benar kuat dan brutal, jika ada yang memisahkan bisa-bisa ikut babak belur karena terkena tendang atau pukul.
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Kedua pemuda itu masih saling melempar pukulan ke wajah masing-masing. Tidak peduli kalau keduanya sudah babak belur.
Dua pemuda yang berkelahi itu adalah Razig Charlez dan Aslan Roshan.
Razig menendang perut Aslan hingga tersungkur di tanah, dengan segera Razig menduduki tubuh Aslan yang sudah lemah tidak berdaya itu.
"Cuma segini kemampuan lo, hah?!" bentak Razig kepada Aslan yang kini duduk di atas tubuh Aslan yang sekarang sudah kehabisan tenaga di bawahnya.
BUGH..
Razig kembali menyerang Aslan dengan pukulannya. Kali ini Aslan sudah kehabisan tenaga untuk melawan. Wajahnya sudah di penuhi luka lebam, keringat sudah membasashi di hampir sekujur tubuhnya.
Sudut bibir Aslan juga sudah sobek dan mengeluarkan darah akibat pukulan Razig yang menduduki tubuhnya itu. Pukulan Razig tak main.
Pandangan Aslan mengabur di ikuti kesadarannya yang sebentar lagi akan habis. Namun Aslan sekuat tenaga masih mencoba meronta agar di lepaskan.
"Mati lo!" teriak Razig yang masih menduduki tubuh Aslan yang hampir tidak sadarkan diri.
BUGH..
BUGH..
"Ampun Razig! Gue ngaku salah!" ucap Aslan sembari mengangkat kedua tangnnya ke udara pertanda menyerah kepada Razig yang kini masih menduduki tubuhnya dengan sisa kesadarannya.
Namun yang diteriaki masih tidak peduli dan tetap melemparkan pukulan pada lawannya secara membabi buta.
"Gue nggak peduli!"
^^^
Darel bersama sahabatnya yaitu Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon saat ini berada di Kantin. Setelah mengikuti dua kelas selam 3 jam. Mereka memutuskan untuk ke kantin.
Ketika hendak pergi ke kantin, Razig pamit hendak ke toilet. Katanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Dan berakhir mereka pergi ke kantin tanpa Razig.
"Aku udah buat susunan kegiatan kampus satu minggu lagi!" Darel berucap sembari menyeruput jus pokat kesukaannya.
"Dan aku udah kirim lewat email kalian masing-masing termasuk emailnya kelima para kakak menyebalkan itu," ucap Darel.
"Baiklah, kami akan cek nanti!" seru mereka secara bersamaan.
"Kok Razig lama banget ke toiletnya?" tanya Gavin yang menyadari bahwa Razig yang belum menampakkan dirinya.
"Eh! Iya, ya! Udah lama juga tuh anak pamit ke toiletnya," sahut Juan.
"Memangnya dia ngapain sih di toilet? Betah banget," ucap Darel.
"Apa Razig ketiduran kali ya?" ucap Darel lagi.
"Mungkin benar Razig ketiduran di toilet, secara kami habis bergadang main game CHINESE GHOST STORY!" seru Lucas.
"Sayangnya si peran utama nggak gabung," sela Zelig.
"Apa aku susul aja si Razig nya?" tanya Charlie dengan menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya.
Ketika mereka tengah membahas tentang Razig yang tidak kunjung datang karena lagi di toilet, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seorang mahasiswa yang datang menghampiri mereka.
"Maaf kalau aku mengganggu!"
"Nggak apa-apa!" Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menjawab bersamaan.
"Ada apa ya?" tanya Samuel.
"Itu... Itu si Razig lagi berantem sama Aslan si anak Farmasi."
Seketika Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon membelalakkan matanya ketika mendengar teman kampusnya mengatakan bahwa Razig berkelahi dengan anak Farmasi.
"Apa?"
"Dimana mereka sekarang?" tanya Samuel.
__ADS_1
"Di lapangan. Semua mahasiswa dan mahasiswi hanya menonton doang. Nggak ada satu pun dari mereka untuk melerai."
"Baiklah!'
"Terima kasih!"
Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon mengucapkan kata itu bersamaan dengan tubuhnya berdiri dari duduknya dan langsung berlari menuju lapangan.
"Kenzo, lo ke kelas kak Damian. Kasih tahu kak Damian kalau Razig berkelahi di lapangan!" teriak Darel.
"Ach, baiklah!"
^^^
Razig masih memukul wajah Aslan. Dirinya benar-benar marah saat ini. Akal sehatnya hilang seketika ketika Aslan dengan tak berperasaan merobek semua kertas-kertas miliknya yang mana kertas-kertas itu berisikan jadwal kegiatan Organisasi bersama dengan sahabat-sahabatnya.
Razig menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengerjakan semua itu, namun dengan gampangnya Aslan teman kampusnya itu seenaknya merobek semuanya.
Bukan itu saja, Aslan dengan bangganya menghina dan menjelek-jelekkan kedua orang tuanya. Anak mana yang akan diam saja jika orang tuanya dihina.
"Lo harus mati! Lo harus mati!" teriak Razig dengan terus memukul-mukul wajah dan perut Aslan.
"Aakkhhh!" teriak kencang dan rintihan dari Aslan.
Semua mahasiswa dan mahasiswi yang melihat dan mendengar teriak dari Razig dan juga teriakan kesakitan dari Aslan bergidik ngeri. Mereka semua menatap ngeri kearah Razig.
"Razig!" Darel, Gavin, Samuel, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
Mendengar teriakkan beberapa orang membuat semua mahasiswa dan mahasiswi langsung melihat keasal suara.
Dan detik kemudian, mereka semua akhirnya bisa menghela nafas leganya ketika melihat kedatangan para sahabat dari Razig.
"Razig, cukup! Aslan bisa mati jika lo nggak berhenti!" teriak Samuel.
Samuel Juan dan Zelig langsung menahan tangan bahkan tubuh Razig agar tidak memukul tubuh Aslan. Kemudian mereka membawa tubuh Razig menjauh dari Aslan.
"Lepasin gue. Biarkan gue bunuh dia. Dia harus mati!" teriak Razig dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Aslan yang sudah tak berdaya.
"Apa dengan lo bunuh dia masalah akan selesai?! Nggak Razig. Justru masalah akan panjang!" teriak Darel.
Setelah itu, Razig kemudian memberontak dengan mendorong kuat tubuh Samuel, Juan dan Zelig sehingga ketiganya terhuyung ke belakang.
Setelah berhasil melepaskan diri, Razig kembali menyerang Aslan yang sudah tak berdaya di lapangan.
Ketika Razig hendak menyerang Aslan, tiba-tiba seseorang memeluk tubuhnya dari belakang.
Grep..
"Kakak mohon hentikan."
Deg..
Seketika emosi Razig mereda ketika merasakan pelukan hangat dan ucapan orang itu. Orang yang Razig kenal, orang yang selalu memahami setiap permasalahannya dan orang yang selalu membelanya.
"Hentikan. Jangan diteruskan!"
"Ka-kakak Damian... Hiks," ucap Razig disertai isakannya.
Yah! Orang yang memeluk Razig dari belakang adalah Damian Charlez, kakak sepupu kesayangannya.
Melihat Damian yang berhasil meredamkan kemarahan seorang Razig membuat semuanya tersenyum bahagia dan berucap syukur, terutama Darel dan para sahabat-sahabatnya yang lain.
"Kalian, tolong bawa Aslan ke ruang kesehatan. Jika keadaannya parah, tolong bawa ke rumah sakit!" seru Azri.
"Baik!"
Setelah itu, terlihat sekitar 6 mahasiswa mengangkat tubuh Aslan dan membawanya menuju ruang kesehatan.
Setelah merasakan emosi adik sepupunya benar-benar reda. Damian kemudian melepaskan pelukannya itu. Kemudian Damian membalikkan tubuh adiknya agar dirinya bisa melihat wajah adiknya itu.
"Hiks... Maafkan aku. Aku sudah membuat onar di kampus. Kakak pasti kecewa dan malu akan kelakuanku," ucap Razig.
Damian tersenyum ketika mendengar ucapan dari adik sepupunya itu. Tangannya kemudian terangkat untuk menghapus air mata adiknya itu.
"Kakak sedikit pun tidak pernah kecewa apalagi malu memiliki adik sepupu seperti kamu. Justru kakak bangga memiliki kamu dalam kehidupan kakak."
Tes..
__ADS_1
Air mata Razig mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan tulus dari kakak sepupunya itu.
"Dan kakak tahu alasan kamu sampai memukul bahkan ingin membunuh Aslan! Dia berulah lagi dengan kembali mengusik kamu," ucap Damian lembut.
"Hiks," isak Razig.
Grep..
Damian kembali memeluk tubuh adiknya. Dan kali ini Damian memeluknya erat. Di dalam hatinya, Damian menyumpahi kelakuan bejat Aslan yang selalu mengganggu adiknya.
"Kali ini aku membebaskanmu, Aslan! Lain kali kalau kau berulah lagi dan kembali mengusik adikku, kau akan berurusan denganku. Bahkan aku akan membahas masalah ini dengan keluargamu biar mereka tahu siapa kau sebenarnya ketika berada di luar rumah." Damian berucap di dalam hatinya.
Setelah beberapa detik memeluk tubuh Razig. Damian pun melepaskan pelukannya.
"Kita ke kantin sekarang. Kamu belum makan kan?"
Razig langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari kakak sepupunya itu.
Melihat itu, Damian seketika tersenyum. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya yang lain.
"Ayo!"
Mereka semua pun pergi meninggalkan lapangan untuk menuju kantin. Mereka ingin makan makan karena perut mereka sudah sangat lapar sebelum jam masuk untuk materi kuliah selanjutnya dimulai.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Semua anggota keluarga Wilson sudah berada di rumah, termasuk Evan dan Raffa.
Mereka mengobrol kecil sembari membahas tentang kegiatan mereka di luar rumah.
"Evan, Raffa!" Davian memanggil kedua adiknya itu.
"Iya, kak!" Evan dan Raffa menjawab bersamaan.
"Bagaimana kuliah kalian?"
"Semuanya berjalan lancar!" Evan dan Raffa menjawab bersamaan.
"Sebentar lagi kalian akan ujian semester akhir. Dan setelah itu kalian wisuda. Kapan rencana kalian ingin bergabung di perusahaan yang diwariskan oleh kakek?" tanya Davian.
Semuanya menatap kearah Evan dan Raffa. Mereka menunggu jawaban dari keduanya.
"Eemm. Boleh nggak kita menikmati masa-masa kita terbebas dari dunia perkuliahan dulu?" tanya Evan.
"Kita ingin bebas dulu dari yang namanya kertas, pena buku dan lain sebagainya!" Evan berucap sembari membayangkan hari-harinya tanpa semua itu.
Mendengar permintaan Evan dan Raffa. Ditambah lagi ketika melihat wajah bahagia keduanya ketika meminta hal itu membuat mereka semua tersenyum gemas.
"Berapa lama?" tanya Nevan.
Evan dan Raffa langsung melihat kearah Nevan, kakak keduanya itu. "Setengah tahun!"
"Baiklah!" Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga menjawab bersamaan.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Evan dan Raffa ketika mendengar jawaban kompak dari keenam kakak tertuanya.
"Oh iya! Evan, Raffa! Bagaimana dengan adik kalian ketika di kampus?" tanya Arvind.
"Semuanya baik-baik saja, Pa! Darel melewati semuanya dengan baik," jawab Evan.
"Aku melihat Darel begitu sibuk dengan semua urusannya. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya. Mereka begitu kompak. Aku dan Evan tidak melihat sedikit wajah lelah dan wajah sakit Darel. Justru wajah semangat yang diperlihatkan oleh Darel." Raffa berucap sembari membayangkan wajah semangat adik kesayangannya itu.
"Semuanya tampak normal," sela Evan.
"Mungkin saja Darel menyembunyikan rasa sakit dan rasa lelah dengan berpura-pura baik-baik saja," sahut Vano.
"Tidak kak Vano." Evan langsung menjawabnya.
"Aku dan Evan bisa membedakan mana wajah yang terlihat baik-baik saja dan mana wajah yang berusaha terlihat baik-baik saja."
"Darel benar-benar dalam keadaan baik-baik saja tanpa topeng."
Mendengar penjelasan dari Evan dan Raffa membuat mereka semua tersenyum bahagia dan bersyukur akan kondisi Darel sekarang ini.
Yang paling bahagia disini sudah tentu Arvind dan Adelina. Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anak-anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
Arvind dan Adelina benar-benar bahagia akan kondisi kesehatan putra bungsunya beberapa hari ini. Ini semua tak lepas akan dukungan dan kasih sayang dari semua sahabat-sahabat putra bungsunya.
__ADS_1