Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Adik Laki-laki Kesayangan


__ADS_3

Darel menatap satu persatu wajah tampan para kakak-kakaknya itu.


"Kakak. Aku sudah dari tadi mencari dasi dan kaos kakiku. Tapi aku tidak berhasil menemukannya. Ini... ini sudah pukul berapa, Kak? Aku tidak mau terlambat datang ke sekolah... hiks. Ini hari kedua aku sekolah."


Mereka berusaha untuk tidak tertawa hanya karena kepolosan dan sifat manja adik bungsu mereka karena itu bisa membuat sikelinci kesayangan mereka akan mogok bicara dengan mereka. Dan hal itu akan menjadi duka bagi mereka semua.


"Memangnya kamu taruh dimana dasi dan kaos kakinya, hum?" tanya Ghali.


"Aish, Kak Ghali! Kalau aku tahu, aku tidak akan sampai membuat kamarku berantakan seperti ini," sahut Darel dengan bibir dimanyunkan.


"Ya, Tuhan. Makhluk ciptaanmu ini benar-benar imut dan menggemaskan sekali seperti anak kecil usia 4 tahun," batin semua kakak-kakaknya.


"Oke... Oke! Kakak minta maaf," ucap Ghali sembari mencubit pipi gembil adiknya itu.


"Ya, sudah. Kamu jangan nangis lagi. Kita akan mencarinya bersama-sama, oke!" Elvan berusaha untuk menghibur adiknya.


Dan mereka semua pun mencari dasi dan kaos kaki milik adik bungsu kesayangannya. Sedangkan Evan dan Raffa membantu Darel untuk duduk di atas tempat tidurnya.


"Hei, sudahlah. Jangan nangis lagi," ujar Raffa sambil mengusap air mata adik kesayangannya itu.


"Dasi dan kaos kakinya kamu akan ketemu kok. Tenang saja." Evan berbicara sambil menghibur adiknya.


Setelah sepuluh menit mencari dasi dan kaos kaki Darel. Akhirnya Vano dan Axel menemukannya.


Vano menemukan dasi sekolah Darel yang terselip di dasi kerjanya yang tergantung di pintu lemari.


Sementara Axel menemukan kaos kaki sekolah Darel di dalam keranjang kainnya dimana di dalam keranjang itu menumpuk beragam warna dan motif kaos kaki adiknya.


"Kakak sudah menemukan dasinya!" seru Vano.


"Kakak juga sudah menemukan kaos kakinya!" seru Axel.


Kemudian mereka berdua menghampiri adik bungsunya diikuti oleh yang lainnya.


"Ini kaos kaki dan dasinya Darel." Vano dan Axel berucap secara bersamaan sembari menunjukkan dua benda itu di hadapan adiknya.


Seketika terukir senyuman manis di bibir adiknya. Dan hal itu sukses membuat mereka tersenyum hangat dan bahagia melihat senyuman manis dari kesayangan mereka itu.


"Berikan padaku Kak Vano, Kak Axel." Darel berucap sembari mengadahkan tangannya kearah Vano dan Axel.


Vano dan Axel tidak mendengarkan permintaan adiknya itu. Kemudian Vano berjongkok di hadapan adiknya dan Axel mendekat kearah adiknya. Mereka berdua pun melakukan tugas mereka sebagai seorang kakak untuk adik bungsunya itu.


"Kakak ap...." ucapan Darel terhenti.


"Duduk tenang dan diam," ucap Vano tegas.


Mendengar ucapan Vano. Darel langsung mengatup bibirnya rapat.


Melihat adiknya yang langsung menurut membuat mereka semua tersenyum gemas ketika melihat wajah manyun adiknya saat sedang berhadapan dengan Vano, Kakak pucatnya itu.


Vano melirik sekilas untuk melihat wajah adiknya itu. Dirinya tersenyum puas melihat wajah manyun adik kelinci kesayangannya itu.


"Selesai!" seru Axel dan Vano bersamaan.


Mereka sedikit menjauh dan menatap wajah tampan, manis, imut dan menggemaskan sang adik.


"Waaah! Adik Kakak benar-benar tampan sekali," puji Axel.


"Pakai seragam sekolah saja sudah tampan seperti ini. Apalagi kalau pakai setelan jas kantoran. Pasti adik Kakak ini dua kali lipat ketampanannya," puji Arga.


"Aish! Jangan lebay deh. Akukan sudah pernah memakai setelah jas lengkap dengan dasinya," protes Darel dengan bibir yang dimanyunkan. Mereka semua hanya tersenyum mendengar ucapan Darel.


"Sudah.. Sudah. Jangan digoda terus Darel nya. Lebih baik kita ke bawah," sela Davian.


Para Kakaknya sudah berada di bawah. Dan sudah bergabung dengan anggota keluarga yang lainnya.


^^^

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan adik kalian?" tanya Arvind.


"Darel kehilangan dasi dan kaos kakinya, Pa!" Daffa yang menjawabnya.


"Bukan hilang. Lebih tepatnya salah letak. Kan Darel sudah dua minggu tidak sekolah," sela Alvaro.


"Dan hari ini adalah hari kedua Darel masuk sekolah lagi. Dan Darel memakai dasi warna biru motif garis-garis putih," ucap Vano


Mereka semua tersenyum mendengar cerita dari Daffa, Alvaro dan Vano.


Beberapa detik kemudian mereka semua mendengar langkah kaki yang menuruni anak tangga.


TAP!


TAP!


TAP!


"Pagi Papa, Mama, Paman, Bibi." Darel menyapa anggota keluarganya.


"Pagi, sayang." Adelina dan Arvind membalas sapaan dari putra bungsunya.


"Pagi juga keponakan Paman yang paling tampan," balas William, Sandy dan Daksa bersamaan.


"Pagi, manis." Evita dan Salma menjawab secara bersamaan.


"Hei, itu tidak sopan namanya!" Satya mengajukan protes.


"Memangnya apanya yang tidak sopan, Kak Satya?" tanya Darel bingung.


"Yah, nanya lagi. Apa Darel tidak sadar, ya? Darel tadi hanya menyapa Paman Arvind, Bibi Adelina, Paman William, Paman Sandy, Bibi Salma, Papa dan Mama. Kenapa kami para Kakakmu tidak disapa juga?" tanya Satya.


"Memangnya harus ya?" tanya Darel.


Mendengar pertanyaan dari Darel membuat Satya dan yang lainnya melotot.


Sementara para orang tua sudah tersenyum gemas mendengar ucapan Darel dan melihat wajah kesal para putra-putra mereka akan ulah Darel.


"Maaf, Kak Erick. Pagi ini aku gak ada waktu untuk melayanimu beradu mulut. Aku sudah terlambat ke sekolah. Jadi, kalau Kakak mau protes nanti saja. Tunggu aku pulang sekolah ya." Jungkook berbicara seenak jidatnya saja.


Erick membelalakkan kedua matanya dan juga mulutnya yang sudah terbentuk huruf o. Sedangkan yang lainnya sudah tidak bisa menahan tawa mereka. Mereka semua pun tertawa.


"Hahahahaha."


"Kak Arga. Ayo, buruan antar aku. Kan Kakak yang akan mengantarkanku hari ini."


"Siap, Bos." Arga berucap sembari memberikan hormat pada adik bungsunya.


Arga langsung beranjak dari duduknya dan meraih kunci mobilnya.


Saat Darel hendak melangkah. Adelina bersuara.


"Darel, tunggu!"


"Ada apa sih, Ma?"


"Darel kan belum sarapan, sayang."


"Aish, Mama. Akukan bisa sarapan di kantin sekolah."


"Mama tidak percaya kalau kamu akan sarapan di kantin sekolah. Kamu itu orangnya suka mengabaikan waktu makannya."


Darel mempoutkan bibirnya saat mendengar penuturan dari ibunya.


"Lalu Mama maunya apa?"


"Bawa bekal."

__ADS_1


"Hah!" Darel membelalakkan matanya dan mulutnya terbuka.


"Be-bekal," sahut Darel. Adelina mengangguk. "Apa harus?" Adelina kembali mengangguk.


"Tunggu disini dan jangan coba-coba pergi!"


Darel hanya bisa pasrah akan kelakuan ibunya padanya.


"Kenapa harus bawa bekal, sih? Memangnya aku ini anak TK apa?" gerutu Darel.


Sedangkan sang Ayah, Paman, Bibi dan para kakaknya memekik gemas saat melihat wajah tampan, manis, imut dan menggemaskan Darel ketika sedang kesal.


"Sudah. Jangan ditekuk begitu wajahnya. Jelek tahuuu," goda Evan.


"Biarin," jawab Darel yang masih memanyunkan bibirnya.


"Wah! Jadi Darel mau wajahnya menjadi jelek?" Raffa juga ikut menggoda adiknya.


"Bodo," jawab Darel kesal.


Saat Darel sedang kesal, tatapan matanya tak sengaja melihat pada beberapa sosok yang pernah dilihatnya. Darel terus menatap mereka sambil mengingat dimana dirinya pernah melihat mereka.


"Maafkan saya, Bos. Informasi kedua ini mengenai kelima putra asli dari tuan William Wilson."


Seketika kedua matanya membulat sempurna saat dirinya sudah mengingat tentang lima sosok pemuda yang kini ditatapnya. Terukir senyuman manis di bibirnya itu.


Anggota keluarganya yang melihatnya tersenyum bahagia dan juga gemas. Mereka tahu apa yang membuat kelinci kesayangan mereka itu tersenyum. Dan bahkan mereka dapat melihat tatapan mata sikelinci kesayangan mereka itu tertuju pada kelima putra-putra William.


"Kalian ada disini? Dari mana kalian tahu rumah ini. Akukan..."


"Eeheemm." Arvind berdehem.


Darel langsung mengalihkan pandangannya untuk melihat wajah tampan ayahnya.


"Papa."


"Darel pasti bingungkan kenapa mereka ada disini?" tanya Arvind.


"Hm." Darel mengangguk.


Arvind mengusap lembut rambut putra bungsunya itu. "Pertama, merekalah yang telah menyelamatkan nyawa Papa. Kedua, mereka yang telah merawat Papa selama Papa sakit. Ketiga, Papa yang telah membawa mereka kemari. Sebelum Papa tahu mereka adalah putranya William, Pamanmu. Papa memang sudah berniat ingin membawa mereka kesini. Dan menjadikan mereka bagian dari kita. Tapi Tuhan berkata lain. Zayan anak buahnya kamu datang dan menceritakan semuanya pada Papa."


Darel tersenyum bahagia mendengar cerita dari Ayahnya, lalu kemudian Darel kembali menatap kelima kakak sepupunya itu. "Selamat datang kembali, Kak. Aku senang melihat kalian bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan Paman William."


Farraz, Deon, Keenan, Tristan dan Dylan tersenyum hangat pada Darel. "Terima kasih.. eem..." Farraz kebingungan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Darel. Darel Wilson. Itu namaku." Darel mengerti akan sikap Farraz langsung menyebutkan namanya.


Tiba-tiba Darel membelalakkan matanya saat dirinya menyadari sesuatu.


"Mama! Mama lagi nyiapin bekal untukku atau sedang berdandan di kamar!" teriak Darel. "Dapurnya jauh ya!" teriak Darel lagi.


Mereka semua menutup telinga mereka saat mendengar teriakan dari Darel.


Dikarenakan tidak ada sahutan dari ibunya, Darel kembali berteriak. Tapi ketika Darel ingin berteriak, Vano bangkit dari duduknya dan langsung membekap mulutnya.


"Mammpptt."


Darel menatap horor pada Kakak pucatnya itu. Tapi bukan Vano namanya kalau harus takut dengan tatapan mata adiknya itu Vano justru menatap balik adiknya sehingga membuat Darel ciut.


Melihat adiknya pasrah dan menurut, Vano pun melepaskan tangannya dari mulut sang adik. Sedangkan Darel sudah seribu kali merasakan kekesalannya.


Mulutnya tak hentinya bergerak-gerak mengumpati Kakak pucatnya itu. Mereka yang melihatnya hanya bisa menahan untuk tidak menerkamnya karena keimutan wajahnya.


Beberapa detik kemudian, Adelina pun datang dengan kotak bekal di tangan. "Maafkan Mama ya, sayang. Mama kelamaan menyiapkannya." Adelina memasukkan bekal itu ke dalam tas putra bungsunya itu.


Tanpa pamit dan ucapan apapun, Darel langsung pergi begitu saja meninggalkan anggota keluarganya dengan wajah kecutnya dan disusul oleh Arga di belakang.

__ADS_1


Adelina yang melihat putra bungsunya yang pergi tanpa mengucapkan apapun menjadi sedih. Tidak biasanya putranya seperti ini.


Arvind yang melihat wajah sedih istrinya menjadi tidak tega. "Sudahlah. Jangan dipikirkan soal Darel yang pergi begitu saja. Mungkin Darel takut terlambat sampai di sekolah, ditambah lagi Darel sedang kesal dengan Vano." Arvind berbicara sembari menghibur istrinya.


__ADS_2