Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kemarahan Sammy Ramero


__ADS_3

Di sebuah cafe terlihat seorang wanita paruh baya sedang membeli beberapa menu makanan untuk suami dan ketiga putranya. Wanita paruh baya itu adalah Celina Ramero.


Setelah setengah jam menunggu, akhirnya pesanannya pun datang. Celina pergi ke kasir untuk membayar semua pesanannya itu.


Ketika Celina selesai dengan urusannya di kasir. Celina pun memutuskan untuk segera pergi meninggalkan cafe tersebut.


Namun ketika Celina melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, masuklah sekitar 4 wanita paruh baya ke dalam cafe tersebut dan berpapasan dengan Celina


Wanita paruh baya yang berada paling depan seketika menatap tak percaya karena dirinya dipertemukan dengan perempuan yang sudah merebut suaminya. Itu menurut dirinya.


"Hallo, Celina! Akhirnya kita dipertemukan oleh takdir di tempat ini."


"Andhara," sapa Celina.


"Ternyata kau masih ingat denganku."


Ketiga wanita paruh baya yang berdiri di samping wanita yang bernama Andhara menatap penasaran dengan wanita yang berdiri di hadapannya.


"Andhara, siapa wanita ini?"


"Apa kau mengenalnya?"


Andhara melihat kearah tiga temannya lalu kembali menatap kearah Celina.


"Dialah wanita yang pernah aku ceritakan kepada kalian," jawab Andhara sembari tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Celina.


Mendengar jawaban dari Andhara seketika membuat ketiga wanita itu langsung menatap jijik kearah Celina.


"Wah! Jadi seperti ini wajah asli dari pelakor itu ya?!" seru wanita pertama.


Celina yang mendengar perkataan dari salah satu dari wanita di hadapannya hanya diam. Dirinya berusaha untuk tidak terpancing dengan apa yang dilakukan oleh keempat wanita-wanita itu.


Sementara para pengunjung cafe yang tadinya hening karena tengah menikmati makanan dan minuman sembari mengobrol dengan temannya atau kerabatnya seketika berubah riuh. Semua pengunjung langsung melihat kearah Celina dan keempat wanita tersebut.


"Maaf, saya harus pergi!"


Celina pun pergi meninggalkan keempat wanita itu, namun langkahnya terhenti karena salah satu temannya Andhara menarik dengan kuat barang bawaan Celina.


Setelah mendapatkan barang tersebut, wanita itu dengan kejinya membuang ke lantai. Dan kemudian wanita itu menginjak-injak semua makanan itu.


Celina seketika terkejut atas apa yang dilakukan salah satu wanita yang menghalanginya. Kemudian Celina menatap tajam kearah wanita itu.


"Apa-apaan anda! kenapa anda membuang semua pesanan saya?!" bentak Celina.


"Kenapa? Apa kamu mau marah, hah?! bentak wanita ketiga.


"Pelakor seperti kamu itu tidak pantas untuk dikasihani!"


"Pelakor seperti kamu itu seharusnya dimusnahkan dari dunia ini agar tidak meresahkan para istri!"


"Jaga ucapan kamu! Jika kamu tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Lebih baik tutup mulut kamu itu," jawab Celina.


"Ooh, berani kamu ya!"


Plak..


"Aakkhhh!"


Wanita paruh baya kedua menampar keras wajah Celina sehingga menimbulkan bekas merah di pipinya.


Sementara Andhara sejak tadi hanya menyaksikan ketiga teman-temannya bermain dengan mantap sahabatnya itu sembari tersenyum.


Sreekk..


"Aakkhh!" Celina kembali berteriak merasakan sakit di kepalanya.


Wanita pertama menarik kuat rambut Celina sehingga kepalanya mendongak keatas.

__ADS_1


Melihat apa yang dilakukan oleh tiga wanita itu membuat para pengunjung hanya menonton saja. Tidak ada satu dari mereka yang memberikan pertolongan.


Di sebuah ruangan pribadi yang berada di cafe tersebut terlihat empat pemuda tampan yang sedang membahas kerja sama perusahaannya.


Setelah dua jam membahas kerja sama perusahaan sambil makan siang bersama. keempat pemuda itu pun memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut agar bisa kembali ke perusahaan masing-masing.


Ketika tiba di luar, tatapan mata seorang pemuda melihat sosok wanita yang begitu dia kenal. Pemuda itu kemudian melangkah hanya untuk memastikan wajah wanita itu.


Detik kemudian, kedua matanya membelalakkan sempurna setelah matanya menatap dengan jelas wanita itu.


"Brengsek!" ucap pemuda itu penuh amarah.


Kemudian pemuda itu berlari dan langsung menyerang ketiga wanita tersebut dan memberikan pukulan terhadap ketiganya.


Pemuda itu mengambil dua botol minum para pengunjung lalu mengarahkan kearah dua wanita yang saat ini tengah menarik rambut dan mencekik leher seorang wanita.


Bugh.. Bugh..


"Aakkhhh!" teriak kedua wanita itu sembari memegang kepalanya.


Yah! Pemuda itu dengan sadisnya memukuli kepala kedua wanita itu dengan menggunakan botol minuman.


Duagh..


Gedebug..


Brukk..


Pemuda itu memberikan tendangan kuat kepada wanita ketiga tepat di perut wanita itu hingga membuat tubuh wanita itu membentur sudut meja dan tersungkur di lantai dan berakhir memuntahkan cairan segar dari mulutnya.


Melihat apa yang dilakukan oleh pemuda itu terhadap tiga wanita tersebut membuat semua pengunjung seketika ketakutan. Mereka tidak menyangka jika pemuda itu tega menyakiti wanita, walau kenyataan yang mereka lihat bahwa ketiga wanita itu terlebih dahulu yang mencari masalah.


Setelah selesai membereskan tiga manusia busuk tersebut, pemuda itu langsung mendekati wanita yang disakiti oleh tiga wanita tersebut.


"Mama tidak apa-apa?"


Deg..


"A-apa? Jadi dia putra wanita itu?" batin ketiga wanita itu dan para pengunjung.


"Ma-mama tidak apa-apa sayang."


"Mama bisa berdiri?"


"Bisa, sayang."


Setelah itu, pemuda itu langsung membantu ibunya berdiri.


"Benaran Mama baik-baik saja? Kita ke rumah sakit ya?"


"Benar Sammy. Mama baik-baik saja."


Pemuda yang menyerang ketiga wanita yang sudah menyakiti ibunya adalah Sammy Ramero, putra sulung dari Davi Ramero.


"Apa yang terjadi? Kenapa ketiga manusia menjijikan itu menyakiti Mama? Dan kenapa tidak ada satu pun dari manusia-manusia busuk yang ada disini membantu Mama?!"


Mendengar ucapan kejam dari pemuda itu membuat para pengunjung cafe hanya diam. Mereka sadar akan kesalahannya karena tidak membantu seorang perempuan yang sedang disakiti.


"Katakan padaku apa yang terjadi?! Jika Mama milih diam, maka aku akan bunuh mereka semua. Tidak akan aku biarkan satu pun dari mereka bisa keluar dari tempat ini. Jika pun mereka semua bisa kabur dari sini. Tapi mereka tidak bisa kabur dariku. Wajah-wajah mereka semua sudah aku tandai disini!" Sammy berbicara dengan kerasnya dan dengan penuh ancaman sembari jari telunjuknya menunjuk kearah kepalanya.


Mendengar perkataan sekaligus ancaman dari pemuda itu membuat semua pengunjung ketakutan. Mereka dapat melihat ada aura lain dalam tatapan mata pemuda itu.


"Sekarang katakan padaku!"


"D-dia," ucap Celina dengan mengalihkan perhatiannya menatap kearah Andhara.


Sammy langsung melihat kearah tatapan mata ibunya. Seketika amarah Sammy semakin meluap ketika melihat wanita yang begitu dia benci seumur hidupnya.

__ADS_1


Sammy berlahan melangkahkan kakinya hendak menghampiri Andhara. Dirinya benar-benar ingin membunuh perempuan itu.


Melihat putranya yang hendak mendekati Andhara, dengan cepat Celina langsung berjalan menghampiri putranya itu. Setelah berada di hadapan putranya itu, Celina langsung memeluk tubuh putranya.


"Jangan sayang. Jangan sakiti dia. Bagaimana pun dia adalah ibu kandungmu," ucap Celina yang berusaha untuk menenangkan emosi putranya.


"Apa yang dilakukan oleh perempuan busuk ini pada Mama sehingga membuat ketiga wanita menjijikan itu tega menyakiti Mama?"


"Sayang," lirih Celina.


"Jawab pertanyaanku, Mama!"


"Kemungkinan dia sudah mengatakan sesuatu hal kepada ketiga teman-temannya itu sehingga ketiga teman-temannya itu menyebut Mama sebagai pelakor."


Sammy mengepal kuat tangannya ketika mendengar jawaban dari ibunya. Dirinya tidak terima orang-orang menyebut ibunya sebagai pelakor.


Sammy menatap tajam kearah perempuan yang berdiri di hadapannya itu. Terlihat tatapan kebencian di matanya.


"Berani sekali kau menyebut ibuku sebagai pelakor! Ibuku itu perempuan baik-baik. Ibuku tidak pernah merebut suami orang lain. Ibuku tidak pernah mengganggu rumah tangga orang lain!" ucap Sammy.


"Kalau dia bukan pelakor, kenapa dia bisa menikah dengan laki-laki yang sudah beristri?" tanya Andhara.


"Apa kau masih belum menyadari kesalahanmu, hah?!" teriak Sammy.


Mendengar perkataan dan teriakan dari Sammy membuat Andhara seketika ketakutan. Dia tidak menyangka jika putra sulungnya berubah menjadi kejam seperti sekarang ini.


"Kau pergi meninggalkan suami dan kedua anak-anakmu demi laki-laki lain. Selama kau menikah dengan ayahku, kau tidak benar-benar mencintainya. Kau hanya menginginkan uangnya saja. Terbukti ketika perusahaan ayahku mengalami bangkrut, kau langsung pergi meninggalkannya. Kau bahkan terang-terangan memperkenalkan calon suami barumu itu di hadapan ayahku!" teriak Sammy dengan tatapan amarahnya.


Deg..


Semua pengunjung termasuk empat rekan kerjanya terkejut ketika mendengar ucapan dan pengakuan dari Sammy tentang perempuan yang berstatus ibu kandungnya.


"Saat itu adikku Samuel sedang demam tinggi. Tapi kau sama sekali tidak peduli terhadap putramu itu. Kau tetap dengan keputusanmu. Ayahku bahkan bersujud di hadapanmu dan memohon padamu untuk tidak pergi meninggalkannya dan kedua anak-anaknya. Tapi apa yang ayahku dapat? Hinaan demi hinaan yang kau berikan untuknya!"


Para pengunjung cafe dan para karyawan saat ini merutuki kebodohannya karena tidak membantu ibu dari pemuda itu. Justru mereka ikut menghina wanita tersebut.


"Dan sekarang ketika ayahku sudah bahagia bersama wanita lain dimana wanita itu benar-benar mencintainya dengan tulus dan ikut merawat kedua anak-anaknya sampai anak-anaknya itu tumbuh dewasa. Dan seenaknya kau ingin merusaknya! Bahkan kau dengan kejinya menyebut ibuku sebagai pelakor!"


Sammy berbicara sembari tersenyum di sudut bibirnya. Dan seketika Sammy tertawa keras sehingga membuat semua orang bergidik ngeri.


"Hahahaha!" Sammy tertawa keras. "Kau menyebut ibuku sebagai pelakor. Yang benar saja. Yang sebenarnya pelakor itu adalah kau. Bukan ibuku. Kau rela meninggalkan suamimu yang sudah bangkrut demi menikah dengan laki-laki kaya raya yang berstatus suami orang. Tapi sayangnya, laki-laki incaranmu itu miskin. Ternyata yang kaya itu adalah istrinya hingga berakhir laki-laki itu ditendang dari rumah mewah itu."


Celina melepaskan pelukannya lalu matanya menatap wajah tampan putranya itu. "Sayang, sudah ya! Jangan diteruskan lagi. Malu, nak! Bagaimana pun dia adalah ibu kandungmu. Tidak baik membongkar kebusukan ibumu sendiri di hadapan semua orang. Cukup kita saja yang tahu. Orang lain tidak perlu tahu," ucap Celina menasehati putranya itu.


Sammy seketika menangis ketika mendengar ucapan tulus dan bijak dari ibu tiri serasa ibu kandung baginya.


Celina tersenyum ketika melihat putranya menangis. Dia tahu alasan yang membuat putranya itu sampai menangis.


"Apapun yang terjadi. Tetaplah bersama Papa, bersamaku dan juga bersama Samuel. Jangan tinggalkan kami. Cukup sekali kami kehilangan. Kami tidak ingin kehilangan lagi. Cukup sekali Papa ditinggal pergi oleh istrinya, cukup sekali aku dan Samuel ditinggal pergi oleh ibu kami. Kami tidak ingin ditinggal lagi untuk kedua kalinya."


Celina tersenyum menatap wajah basah putranya itu, kemudian Celina memberikan ciuman di kening putranya itu.


"Selama Mama masih bernafas. Selama itu pula Mama akan selalu bersama Papa kamu, bersama kamu dan bersama Samuel. Dan adik kecil kamu, Sarga!


Sammy tersenyum mendengar ucapan serta janji dari ibunya itu.


"Ya, sudah kalau begitu. Kita pulang sekarang. Aku yang akan antar Mama pulang menggunakan mobilku. Sopirnya suruh pulang duluan."


"Baiklah, tapi Mama harus pesan makanan lagi untuk dibawa pulang."


"Tidak perlu. Kita beli di tempat lain saja. Mulai detik ini, Cafe ini sudah masuk daftar hitamku dan daftar hitam keluarga kita."


Mendengar perkataan dari pemuda itu membuat sipemilik, manajer cafe dan para karyawannya menundukkan kepalanya merasa bersalah dan menyesal.


"Ya, sudah! Ayo," ajak Sammy.


Setelah itu, Sammy membawa ibunya pergi meninggalkan cafe tersebut dan diikuti oleh empat rekan kerjanya yang memang melihat kejadian tersebut.

__ADS_1


__ADS_2