
"Bagaimana? Apa sudah ada kemajuan?" tanya Xavier kepada putrinya Mika.
"Belum," jawab Mika.
Saat ini Xavier bersama dengan putrinya berada di sebuah Cafe. Bukan hanya mereka berdua saja, melainkan di Cafe itu juga ada Richard bersama putrinya Marnella dan Stephen bersama putrinya Laudya.
Mereka sekarang ini tengah membahas tentang putri-putri mereka yang mendekati tiga keturunan Wilson.
Richard menatap kearah putrinya. "Kamu bagaimana sayang?"
"Sama seperti Mika. Masih belum," jawab Marnella.
"Sebenarnya aku bisa dengan mudah menaklukkan Nevan. Begitu juga dengan Mika dan Marnella. Hanya saja disini yang menjadi menjadi penghalangnya adalah adik bungsunya," ucap Laudya.
"Benar apa yang dikatakan oleh Laudya. Sebenarnya aku bisa menaklukkan Steven dan Marnella menaklukkan Marcel. Tapi disini yang jadi permasalahannya adalah adik bungsu mereka!" seru Mika.
"Apa yang dilakukan oleh bajingan itu?" tanya Stephen.
"Dia mengganggu waktu kami sedang berduaan dengan incaran kami," sahut Mika.
"Dia datang bersama dengan saudara-saudaranya yang lain lalu mengganggu kita," pungkas Laudya.
"Bahkan cara dia bicara begitu ketus dan tidak disaring sama sekali," sela Marnella.
"Yang lebih kesalnya lagi. Para kakak-kakaknya justru membiarkan adiknya yang bersikap seenaknya terhadap tamu, apalagi tamunya itu tamu istimewa kakak-kakaknya." Laudya berbicara dengan nada kesal sembari mengingat bagaimana cara bicara Darel.
"Apa para mangsa kalian tidak menegur adiknya itu?" tanya Xavier dengan menatap kearah putrinya, Marnella dan Laudya bergantian.
"Tidak!" Mika, Marnella dan Laudya menjawab secara bersamaan.
"Ya, sudah! Masalah itu biarkan kami yang mengurusnya. Kalian fokus saja pada mangsa kalian masing-masing," sahut Richard.
"Baiklah," jawab Mika, Marnella dan Laudya.
***
Di Kampus terlihat ramai dimana para mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang menyusuri setiap koridor. Langkah kaki para mahasiswa dan mahasiswi itu ada yang ke kantin, ada yang ke kelas, ke lapangan kampus, ke halaman kampus dan ada yang ke lobi Kampus untuk nongkrong disana.
Seorang gadis cantik tengah melangkahkan kakinya menuju kelas. Gadis itu baru saja dari perpustakaan meminjam beberapa buku. Terlihat gadis itu memeluk beberapa buku.
Gadis itu adalah Amelia Sagara
Tanpa Amelia sadari, dari arah berlawanan ada sekitar lima orang gadis yang berjalan dengan gaya angkuhnya tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya.
Brukk..
Seketika buku-buku yang dipeluk oleh Amelia terjatuh. Begitu juga dengan Amelia nya sendiri. Dia juga ikut terjatuh akibat bertabrakan dengan lima gadis tersebut.
"Yak! Apa yang kau lakukan, hah?! Lihat ini, buku-buku lo itu merusak sepatu baruku!" bentak gadis angkuh dan sombong itu.
Amelia kemudian memunguti satu persatu buku-buku itu. Setelah selesai, Amelia langsung berdiri dan menatap gadis yang tadi membentak dirinya. Bahkan menyalahkan dirinya.
"Kenapa kamu yang marah-marah? Bukannya kamu yang jalan tidak pake mata. Kamu jalan ke depan, tapi mata kamu melihat kearah lain," balas Amelia.
Seketika gadis angkuh tersebut terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari gadis di hadapannya. Begitu juga dengan keempat teman-temannya.
"Lo berani melawan teman kita?" tanya Saya teman dari gadis angkuh itu.
"Ya, beranilah! Buktinya aku barusan melakukan hal itu," jawab Amelia dengan wajah menantangnya.
Lagi-lagi gadis angkuh dan teman-temannya itu terkejut ketika mendengar jawaban dari gadis di hadapannya.
^^^
Di lobi dimana Darel bersama dengan sahabat-sahabatnya, dan juga bersama dengan keenam kakak-kakaknya, baik dua kakak kandungnya dan empat kakak sepupunya.
Darel bersama semua sahabat-sahabatnya sedang membahas jadwal kegiatan pertandingan Olimpiade antar Kampus.
Pertandingan Olimpiade itu mencangkup jenis materi kuliah yang dipelajari selama di kampus. Jenis materi kuliah yang akan diperlombakan adalah materi kuliah Ekonomi, materi kuliah Sastra, materi kuliah Akuntans, materi kuliah Komputer, mata kuliah bahasa Inggris dan mata kuliah Bisnis.
__ADS_1
Setiap mahasiswa yang ikut akan diseleksi. Pemenangnya yang akan ikut dalam pertandingan Olimpiade tersebut. Dan satu yang terpilih untuk mewakili Kampus untuk pertandingan Olimpiade dengan semua materi kuliah.
Sementara Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan hanya sebagai penonton saja. Mereka tersenyum ketika melihat begitu semangatnya adiknya dan juga sahabat-sahabatnya ketika membahas kegiatan pertandingan tersebut.
Ketika mereka sibuk dengan masing-masing, tiba-tiba seseorang datang dengan memanggil nama Darel.
"Darel!"
Darel yang dipanggil langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan yang lainnya. Dapat mereka lihat seorang mahasiswa telah berdiri di hadapannya.
"Ada apa Vicko?"
Vicko itu teman sekelas Darel, Lucas, Razig, Zelig, Juan, Samuel, Charlie dan Devon.
"Itu disana sepupu kamu diganggu sama para gadis sombong itu!"
Mendengar ucapan dari teman sekelasnya itu membuat Darel seketika langsung paham. Sepupu yang dimaksu itu adalah Amelia dan para gadis angkuh itu adalah si Ratu bully dan para pengikutnya.
Evan, Raffa, Rendra Darel langsung berdiri dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya Darel dan para sepupunya.
Setelah itu, ketiga Wilson bersaudara tersebut langsung pergi meninggalkan lobi tersebut dan diikuti oleh tiga aepupunya dan semua sahabat-sahabatnya Darel.
^^^
Gadis sombong dan angkuh itu mendorong kasar tubuh Amelia sehingga membuat tubuh Amelia terhuyung ke belakang.
"Lo tuh anak baru di kampus ini. Jangan sok lo!" bentak Becky sang Ratu bully.
Amelia yang tidak terima dirinya didorong kemudian Amelia membalas dengan mendorong kuat tubuh si Ratu bully tersebut hingga tersungkur di lantai.
"Gue memang anak baru di kampus ini, tapi lo nggak bisa seenaknya ngebully gue." Amelia menjawab perkataan dari si Ratu bully itu.
Mendapatkan pembalasan dari musuhnya membuat gadis sombong itu menatap tajam kearah Amelia. Begitu juga keempat teman-temannya.
"Lo anak baru di kampus. Jadi, nggak usah sok ngelawan gue. Setiap anak baru di kampus ini harus patuh sama gue dan teman-teman gue, paham?!"
"Kalau si anak baru itu tidak mau matuhi perintah lo dan teman-teman lo. Lo mau ngapain?!" seru seseorang yang datang menghampiri si Ratu bully dan teman-temannya.
Gadis sombong tersebut seketika terkejut ketika mendengar suara seseorang. Begitu juga dengan keempat teman-temannya.
Kini orang itu dan orang-orang sudah berada di dekat gadis sombong tersebut dengan memberikan tatapan matanya yang tajam.
"E-evan." gadis sombong itu berucap dengan nada gugup.
"Iya, ini gua. Kenapa?" Evan berucap dengan tatapan matanya menatap tajam kearah gadis sombong itu.
"Mau lo apain dia?" tanya Evan.
Gadis sombong itu kelabakan ketika mendapatkan pertanyaan dari Evan. Dia bingung dan takut saat ini.
"Evan." gadis sombong itu seketika langsung menggelayut di pergelangan tangan Evan dengan menatap wajah tampan Evan.
Sementara Evan menatap ke depan. Dengan kata lain, Tatapan mata Evan menatap Amelia sepupunya.
Darel melirik kearah kakak bantetnya itu dan sesekali melirik kearah gadis sombong itu. Di dalam hatinya Darel, ada hubungan apa kakak bantetnya itu dengan perempuan jadi-jadian tersebut.
Bukan hanya Darel saja yang memberikan tatapan tanda tanya ketika melihat gadis sombong itu yang tiba-tiba menggelayut manja di pergelangan tangan Evan. Saudara kembarnya Raffa, keempat sepupunya. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya Darel.
"Jawab pertanyaan gue! Lo bisa ngomong kan? Jangan beradegan seakan-akan lo nggak bisa ngomong," ucap dan sindir Evan yang tatapan matanya menatap tajam kearah gadis sombong itu.
"Ach, itu... itu...,"
Melihat temannya yang sulit untuk memberikan jawaban dari Evan sehingga dirinya berinisial memberikan jawaban untuk sekedar membantu temannya itu.
"Kita bercanda doang tadi, Van!" sahut salah satu temannya.
"Iya, Van!" gadis sombong itu langsung menganggukkan kepalanya dengan menatap wajah tampan Evan.
"Gue nggak nanya sama lo atau pun kalian. Gua nanya sama Bos bully kalian ini. Jadi kalian diam!" Evan berucap dengan kata-kata kejam.
__ADS_1
Sedangkan keempat teman-teman dari gadis sombong itu langsung terdiam dengan menutup bibirnya rapat-rapat. Bahkan mereka tidak berani menatap Evan.
"Van, lo....,"
Evan seketika melepaskan pegangan tangan gadis sombong itu dari pergelangan tangannya. Kemudian Evan memberikan tatapan tajam kearah gadis itu.
"Kamu bilang kamu suka dan cinta padaku. Kamu bilang padaku saat itu kalau aku mau nerima kamu jadi pacarku, kamu mau dengarin kata-kataku. Kamu juga bilang saat itu bahwa kamu bakal nurutin dan matuhi semua kata-kataku selama semua itu positif. Dan satu lagi, kamu juga berjanji padaku untuk tidak membully lagi."
Evan makin menatap tajam gadis yang saat ini sudah resmi menjadi kekasihnya karena Evan melihat satu minggu ini gadis itu tidak berbuat hal buruk. Bahkan tidak ada satu pun laporan yang terdengar di telinganya.
"Aku sudah nepati janjiku dengan memberikan kesempatan kamu. Kita pacaran. Dan hubungan kita sudah satu minggu. Tapi.....,"
Gadis sombong itu saat ini sudah ketakutan. Dia tidak ingin Evan memutuskan hubungannya. Di dalam hati gadis itu, dia benar-benar mencintai Evan.
"Van, aku....,"
"Aku kecewa sama kamu, Lidya! Kamu berubah ketika di depanku. Sementara di belakangku, kamu masih melakukan hal-hal buruk. Kamu masih saja suka membully teman-teman kamu. Aku paling tidak.....," perkataan Evan seketika terhenti karena Darel langsung bersuara.
"Akses masuk ke dalam keluarga Wilson telah ditutup untuk anda. Tidak ada kesempatan lagi untuk anda. Nama, wajah dan identitas anda sudah masuk ke daftar hitam seluruh keluarga Wilson, salah satunya aku Darel Wilson yang berstatus sebagai adik bungsu kesayangan dari Evan Wilson dan Raffa Wilson yang berstatus sebagai saudara kembarnya Evan Wilson!"
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darel membuat kedua kakak kesayangannya, keempat sepupunya, Amelia dan sahabat-sahabatnya tersenyum geli. Mereka semua tidak menyangka bahwa Darel akan mengatakan hal itu untuk gadis sombong tersebut.
Sementara gadis yang bernama Lidya tersebut seketika terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel. Bahkan gadis itu lebih terkejut lagi ketika mendengar Darel yang menyebut adik kesayangannya Evan dan Raffa. Begitu juga dengan keempat teman-temannya.
Lidya menatap kearah Evan. Dirinya ingin jawaban pasti dari Evan tentang perkataan adik kelasnya itu.
"Van, dia.....,"
"Iya. Dia adikku. Adik kesayanganku dan Raffa." Evan menjawab dengan wajah dingin dan datar.
"Tapi kamu tidak....,"
"Nggak ada alasan buat aku ngasih tahu kamu tentang aku dan Raffa yang punya adik. Lagian itu urusan kami bertiga dan keempat sepupuku!"
"Oh, iya! Satu lagi nona Lidya!" seru Darel dengan senyuman manisnya. "Tuh!" Darel langsung menunjuk kearah Amelia yang saat ini masih berdiri di tempatnya dengan memeluk beberapa buku tebal.
Lidya dan keempat temannya langsung menunjuk kearah tunjuk Darel. Dan dapat dilihat gadis yang bertabrakan dengannya kini tengah tersenyum manis padanya. Ntah itu senyuman tulus apa itu senyuman mengejek. Hanya Amelia yang tahu.
"Gadis yang anda usik itu adalah sepupu saya. Jadi, dengan kata lain gadis itu adalah adik sepupu dari Evan Wilson, Raffa Wilson dan Rendra Wilson. Para ibu kami bersaudara. Dan mereka berasal dari keluarga Johnson!" seru Darel dengan menatap tak suka kearah Lidya.
Lidya menatap kearah Evan dan Raffa. Dan keduanya langsung menganggukkan kepalanya bersamaan.
"Apa yang dikatakan oleh adek kesayangan gue adalah kenyataannya. Gadis yang lo bully barusan adalah adek sepupu gue, Evan dan Rendra!" Kini Raffa yang buka suara.
Lidya kembali terkejut ketika mendengar fakta tentang gadis yang dia bully beberapa menit yang lalu. Begitu juga dengan keempat teman-temannya.
Lidya ingin kembali berbicara kepada Evan. Namun langsung dihentikan oleh Darel.
"Lo nggak pantas buat kakak gue. Mulai detik ini dan seterusnya, lo jauhi kakak gue. Jangan ganggu kakak gue lagi. Lo udah nyia-nyiain kesempatan yang dikasih sama kakak gue. Lo perempuan yang tidak bisa dipegang kata-katanya. So! Hubungan berakhir."
Setelah mengatakan itu, Darel melangkah mendekati Amelia. Kemudian tangannya mengambil buku-buku yang dipeluk oleh Amelia.
Setelah itu, buku-buku itu langsung Darel berikan kepada Gavin tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Lo bawakan buku-buku ini ke kelasnya Amelia. Nggak nerima penolakan!"
Seketika Gavin membelalakkan matanya bersamaan dengan mulutnya yang berbentuk o.
Setelah mengatakan itu, Darel menarik tangan Amelia dan membawanya pergi.
"Hahahaha!"
Seketika semua sahabat-sahabatnya tertawa nista ketika melihat nasib Gavin yang menjadi babu dadakan.
"Kasihan sekali nasibmu, nak!" seru mereka secara bersamaan.
"Sialan kalian!" umpat Gavin kesal.
"Hahahaha."
__ADS_1
Sementara Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Darel dan sahabat-sahabatnya, apalagi Darel.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan Lidya dan keempat temannya. Mereka tidak memperdulikan panggilan dari Lidya, terutama Evan.