Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kemarahan Darel


__ADS_3

Pingkan benar-benar terkejut akan kabar gembira ini. Dirinya tidak menyangka jika dirinya dipertemukan kembali dengan keluarga dari adiknya.


Terakhir Pingkan bertemu dengan keluarga besar Wilson saat kelahiran putra bungsu Kayana yang tak lain Dylan. Setelah pertemuan itu, seminggu kemudian Pingkan pergi ke Jerman untuk mengurus perusahaan cabang disana.


"Bibi tidak menyangka jika yang menolong Mirza dan membawa Bibi ke rumah sakit adalah keponakan Bibi juga," ucap Pingkan bahagia.


"Wah! Ini benar-benar kabar yang membahagiakan untuk kita, Ma! Tuhan sudah mempertemukan kita dengan orang-orang terdekat kita!" seru Mirza.


"Kau benar, sayang. Mama benar-benar bahagia!" seru Pingkan.


Saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba Dylan menyadari sesuatu.


"Astaga. Kenapa Darel belum kembali juga?"


"Iya, iya. Kan kak Darel sudah pergi dari tadi," sela Mirza.


^^^


Darel saat ini bersama dengan Dokter yang memeriksa Pingkan. Awalnya Darrel ingin kembali keruang rawat Pingkan. Namun diurungkan oleh Darel saat melihat ada tiga pria misterius yang datang menghampiri bagian resepsionis. Akhirnya Darel kembali menemui Dokter tersebut.


"Tolong rahasiakan kepergian Bibiku dan adikku ke Amerika, Dokter! Jangan sampai ada yang tahu. Saat ini nyawa Bibiku dan adikku dalam bahaya."


"Siap, tuan! Saya berjanji akan menjaga keselamatan Nyonya Pingkan dan putranya," jawab dokter itu.


"Lakukan sekarang, Dokter. Karena saat ini ada tiga pria yang sedang mencari keberadaan Bibiku dan adikku."


"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


Setelah kepergian Dokter tersebut, Darel menghubungi tangan kanannya. Darel tidak menghubungi Zayan dan Arzan, karena mereka berdua sedang mencari Kenzo dan Gavin. Darel menghubungi tangan kanannya yang lainnya.


Darel mengambil ponsel miliknya, lalu menekan nama Mikko. Lalu beberapa detik kemudian terdengar nada tersambung.


"Hallo, Bos."


"Hallo, Mikko. Apa kau sibuk?"


"Tidak, Bos. Apa Bos membutuhkan sesuatu?"


"Bisa kau datang ke rumah sakit Pladys Hospital, sekarang. Dan bawa dua puluh anak buahmu."


"Bisa, Bos. Baik! Saya segera kesana."


Setelah mendengar jawaban dari Mikko. Darel pun langsung mematikan panggilannya. Namun tiba-tiba Darel menyadari sesuatu.


"Tunggu dulu. Ada yang aneh disini. Seharusnya kan Paman Fayyadh yang menangani Bibi Pingkan selama di rumah sakit? Kalau keadaan Bibi Pingkan tidak baik-baik saja. Seharusnya Paman Fayyadh yang langsung menghubungiku."


"Ach, sial! Kenapa aku bodoh sekali," gerutu Darel yang baru menyadari kebodohannya.


Setelah Darel menyadarinya. Darel pun langsung keluar dari ruang Dokter tersebut untuk menuju ruang rawat Pingkan Ibunya Mirza. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Darel melihat Dokter yang menangani Ibunya Mirza sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


Darel yang merasa penasaran, diam-diam menghampiri sang Dokter lalu berusaha untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Dokter tersebut.

__ADS_1


"Semuanya beres, Bos!"


"Apa ada yang curiga?"


"Tidak, Bos. Bahkan Pemuda yang menolong Nyonya Pingkan dan tuan muda Mirza tidak curiga sama sekali saat saya mengatakan bahwa Nyonya Pingkan harus segera di Operasi. Dan saat saya menyarankan Nyonya Pingkan untuk dibawa ke Amerika, pemuda itu percaya. Dan kemungkinan pemuda itu telah melihat tiga orang suruhan Bos untuk datang ke rumah sakit untuk mencari Nyonya Pingkan dan tuan muda Mirza. Padahal ketiga orang itu hanya pengalihan saja."


Darel yang mendengarnya terkejut sekaligus marah.


"Sial. Ternyata benar, Dokter itu sudah membohongiku. Pasti Dokter brengsek itu sedang berbicara dengan mantan suaminya Bibi Pingkan," ucap Darel yang menatap tajam kearah Dokter itu.


Setelah Darel mendengar pembicaraan Dokter itu, Darel langsung pergi menuju ruang rawat Pingkan.


^^^


Di ruang rawat Pingkan saat ini sudah ada ada empat perawat. Dua perawat laki-laki dan dua perawat perempuan. Keempat perawat itu adalah perawat bohongan.


Mereka saat ini tengah membantu Pingkan untuk bersiap-siap untuk meninggalkan rumah sakit Pladys Hospital.


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Dylan.


"Begini, tuan. Pasien akan dibawa ke Amerika untuk menjalani operasi disana. Masalah ini sudah dibicarakan oleh Dokter dan salah satu kerabat pasien. Dan orang itu setuju," jawab perawat laki-laki pertama.


"Kami hanya menjalankan tugas saja," kata perawat laki-laki kedua.


Ketika perawat perempuan ingin membantu Pingkan, tiba-tiba pintu dibuka paksa.


BRAK..


"Darel!."


"Kakak Darel."


"Keberangkatan dibatalkan!" seru Darel dengan menatap tajam keempat orang yang menyamar sebagai perawat.


Dylan yang melihat tatapan mata adiknya langsung mengerti. Ada yang tidak beres disini batinnya.


Setelah itu, Dylan kembali melihat kearah empat perawat tersebut.


"Maaf, tuan. Keberangkatan tidak bisa dibatalkan. Semuanya sudah disiapkan. Pasien harus segera berangkat," sahut perawat laki-laki pertama.


Perawat wanita itu langsung menarik kedua tangan Pingkan, namun Dylan sudah terlebih dahulu menahan tangan perawat itu dengan kuat sehingga membuat perawat itu meringis kesakitan.


"Aakkhhh!"


Melihat rekannya kesakitan, perawat laki-laki itu menyerang Dylan, namun....


DUAGH..


Darel langsung memberikan tendangan keras tepat di pinggang laki-laki itu.


"Aakkkhhh!"

__ADS_1


"Maaf, Bos. Saya datang terlambat!" tba-tiba Mikko datang dengan dua puluh anak buahnya.


"Kau datang tepat waktu, Mikko!" Darel menjawab dengan senyuman iblisnya.


Keempat perawat palsu tersebut langsung ketakutan saat melihat lawannya bertambah. Mereka saling melirik, lalu mereka diam-diam ingin kabur.


Namun sayangnya.....


"Mau kemana?" tanya salah satu anak buahnya Mikko.


Beberapa anak buahnya Mikko menghalangi keempat perawat itu.


"Kau!" tunjuk Darel tepat kearah perawat laki-laki. "Hubungi Dokter gadungan itu. Suruh Dokter itu kesini. Dan katakan padanya kalau kalian kesulitan untuk membawa pasien," perintah Darel.


Sementara perawat tersebut hanya diam. Dirinya enggan untuk mematuhi perintah Darel.


Melihat pria tersebut hanya diam dan tidak mematuhi perintah Darel. Mikko langsung memberikan tendangan tepat diperut pria itu.


DUAGH..


Pria itu tersungkur di lantai dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Apa kau mau juga?" tanya Mikko yang menatap tajam kearah pria yang satunya. Pria tersebut langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu hubungi Doktermu sekarang!" seru Mikko.


"Ba-baik."


^^^


Tak butuh lama, terdengar suara pintu dibuka.


CKLEK


Dan masuklah seorang Dokter ke dalam ruangan tersebut.


"Dok, maaf. Saat kami ingin membawa pasien ini, putra dari pasien ini melarangnya. Jadi kami sedikit kesusahan," ucap Perawat pria itu bohong.


"Kalian benar-benar bodoh. Melakukan pekerjaan ini saja tidak bisa!" bentak Dokter itu.


BLAAMM..


KLIIKK..


Terdengar suara pintu ditutup dan juga dikunci.


Hal itu sukses membuat Dokter itu terkejut. Lalu Dokter itu melihat kearah pintu. Seketika Dokter itu terkejut saat melihat Darel dan beberapa orang berdiri disana.


"Hallo, Dokter. Sepertinya rencanamu gagal ya," ucap Darel mengejek dan tak lupa senyuman sinisnya yang terukir di sudut bibirnya.


"A-apa maksud anda, tuan? Saya tidak mengerti," ucap Dokter itu gugup.

__ADS_1


"Kau pikir aku adalah bocah SD yang gampang kau kibuli, hah! Dari awal kau sudah merencanakan semua ini. Kau meminta Mirza untuk menghubungiku. Padahal setahuku yang seharusnya menangani Bibi Pingkan adalah Paman Fayyadh. Karena aku tidak ingin curiga dan berburuk sangka kepada orang lain, makanya aku pun datang ke rumah sakit dan mengiyakan semua saranmu."


__ADS_2