Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Para Pengganggu


__ADS_3

Darel sudah berada di kelasnya. Ketika Darel tiba di kelasnya, Darel tidak menemukan para sahabatnya sehingga membuat dirinya mengumpat kesal.


"Kenapa para sahabat kampret itu belum datang juga?" Darel berbicara sembari menduduki pantatnya di kursi.


Darel memutuskan menunggu sahabat-sahabat beberapa detik sembari bermain ponsel. Jika tidak datang juga, Darel memutuskan untuk ke kantin dan makan sepuasnya disana.


Setelah beberapa detik menunggu kedatangan para sahabatnya yang tidak kunjung datang juga membuat Darel langsung berdiri dari duduknya.


Darel langsung pergi meninggalkan kelas untuk menuju kantin. Dirinya benar-benar kesal akan ulah sahabat-sahabatnya yang kompak tidak menampakkan batang hidungnya.


^^^


Di sisi lain dimana para sahabat-sahabatnya yaitu Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon baru menginjakkan kakinya di halaman Kampus.


Mereka datang dengan menggunakan motor sport mewah dan mobil mewah.


Damian, Evano, Farrel dan Kenzo menggunakan motor sport merek Ducati Superleggera V4 warna merah, hitam, kuning dan biru.


Sementara Brian menggunakan mobil merek Porsche Macan 2.0, Azri menggunakan mobil merek BMW i8 hitam, Gavin menggunakan mobil merek Ferrari Spider merah, Samuel menggunakan mobil merek Lamborghini Gallardo merah, Razig menggunakan mobil merek Porsche Boxster, Juan menggunakan mobil merek Mercedes Benz C-Class E400 AMG, Zelig menggunakan mobil merek Ferrari California T2015, Lucas menggunakan mobil merek Lamborghini Gallardo biru, Charlie BMW i8 metalik dan Devon Ferrari Spider biru.


Setelah memarkirkan kendaraan mereka di parkiran, mereka langsung menuju kelas masing-masing. Mereka semua berlari agar segera sampai di kelas. Di pikiran mereka terus berputar-putar wajah Darel yang tengah memarahi mereka satu persatu sembari mengeluarkan semua umpatannya. Tak terkecuali dengan Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel. Mereka juga ikut berlari menuju kelas Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.


"Darel, sorry! Ka... Mi....!"


Seketika mereka menghentikan ucapannya ketika tidak melihat keberadaan Darel di kelas. Yang mereka lihat hanya tas Darel di atas meja.


"Darel nggak ada," sahut Devon.


"Tapi tuh tasnya ada," sahut Charlie.


"Apa jangan-jangan Darel...."


Kenzo menatap wajah para sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan semua sahabat-sahabatnya.


"Kantin!"


Mereka menjawab secara bersamaan. Dan setelah itu, mereka semua berlari meninggalkan kelas untuk menuju kantin.


^^^


Di kantin Darel sedang menikmati beberapa menu makanan yang tertata rapi di atas meja. Darel memesan banyak makanan sebagai bentuk kekesalannya akan kekompakan para sahabat-sahabatnya untuk datang terlambat.


Ketika Darel sedang menikmati makanannya, tiba-tiba datang beberapa orang mengganggu. Orang-orang yang mengganggu Darel itu adalah teman-teman kampusnya yang tak menyukainya dan sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


Darel melihat sekilas kearah orang-orang itu. Ada sekitar lima orang yang tatapan matanya menatap dirinya.


"Mau ngapain? Jika tidak ada keperluan, menyingkirlah dari hadapanku. Kalian mengganggu waktu makanku. Bahkan kalian mengganggu pemandangan mataku. Merusak suasana," ucap Darel dengan wajah santai.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darel membuat kelima pemuda itu mengepalkan kuat tangannya dan dengan sorot mata yang tajam.


"Berani juga lo ya," ucap salah satunya lima pemuda itu.


Darel kembali menatap wajah kelima teman-teman kampusnya itu dengan tatapan biasa.


"Memangnya situ siapa? Kenapa aku harus takut padamu?" jawab Darel menantang.


Mendengar jawaban dari Darel membuat pemuda tersebut marah. Setelah itu, pemuda itu langsung menyerang Darel.


Darel yang mendapatkan serangan mendadak langsung menghindar bersamaan dengan tangannya mengambil mangkuk berisi kuah sop yang sangat merah dan langsung menyiram ke wajah pemuda itu.


Byur..


"Aakkhh!" teriak pemuda itu sembari mengusap-usap wajahnya.


"Yagar!" teriak teman-temannya ketika melihat Yagar yang kesakitan di bagian matanya.


"Brengsek! Apa yang kau lakukan, hah?!" bentak Zamy selaku temannya Yagar.


"Tapi kau tidak harus menyiramnya dengan kuah yang kau sudah campuri cabe!" bentak Arman.


"Namanya juga gerakan reflek. Maklumi aja," balas Darel.


"Lihatlah! Gara-gara perbuatanmu. Mata Yagar kesakitan!" bentak Raihan.


"Yeeeyyy! Deritanya dia, kenapa ngeluh padaku. Ach, udahlah! Pergi sana. Lebih baik kalian bawa dia ke ruangan kesehatan atau sekalian ke rumah sakit. Dari pada kalian disini menggangguku," usir Darel.


"Lo benar-benar ya! Tanggung jawab kenapa, hah?!" bentak Atta.


"Bodo. Udah sana pergi!" sahut Darel lalu kembali melanjutkan makannya.


Zamy, Arman, Raihan dan Atta menatap tajam kearah Darel. Mereka benar-benar marah dan dendam akan perlakuan Darel terhadap Yagar.


"Ayo, pergi!" ajak Zamy.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan Darel dengan memapah tubuh Yagar untuk menuju ruang kesehatan.


Darel melirik sekilas kepergian Yagar dan keempat teman-temannya dengan tersenyum di sudut bibirnya.

__ADS_1


Setelah itu, Darel kembali melanjutkan acara makannya.


Bertepatan kepergian Yagar dan keempat teman-temannya, para sahabat-sahabatnya datang dan langsung menduduki pantatnya di bangku yang masih kosong dengan tatapan matanya menatap kearah Darel yang saat tengah menikmati makanannya.


Darel saat ini tengah menikmati makanannya tanpa mempedulikan kehadiran para sahabat-sahabatnya. Dirinya saat ini masih kesal akan sahabat-sahabatnya yang kompak datang terlambat. Ditambah lagi kekesalan bertambah akan gangguan Yagar dan keempat teman-temannya.


"Rel," panggil Farrel.


"Nggak ada orangnya," jawab Darel yang masih menikmati makanannya.


"Nggak ada orangnya, tapi bisa ngejawab!" sahut Evano.


"Yang jawab barusan itu jelmaannya. Bukan orangnya," balas Darel.


"Ada ya?" tanya Brian.


"Ada. Kan barusan dijawab sama jelmaannya. Kenapa? Nggak suka? Pergi sana. Nggak butuh juga," jawab Darel.


Mendengar jawaban demi jawaban dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon seketika menghela nafasnya. Mereka tak habis pikir akan jawaban-jawaban yang diberikan oleh Darel.


"Ayolah, Rel!" seru Gavin.


"Ayo kemana memangnya?"


"Bukan mau ngajak lo pergi bodoh! Tapi mau ngajak lo bicara serius," ucap Gavin kesal.


Mendengar itu kejam dari Gavin membuat yang lainnya tersenyum, namun tersenyum tertahan. Sedangkan Darel seketika langsung memberikan pelototan kepada Gavin.


Setelah itu, Darel kembali menatap makanannya. Baginya menatap makanannya lebih bermanfaat dari pada menatap wajah-wajah sahabatnya yang menyebalkan itu.


"Memangnya dari tadi kalian ngapain? Bisu? Kan kalian ngomong tadi?" tanya Darel sembari memasukkan dua potong nugget ke dalam mulutnya.


"Iya, kita memang sudah ngomong tadi. Tapi kita ngomongnya sama jelmaannya Darel Wilson. Bukan sama orangnya," jawab Lucas menatap kesal Darel yang saat ini masih menikmati makanannya.


"Ngomong tinggal ngomong. Ribet amat hidup kalian," sahut Darel.


Baik Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel maupun Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon saling memberikan lirikan matanya lalu mereka melirik kearah beberapa menu makanan dan minuman di hadapan Darel.


Setelah itu, mereka semua tersenyum di sudut bibirnya masing-masing.


Dan detik kemudian..


Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung menyerbu makanan dan minuman milik Darel. Bahkan mereka berniat untuk menghabiskan semuanya tanpa sisa agar Darel menatap mereka. Dan tidak ada alasan buat Darel mengabaikan mereka lagi.

__ADS_1


Sementara Darel seketika membelalakkan matanya ketika melihat kelakuan sahabat-sahabatnya yang seenaknya memakan sampai habis makanan dan minumannya yang dia pesan.


__ADS_2