Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Perpindahan Posisi Jabatan


__ADS_3

Elvan, Evan dan Raffa sudah tiba di depan gerbang sekolah.


"Nanti yang akan menjemput kalian, Kak Nevan. Jadi, jangan ada yang pulang duluan sebelum jemputan datang. Kalian nunggunya di dalam gerbang sekolah, jangan diluar gerbang sekolah. Kakak tidak mau hal itu terulang kembali." Elvan mengingatkan kedua adiknya.


"Baik, Kak. Kami mengerti," jawab Evan dan Raffa.


"Ya, sudah. Masuk sana. Yang rajin sekolahnya," ucap Elvan sembari mengacak-acak rambut kedua adik-adiknya itu.


"Aish, Kak Elvan. Kenapa malah mengacak-acak rambut kita berdua sih?" protes Raffa.


"Kan jadi berantakan rambut kami," Evan juga ikut protes.


Elvan hanya menunjukkan cengiran khasnya. "Iya, iya. Kakak minta maaf," ucap Elvan sembari membenari tatanan rambut kedua adiknya.


"Kami masuk dulu, Kak Elvan!" seru Evan dan Raffa, kemudian keduanya pun berlari memasuki pekarangan sekolahnya.


Evan dan Raffa sudah berada di kelasnya. Kini keduanya sedang bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya.


Ketika Evan dan Raffa sedang asyik bersenda gurau dengan sahabatnya, lalu tiba-tiba datanglah kelompok GASTA mengganggu mereka.


PROK!


PROK!


PROK!


"Wah, wah! Kelihatannya lagi happy nih," sindir Brendan.


Raffa, Evan serta sahabat-sahabatnya menatap tajam kearah mereka.


"Kalau iya memang kalian mau apa, hah?!" bentak Raffa.


"Ini juga bukan urusan kalian," ucap Luis.


"Lebih baik kalian pergi dari sini. Kalau kalian tetap disini, itu sama saja kalian sudah merusak suasana hati kami yang sedang bahagia," ejek Gustav.


"Huuuss.. Huuuss!" usir Allan dengan mengibas-ngibaskan kedua tangannya.


"Brengsek! Kalian berani melawan kami, hah!" bentak Bruno.


"Kenapa kami harus takut pada kalian, hah?!" Evan balik bentak Bruno.


"Memang kalian siapa sehingga kami harus takut pada orang bodoh seperti kalian," ejek Raffa.


BRAAKK!


Leon menggebrak meja cukup keras sehingga seluruh siswa dan siswi di kelas tersebut terkejut. Mereka memilih menjauh. Mereka hanya bisa memperhatikan dua kelompok tersebut beradu mulut dan bersitegang.


Evan, Raffa dan ketujuh sahabatnya menatap tajam kearah kelompok GASTA. Mereka saling memberikan tatapan tajam satu sama lainnya.


Sedangkan para siswa dan siswi lainnya hanya menatap ngeri kedua kelompok tersebut. Tanpa mereka sadari, guru kelas telah masuk dan memperhatikan mereka saat ini.


"DUDUK DI BANGKU KALIAN MASING-MASING. DAN BUKA BUKU IPA HALAMAN 125. SEKARAAAANG!" teriak guru kelas tersebut.


Dan hal itu sukses membuat seluruh murid kelimpungan lalu duduk di bangku masing-masing dan mematuhi apa yang diperintahkan oleh guru mereka itu. Tak beda jauh dengan Raffa, Evan dan sahabatnya. Mereka langsung duduk di bangku mereka masing-masing dan mengambil buku pelajaran mereka.


Sementara untuk kelompok GASTA, mereka ogah untuk mematuhi perintah guru tersebut dan lebih memilih keluar dari kelas. Melihat kelompok GASTA yang pergi meninggalkan kelas membuat guru tersebut hanya bisa menghela nafas akan sikap mereka.


***


Davian, Steven, Naufal dan Dirga sudah berada di Perusahaan CJ GRUP. Mereka berempat sedang berada di ruang bagian Office Boy.


"Armand. Aku serahkan saudara Dirga kepadamu. Jabatannya sebagai Manager sudah dicopot oleh adikku Darel Wilson. Sekarang ini saudara Dirga. Wilson resmi menjadi bawahanmu," ucap Davian.


"Baik, Pak." Armand berucap sembari menundukkan kepalanya.


Sedangkan Dirga sudah mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. "Brengsek!" umpatnya dalam hati.

__ADS_1


"Selamat menikmati pekerjaan barumu, Dirga." Davian berbicara sembari menepuk-nepuk pipi Dirga.  Setelah itu, Davian pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Bekerjalah dengan baik dan benar. Jangan sampai kau kehilangan pekerjaanmu," ucap Steven dengan menepuk bahu Dirga. Steven pergi meninggalkan Dirga untuk menyusul kakak sepupunya.


"Jangan membuat kesalahan lagi kalau kau tidak mau ditendang oleh adik sepupumu itu dari Perusahaan ini," ucap Naufal dengan mencolek dagu Dirga, lalu kemudian menyusul dua saudaranya itu.


Tanpa disadari oleh Dirga. Davian, Steven dan Naufal yang berada di luar ruangan tersenyum kemenangan saat melihat wajah marah Dirga.


"Lebih baik kita ke ruangan kita masing-masing," usul Steven.


"Hahahaha." mereka tertawa sambil melangkah menuju ruangan kerja mereka masing-masing.


Dan tawa mereka didengar oleh semua para pegawai. Para pegawai pun melihat kearah mereka.


***


Arvind Wilson berada di Perusahaan miliknya. Dirinya tengah disibukkan beberapa berkas dan tugas-tugas penting. Kini dirinya sedang fokus dengan laptop miliknya. Jari-jari kekarnya sedang menari-nari di atas keyboard dengan begitu lihai.


Ketika Arvind sedang fokus dengan laptop miliknya, tiba-tiba Arvind dikejutkan dengan suara ponsel miliknya.


DRTT!


DRTT!


Mendengar suara ponselnya, Arvind langsung menjawab panggilan tersebut saat mengetahui siapa yang menghubunginya?


"Halloo, Pa."


"Arvind. Apa kau sibuk, nak?"


"Seperti aku memang sibuk hari ini, Pa! Tapi kalau Papa butuh denganku, aku bisa menyuruh Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa dan Vano untuk melanjutkan tugas-tugasku."


"Bisa kau pulang sekarang! Papa ingin mengajakmu dan juga putra bungsumu untuk jalan-jalan keluar. Sekalian ada sesuatu yang ingin papa sampaikan padamu."


"Baiklah, Pa. Dua puluh lima menit aku sampai di rumah."


TUTT!


TUTT!


***


Darel sedang berada di kamarnya. Dirinya sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya. Walaupun sekolahnya libur, tapi kewajibannya sebagai pelajar tak pernah lupa. Darel tetap belajar di rumahnya.


Setelah selesai menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Kini Darel sedang bermain game di laptop miliknya. Tujuannya adalah agar dirinya tak bosan seharian di rumah. Darel sangat-sangat bersemangat menjalani hari-harinya. Walau kadang-kadang sepupu reseknya itu selalu mengganggunya. Tapi Darel berusaha tak ambil pusing, Darel tetap semangat menjalani kehidupannya. Selama ada kedua orang tuanya dan para kakak-kakaknya disampingnya, dirinya tak masalah selalu diganggu oleh sibiang rusuh dikeluarganya.


"Ach, bosannya." tiba-tiba Darel mengeluh karena bosan.


"Kak Evan dan Kak Raffa masih di sekolah, pulangnya pukul dua siang. Kak Alvaro dan Kak Axel masih di Kampus, pulangnya pukul tiga sore. Kak Nevan, Kak Ghali, Kak Elvan, Kak Andre dan Kak Arga, Kak Daffa, Kak Vano masih di kantor Papa, pulangnya pukul empat sore. Sedangkan Kak Davian masih di perusahaan CJ GRUP. Perusahaan utama keluarga Wilson. Kak Davian pasti pulang sekitar pukul lima sore." Darel berbicara sambil menyebutkan satu persatu jadwal para kakak-kakaknya.


Akhirnya, Darel memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya.


Antony Wilson sedang duduk di ruang tengah sembari menunggu kepulangan putra sulungnya, Arvind Wilson. Beberapa detik kemudian, tibalah putri bungsunya yaitu Evita bersama dua menantunya yaitu Adelina dan Salma. Mereka pun duduk di ruang tengah bersama sang ayah.


"Pa. Kenapa Papa duduk disini sendirian?" tanya Evita.


"Papa sedang menunggu Arvind, Evita." Antony berbicara sembari tersenyum manis.


"Tapi Arvind baru akan pulang pukul lima sore, Pa." Adelina berbicara bermaksud memberitahu jadwal pulang suaminya.


"Papa sudah menghubungi suamimu, Adelina. Dan dia sedang dalam perjalanan menuju pulang ke rumah,"  sahut Antony.


"Memangnya ada apa, Pa? Kenapa Papa sampai menghubungi Arvind dan menyuruhnya pulang?" tanya Adelina penasaran.


"Tidak ada. Papa hanya ingin mengajak suamimu dan putra bungsumu untuk jalan-jalan keluar. Lagian Papa sudah lama sekali tidak mengajak cucu Papa itu untuk jalan-jalan keluar bersama. Semenjak kalian memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini saat kejadian dimana Darel jatuh dari tangga gara-gara ketujuh iblis itu," jawab Antony dingin.


"Pa! Papa jangan bicara seperti itu. Bagaimana pun mereka cucu-cucu papa!" tegur Salma.

__ADS_1


"Mereka bukan cucu-cucuku, Salma. Mereka penipu," batin Antony.


"Adelina. Bisa bantu Papa?" tanya Antony.


"Bantu apa, Pa?" tanya Adelina.


"Tolong panggilkan Darel. Suruh dia bersiap-siap," ucap Antony.


"Baiklah, Pa. Kalau begitu aku akan ke kamarnya," jawab Adelina.


Setelah itu, Adelina pun pergi menuju kamar putra bungsunya di lantai dua.


Darel sedang terlelap di kasur empuk kesayangannya.


CKLEK!


Pintu kamarnya di buka oleh Adelina. Adelina melangkahkan kakinya memasuki kamar putra bungsunya. Ketika sudah berada di kamar putranya, Adelina tersenyum melihat putranya yang sedang tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka sehingga menampakkan dua giginya yang menyerupai gigi kelinci.


Adelina mendekati ranjang putra bungsunya itu, lalu tangannya mengelus lembut rambutnya, dan tak lupa Adelina memberikan kecupan sayang di keningnya. Hal itu sukses membuat putra bungsunya terbangun.


"Ma-mama," ucap Darel khas orang bangun tidur saat mendapati ibunya berada di dalam kamarnya.


Adelina tersenyum bahagia menatap wajah tampan dan imut putra bungsunya itu.


Darel bangun dari tidurnya dan memposisikan tubuhnya untuk duduk di tempat tidur.


"Ada apa, Ma?"


"Kebetulan Darel sudah bangun. Sekarang Darel pergi ke kamar mandi, lalu mandi. Setelah itu pakailah pakaian yang rapi." Adelina berbicara sembari tangannya membelai rambut putranya.


"Memangnya kita mau kemana, Ma?" tanya Darel bingung.


"Bukan kita. Tapi kamu yang akan pergi bersama Kakek dan Papa," jawab Adelina sambil mengelus wajah putranya.


"Hanya aku, Kakek dan Papa. Lalu Mama dan yang lainnya, bagaimana?" tanya Darel.


Adelina tersenyum gemas melihat kebingungan di wajah putranya itu. "Kami hanya di rumah saja. Banyak pekerjaan yang akan kami urus. Pergilah bersenang-senang bersama kakek dan Papamu, hum!"


"Ayo, buruan. Jangan membuat kakekmu terlalu lama menunggu!" seru Adelina.


"Baiklah," jawab Darel dan langsung beranjak menuju kamar mandi.


^^^


Arvind dan Antony sudah berada di ruang tengah. Mereka tersenyum bahagia melihat Darel yang begitu tampan dengan pakaian yang dikenakannya.


"Cucu kakek sangat tampan sekali," puji Antony.


Sedangkan yang dipuji tersipu malu. "Aish, Kakek. Apaan sih! Mama." Darel langsung memeluk ibunya.


Mereka yang melihat kelakuan Darel hanya tersenyum. Mereka tahu dan sangat tahu bahwa Darel memang tidak bisa kalau dipuji. Dirinya pasti salah tingkah.


Tanpa mereka sadari. Sedari tadi Agatha sedang memperhatikan kebahagiaan Antony, Arvind, Adelina, Salma dan Evita dengan senyuman liciknya. Lalu Agatha menghubungi seseorang.


"Hallo."


"Hallo, Agatha. Ada apa?"


"Sepertinya situa bangka itu akan pergi bersama cucu dan putra kesayangannya yaitu Darel dan Arvind."


"Baiklah. Aku mengerti."


TUTT!


TUTT!


Panggilan dimatikan oleh seseorang di seberang telepon tersebut.

__ADS_1


"Tunggu saja. Apa yang akan menanti kalian?"


__ADS_2