Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Kembalinya Darel


__ADS_3

Di kediaman keluarga Alberto, terlihat seorang pemuda sedang menangis. Pemuda itu berada di sebuah kamar yang sedang terduduk di lantai kamarnya. Pemuda itu adalah Kenzo Alberto. Putra ketiga dari Dokter Fayyadh Alberto. Kenzo sedang menangis sembari memegang bingkai foto sahabat kelincinya.


"Hiks... Rel. Kenapa kau pergi meninggalkanku dan yang lainnya. Hiks... apa ini balasan darimu? Apa kau marah pada kami karena saat di sekolah kami memukulmu?"


Kenzo sudah mengetahui perihal Darel yang kena tembak dari Ayahnya. Dan nyawanya tak tertolong. Saat mendengar berita tersebut, Kenzo sangat syok.


CKLEK!


Terdengar suara pintu di buka. Dan masuklah dua orang pemuda ke dalam kamar tersebut. Dan dua orang pemuda itu menduduki pantatnya masing-masing di samping Kenzo.


"Kakak mengerti perasaanmu, Kenzo. Kehilangan seseorang itu memang sangat menyakitkan. Kakak harap kau bisa mengikhlaskannya," hibur Lintang Alberto, selaku saudara tertua. Tangannya mengusap air mata adiknya itu.


Leroy Alberto selaku saudara kedua mengusap lembut punggung sang adik lalu menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya.


"Ikhlaskan kepergian Darel. Dia sudah bahagia sekarang ini. Dengan kau mengikhlaskan kepergiannya berarti kau sudah membuktikan betapa kau menyayanginya."


"Hiks... Hiks... Hiks." Kenzo makin terisak kuat dipelukan sang kakak.


Lintang dan Leroy ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh adiknya. Mereka juga merasakan kehilangan. Baru beberapa hari yang lalu Kenzo membawa Darel berkunjung ke rumahnya.


FLASBACK ON


"Mama, Papa. Aku pulang!" teriak Kenzo.


Kenzo pulang tidak sendirian. Kenzo datang bersama sahabat-sahabatnya, termasuk Darel. Setelah mereka jalan-jalan mengunjungi beberapa mall dan juga pusat perbelanjaan serta makan enak. Mereka memutuskan untuk ke rumah Kenzo. Setelah itu, barulah mereka akan mengantar Darel pulang.


"Hei, putra Mama yang tampan ini sudah pulang, hum!" seru Nuria Alberto.


"Selamat siang, Bi." Darel dan yang lain menyapa ibunya Kenzo secara bersamaan.


"Siang juga para sahabat-sahabatnya Kenzo yang tampan," balas Nuria.


Mereka yang mendengar balasan dari ibunya Kenzo tersenyum.


"Ya, sudah. Ajaklah sahabat-sahabatmu ke ruang tengah. Mama akan menyiapkan makanan dan minuman yang enak."


Setelah itu, Ibunya Kenzo pergi meninggalkan putranya dan sahabat-sahabatnya.


"Yuk," ajak Kenzo.


Mereka kini sudah berada di ruang tengah. Mereka saat ini sedang bermain game. Siapa yang kalah harus gantian dengan yang lainnya. Dan kebetulan ini adalah keberuntungan Darel. Jadi Darel bisa main sepuasnya karena dirinya tidak merasakan kalah sama sekali.


Melihat hal itu, sukses membuat sahabat-sahabatnya mendengus kesal karena tidak bisa mengalahkan sahabat kelincinya.


Saat mereka tengah asyik bermain. Terdengar suara orang yang memasuki ruang tengah.


"Ada teman-temannya Kenzo ternyata!" seru Lintang.


Baik Kenzo maupun sahabat-sahabatnya menolehkan wajahnya melihat keasal suara lalu dengan kompak mereka menyapa kedua kakaknya Kenzo.


"Siang, Kak."


"Siang juga," jawab keduanya lalu mereka ikutan nimbrung bersama adik dan sahabat-sahabatnya. Dan terjadilah perkenalan.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Dan sudah waktunya Darel dan yang lainnya pamit pulang.


"Kenzo. Terima kasih banyak atas ajakannya. Lain kali aku yang akan mengajakmu jalan-jalan dan juga mengajak kalian semua ke rumahku. Aku akan ajak kalian main ke rumahku, bukan ke rumah kakekku." Darel berbicara dengan penuh semangat.


"Iya, Rel. Aku akan menunggu waktu itu tiba," ucap Kenzo.


"Iya, Rel. Kami juga!" seru Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel dan Gavin.


"Eem," Darel mengangguk.


"Ya, sudah. Kami pulang dulu, Kenzo."


"Kami pulang dulu, Kak."


Mereka berpamitan dengan Kenzo dan kedua Kakaknya Kenzo.


"Kalian hati-hati di jalan," ucap Lintang.


"Iya, Kak." mereka menjawab bersamaan.


"Pastikan sikelinci bongsor itu selamat sampai di rumah," ucap sarkas Kenzo.


Mendengar hal itu sukses membuat Darel mendengus kesal.


Saat Darel ingin membalas perkataan Kenzo. Brian sudah terlebih dahulu menarik tangannya.

__ADS_1


"Tunda dulu marahnya. Hari sudah sore. Bukannya kau berjanji pada kakak-kakakmu pukul setengah lima harus sudah berada di rumah."


"Hah." Darel menghela nafas. Dirinya saat ini benar-benar pasrah atas perlakuan kedua sahabatnya yang menyebalkan itu.


Setelah lima belas menit kepergian sahabat-sahabatnya. Sang Ayah Dokter Fayyadh Alberto pun pulang.


"Papa pulang!" teriak Dokter Fayyadh memasuki ruang tengah.


"Papa sudah pulang?" tanya Kenzo yang saat ini sedang membereskan peralatan gamenya.


"Iya, sayang. Banyak pasien di rumah sakit," jawab Fayyadh.


Dokter Fayyadh melihat putra bungsunya sedang membereskan peralatan gamenya pun bertanya.


"Tumben kamu main game? Kan kamu sudah lama tidak menyentuh game-game itu?"


Saat Kenzo ingin menjawabnya, salah satu kakaknya sudah bersuara terlebih dahulu.


"Lima belas menit yang lalu ketujuh sahabatnya Kenzo datang kemari, Pa!" seru Leroy.


"Benarkah?" tanya Dokter Fayyadh sumringah. "Berarti sahabat kelinci yang sering kamu ceritakan itu juga datang kemari?" tanya Dokter Fayyadh kepada putra bungsunya.


"Iya, Pa. Rencananya aku ingin memperkenalkannya sama Papa. Kan Papa belum pernah bertemu dengannya. Papa kan hanya kenal dengan Kak Brian, Kak Azri, Kak Damian, Kak Evano, Kak Farrel dan Gavin." Kenzo berucap.


"Kalau Papa boleh tahu. Siapa namanya?"


"Darel. Darel Wilson."


"Apa?" Dokter Fayyadh terkejut saat Kenzo menyebut nama Darel. Nama yang sama dengan nama putra sahabatnya Arvind Wilson.


Mendengar dan melihat keterkejutan Ayahnya membuat Kenzo, Lintang dan Leroy bingung.


"Kenapa, Pa? Kenapa Papa terkejut begitu?" tanya Lintang.


Dokter Fayyadh tidak langsung menjawab pertanyaan dari putra sulungnya itu. Justru Dokter Fayyadh bertanya kepada putra bungsunya.


"Apa Papa boleh melihat foto sahabatmu itu, nak?"


"Foto Darel?" tanya Kenzo.


"Eemm." Dokter Fayyadh mengangguk.


"Ini, Pa."


Dokter Fayyadh melihat foto yang di sodorkan oleh Kenzo melalui ponsel miliknya. Dokter Fayyadh benar-benar kaget saat melihat foto tersebut.


"Jadi, benar. Darel yang dimaksud oleh putraku adalah Darel putra bungsu dari Arvind, sahabatku sekaligus pasien langgananku. Dunia ini benar-benar sempit. Aku bersahabat dengan Ayahnya. Dan putraku bersahabat dengan putranya. Dan aku juga yakin, pasti Arvind tidak mengetahui hal ini." Dokter Fayyadh berbicara di dalam hatinya.


"Papa," panggil Kenzo, Lintang dan Leroy saat melihat Ayahnya yang melamun.


"Papa."


PUK!


Lintang menepuk pelan bahu Ayahnya. Dan hal itu sukses membuat kesadaran sang Ayah kembali.


"Aish, Papa malah melamun. Ada apa, sih?" tanya Kenzo.


Dokter Fayyadh menatap wajah tampan putra bungsunya. "Papa tidak menyangka kalau kamu bersahabat dengan Darel. Dunia ini benar-benar sempit," sahut Dokter Fayyadh.


"Maksud Papa, apa?" tanya Kenzo.


Dokter Fayyadh tersenyum gemas melihat wajah bingung putra bungsunya itu. "Kalian masih ingat saat Papa cerita kalau Papa memiliki sahabat ketika duduk di bangku SMP. Dan persahabatan Papa terjalin hingga sekarang?" tanya Dokter Fayyadh.


Lintang, Leroy dan Kenzo mengangguk. Dokter Fayyadh tersenyum melihat kekompakan ketiga putranya.


"Sahabat Papa itu adalah Arvind Wilson yang tak lain adalah Papanya Darel."


"Apa?" ketiganya terkejut. Yang paling terkejut adalah Kenzo.


"Yang benar, Pa?" tanya Kenzo.


"Eemm." Dokter Fayyad mengangguk. "Darel itu sudah menjadi pasien tetap Papa. Lebih tepatnya Papa adalah Dokter pribadi keluarga mereka."


"Kenzo."


"Ya, Pa."


"Jagalah Darel. Selain dirimu dan keenam sahabat-sahabatmu yang lainnya. Darel tidak memiliki teman-teman yang lain. Hanya kalian yang dimilikinya. Kondisi kesehatannya juga tidak baik. Darel mudah sekali jatuh sakit. Makanya kenapa para kakaknya tidak pernah mengizinkannya pergi sendiri. Secara bergantian mereka antar jemput Darel ke sekolah."

__ADS_1


"Baik, Pa. Tanpa Papa minta pun, aku akan menjaga Darel dengan baik. Darel itu anak yang menyenangkan. Anaknya juga baik."


FLASBACK OFF


"Darel. Semoga kau bahagia di sana. Memang Kakak baru pertama kali bertemu denganmu. Tapi saat Kakak bertemu denganmu, kau adalah anak yang baik dan juga menyenangkan," batin Lintang.


"Kami juga sedih kehilanganmu, Darel." Leroy berbicara di dalam hatinya.


"Rel," batin Kenzo


***


Adelina dan keenam putranya, Salma, Evita dan putra-putranya serta Dirga dan adik-adiknya masih di ruang operasi.


"Dareeelll!" teriak Raffa.


Raffa melepaskan genggaman tangannya dari tangan adiknya lalu menggoyang-goyangkan tubuh adiknya. Raffa seperti orang kerasukan ketika menggoyang-goyangkan tubuh adiknya itu sembari terisak memanggil nama adiknya.


"Hiks.. Darel.. Darel. Kakak mohon bangunlah. Bukalah matamu.. hiks.. Kakak tahu kalau kamu sekarang ini sedang bercanda? Kamu sedang mengerjai kakak kan? Hiks.. Darel.. hiks.. bangunlah!" teriak Raffa yang masih terus menggoyang-goyangkan tubuh adiknya.


"Hiks.. Raffa. Jangan seperti ini. Itu sama saja kau menyakiti Darel," lirih Evan sembari menarik tubuh Raffa agar berhenti menggoyang-goyangkan tubuh adiknya.


"Tidak, Evan. Aku tidak menyakiti Darel. Aku menyayanginya. Aku hanya ingin membangunkannya saja. Aku yakin Darel hanya berpura-pura saja, Van.. hiks." Raffa berbicara sembari menatap wajah pucat adiknya dan kini tangannya menggenggam tangan adiknya.


Air mata Evan makin deras keluar saat mendengar penuturan dari Raffa. Dirinya juga sama seperti Raffa. Dirinya berharap kalau adik bungsunya itu hanya sekedar berpura-pura saja. Tapi kenyataannya bahwa sang adik memang benar-benar sudah pergi untuk selamanya.


"Darel.. hiks." Jimin terisak. Dirga yang berdiri tak jauh darinya langsung memeluknya.


GREP!


"Sabar, Van. Kakak tahu ini berat untukmu. Tapi Kakak harap kau bisa mengikhlaskan semuanya," hibur Dirga


"Raffa. Cukup, Raffa." Hoseok langsung memeluk Raffa dan menghentikan Raffa yang menggoyang-goyangkan tubuh Darel.


Vano mendekat kearah Darel yang tidur dengan damai. Tangannya terangkat mengelus lembut rambut coklat adiknya itu. Vano memberikan kecupan-kecupan sayang di seluruh wajah sang adik. Vano menangis. Dan setetes air matanya jatuh tepatnya di wajah adiknya.


"Darel. Ini Kakak. Kak Vano. Apa saat ini Darel sedang menghukum Kakak, hum? Apa Darel marah sama Kakak karena sudah membekap mulutmu saat Darel ingin berteriak? Kalau iya, Kakak minta maaf. Darel sekarang bangun dan hukum Kakak. Darel boleh lakukan apa saja kepada Kakak. Kakak tidak akan marah. Darel! Kakak mohon. Bukalah matamu." Vano menempelkan keningnya di kening Darel. Dan satu tetes lagi air matanya jatuh mengenai mata bulat adiknya. Sontak mata bulat itu bergerak.


"Aaahhhhhhhh."


Vano tiba-tiba merasakan nafas hangat yang keluar dari mulut adiknya, lalu Vano mengangkat kepalanya dan menatap wajah adiknya itu.


"Darel," ucap Raffa dan Vano bersamaan.


Raffa merasakan tangannya di genggam kuat oleh adiknya. Dan Vano merasakan nafas hangat adiknya.


"Panggil Paman Fayyadh. Sekarang!" teriak Vano.


Tanpa pikir panjang lagi, Melvin putra bungsu Evita berlari keluar untuk memanggil Dokter Fayyadh.


"Ma. Aku merasakan nafas Darel barusan," kata Vano.


"Aku juga merasakan Darel menggenggam tanganku, Ma." Raffa juga ikut bersuara.


Baik Adelina maupun anggota keluarga lainnya menatap wajah Darel. Adelina membelai kedua pipi mulus putra bungsunya itu, kemudian memberikan kecupan-kecupan sayang di seluruh wajah putranya.


"Darel, sayang. Apakah Darel barusan memberikan tanda pada kedua kakak-kakakmu, hum? Kalau iya. Sekarang tunjukkan pada Mama."


Adelina menempelkan keningnya di kening putra bungsunya. Dirinya berharap putranya itu melakukan hal yang sama kepadanya.


Dan beberapa detiketik kemudian, Adelina merasakan nafas hangat putranya itu.


"Aaahhhhhhh." Adelina meneteskan air matanya saat merasakan nafas hangat putra bungsunya.


BRAAKK!


Pintu ruang operasi di buka paksa oleh Dokter Fayyadh, lalu Dokter Fayyadh mendekati ranjang Darel.


"Lebih baik kalian semua keluar. Aku akan berusaha mengembalikan detak jantungnya."


Akhirnya mereka semua pun pergi meninggalkan ruang operasi dan menunggu di luar dalam keadaan kacau dan khawatir.


"Ayo, anak manis. Bantu Paman. Kembalilah bersama kami." Dokter Fayyadh dan dua perawat bekerja keras untuk mengembalikan detak jantung Darel. Mereka memasang alat pendeteksi jantung di tubuh Darel.


Adelina dan anggota keluarga yang lainnya menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka bahagia karena mendapatkan tanda dari sibungsu. Tapi mereka juga takut kalau semua itu tak sesuai harapan mereka.


Setelah satu jam Dokter Fayyadh memeriksa keadaan Darel di dalam. Pintu ruangan tersebut akhirnya terbuka.


CKLEK!

__ADS_1


__ADS_2