
Hamburg adalah kota metropolitan. Di kota itu tinggal seorang pengusaha sukses, kaya, dan baik hati bernama Andrean Alexander. Beliau tinggal bersama anak perempuan satu-satunya yaitu Alisha Alexander.
Saat ini Andrean berada di ruang kerjanya yang ada di rumahnya. Dirinya tengah mempersiapkan berkas-berkas untuk rapat besok pagi.
Saat Andrean tengah fokus dengan tugasnya. Dirinya terkejut mendengar bunyi benda jatuh di luar. Kemudian dirinya pun keluar untuk melihatnya.
Alisha sedang berada di ruang tengah. Gadis cantik ini tengah menonton film kartun kesukaannya. Ada sepuluh jenis kartun yang disukai olehnya. Walau usianya sudah 15 tahun, tapi Alisha tidak pernah bosan atau pun malu untuk menonton kartun.
Saat tengah asyik menonton. Film kartunnya itu dijedah karena ada iklan yang mau lewat. Alisha benar-benar kesal dibuatnya. Sambil menunggu film kartunnya, Alisha mengambil cemilan dan juga minuman kesukaannya di dapur.
Saat Alisha melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Matanya langsung menatap ke arah televisi yang menayangkan sebuah berita kriminal.
"Sepasang suami istri mendekam di dalam penjara atas kasus pembunuhan, penipuan, tindak kekerasan. Dan pihak kepolisian sudah menetapkan keduanya sebagai tersangka dan akan diadili di persidangan seminggu lagi."
PRAANNGGG!
Alisha tiba-tiba menjatuhkan gelas dan toples kue miliknya ke lantai saat mendengar dan melihat berita tersebut. Yang membuat Alisha terkejut dan syok adalah saat melihat wajah seorang wanita yang tersorot oleh kamera dan terpampang di televisi tersebut. Dan tanpa diminta, air matanya pun mengalir.
"Ma-ma," lirih Alisha.
Lalu detik kemudian, Andrean pun datang dan mendapati putri cantiknya yang sudah menangis sembari menatap televisi. Andrean pun mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah televisi.
DEG!
Sama seperti putrinya, Alisha. Andrean juga sangat terkejut dan syok saat melihat layar televisi tersebut.
"Apa yang sudah kau lakukan sehingga kau sampai berurusan dengan pihak kepolisian, Agatha?" batin Andrean.
Andrean lalu menatap putrinya. Dan kemudian menarik tubuh putrinya ke dalam pelukannya.
"Hiks... Hiks... Mama... Hiks." Alisha menangis terisak di pelukan ayahnya.
***
Darel kembali menggenggam tangan ibunya. Dan hal itu dilihat oleh anggota keluarganya yang lain, terutama para kakak-kakaknya. Mereka tersenyum bahagia saat melihat respon dari Darel.
"Darel," panggil mereka bersamaan.
Mereka menatap wajah Darel. Arvind yang berdiri di dekat putra bungsunya itu terus memperhatikan wajah tampan putra bungsunya itu.
Berlahan Darel membuka kedua mata bulatnya itu. Dan mengucapkan kata pertamanya.
"Pa-pa," lirih Darel.
Arvind yang mendengar putra bungsunya memanggilnya sangat bahagia dan bersyukur. Akhirnya penantiannya untuk melihat putra bungsunya membuka kedua matanya terpenuhi. Dirinya pun memberikan kecupan-kecupan sayang di kening putranya.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih Darel sudah mau bangun." Arvind kembali mengecup kening putra bungsunya.
"Ma-ma," panggil Darel.
Adelina yang mendengar namanya dipanggil, langsung bersuara. "Mama disini, sayang."
Darel berlahan menggerakkan kepalanya kearah kiri. Dan dapat dilihat olehnya wanita cantik yang kini sedang tersenyum hangat padanya.
Adelina yang melihat wajah putra bungsunya itu tersenyum padanya, Adelina langsung memberikan kecupan-kecupan sayang pada keningnya.
"Darel," panggil para kakak-kakaknya.
Darel mengedarkan pandangannya untuk melihat kakak-kakak kesayangannya itu.
"Ka-kakak."
"Kita semua ada disini, Rel!" itu Dirga.
Darel tersenyum hangat melihat semua anggota keluarganya ada di hadapannya. Mereka yang melihat senyuman itu merasakan kebahagiaan di dalam hati mereka masing-masing.
__ADS_1
"Senyuman itu telah kembali." itulah yang diucapkan oleh mereka di dalam hati masing-masing.
Mereka semua pun secara bergantian memberikan kecupan-kecupan sayang pada kening Darel.
CKLEK!
Pintu ruang rawat Darel dibuka. Dan mereka melihat Dokter Fayyadh yang memasuki ruang tersebut. Mereka semua pun memberikan ruang kepada Dokter Fayyadh agar bisa memeriksa Darel.
Disaat mereka ingin keluar, Dokter Fayyadh melarangnya.
"Kalian disini saja. Aku hanya mengecek kondisi Darel saja."
Dan mereka semua pun tetap berada di dalam. Mereka sangat berterima kasih pada Dokter Fayyadh karena bisa melihat langsung saat Darel diperiksa.
"Paman senang kau akhirnya bisa membuka matamu, Nak!" Dokter Fayyadh berbicara sembari tersenyum bahagia.
"Paman."
"Iya."
"Lepaskan ini." Darel menunjuk masker yang menutup setengah wajahnya.
"Tapi..."
"Aku mohon, Paman."
"Baiklah. Tapi jika kau sulit bernafas, maka kau harus memakainya kembali. Mengerti!"
"Baik, Paman."
Lalu Dokter Fayyadh melepaskan masker oksigen itu dari wajah Farel.
"Bagaimana?"
"Aku baik-baik saja Paman. Paman tidak perlu khawatir."
Darel mengernyit menatap Dokter Fayyadh. "Kenzo? Dari mana Paman tahu nama sahabatku?"
Dokter Fayyadh tersenyum. "Kenzo itu adalah Kenzo Alberto. Putra bungsu Paman."
Darel membulatkan kedua matanya dan bibirnya yang sudah terbuka lebar. Hal itu sukses membuat anggota keluarganya yang melihat wajah terkejut Darel tersenyum. Wajahnya benar-benar lucu, imut dan menggemaskan layaknya seorang anak kecil usia 4 saat dalam mode terkejut.
"Sudah. Jangan perlihatkan wajah jelek seperti itu," ucap Dokter Fayyadh menjahili Darel.
Dan seketika wajah Darel kembali seperti sedia kala. Lebih tepatnya merengut kesal atas ucapan Dokter Fayyadh.
"Paman akan menghubungi Kenzo dan menyuruhnya kesini. Mau?"
Darel tersenyum dan langsung mengangguk cepat. Dan lagi-lagi anggota keluarganya tersenyum melihatnya.
"Ya, sudah. Istirahatlah dan jangan memikirkan apapun. Paman akan menghubungi Kenzo."
Dokter Fayyadh melihat kearah Arvind dan juga anggota keluarga lainnya. "Kondisi Darel saat ini benar-benar sudah membaik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Tinggal menunggu pemulihannya saja. Lebih baik kita bicara di luar. Biar para anak-anak di dalam."
Lalu mereka pun keluar. Sedangkan para anak-anaknya berada di dalam menemani Darel.
Kini para orang tua sudah berada di luar ruangan.
"Bagaimana keadaan putra bungsuku, Fayyadh?" tanya Arvind.
"Keadaan putra bungsumu sudah jauh dari kata baik. Seperti yang aku katakan di dalam tadi. Hanya tinggal pemulihan saja. Kau mungkin belum tahu satu hal mengenai keadaan putra bungsumu atau mungkin anggota keluargamu belum memberitahumu." Dokter Fayyadh berbicara sembari menatap wajah Arvind.
"Apa?" tanya Arvind.
Arvind melihat kearah Adelina, istrinya. "Sayang. Apa yang belum aku ketahui tentang putra bungsu kita?"
__ADS_1
"Darel harus hidup dengan satu ginjal, sayang." Adelina menjawab dengan suara bergetarnya.
"Apa?" Arvind terkejut mendengar ucapan dari sang istri.
"Fayyadh." Arvind menatap Dokter Fayyadh yang sekaligus sahabatnya.
"Iya, Arvind. Putra bungsumu hidup dengan satu ginjal. Peluru itu mengenai ginjalnya dan harus diangkat saat itu juga untuk menyelamatkan nyawanya. Walau saat itu putramu sempat..." Dokter Fayyadh tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dirinya benar-benar takut saat membayangkan dimana Darel tidak bernafas saat operasi masih berlangsung.
"Aarrggghhh! Brengsek!" teriak Arvind.
BUGH!
Arvind meninju kuat dinding rumah sakit. Dirinya tidak mempedulikan rasa sakit di tangannya. Hatinya lebih sakit saat mendengar ucapan istri dan sahabatnya mengenai kondisi putra bungsunya itu.
Adelina, Sandy, William, Evita, Salma, Daksa dan Dokter Fayyadh melihat Arvind yang mengamuk hanya bisa diam. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka semua tahu bagaimana besarnya kasih sayang dan perhatian Arvind kepada semua putra-putranya. Arvind tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti putra-putranya itu.
"Sayang, kau harus sabar. Jangan seperti ini. Kalau kau seperti ini, Darel akan tahu tentang kondisinya," Adelina berusaha menghibur suaminya sembari mengusap lengan kanan suaminya
"Iya, Arvind. Tenangkan dirimu. Masalah ini jangan sampai Darel tahu dulu. Biarkan Darel sembuh dulu," ucap Dokter Fayyadh.
"Baiklah. Maafkan aku," sahut Arvind.
^^^
Di dalam ruang rawat, Darel habis-habisan diserang oleh para kakak-kakaknya. Para kakaknya memberikan kecupan di seluruh wajah tampannya secara bertubi-tubi sehingga membuat Darel kelelahan dan frustasi sendiri melihat kelakuan para kakaknya.
"Aish, mau sampai kapan kalian menciumi wajahku? Apa kalian semua sudah pada gosok gigi? Kalau wajahku bau, bagaimana?" Darel mempoutkan bibirnya kesal.
"Hehehehe." mereka semua hanya terkekeh melihat wajah kesal Darel.
"Kami memberikan kecupan padamu karena kami bahagia, Rel." Elvan berbicara sambil tangannya bermain-main di kepala adiknya.
"Iya, itu benar. Kami semua sangat-sangat bahagia melihatmu bangun," ujar Naufal.
"Kau tidur selama tiga hari, Rel. Jadi wajar saja saat kau bangun, kami semua menyerang wajahmu." Dirga berbicara sembari memijat-mijat telapak kaki Darel.
"Kau sudah membuat kami semua menangis. Dan sekarang kami semua saat ini sangat bahagia melihat kau bangun," kata Melvin.
"Kami menunggumu bangun, Rel. Dan penantian kami membuahkan hasil," kata Farraz dan diangguki oleh keempat adiknya.
"Nanti setelah pulang nanti. Kau bermain dengan Kakak ya, Rel. Tidak ada penolakan," ucap Dylan.
"Yak! Itu pemaksaan namanya," protes Evan dan Raffa.
"Biarin. Kenapa kalian berdua yang sewot?" sahut Dylan.
Sontak keduanya melotot saat mendengar penuturan dari Dylan. Sedangkan para kakaknya tersenyum gemas melihat ketiganya.
"Kak Davian," panggil Darel.
"Ya. Ada apa, hum?" jawab Davian tersenyum dan tangannya membelai rambut adiknya.
"Apa Kakak tadi mendengar suara orang berteriak di luar?" tanya Darel.
"Orang berteriak di luar." Davian dan yang lainnya mengulangi perkataan Darel.
"Tidak. Kakak sama sekali tidak mendengarnya. Atau mungkin Kakak terlalu senang melihat kamu bangun sehingga Kakak tidak mendengarnya." Davian berbicara dengan menatap wajah adiknya.
"Memangnya Darel dengar siapa yang berteriak di luar?" Nevan.
Darel mengangguk. "Dengar."
"Siapa?" tanya Andre sembari tangannya mengusap lembut punggung tangan adiknya.
"Papa." Darren menjawabnya.
__ADS_1
"Papa." para kakak-kakaknya mengulangi perkataannya.