
Zola dan beberapa anggotanya sudah tiba di lokasi dimana Diego dan Carter berada. Baik Zola maupun anggotanya melihat bahwa ada dua Van di depan mobil milik Diego dan Carter. Mereka melihat ada beberapa orang yang melangkah mendekati mobil di depan.
Ketika beberapa orang itu hampir mendekati mobil yang berada di depannya, Zola dan anggotanya langsung menyerang orang-orang tersebut tanpa ampun.
Duagh.. Duagh..
Bruukk..
Bagh.. Bugh..
Duagh..
Bruukk.. Bruukk..
Tak butuh lama, orang-orang yang ingin mendekati mobilnya Diego dan Carter seketika tumbang.
Zola menarik salah satu lalu mencekik leher laki-laki itu dengan kuat. Dan jangan lupa tatapan matanya yang mematikan.
"Siapa yang nyuruh lo?!"
Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan dari Zola, namun matanya menatap kearah Zola dengan tatapan tajam.
Zola yang ditatap tajam sama orang yang dia cekik semakin mengeratkan cekikan di leher laki-laki itu sehingga membuat laki-laki itu sulit untuk bernafas.
"Sekali lagi gue tanya. Siapa yang nyuruh lo dan antek-antek lo untuk menyerang mobil itu?"!
Melihat laki-laki di hadapannya ini tidak mau menjawab pertanyaan darinya. Bahkan laki-laki semakin kekeh mempertahankan keras kepalanya.
"Baiklah. Jangan salahkan gue kalau gue bakal cari tau sendiri termasuk keluarga lo. Gue bakal habisi keluarga lo."
Setelah mengatakan itu, Zola mendorong kuat tubuh laki-laki itu hingga terhempas kearah mobil Van dan tersungkur di aspal.
Gedebug..
Bruukkk..
Selesai Zola dengan laki-laki itu dan beberapa rekannya. Selesai juga pekerjaan dari anggotanya menghabiskan rekan-rekan dari laki-laki tersebut.
Zola dan anggotanya melangkahkan kakinya menghampiri mobil yang mereka duga mobil yang ditumpangi oleh Diego dan Carter ayahnya Gavin dan Charlie.
Sementara Diego dan Carter yang berada di dalam mobilnya seketika panik ketika melihat beberapa orang yang berjalan menghampiri mobilnya.
"Bagaimana ini kak?" tanya Carter.
Tok.. Tok..
Tok..
"Tuan, jangan takut. Kami datang kesini diutus oleh Bos untuk menolong tuan."
Mendengar perkataan dari Zola membuat Diego berpikir sejenak. Apalagi ketika mendengar Zola yang menyebut kata 'Bos'.
Detik kemudian....
Diego langsung membuka kaca mobilnya secara berlahan-lahan dengan menatap dengan hati-hati. Sedangkan Carter sudah terlihat khawatir jika orang-orang itu akan menyerang kakaknya secara tiba-tiba.
"Apa kamu tangan kanannya Darel sahabatnya putra bungsu saya Gavin?"
"Ya, tuan. Saya Zola salah satu tangan kanannya Bos Darel. Tuan tidak perlu takut."
Seketika Diego tersenyum lega setelah mengetahui bahwa laki-laki tersebut adalah tangan kanannya Darel, sahabat putra bungsunya.
"Tuan baik-baik saja? Apa mereka menyakiti tuan?"
"Tidak. Mereka belum melakukan apapun terhadap saya, adik saya dan sopir saya."
"Sebenarnya tuan mau kemana?"
"Kita mau pergi ke perusahaan MR'La Group karena ada acara pembukaan perusahaan baru dan juga menandatangani kontrak kerjasama proyek besar."
"Apa tuan masih mau kesana. Ini sudah mau sore, tuan! Kemungkinan acaranya sudah selesai."
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Zola membuat Diego langsung melihat jam di tangannya. Dan benar, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.
"Kak, ada baiknya kita pulang saja. Kita tidak jadi saja pergi kesana," ucap Carter.
"Baiklah."
"Saya dan adik saya memutuskan untuk pulang saja," ucap Diego.
"Baiklah kalau begitu. Nanti ada beberapa anggota saya yang akan mengikuti mobil tuan dari belakang."
"Baik."
"Suruh sopir tuan untuk fokus menyetir. Tidak usah pikir keadaan diluar."
"Baiklah."
"Kalian ikut mobilnya ayah dari tuan Gavin dan tuan Charlie sampai di rumahnya!"
"Baik, Bos!"
***
Darel dan sahabat-sahabatnya masih di kantin. Dan mereka masih menunggu kabar dari Zola untuk mengetahui keadaan ayah dari Gavin dan Charlie. Mereka semua tampak khawatir, terutama Gavin dan Charlie.
"Rel!" Gavin dan Charlie menatap Darel dengan raut khawatirnya.
Kenzo dan Razig mengusap lembut punggung Gavin dan Charlie untuk menenangkan keduanya. Mereka paham apa yang dirasakan oleh Gavin dan Charlie saat ini.
"Kalian tenanglah. Paman Diego dan Paman Carter akan baik-baik saja," ucap Darel.
Drrtt..
Drrtt..
Tiba-tiba ponsel milik Gavin berbunyi menandakan bahwa sebuah panggilan masuk.
Gavin langsung mengambil ponselnya. Dia berharap yang menghubunginya itu adalah Ayahnya.
"Hallo, Papa."
"Hallo, sayang. Papa hanya ingin memberitahu kamu dan Charlie kalau kami baik-baik saja. Tangan kanannya Darel datang lebih cepat sehingga berhasil mengalahkan orang-orang itu."
Mendengar perkataan sekaligus cerita dari ayahnya membuat Gavin tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar lega ketika ayahnya menyebut kalau dirinya dan sang Paman baik-baik saja.
"Aku senang mendengarnya. Sekarang Papa dimana?"
"Papa dan Pamanmu memutuskan pulang. Kita tidak jadi ke perusahaan MR'La Group."
"Baiklah. Bilang sama sopir untuk tidak ngebut."
"Baiklah sayang. Ya, sudah. Papa tutup teleponnya."
"Baik, Papa."
Tutt.. Tutt..
"Vin, bagaimana?"
"Papa sama Paman Carter baik-baik saja. Tangan kanannya Darel datang lebih cepat dan berhasil mengalahkan orang-orang yang hendak menyakiti Papa dan Paman Carter."
Mendengar jawaban dari Gavin membuat Charlie tersenyum lega. Begitu juga dengan Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Samuel Juan Razig Zelig, Lucas, dan Devon.
"Sebenarnya siapa orang-orang itu? Kenapa mereka ingin menyakiti ayahnya Gavin dan Charlie?" tanya Samuel.
"Siapa pun mereka. Kita tidak perlu pikirkan itu. Nanti bakal tahu juga. Yang penting saat ini adalah untuk memberikan hukuman selanjutnya untuk si pencuri itu," sahut Darel.
Mendengar ucapan dari Darel membuat mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Darel. Untuk saat ini mereka harus menyelesaikan hukuman untuk si pencuri uang itu.
"Darel," panggil Evan dan Raffa bersamaan.
Darel dan para sahabatnya seketika terkejut, lalu melihat kearah Evan dan Raffa dimana keduanya melangkah menghampiri mereka semua dengan diikuti oleh Rendra, Dylan, Melvin dan Aldan.
__ADS_1
"Kak Evan, kak Raffa!"
"Kakak Ada kabar untuk kamu," ucap Raffa.
"Apa kak, buruan katakan!"
Evan dan Raffa tersenyum melihat wajah memohon adiknya.
"Ini tentang kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya." Evan berucap sembari tersenyum menatap wajah penasaran adiknya itu.
"Langsung kasih tahu aja kenapa sih," kesal Darel melihat kelakuan kedua kakaknya itu.
"Hahahaha." Evan dan Raffa seketika tertawa ketika melihat wajah kesal sekaligus wajah penuh penasaran dan mendengar nada kesalnya.
"Oh, marah ya!" Evan mengusap lembut kepala adiknya itu.
"Oke, kakak minta maaf. Kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya sudah sadar dari koma nya," ucap Raffa.
Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika mendengar kabar bahagia tersebut.
"Ketika kakak Daffa sadar, kakak Daffa langsung nanyain kamu. Sepertinya kakak Daffa kangen kamu," ucap Evan.
"Benarkah?"
"Hm."
"Kakak Evan, kakak Raffa, kakak Rendra, kakak Dylan, kakak Melvin dan kakak Aldan kapan mau ke rumah sakitnya."
"Sekarang. Mata kuliah kita sudah selesai!" jawab Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan bersamaan.
"Berarti kakak Evan dan kakak Raffa pulang sekarang?"
"Iya," jawab Evan dan Raffa bersamaan.
"Aku mau ikut juga."
"Lah kan kuliah kamu belum selesai," ucap Evan.
Darel menatap wajah para sahabat-sahabatnya. Lalu berakhir Darel menatap kearah Samuel.
"Samuel, lo kan anak pejabat disini. Boleh ya gue diizinin buat balik duluan."
Mendengar ucapan serta melihat wajah memelas Darel membuat Samuel tersenyum. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya yang lain. Termasuk para kakaknya.
"Dengan senang hati."
"Wah! Terima kasih ya. Lo sahabat gue yang terbaik."
Darel melihat kearah kedua kakaknya. "Kak, aku sudah minta izin sama Samuel. Kita langsung pulang yuk," ajak Darel.
"Lah kok pulang. Kan kita mau ke rumah sakit," ralat Evan.
"Hehehehe. Aku ralat deh. Yuk kak kita ke rumah sakit sekarang!"
"Terus motor kamu siapa yang bawa?" tanya Raffa.
Darel langsung menatap wajah para sahabatnya. Sedangkan para sahabat-sahabatnya seketika langsung paham.
"Biar kakak yang bawa motor kamu. Kita juga akan ke rumah sakit untuk melihat ketiga kakak kamu itu," sahut Evano.
"Benarkah?"
"Iya."
"Baiklah. Aku tunggu kalian disana."
"Siap!"
"Bawakan sekali tas aku ya. Dari sini aku langsung ke rumah sakit. Jadi aku nggak ke kelas lagi."
"Siap, Bos!" seru Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
__ADS_1
Setelah itu, Darel dan para kakak-kakaknya langsung pergi meninggalkan kantin untuk pergi ke rumah sakit.