Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Terluka


__ADS_3

Darel bersama semua sahabat-sahabatnya dan juga kakak sulungnya Davian berada di suatu tempat dimana tempat tersebut tempat untuk bertemu dengan orang-orang yang mengaku sebagai pemilik gedung yang ditempati oleh para anak panti.


"Kamu yakin mereka akan datang, Rel?"! tanya Davian kepada adiknya.


"Yakin kak. Mereka akan datang demi uang yang ada padaku," jawab Darel.


Ketika Darel, Davian dan sahabat-sahabatnya tengah menunggu kedatangan orang-orang itu, tiba-tiba orang-orang yang mereka tunggu akhirnya menampakkan diri.


"Maaf kami terlambat!" seru seseorang.


Darel, Davian dan sahabat-sahabatnya melihat kearah tiga orang yang melangkahkan kakinya menghampirinya.


Kini ketiganya telah duduk di kursi di hadapannya dengan memperlihatkan senyuman manis masing-masing di hadapan Darel, Davian dan sahabat-sahabatnya.


Salah satu laki-laki itu melirik kearah tas besar yang ada di samping Darel. Setelah itu, laki-laki itu berbisik kepada rekannya yang duduk di sampingnya.


Darel tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat salah satu laki-laki di hadapannya melirik kearah tas miliknya.


"Jangan harap aku akan memberikan uang itu pada kalian. Apapun yang terjadi kalian tidak akan pernah mendapatkan uang tersebut," batin Darel.


Darel, Davian dan sahabat-sahabatnya menatap tajam kearah tiga laki-laki tersebut. Begitu juga dengan tiga laki-laki tersebut. Mereka saling memberikan tatapan tajam masing-masing.


"Ada masalah apa kalian ingin bertemu denganku?" tanya Darel.


"Seperti yang sudah kau dan sahabat-sahabatmu ketahui bahwa kami adalah pemilik dari gedung tempat tinggal anak-anak Panti itu," jawab laki-laki pertama.


"Apa buktinya jika kalian pemilik gedung tempat tinggal anak-anak Panti Asuhan itu?" tanya Brian.


"Kenapa? Kalian tidak mempercayaiku dan rekan-rekanku, hum?" tanya laki-laki kedua.


"Tentu kami tidak percaya begitu saja dengan kalian. Secara kalian mengakui tiga Panti Asuhan itu milik kalian ketika kalian mendapatkan informasi bahwa aku dan sahabat-sahabatku ingin memberikan sumbangan berupa uang kesana," sahut Azri dengan menatap remeh ketiga laki-laki itu.


"Selama ini aman-aman saja. Tidak ada masalah sama sekali," sahut Damian.


"Dan ini untuk pertama kalinya kami mendapatkan masalah dimana ada orang yang mengaku-ngaku sebagai pemilik gedung tempat tinggal para anak-anak Panti Asuhan," tutur Evano.


"Jika kalian ingin uang ini," ucap Darel dengan melirik kearah tasnya. "Keluarkan berkas kepemilikan gedung tempat tinggal para anak-anak Panti Asuhan itu padaku," ucap Darel dengan memberikan tatapan menusuknya.


Mendengar ucapan dari Darel membuat ketiga laki-laki itu menatap marah kearah Darel. Mereka tidak terima dipermainkan.


"Jangan permainkan kami seperti ini!"


"Kami jauh-jauh datang kesini guna untuk bertemu dengan kau dan antek-antek busukmu dan membicarakan masalah Panti Asuhan itu!"


"Hargai waktu kami!"


Mense ucapan dari ketiga laki-laki tersebut apalagi ketika melihat wajah marah ketiganya membuat Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon seketika tertawa keras.


"Hei, tuan! Siapa juga yang mempermainkan kalian!" sahut Devon.


"Yang meminta bertemu adalah kalian bertiga," ucap Charlie.

__ADS_1


"Kalian bersikeras ingin bertemu kami dan ingin meminta uang kami karena kalian mengaku pemilik gedung tempat tinggal para anak-anak Panti Asuhan itu," ucap Razig.


"Kami sejak tadi sudah bersikap baik dengan kalian dengan meminta kalian menunjukkan bukti kepemilikan gedung tempat tinggal para anak-anak Panti Asuhan itu, tapi kalian tidak menunjukkan berkas-berkas tersebut sama sekali!" ucap Kenzo.


"Dan sekarang kalian menuduh kami telah mempermainkan kalian. Yang benar saja," ucap Gavin.


Darel seketika berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah tiga laki-laki tersebut. Diikuti oleh sang kakak dan sahabat-sahabatnya.


"Kalian pikir semudah itu bisa menipuku. Jangan harap aku akan memberikan uang ini kepada kalian. Ini bukan hak kalian. Uang ini adalah hak anak-anak Panti Asuhan itu!" bentak Darel.


Setelah mengatakan itu, Darel pergi meninggalkan ketiga laki-laki itu dan diikuti oleh kakaknya dan sahabat-sahabatnya.


Tanpa diketahui oleh Darel, Davian dan sahabat-sahabatnya. Salah satu dari tiga laki-laki itu memberikan pukulan tepat di kepala Darel dengan botol minum yang ada di atas meja.


Bugh..


"Aakkhhh!" teriak Darel.


"Darel!" teriak Davian dan sahabat-sahabatnya.


Davian, Brian, Azri langsung memberikan perlawanan terhadap ketiga laki-laki itu dengan membabi-buta.


Bagh.. Bugh..


Duagh.. Duagh..


Praakk.. Kreekk..


Duagh.. Duagh..


Brukk..


Ketiga laki-laki itu tersungkur di lantai dengan keadaan yang babak belur terutama pada wajahnya. Sementara Davian, Brian dan Azri tidak mempedulikan kesakitan ketiga. Mereka tetap memberikan pukulan dan tendangan kepada ketiga laki-laki itu.


"Rel," panggil para sahabat-sahabatnya khawatir.


"Sshh," ringis Darel sembari memegang kepalanya.


Kepala belakang Darel banyak mengeluarkan darah akibat pukulan keras dari laki-laki itu.


Bruukkk..


Darel seketika tak sadarkan diri di pelukan Kenzo karena Darel langsung di pelukan oleh Kenzo ketika mendapatkan pukulan dari laki-laki itu.


"Darel!" panggil Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.


Mendengar teriakkan dari Kenzo dan yang lainnya membuat Davian, Brian dan Azri menghentikan aksinya memukul ketiga laki-laki itu. Kemudian mereka menghampiri Darel.


"Darel," panggil Davian lalu menarik tubuh adiknya itu. "Hei, ini kakak. Buka mata kamu, sayang!" Davian seketika menangis ketika melihat adiknya yang sudah memejamkan matanya.


"Kak Davian, ayo bawa Darel ke rumah sakit. Lihatlah, kepala Darel banyak mengeluarkan darah." Gavin berucap dengan lirih dan air mata yang mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


Davian menyentuh kepala belakang adiknya dan benar apa yang dikatakan oleh Gavin bahwa kepala adiknya banyak mengeluarkan darah. Terbukti ketika matanya melihat darah adiknya di telapak tangannya.


Davian menggendong tubuh adiknya dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Diikuti oleh sahabat-sahabatnya Darel. Baik Davian maupun sahabat-sahabatnya Darel begitu mengkhawatirkan kondisi Darel saat ini.


"Bertahanlah sayangnya kakak," batin Davian.


***


Di kediaman utama Wilson dimana semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka sekarang ini tengah mengobrol tentang pekerjaan mereka masing-masing. Bukan hanya mengobrol membahas pekerjaan masing-masing. Mereka juga membahas mengenai rencana Darel dan sahabat-sahabatnya untuk mengetahui seperti apa wajah dari orang-orang yang mengaku sebagai pemilik gedung tempat tinggal para anak-anak Panti Asuhan itu.


"Apa kalian sudah mendapatkan kabar dari kakak kalian atau adik bungsu kalian?" tanya Arvind dengan menatap satu persatu wajah putra-putranya.


"Belum, Papa!" jawab Nevan dan adik-adiknya bersamaan.


"Ponsel kakak Davian nggak aktif," sahut Arga."Ponsel Darel juga," ucap Axel.


"Bagaimana dengan ponsel milik sahabat-sahabatnya Darel?" tanya Evita.


"Evan, Raffa! Apa kalian ada menyimpan nomor ponselnya salah satu sahabatnya Darel?" tanya Adelina.


"Kalau sebelum kejadian kecelakaan menimpa ketujuh sahabatnya Darel, kita berdua ada menyimpan nomor Kenzo dan Gavin!" Raffa menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Tapi nomor itu sudah nggak aktif lagi," sela Evan.


"Dan kita tidak ada yang tahu nomor baru Kenzo dan Gavin. Begitu juga dengan sahabat-sahabat Darel yang lain," sahut Raffa.


"Oh, Tuhan! Lindungi kedua putraku dan juga sahabat-sahabat putraku," batin Adelina.


Ketika mereka semua tengah mengkhawatirkan Davian dan Darel, tiba-tiba ponsel milik Arvind berbunyi.


Arvind yang mendengar suara bunyi ponsel miliknya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya, matanya melihat nama putra sulungnya di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arvind langsung menjawab panggilan dari putra sulungnya itu.


"Hallo, Davian."


Seketika semuanya langsung melihat kearah Arvind ketika Arvind menyebut nama Davian. Mereka semua berharap bahwa Davian menyampaikan kabar baik.


"Hallo, Papa. Ke rumah sakit sekarang. Darel terluka dan sekarang sedang diperiksa sama Dokter Fayyadh."


Mendengar ucapan serta suara serak dari putra sulungnya itu membuat hati Arvind sesak. Pasti terjadi sesuatu sehingga putra bungsunya sampai terluka.


"Baiklah, sayang. Kamu tenang, oke! Jangan panik."


"Baik, Papa."


Tutt.. Tutt..


Davian langsung mematikan panggilannya setelah memberitahu ayahnya tentang kondisi adiknya.


"Sayang, ada apa?" tanya Adelina.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang. Darel masuk rumah sakit."


Setelah itu, mereka semua bergegas untuk menuju rumah sakit.


__ADS_2