Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Terbebas Dari Segala Larangan


__ADS_3

Darel menatap lekat wajah ayahnya, terutama tatapan mata ayahnya. Dan dapat Darel lihat ada kekhawatiran disana.


"Papa," panggil Darel.


"Iya, sayang!"


"Papa sayang sama aku kan?"


"Tentu, nak! Papa sayang sama kamu. Papa sayang sama semua putra-putra Papa. Apapun akan Papa lakukan untuk membahagiakan putra-putra Papa, terutama kamu!"


Darel seketika tersenyum mendengar ucapan tulus dari ayahnya. Darel percaya ayahnya akan selalu melakukan apapun untuk semua putra-putranya.


"Kalau Papa sayang padaku. Kalau Papa akan melakukan apapun untuk putra-putra Papa. Berarti Papa harus melakukan satu hal untukku."


"Apa itu sayang? Katakanlah. Papa siap melakukannya untukmu."


"Hanya satu yang aku inginkan dari Papa."


"Apa?"


"Kepercayaan Papa."


"Kepercayaan? Maksudnya?"


Arvind masih belum mengerti akan ucapan dan permintaan dari putranya itu. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Mempercayai semua yang aku lakukan diluar rumah, terutama ketika di Kampus. Percaya kalau aku akan baik-baik saja ketika aku melakukan apa yang aku kerjakan. Hanya itu yang aku butuhkan dari Papa. Begitu juga dengan Mama dan kalian semua!"


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darel dan melihat wajah memohon Darel membuat mereka menjadi tak enak hati. Selama ini mereka semua tahu bahwa hanya itulah yang diinginkan Darel. Kepercayaan!


"Pa! Selama Papa percaya terhadap kemampuanku, selama Papa percaya kalau aku akan baik-baik saja, selama Papa percaya bahwa aku mampu mengatasi semuanya. Semuanya akan baik-baik saja. Kekhawatiran Papa akan kondisi kesehatanku tidak akan terjadi."


"Pa! Aku sudah dewasa. Bukan anak kecil dan anak remaja lagi. Usiaku sudah 20 tahun. Kapan lagi aku melakukan apa yang aku inginkan. Kalau Papa dan kalian semua masih seperti ini terus, selalu mengkhawatirkan aku. Kapan aku akan berkembangnya?"


"Pa! Aku juga ingin seperti kalian. Aku ingin menjadi CEO yang terkenal yang mana aku berhasil mengembangkan perusahaan tanpa campur tangan orang lain. Aku ingin menjadi seperti yang kakek inginkan."


Darel menatap wajah tampan ayahnya. "Pa! Cukup Papa doakan aku agar aku bisa melakukan semua itu. Doa dan Kepercayaan itu yang aku inginkan dari Papa. Please...!"


Grep..


Seketika Arvind langsung menarik tubuh putra bungsunya dan membawanya ke dalam pelukannya. Hatinya benar-benar luluh dan tertegung ketika mendengar rentetan-rentetan keinginan dan harapan putranya itu. Dirinya benar-benar bangga akan sifat dewasa putra bungsunya ini.


"Papa, aku mohon! Jangan halangi aku, jangan larang aku untuk melakukan apa yang ingin aku lakukan. Aku melakukan semua ini juga demi masa depanku kelak," ucap Darel di dalam pelukan ayahnya.


Arvind seketika menangis ketika mendengar perkataan yang terakhir dari putra bungsunya yang mengatakan untuk masa depannya kelak.

__ADS_1


Bukan hanya Arvind saja yang menangis. Adelina, ke 12 putra-putranya juga menangis. Begitu juga dengan anggota keluarga Wilson lainnya.


Arvind kemudian melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan putra bungsunya itu. Tangannya membelai kedua pipi putih putranya itu.


"Pa..."


"Baiklah. Papa akan memberikan kepercayaan padamu untuk melakukan apapun yang kamu mau selama diluar rumah. Apapun yang kamu lakukan diluar sana, selama itu positif, selama itu tidak merugikan orang lain. Papa mendukungmu. Doa Papa selalu menyertai di setiap langkahmu dan di setiap pekerjaanmu."


Tes..


Seketika air mata Darel mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari ayahnya.


"Benarkah Pa?"


"Iya, sayang! Kamu berhak mendapatkan itu. Itu adalah kado dari Papa untuk kamu."


Grep..


Darel langsung memeluk tubuh ayahnya. Pelukannya begitu erat kali ini. Dirinya benar-benar bahagia karena ayahnya sudah memberikan izin untuk dirinya melakukan hal-hal positif selama diluar rumah. Dan ayahnya tidak lagi melarangnya.


"Papa yang terbaik. Terima kasih Papa."


"Sama-sama sayang. Anggap saja itu adalah kado terindah dari Papa untuk kamu karena kamu sudah menjadi putra Papa yang baik, putra Papa yang penurut dan putra Papa yang selalu peduli terhadap sesamanya."


"Aku sayang Papa."


"Papa juga sayang kamu."


Darel kemudian mengalihkan perhatiannya menatap semua kakak-kakaknya satu persatu. Dan dimulai dari kakak tertuanya.


Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa yang mengetahui arti tatapan adik bungsunya itu seketika tersenyum.


Dan detik kemudian...


"Kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau selama diluar rumah. Kakak tidak akan melarang kamu lagi!" seru Ghali.


"Selama yang kamu lakukan itu positif, selama semua yang kamu lakukan membuat orang-orang di sekitar kamu itu bahagia dan selama tidak merugikan orang lain. Kakak mendukungmu. Kakak tidak akan melarang kamu lagi," ucap Davian.


"Kamu berhak mendapatkan itu," ucap Nevan sembari tersenyum tulus menatap wajah tampan adiknya itu.


"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. Buat orang-orang di sekitar kamu itu bahagia dan bangga padamu. Kakak akan selalu mendoakan kamu," sahut Elvan.


"Kamu berhak mendapatkan kepercayaan dari kami semua!" seru Andre dan Arga bersamaan.


Seketika air mata Darel mengalir dengan deras membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan dari keenam kakak-kakak tertuanya. Dirinya tidak menyangka, mulutnya belum mengatakan apapun, namun keenam kakak-kakak tertuanya itu langsung memberikan izin dan kepercayaan padanya.

__ADS_1


"Ka-kakak... Hiks," ucap Darel terisak.


"Kakak menyayangi kamu. Kamu bebas sekarang. Kakak nggak akan larang kamu lagi. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan selama itu positif dan membuat kamu bahagia," ucap Davian.


"Ka-kakak."


Darel langsung berdiri dari duduknya lalu menghampiri kakak tertuanya itu.


Darel duduk di samping kakak tertuanya itu lalu langsung memeluk tubuh sang kakak.


"Hiks... Kakak... Hiks," Isak Darel.


"Maafkan kakak yang tidak pernah mengerti dan memahami keinginan kamu. Maafkan kakak yang selalu melarang kamu untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan ketika berada di luar rumah." Davian berbicara sembari tangannya mengusap lembut kepala adiknya dengan lembut, lalu kemudian memberikan ciuman di pucuk kepala adiknya itu.


"Kakak adalah kakak yang terbaik yang aku punya. Kakak tidak salah. Begitu juga dengan yang lainnya. Kalian melakukan semua itu demi menjagaku. Tidak lebih. Terima kasih."


Davian tersenyum mendengar jawaban dari adiknya itu. Dirinya benar-benar bangga akan adiknya yang memiliki hati lembut dan mudah memahami sifat seseorang dan memaafkan kesalahan orang lain.


Darel melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan kakaknya itu.


"Aku sayang kakak."


"Kakak juga sayang kamu. Tetaplah sehat. Jangan kelelahan dan jangan lupa makan tepat waktu."


"Aku janji sama kakak."


Darel menatap wajah kakak-kakaknya yang lain. "Aku juga sayang kalian. Terima kasih kalian sudah membebaskanku dan tidak melarang aku lagi. Aku sayang kalian."


Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga tersenyum mendengar ucapan dari adik bungsunya itu.


"Sama-sama sayang!"


"Kami juga sayang kamu!"


"Tetap sehat, tidak boleh sakit-sakit lagi."


"Jangan kelelahan ketika sudah bekerja."


"Dan jangan sampai telat makan."


"Siap!"


Darel langsung menjawab semua perkataan kakak-kakaknya itu dengan gerakan hormat.


Mereka yang melihat hal itu langsung tersenyum bahagia. Yah! Mereka semua benar-benar bahagia melihat Darel yang sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2