Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Mengingat Momen-Momen Kebersamaan


__ADS_3

[Ruang Tengah]


Mereka semuanya telah berkumpul kembali di ruang tengah setelah selesai melakukan makan malam bersama. Sedangkan Darel hanya memperlihatkan wajah kesalnya.


"Sudah. Jangan perlihatkan wajah jeleknya seperti itu. Tambah jelek tahu," goda Andre yang melihat adik bungsunya yang menampilkan wajah kusutnya.


Mereka semua hanya tersenyum melihat Darel yang sedang dalam mode buruk.


"Aish. Apaan sih, kak Andre. Tidak lucu tahuu." Darel mempoutkan bibirnya


"Kak Darel," panggil Alisha.


"Apa?" Darel menjawabnya dengan ketus.


"Hei. Yang lembut dong jawabnya, Rel!" tegur Daffa pada adik bungsunya.


"Bodo."


"Hah." Daffa hanya bisa menghela nafasnya.


"Kak Darel. Alisha mau minta maaf sama kakak. Maafkan kesalahan Alisha, ya?"


Darel menaikkan satu alisnya sembari menatap Alisha. "Minta maaf kenapa? Memangnya kamu itu salah apa?"


"Saat pengadilan itu. Aku berbicara kasar pada kakak. Kakak saat itu mengatakan kalau Mamanya Alisha itu iblis."


"Emang ibu kamu itu iblis. Bahkan dua kali lipat dari sekedar iblis," batin Darel.


Darel hanya diam. Dan tidak berniat untuk menjawabnya.


"Darel. Jawab dong. Kan Alisha nya sudah minta maaf tuh. Gak baik lo kayak gitu," tegur Elvan.


Darel melirik Elvan, lalu melirik Alisha. Darel masih dalam mode buruknya dengan memasang wajah kusutnya.


Sama seperti Daffa. Elvan hanya bisa pasrah dan menghela nafas akan sikap adik bungsunya itu. Mau dikerasi dan dimarahi, gak ada gunanya. Toh, anaknya memang tidak bisa dikerasi dan dimarahi. Anaknya akan langsung down.


Semuanya hening. Semuanya diam. Mereka juga tidak tahu harus memulai dari mana. Mereka ingin sekali bersenda gurau, tertawa. Tapi mereka takut akan menyakiti sibungsu kesayangan mereka. Dan pada akhirnya, Darel pun membuka suaranya.


"Hah." Darel menghela nafas sebelumnya.


Dan hal itu didengar oleh semuanya. Mereka melihat dan memperhatikan wajah Darel. Seperti ada magnet dalam diri mereka masing-masing sehingga mereka tahu kalau si kelinci kesayangan mereka ingin mengatakan sesuatu.


"Masalah sudah selesai dan tidak ada lagi yang akan mengganggu dan mengacaukan keluarga kita. Jadi.......!!"


Darel menghentikan ucapannya sejenak. Mereka masih setia mendengar dan memperhatikan Darel.


"Jadi aku akan.. aku akan pulang ke rumahku bersama Papa, Mama dan kakak-kakakku ke rumah kami."


DEG!!


Mereka terkejut mendengar penuturan dari Darel. Terutama Sandy, Salma, William, Daksa, Evita dan para kakak-kakak sepupunya.


"Yah, Rel! Kenapa?" tanya Dirga.


"Tugasku sudah selesai. Semua tugas yang diberikan Kakek padaku sudah aku laksanakan dengan baik. Aku juga sudah memberikan masing-masing Perusahaan itu pada kalian. CJ GRUP atau lebih tepatnya Perusahaan utama keluarga William untuk ketujuh putra Paman William. AW CORP untukku dan kakak-kakakku. SW CORP untuk kelima putranya Paman Sandy. EW CORP untuk keempat putranya Bibi Evita. Dan untuk rumah ini secara hukum milik bersama. Seperti yang dikatakan Kakek padaku dan juga isi surat wasiatnya. Masa aku menjadi ahli warisnya seumur hidup. Jika kelak aku meninggal, aku harus menunjuk satu dari kalian untuk menggantikanku. Dan aku sudah memilih salah satu dari kalian. Begitu seterusnya," tutur Darel.


"Kalau masalah itu kami mengerti, Rel! Tapi kenapa Rel harus kembali pulang ke rumah dan pergi meninggalkan kami semua," ucap dan tanya Naufal.


"Kalau Darel dan yang lainnya pergi. Rumah ini tampak sepi," sahut Steven.


"Pasti kami akan merindukan suara teriakanmu. Kami merindukan keusilan Raffa yang selalu mengganggumu," ucap Dario.


"Yak! Jadi kalian lebih senang jika aku selalu menjadi korban bully dari Raffa alien ini. Dan juga kalian senang aku setiap hari berteriak seperti orang gila di rumah ini?" tanya Darel.

__ADS_1


Darel menatap tajam pada semua kakak-kakak, termasuk kakak kandungnya.


Mereka semua dengan kompak mengangguk cepat. Mereka tidak peduli dengan wajah kesal Darel. Bagi mereka wajah Darel saat sedang kesal itu makin imut dan menggemaskan.


"Kalian benar-benar menyebalkan, kak!" Darel mempoutkan bibirnya dan menggembungkan kedua pipinya.


"Hahahaha." mereka semua tertawa, tak terkecuali para orang tua.


"Ini nih yang akan membuat kita semua merindukanmu. Wajah manismu, wajah imut dan menggemaskanmu itu," kata Satya.


"Aku akan tarik semua hak yang diberikan Kakek untuk kalian. Dan juga semua fasilitas kalian," ucap Darel mengancam.


Seketika semuanya terdiam. Darel yang melihatnya tersenyum kemenangan. "Akhirnya aku bisa mengalahkan kalian juga. Satu sama," batin Darel.


"Dasar siluman kelinci kurap."


"Bisanya ngancam doang."


"Kelinci kampret, sontoloyo."


"Dasar otak psikopat."


"Mentang-mentang menjadi ahli warisnya Kakek. Seenaknya aja menindas para kakaknya."


"Ini mah. Lebih kejam dari pada Mathew."


Itulah beberapa umpatan kekesalan para kakak sepupunya di dalam hati mereka. Mereka juga tidak berani terang-terangan mengumpati adik manis mereka. Bagaimana pun mereka semua tulus menyayanginya.


"Sudah puas, hum?" tanya Darel.


"Apanya?" tanya mereka secara bersamaan.


"Sudah puas mengumpatiku di dalam hati kalian." Jawab Jungkook dengan senyuman manisnya


DEG!!


"Hehehe. Darel tampan dech. Kakak saja kalah tampannya dengan Darel," ucap Melvin.


"Darel mau apa?? Nanti kakak belikan. Apapun yang Darel mau, kakak akan turuti." Rendra ikut merayu adik sepupunya.


"Atau Darel mau dibelikan Iron Man keluaran terbaru," ucap Erick.


"Atau Darel mau kita jalan-jalan mengelilingi kota Hamburg," kata Dirga dan Marcel.


"Atau......." ucapan Naufal terpotong. Karena Darel sudah terlebih dahulu berbicara.


Darel tiba-tiba berdiri dan menatap horor para kakak sepupunya itu sambil berkacak pinggang. "Aish. Kakak pikir aku ini anak kecil yang bisa disuap begitu saja!" teriak Darel.


"Pokoknya keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap pulang bersama Papa, Mama dan kakak-kakakku. Dan untuk kalian tetap di rumah ini. Tidak boleh ada yang pergi meninggalkan rumah ini. Jika kalian ingin pulang ke rumah kalian. Aku hanya memberikan izin selama dua minggu. Setelah dua minggu habis, kalian harus kembali lagi ke rumah ini. Itupun kalian boleh pulang dua kali dalam satu tahun," ucap Darel


Hal itu sukses membuat mereka terkejut. Terutama Sandy dan Daksa.


"Tidak bisa begitu, Rel! Bagaimana pun kami....." ucapan Sandy terpotong dan lagi-lagi Darel memotong pembicaraan.


"Jadi maksud Paman Sandy kalau Paman Sandy tidak setuju dengan keputusanku?" tanya Darel yang mata sudah berkaca-kaca.


"Bu-bukan begi......" ucapan Sandy lagi-lagi terpotong.


"Aku sudah susah payah sampai nyawaku menjadi korbannya untuk mempertahankan rumah ini. Tapi untuk kali ini aku meminta pada kalian. Justru kalian dengan berat hati mengabulkannya. Kalian benar-benar jahat. Kalian hanya mementingkan kepentingan kalian pribadi."


"Saat Kakek masih hidup. Dan dimana saat itu aku benar-benar lelah dan ingin menyerah. Dan aku mendengar kalian semua bicara. Saat itu kalian mengatakan bahwa kalian tidak ingin kehilangan rumah ini. Dan kalian juga mengatakan bahwa rumah ini banyak kenangan masa kecil kalian. Dan saat itu kalian benar-benar takut jika Mathew berhasil merebut rumah ini atau Kakek akan menghibahkan pada yayasan."


Mereka yang mendengar penuturan dari Darel benar-benar terkejut dan syok. Terutama Arvind. Mereka tidak menyangka bahwa pembicaraan mereka saat itu didengar oleh Darel.

__ADS_1


"Saat itu aku benar-benar ingin menyerah. Tapi saat aku mendengar ucapan kalian semua, ditambah lagi Papa yang berusaha meyakinkanku. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkannya. Itu semua aku lakukan untuk kalian."


Setelah mengatakan hal itu, akhirnya tangisan Darel tak bisa dibendung lagi. Tangis Darel pun pecah.


"Hiks.. Hiks.. Hiks!!"


Mereka yang mendengar tangisan Darel merasa sangat bersalah. Mereka telah menyakiti hati kesayangan mereka semua.


Arvind berdiri, lalu menarik tubuh putra bungsunya itu kedalam pelukannya.


GREP!!


"Hiks.. Hiks.. Hiks." tangis Darel makin kencang di dalam pelukan sang Ayah.


Setelah tangisan putra bungsunya reda. Arvind melepaskan pelukannya. Lalu menatap wajah tampan sang putra.


"Putra Papa sangat jelek sekali jika menangis," goda Arvind. Lalu tangannya menghapus air mata putranya.


Setelah itu, Arvind mencium keningnya. "Terima kasih kamu sudah berjuang untuk keluarga ini. Terima kasih sayang. Papa bangga padamu." Arvind kembali mencium kening putranya. Tapi kali ini disertai ciuman di kedua pipinya.


"Darel sayang," panggil Sandy dan Evita bersamaan.


Darel yang dipanggil pun menolehkan wajahnya melihat Paman dan Bibinya.


"Maafkan Paman, ya."


"Maafkan Bibi juga ya."


"Kami akan tetap tinggal di rumah ini," kata Sandy.


"Aku tidak melarang Paman Sandy dan Bibi Evita jika ingin pulang ke rumah kalian. Tapi aku tidak mau Paman Sandy dan Bibi Evita meninggalkan rumah ini. Paling tidak, hargai jerih payah Kakek yang sudah mengumpulkan uang untuk membangun rumah ini. Kakek membangun rumah ini untuk Papa, Paman Sandy, Paman William, Bibi Evita dan juga untuk cucu-cucunya. Walaupun aku, Papa, Mama dan kakak-kakakku pulang ke rumah kami. Kami akan sering-sering main kesini. Dan kami juga akan tinggal disini selama dua bulan."


Mendengar ucapan dari Darel, mereka tersenyum bahagia dan juga bangga.


"Begini saja. Paman Sandy dan Bibi Evita boleh pulang ke rumah kalian. Dan kalian tinggal disana selama dua bulan. Setelah habis dua bulan, kalian kembali lagi ke rumah utama. Tapi kalian pulangnya jangan secara bersamaan. Kasihan Paman William," kata Darel.


"Jadi maksud Darel, kalau Paman Sandy yang pulang terlebih dahulu. Berarti Bibi Evita harus menunggu kepulangan Paman Sandy ke rumah utama terlebih dahulu. Setelah Paman Sandy kembali. Barulah Bibi Evita yang akan pulang ke rumahnya bersama keluarganya. Begitu?" ucap dan tanya Axel.


"Iya, kak Axel. Kalau seandainya mereka pulang secara bersamaan. Kan kasihan Paman William. Paman William hanya tinggal bersama ketujuh putra-putranya di rumah yang sangat besar ini."


William yang mendengar penuturan Darel hatinya menjadi hangat. Dirinya tersenyum bangga pada keponakan manisnya itu. "Terima kasih Darel sayang."


"Baiklah. Kami setuju!" jawab Sandy, Salma, Daksa dan Evita kompak.


Terukir senyuman manis di bibir Darel. Mereka yang melihat senyuman itu menjadi merasakan kelegaan di hati mereka masing-masing.


"Tetaplah tersenyum seperti itu Rel," batin mereka semua.


Flashback Off


"Mereka semua tersenyum dan juga bahagia saat mengingat momen-momen mereka saat bersama Darel dan anggota keluarga mereka lainnya.


"Semoga kita akan selamanya seperti ini," ucap Dhafin.


"Semoga tidak ada lagi yang mengganggu kebahagiaan keluarga kita," kata Gilang.


"Mulai sekarang kita harus saling menjaga satu sama lainnya," ucap Farraz.


"Ya. Kakak Farraz benar. Kita harus saling menjaga mulai dari sekarang. Baik sesama saudara kandung maupun sesama saudara sepupu," kata Rendra.


"Hm!" Mereka semua mengangguk mantap.


Sandy, Salma, Daksa, Evita dan William tersenyum bahagia melihat kekompakan putra-putra mereka.

__ADS_1


"Papa, Mama. Kalian pasti bahagia diatas sana melihat cucu-cucu kalian yang kompak satu sama lainnya. Kami merindukan kalian," batin Sandy, William dan Evita.


__ADS_2