
Darel terus menatap tajam kearah Mathew dengan kilatan-kilatan kejadian masih berputar-putar di kepalanya. Darel mengingat setiap adegan di jalan raya yang dialami oleh dirinya, ayahnya dan kakeknya.
"Papa, Darel. Sekarang kalian melompatlah keluar."
"Iya, sayang. Apa yang dikatakan Darel benar. Kalau kami melompat keluar, lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan baik-baik saja, Pa!" Arvind menjawabnya. "Darel, sayang. Dengarkan Papa. Melompatlah keluar, Nak! Kamu dan Kakek harus tetap hidup. Apa kamu akan membiarkan mereka menyakiti keluarga kita? Apa kamu akan membiarkan mereka menang? Buktinya sekarang ini mereka sudah berani menyakiti kita dengan membayar orang untuk membunuh kita bertiga." Arvind berusaha meyakinkan putra bungsunya.
"Papa janji. Sekarang kalian berdua melompatlah."
Dan akhirnya dengan keberanian yang dimiliki oleh Antony dan Darel, mereka pun melompat keluar dari dalam mobil.
GEDEBUM!
GEDEBUM!
Tubuh Antony dan Darel terlempar keluar dari dalam mobil. Mereka jatuh di tempat yang berbeda. Sedang mobil yang masih di kendarai oleh Arvind sudah pergi jauh. Dan tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
"Ka-kakek," lirih Darel saat melihat kondisi sang kakek.
Darel berusaha untuk bangkit dan ingin menghampiri sang Kakek. Tapi saat Darel ingin berdiri, Darel melihat seorang pria paruh baya datang menghampiri kakeknya.
"Hallo, Paman Antony. Akhirnya kita bertemu lagi."
"Mathew. Jadi dia orangnya. Suami dari perempuan murahan itu?" Darel menatap tajam kearah Mathew.
"Brengsek!" Mathew menginjak leher Antony dengan sangat kuat. "Pergilah kau ke neraka tua bangka sialan."
Setelah melihat Antony tak bergerak. Mathew tersenyum bahagia melihatnya, lalu Mathew pun pergi meninggalkan Antony yang tergeletak di pinggir jalan. Setelah setengah jam memastikan kepergian Mathew. Darel pun berlari sambil berteriak memanggil sang Kakek.
"Kakeeeekkkk!"
BRUUKK!
Darel jatuh terduduk di hadapan Antony, lalu tangannya mengangkat kepala sang kakek dan meletakkannya di pahanya.
"Kakek... Kakek... Hiks... Kakek... Hiks... Hiks... Bangun Kek."
PUK!
PUK!
Darel menepuk-nepuk pelan pipi Antony berharap sang kakek bangun.
"Ka-kek... Hiks... a... ku... Mohon... Hiks... bangun."
"Da-darel."
"Ka-kek." Darel tersenyum lebar saat melihat mata kakeknya terbuka.
"De.. dengar.. kan.. ka.. kek.. sa.. yang. Kau ha.. rus kuat dan te.. tap hidup. Kau adalah.. sak.. si keja-hatan Mat-hew dan ju.. ga istrinya. Berjanji.. lah.. pada kakek untuk membalaskan se.. mua.. perbuatan me.. reka.." Antony menggenggam kuat tangan Darel.
"Hiks... Baiklah. Aku berjanji pada Kakek untuk membalas perbuatan mereka pada kita... Hiks."
"Terima kasih, sa.. yang." akhirnya Antony kembali menutup matanya. Dan kali ini untuk selamanya.
"Kakeeekkkk... Kakek... Kakek... Hiks... Buka matamu, Kek... Kakek... Aku mohon... Hiks."
"Aaakkkhhhh." Darel merasakan sakit di bagian kepalanya. Detik kemudian kegelapan menghampirinya.
BRUUKK!
FLASBACK OFF
Seketika air mata Darel mengalir membasahi wajah tampannya ketika mengingat detik-detik kejadian kecelakaan tersebut dan berakhir meninggalnya sang kakek.
Melihat Darel yang tiba-tiba menangis. Hal itu sukses membuat para kakaknya menjadi panik dan khawatir. Kini mereka sudah berada di dekatnya.
"Darel. Kamu kenapa, hah?" tanya Vano.
__ADS_1
"Sayang," panggil Adelina lembut.
"Papa... Kakek... Hiks," lirih Darel.
GREP!
Davian memeluk tubuh adik bungsunya itu. Isakkan Darel makin kencang di pelukan sang Kakak.
"Hiks... Hiks... Hiks." Darel terisak, tapi matanya tetap fokus pada Mathew.
"Kenapa Darel menatap wajah Paman Mathew seperti itu?" batin Evan yang melihat tatapan mata adik bungsunya itu.
Mathew berlahan mendekati Darel yang sedang menangis di pelukan Davian.
"Hei, keponakan tampannya Paman. Apa kabar?" tanya Mathew.
Davian melepaskan pelukannya dari sang adik. Dan membiarkan Mathew untuk mendekatinya.
Saat Mathew ingin mendekatinya, Darel tiba-tiba melangkah mundur. Dan hal itu sukses membuat semua yang ada di ruang tengah itu terkejut. Mathew tidak menyerah begitu saja. Dirinya tetap berusaha mendekati Darel karena Darel adalah ladang kekayaannya.
"Hei, jangan takut. Paman tidak akan menyakitimu. Paman ingin sekali memelukmu," ucap Mathew lembut.
Mathew mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Darel. Tapi dengan gesitnya Darel menepis kuat tangan Mathew yang akan menyentuh kepalanya.
"Jangan beraninya kau menyentuhku. Kau bisa membohongi mereka semua. Tapi kau tidak bisa membohongiku. Aku tahu siapa kau!" teriak Darel.
Setelah mengatakan itu, Darel berlari menuju kamarnya di lantai dua.
"Darel," panggil para kakaknya. Mereka pun pergi menyusul Darel.
"Aku minta maaf atas perlakuan putra bungsuku, Mathew." Adelina berbicara sembari meminta maaf.
"Tidak apa-apa, Kak Adelina. Aku maklum kok," jawab Mathew.
"Kalau begitu aku menyusul putraku dulu." Adelina langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju kamar putra bungsunya.
Dirga dan Evan diam-diam memperhatikan mimik wajah Mathew yang terlihat kesal akan penolakan dari Darel. Mereka berdua menaruh curiga akan Mathew.
^^^
Darel saat ini berada di kamarnya. Dan tangannya memegang bingkai foto Ayah dan Kakeknya. Dan jangan lupa air matanya yang terus mengalir. Darel berada di atas tempat tidurnya dan bersandar di kepala tempat tidur.
"Hiks... Hiks... Papa... Kakek... Hiks."
CKLEK!
Pintu di buka oleh Davian. Setelah pintu kamar terbuka, mereka pun masuk ke dalam kamar Darel. Dan dapat mereka lihat, kesayangan mereka yang duduk bersandar di kepala tempat tidur sedang menangis sembari memegang bingkai foto.
"Darel," lirih mereka.
Mereka semua pun menghampiri Darel. Axel, Alvaro, Evan dan Raffa naik ke atas tempat tidur. Adelina duduk di samping putra bungsunya dan yang lainnya duduk masing-masing di pinggir tempat tidur. Mereka semua menatap Darel.
"Sayang. Darel kenapa, hum? Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati Darel ceritakan sama Mama," ucap Adelina lembut sembari tangannya mengelus rambut putra bungsunya itu.
Darel tak menjawab pertanyaan dari ibunya. Tatapan matanya masih fokus menatap foto yang sangat dirindukannya.
"Darel, ayolah. Ada apa?" ucap dan tanya Raffa yang duduk paling dekat dengan Darel. Tangannya menggenggam tangan Darel.
Darel menatap satu persatu wajah orang-orang yang sangat disayanginya.
"Aku mau kalian menjauh dari orang itu. Dan jangan dekat-dekat dengannya," sahut Darel lirih.
"Maksud Darel, Paman Mathew?" tanya Andre.
Darel tidak menjawabnya. Darel kembali menatap foto Ayah dan Kakeknya.
"Aku tidak peduli siapa namanya karena bagiku itu tidak penting. Yang aku inginkan adalah Mama dan Kakak menjauh dari orang itu dan jangan dekat-dekat dengannya apalagi berbicara."
"Tapi, Rel?" ucapan Arga terhenti karena Darel sudah terlebih dahulu memotongnya.
__ADS_1
"Kalau kalian masih dekat-dekat dengan orang itu atau berbicara. Aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan pergi jauh sehingga kalian tidak akan bisa menemukanku," ucap Darel.
DEG!
Mereka semua terkejut akan ucapan Darel. Mereka tak habis pikir Darel akan bicara seperti itu.
"Baiklah, sayang. Mama akan lakukan apa yang Darel minta," jawab Adelina sembari memberi ciuman di kepala putra bungsunya itu.
"Baiklah, Rel. Sama seperti Mama. Kami akan jauh-jauh dengan Paman Mathew dan tidak akan berbicara dengannya," jawab Elvan dan diangguki oleh yang lainnya.
"Apa yang kau sembunyikan, Rel? Kenapa kau tidak menyukai Paman Mathew?" batin para Kakaknya.
"Hiks... Papa... Kakek... Hiks."
Adelina menarik tubuh putra bungsunya ke dalam pelukannya. Dirinya benar-benar tidak sanggup melihat putra bungsunya seperti ini.
"Menangislah. Mama ada disini."
"Hiks... Hiks... Hiks... Aku merindukan Papa. Aku merindukan Papa... Hiks."
Para kakaknya yang mendengar isakan Darel merasakan sesak di dada mereka masing-masing karena bagi mereka, tangisan dan isakan dari Darel itu adalah kelemahan bagi mereka. Raffa makin memperkuat genggaman tangannya di tangan Darel. Sesekali menciumnya. Mereka semua menangis melihat kondisi Darel saat ini.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan sebentar lagi waktu untuk seluruh anggota keluarga Wilson akan makan malam.
Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tengah, kecuali satu orang yaitu Darel. Di ruang tengah itu juga ada Mathew, Agatha dan kelima putra-putranya.
"Kak Adelina," panggil Evita.
"Ya, Evita." Adelina menjawab panggilan dari Evita.
"Darel mana? Biasanya Darel selalu ikut berkumpul dengan kita disini?" tanya Evita.
Lalu para kakak sepupunya melihat sekelilingnya. Dan benar, Darel adik kelinci nakal mereka tidak ada.
"Eh, benar juga kata Bibi Evita. Sikelinci nakal itu tidak ada disini!" seru Dario.
"Darel baik-baik sajakan, Bibi Adelina?" tanya Melvin.
Adelina memberikan senyuman manisnya. "Darel ada di kamarnya. Dan Darel baik-baik saja."
"Kenapa Darel tidak keluar kamar, Bi?" tanya Rendra.
"Darel sengaja tidak keluar dari kamarnya karena disini ada banyak virus. Darel tidak mau kalau sampai dirinya terkena virus-virus itu." Evan menjawab pertanya dari Rendra.
"Brengsek," batin Agatha.
"Kata-kata yang halus. Tapi menyelekit. Arvind! Aku sudah melihat sifat dua putramu. Mereka mirip sepertimu. Bagaimana dengan putramu yang lainnya?" batin Mathew.
"Mathew. Malam ini nginap disini saja. Besok saja kau kembali ke rumahmu," usul William.
"Apa boleh?" Mathew berpura-pura bertanya padahal itu yang diharapkan olehnya.
"Ya, bolehlah. Lagian sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini," jawab William. "Benarkan, Kak Sandy?" tanya William.
"Ya. Itu benar," jawab Sandy.
Diam-diam, Agatha sudah tersenyum bahagia. Dirinya sudah lama menantikan momen-momen ini untuk bersama dengan suami tercintanya, Mathew Wilson. Dan akhirnya keinginannya terkabul.
Mathew menatap wajah Agatha. Dapat dilihat olehnya istrinya itu sangat bahagia.
Beda dengan Adelina dan putra-putranya. Mereka hanya diam. Mereka tidak berani untuk ikut dalam pembicaraan tersebut.
Lalu detik kemudian, mereka dikejutkan dengan suara pelayan.
"Maaf Tuan, Nyonya. Makan malam telah selesai dihidangkan di atas meja."
"Oh. Iya, Bi. Terima kasih," ucap Adelina.
__ADS_1