Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Menangis Histeris


__ADS_3

Mereka semua sudah berada di dalam ruang operasi. Dan tangisan mereka semua pun pecah. Mereka menangis histeris saat melihat tubuh kesayangan mereka terbujur kaku di atas brankar.


"Hiks... Dareell!" teriak mereka, terutama para kakak-kakak kandungnya. Mereka mengerubungi brangkar Darel.


Davian menggenggam tangan adiknya. Mencium kening dan kedua pipinya. "Darel... Hiks... Buka matamu sayang. Ini Kakak. Kak Davian... Hiks."


"Darel, ini Kak Nevan. Apa Darel tidak ingin melihat Kakak, hum? Buka dong matanya sayang." Nevan mencium kedua pipi adiknya dan beralih mencium keningnya.


Ghali, Elvan, Andre dan Arga juga melakukan apa yang dilakukan oleh Davian dan Nevan. Mereka mencium seluruh wajah adik kesayangan mereka itu sambil terus terisak.


"Hiks... Darel... Hiks... Kakak mohon bangunlah dan bukan matamu itu sayang." Ghali terisak.


"Hiks... Darel. Kakak mohon jangan pergi. Kembalilah... Hiks... sayang." Elvan terisak.


"Darel... Hiks... Buka matamu sekarang... Hiks. Darel dengarkan apa yang Kakak katakan, hum?" Andre mencium kening adiknya.


"Hiks... Darel tidak ingin jadi adik yang nakal kan? Sekarang buka matanya dan lihat kami. Kami semua ada disini... Hiks... Bukannya Darel pernah bilang kalau Darel tidak ingin membuat kami menangis. Lihat... kami semua menangis disini. Kami menangis karenamu, Rel! Jadi, Kakak mohon bangunlah dan bukalah matamu itu!" teriak Arga.


Sedangkan yang lain hanya bisa menangis dan menangis. Tangisan mereka makin kencang kala mendengar ucapan-ucapan sayang dari Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga. Hati mereka benar-benar sakit dan hancur, termasuk Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa. Merekalah yang paling hancur. Mereka terus menatap wajah pucat sang adik yang telah tidur dengan damai. Bibir mereka tak henti-hentinya menyebut nama sang adik.


Adelina, sang ibu sudah beberapa kali hampir jatuh. Tubuhnya begitu lemah, tapi dirinya tetap mempertahankan keadaannya. Adelina juga hancur melihat putra bungsunya telah pergi. Pergi meninggalkannya selamanya. Tidak akan ada lagi yang akan berteriak memanggil namanya. Tidak ada lagi yang akan bermanja ria padanya. Dirinya pasti akan sangat merindukan semua sifat putra bungsunya itu.


"AARRGGGHHHH!" Davian berteriak.


"Brengsek! Bajingan itu sudah membunuh Bibi Kayana, Nenek dan Kakek. Dia juga sudah melukai Raffa. Dan sekarang dia merebut adik manisku dari sisiku selamanya. Bajingan itu harus mati. Nyawa dibayar nyawa. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu hidup setelah apa yang dilakukannya pada kedua adikku!"


Davian menatap Raffa yang tampak kacau, lalu kembali menatap wajah pucat adik manisnya itu. Setelah puas menatap wajah pucat adiknya itu, Davian pun pergi meninggalkan ruang operasi dalam keadaan amarah yang membuncah.


Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga juga menatap Raffa, lalu beralih menatap wajah pucat Darel. Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan ruang operasi. Mereka juga ingin menghabisi nyawa orang yang sudah menyakiti kedua adik kesayangan mereka. Bahkan merenggut salah satunya.


Setelah kepergian Davian dan kelima adik-adiknya, tiba-tiba Raffa berteriak histeris.


"Dareeeelll!!"


Mendengar teriakan tiba-tiba Raffa membuat anggota keluarganya khawatir, terutama Adelina.


***


Arvind kini duduk berjongkok di hadapan Mathew. Matanya menatap tajam kearah orang yang sudah membunuh Ibu dan Ayahnya dan juga yang sudah menyakiti kedua putranya.


"Kenapa kau tega membunuh Papaku, Mathew? Apa kesalahannya padamu? Apa karena kematian Paman Ziggy, Papamu kau membalasnya kepada Papaku? Seandainya saja dulu Nenekmu dan Papamu tidak serakah dan tidak mengusir Papaku dari rumahnya. Kau tidak akan kehilangan Papamu, Mathew. Nenek dan Papamu sudah merebut apa yang seharusnya menjadi milik Papaku dan kami anak-anaknya sehingga Papaku tidak mendapatkan apapun." Arvind berucap.


"Kau membalas dendam atas kematian Papamu kepada Papaku yang berstatus Pamanmu sendiri hanya karena Papaku tidak mau menolong Papamu memberikan suntikkan dana ke Perusahaannya. Seharusnya kau sadar, Mathew. Disini ini Nenek dan Papamu yang bersalah. Bukan Papaku. Papamu meninggal karena tamak akan kekayaan dan kekuasaan!" teriak William.


"Hanya karena dendammu kau rela melakukan hal yang sangat menjijikkan, Mathew. Kau menukar putra-putramu dengan putra-putra William. Kau membunuh Kayana dan menyuruh istrimu menikah dengan William." Sandy berbicara sambil menatap tajam Mathew. "Apa yang ada otakmu, Mathew Wilson. Suami-suami di luar sana tidak rela jika istrinya diganggu atau disakiti oleh pria lain, apalagi berdekatan dengan pria yang bukan suaminya. Tapi kau justru menyuruh istrimu menikah lagi. Dan pria yang akan menjadi suami dari istrimu itu adalah adikku, William Wilson!" teriak Sandy.


"Aarrggghhh!" teriak William.


DUAAGGHH!


"Aakkhhhh!"


William menendang dada kiri William dan mengakibatkan tubuh Mathew tersungkur.


Saat Arvind, Sandy, William sedang asyik bermain-main dengan Mathew. Sedangkan Daksa hanya berdiri menyaksikan Wilson bersaudara fokus pada mainannya, tiba-tiba Mereka dikejutkan dengan suara teriakan dari arah ruang tamu.


"Mathew!" teriak Davian.


Arvind, Sandy, William dan Daksa mengalihkan pandangannya melihat ke belakang. Dapat dilihat oleh mereka Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga datang dalam keadaan kacau, mata merah dan sembab serta wajah yang penuh dengan amarah.


Keenamnya tidak mempedulikan keberadaan Arvind, Sandy, William dan Daksa. Yang ada dipikiran mereka saat ini adalah ingin membunuh Mathew.


Davian dan Nevan menarik kasar tubuh Mathew. Ghali dan Elvan melepaskan ikatan pada tubuh Mathew.


Setelah ikatan itu terlepas. Davian menatap kelima adiknya. Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga yang ditatap oleh Davian sangat mengerti. Mereka pun mulai dengan kegiatannya.

__ADS_1


BUGH!


DUAGH!


Davian dan kelima adik-adiknya memberikan pukulan secara bergantian.


"Ini untuk Kakekku!" bentak Nevan.


BUGH!


"Aakkkhhhh!"


Nevan memukul rahang Mathew sangat kuat.


"Ini untuk Nenekku!" bentak Ghali.


BUGH!


"Aaakkkhhhh!"


Ghali memukul kuat tepat ditengah-tengah dadanya Mathew.


"Ini untuk adik bungsuku dan Papaku!" bentak Elvan.


DUAGH!


"Aaakkkkhhhh!"


Elvan menendang kuat perut Mathew, sehingga membuat Mathew memuntahkan darah segar.


"Ini untuk adikku, Raffa!" Andre menginjak perut Andre.


BUGH!


"Aakkkhhh!"


"Ini untuk adik manisku!" bentak Arga.


SREEKK!


"Aakkhhh!" teriak kencang Mathew saat merasakan tengkuknya diinjak kuat oleh Arga.


Elvan kembali menendang perut Mathew sehingga membuat tubuh Mathew menghantam dinding. Dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Ini untuk penghinaan yang diberikan oleh istrimu yang murahan itu kepada Mama dan adik manisku!" bentak Nevan


BUGH!


"Aaakkkkkhhhhhh!" teriakan Mathew yang berkali-kali dikarenakan Nevan menginjak kedua kakinya yang terluka akibat luka tembak secara brutal.


Arga menarik kasar rambut Mathew sehingga membuat Mathew berteriak.


"Aaakkkkhhhhhh!"


"Ini untuk Mamaku yang telah disakiti oleh perempuan sialan itu." Arga melepaskan tangannya dari rambut Mathew lalu memberikan tendangan secara brutal.


DUAGH!


Lagi-lagi Mathew berteriak merasakan sakit dibagian pinggangnya.


"Aaakkkkhhh! Bunuh aku sekarang, brengsek!" teriak Mathew.


Setelah kelima adik-adiknya selesai, barulah Davian beraksi. "Dan ini dariku. Sebelum kau mati, rasakan dulu pukulan dan tendangan dariku."


Nevan dan Ghali memegang kedua tangan Mathew.

__ADS_1


BUGH!


DUAGH!


"Aaakkkkhhh!"


Mathew tersungkur di lantai dengan darah memenuhi sekujur tubuh dan wajahnya.


"Kau sudah membunuh Bibi Kayana, Nenekku dan Kakekku. Kau juga menyakiti adikku, Raffa Wilson. Dan kali ini kau sudah melampaui batas, Mathew Wilson. Kau... Kau telah merenggut nyawa adik bungsuku. Adik yang paling aku sayangi. Adik yang selalu aku jaga dari kecil!" teriak Davian. Davian kembali menangis ketika mengingat kondisi adiknya saat dibawa ke rumah sakit.


DEG!


Arvind, Sandy, William dan Daksa terkejut saat mendengar penuturan dari Davian. Begitu juga dengan Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan.


"Apa? Darel meninggal?" batin Arvind, Sandy, Willam dan Daksa.


BUGH! DUAGH!


BUGH! DUAGH!


"Aakkhhh! Aakkhhh!" teriakan demi teriakan keluar dari mulut Mathew saat merasakan punggung dan pinggangnya dipijak dan juga ditendang kuat oleh Davian.


Saat Davian ingin menendang pinggang Mathew. Arvind menghalanginya dan menarik tubuh putra sulungnya untuk menatap wajahnya.


"Davian. Katakan pada Papa. Apa yang terjadi sama Darel? Kenapa dengan Darel?" tanya Arvind.


Baik Davian maupun adik-adiknya menatap sendu Ayahnya. Mereka menangis.


"Hiks," isak Davian.


"Davian. Katakan pada Papa. Apa yang terjadi sama Darel?!" teriak Arvind sembari menggoyang-goyangkan tubuh putra sulungnya itu.


"Da-darel sudah per-gi meninggalkan kita untuk selamanya... Hiks."


"Apa? Davian, kau..." lirih Arvind.


"Hiks... Darel sudah tidak ada, Pa! Darel sudah tidak bernafas saat dalam perjalanan menuju rumah sakit," jawab Davian dengan berlinang air mata.


"Saat di ruang operasi. Paman Fayyadh mengatakan Darel tidak tertolong," sahut Nevan.


"Tidak... ini tidak mungkin. Darel tidak mungkin pergi meninggalkan kita. Darel putra Papa yang paling kuat." Arvind menangis ketika mengetahui bahwa putra bungsunya telah pergi untuk selamanya. Dan seketika tubuhnya merosot ke lantai yang dingin.


"Hiks... Darel, sayang. Kenapa pergi, Nak!" Arvind berucap lirih. Air matanya pun mengalir membasahi wajah tampannya.


"Darel," lirih Sandy, William dan Daksa.


Arvind menatap nyalang pada Mathew yang tergeletak tak berdaya di lantai lalu kemudian Arvind menghampiri Mathew. Arvind benar-benar ingin membunuh Mathew hari ini juga. Melihat Arvind menghampiri Mathew, Agatha terlebih dahulu menghadangnya. Saat ini posisi Agatha sedang bersimpuh di hadapan Arvind.


"Sudah cukup. Jangan sakiti suamiku lagi. Bawa kami ke kantor polisi saja. Jangan menyiksa suamiku seperti ini. Aku mohon padamu, Kak Arvind."


Arvind menatap tajam wajah Agatha. "Minggir!" bentak Arvind.


"Tidak." Agatha tetap berada di posisinya menghalangi Arvind.


PLAAKK!


"Aaakkkhhh!" Agatha merasakan panas di wajahnya akibat tamparan kuat yang diberikan oleh Arvind.


"Jangan mengalangi pekerjaanku. Bajingan itu harus mati. Dia sudah merebut tiga orang dalam hidupku!" teriak Arvind


"Kalau kau ingin membunuh suamiku. Bunuh aku terlebih dahulu," sahut Agatha dengan nada menantang.


Arvind tersenyum sinis. "Kau ingin aku membunuhmu, hum? Baiklah! Jika itu keinginanmu dengan senang hati aku akan mengabulkannya," jawab Arvind.


Arvind kemudian mengarahkan tangannya pada leher Agatha. Dirinya ingin mencekik leher Agatha.

__ADS_1


Saat tangan Arvind sedikit lagi menyentuh leher Agatha. Tiba-tiba Daksa berteriak.


"Kak Arvind, tunggu!"


__ADS_2