
"Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan pelaku yang sudah menyebabkan kecelakaan tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya?" tanya Arkan kepada tiga tangan kanannya.
"Sudah, Bos!"
Seketika terukir senyuman manis di bibir Arkan ketika mendengar jawaban kompak dari ketiga tangan kanannya itu.
"Siapa mereka? Dari latar belakang keluarga mana?" tanya Arkan.
"Mereka adalah mantan calon rekan kerja tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya, Bos!"
Mendengar jawaban dari salah satu tangan kanannya membuat Arkan seketika tersenyum menyeringai.
"Oh, jadi mereka?"
"Benar, Bos! Mereka marah atas ketidakhadiran tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya dalam pertemuan di cafe itu sehingga mereka membalas ketiganya dengan cara mencelakai ketiganya."
"Dan untuk latar belakang keluarganya. Mereka berasal dari keluarga Jayendra, keluarga Mavendra dan keluarga Sidharta."
"Bagus. Aku senang mendengarnya," ucap Arkan.
Ketika Arkan dan ketiga tangan kanannya sedang membahas pelaku kecelakaan Daffa, Dario dan Aditya. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan dua anggotanya memasuki ruang pribadi Arkan.
"Maaf, Bos!"
"Ya, tidak apa-apa! Ada apa?" tanya Arkan.
"Begini, Bos! Saya mendapatkan informasi bahwa hari ini ketiga mantan rekan kerja tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya akan melakukan aksinya."
"Apa yang akan mereka lakukan? Dan kapan mereka akan melakukannya?"
"Mereka akan datang ke rumah sakit tempat tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya dirawat, lalu mereka akan melakukan sesuatu terhadap ketiganya. Mereka akan melakukannya nanti malam sekitar jam 10 malam."
"Mereka datang bertiga atau membawa anggotanya?"
"Mereka membawa sekitar 20 orang. Kemungkinan mereka akan menculik tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya, Bos!"
"Baiklah. Masalah itu aku akan membicarakan terlebih dahulu kepada Bos Darel."
"Baik, Bos! Kalau begitu saya permisi."
Setelah itu, dua anggotanya itu pergi meninggalkan ruangan pribadinya untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kalian boleh pergi. Tetap pantau terus keadaan sekitarnya."
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, ketiga tangan kanannya langsung pergi meninggalkan Arkan sendirian.
Arkan mengambil ponselnya. Dirinya ingin menghubungi Mikko dan memberitahukan masalah ini.
Ponselnya sudah berada di tangannya, lalu Arkan mencari nama Mikko di kontak telepon miliknya. Setelah mendapatkan nomor kontak Mikko. Arkan pun langsung menghubunginya.
"Hallo, Bos!"
"Hallo, Mikko. Aku sudah mengetahui pelaku yang mencelakai tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya."
__ADS_1
"Benarkah, Bos?"
"Benar, Mikko. Mereka mantan rekan bisnis dari tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya. Mereka marah karena kerjasama itu gagal. Nah! Nanti malam sekitar jam 10 malam mereka akan beraksi kembali dengan membawa sekitar 20 anggotanya."
"Baik, Bos! Saya mengerti. Saya akan membawa sekitar 35 anggota White Eagle."
"Baiklah kalau begitu. Aku tutup teleponnya."
"Silahkan, Bos!"
Tuttt.. Tutt..
Panggilan terputus.
***
Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda. Lana, Dikson dan Suresh sedang mempersiapkan segala perlengkapan untuk mencelakai atau bahkan untuk menculik mantan calon rekan kerjanya itu yang tengah dirawat di rumah sakit.
Perlengkapan dan peralatan yang mereka maksud adalah seperti mobil Van, pakaian kedokteran, alat-alat medis, masker dan lain sebagainya.
"Apa semuanya sudah dipersiapkan untuk nanti malam?"
Lana, Suresh dan Dikson bertanya kepada para anggotanya masingmasing.
"Sudah, Bos!" jawab para anggotanya.
"Bagus."
"Jangan ada ketinggalan."
"Cek lagi."
"Baik, Bos!"
Setelah itu memberikan sedikit penyiksaan. Barulah Dikson, Lana dan Suresh membawa pergi Daffa, Dario dan Aditya dari rumah sakit.
***
Darel duduk di samping ranjangnya Daffa. Sesekali tatapan matanya menatap kearah ranjang Dario dan Aditya.
"Kakak Daffa, kakak Dario, kakak Aditya. Bangun kak. Jangan tidur lama-lama. Apa kakak nggak kasihan lihat kita-kita disini yang nangis lihat kakak tidurnya terlalu lama," ucap Darel.
Mendengar ucapan dari Darel membuat Evan, Raffa, Rendra dan Melvin ikut merasakan kesedihan.
Raffa berdiri dari duduknya lalu mendekati adiknya itu. Setelah itu, Raffa memeluk tubuh adiknya itu dari belakang.
"Kakak Raffa," ucap Darel.
Raffa tersenyum karena adiknya tahu kalau dirinya yang memberikan pelukan.
"Kok tahu ini kakak?" tanya Raffa.
"Dari aroma tubuh kakak. Dan cara meluk kakak," jawab Darel.
Raffa tersenyum. Begitu juga dengan Evan, Rendra dan Melvin.
__ADS_1
"Kak," panggil Darel.
"Bilang sama kakak Daffa untuk segera bangun. Dan bilang juga kalau adik bungsunya begitu merindukannya."
"Kakak Rendra! Kakak Melvin!" panggil Darel.
"Iya, Rel!" jawab Rendra dan Melvin bersamaan.
"Bilangin juga sama kakak Dario dan kakak Aditya untuk segera bangun. Aku juga rindu mereka. Bahkan aku mau minta maaf sama kakak Dario karena sudah marah-marah."
Mendengar ucapan dari Darel membuat Rendra dan Melvin seketika menangis. Keduanya benar-benar bangga memiliki adik sepupu seperti Darel. Yang salah siapa. Yang minta maaf siapa. Itulah yang dipikirkan oleh Rendra dan Melvin.
Cklek..
Pintu ruang rawat dibuka oleh seseorang. Dan setelah itu, masuklah beberapa orang ke dalam ruangan tersebut.
"Papa! Mama!"
"Kakak!"
"Paman! Bibi!"
Rendra, Kresna,Evan dan Raffa menyapa kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya serta kakak-kakaknya. Sedangkan Darel hanya fokus menatap wajah kakak ketujuhnya dan sesekali menatap wajah kedua kakak sepupunya itu.
Adelina berjalan menghampiri putra bungsunya yang saat ini dipeluk dari belakang oleh putra bungsu keduanya.
Adelina bertanya kepada Raffa dengan cara mengode putra bungsu keduanya itu. Raffa yang mengerti langsung menjawabnya.
"Rindu kakak Daffa katanya," jawab Raffa.
Adelina mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah itu, Adelina meletakkan barang yang dia bawa di atas meja di samping tempat tidur putra ketujuhnya itu.
"Hei, putra Mama yang tampan. Mama datang sayang," ucap Adelina dengan memberikan ciuman di kening Daffa.
Adelina beralih ke tempat tidur Dario dan sebelahnya tempat tidur Aditya. Adelina secara bergantian memberikan kecupan di kening kedua keponakannya itu.
"Cepat bangun sayang."
Apa yang dilakukan oleh Adelina. Itu juga yang dilakukan oleh Salma dan Evita. Kedua secara bergantian memberikan ciuman di kening Dario, Aditya dan Daffa bersamaan dengan kata-kata penyemangatnya.
Adelina menghampiri putra bungsunya yang duduk di kursi samping tempat tidur putra ketujuhnya.
"Putra Mama yang tampan ini, oke?" tanya Adelina dengan tangannya mengusap lembut pipi putih putra bungsunya.
"Dari luar, oke! Tapi di dalam nggak oke!"
"Hahahaha."
Adelina seketika tertawa ketika mendengar jawaban putra bungsunya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Kok bisa begitu?" tanya Adelina.
"Ya, bisalah. Secara yang buat aku nggak oke itu adalah kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya. Mereka tidurnya lama banget. Apa mereka marah sama aku karena aku udah marahin mereka?"
"Maksud kamu balas dendam, begitu?"
__ADS_1
"Iya."
Adelina tersenyum gemas mendengar jawaban-jawaban dari putra bungsunya itu. Begitu juga dengan Salma, Evita dan anggota keluarga lainnya.