
[Kediaman Utama Wilson]
Di kediaman Wilson tampak ramai dimana anggota keluarga Wilson bersama keempat belas sahabat-sahabatnya Darel sedang merencanakan untuk membalas perbuatan keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin. Mereka akan berbagi tugas dalam melakukan pembalasan tersebut.
Perlu diingatkan kembali bahwa Sandy, William dan Daksa sudah mendapatkan hak milik perusahaan milik keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin. Hanya saja ketiga keluarga tersebut tidak menyadari hal tersebut.
Sandy, William dan Daksa merebut perusahaan milik keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin bukan hanya milik pribadi dari Xavier Bailey, Richard Dawson dan Stephen Martin. Tetapi Sandy, William dan Daksa juga merebut perusahaan milik adik/kakak mereka. Bahkan termasuk perusahaan milik kakak/adik dari istri-istri mereka.
Arvind dan keenam putra tertuanya merebuk untuk melakukan tugas utama yaitu memberikan pelajaran terhadap Xavier, Stephen dan Richard. Sementara anggota keluarga yang lainnya termasuk keempat belas sahabat-sahabatnya Darel mengurusi yang lainnya.
Setelah mereka membuat rencana, barulah mereka akan memberitahu para tangan kanannya Darel masalah rencana mereka. Begitu juga dengan Davian yang akan memerintahkan anggotanya untuk bergerak bersama Arjuna sebagai pemimpinnya.
Ketika anggota keluarga Wilson dan keempat belas sahabat-sahabatnya Darel sedang merencanakan sebuah pembalasan, tiba-tiba salah satu penjaga datang dengan nafas memburu.
"Maaf tuan Arvind!"
Mendengar seruan seseorang membuat Arvind serta yang lainnya langsung melihat keasal suara. Dapat mereka lihat seorang penjaga yang tengah ngos-ngosan, ditambah lagi wajah yang tampak memar.
"Ada apa?" tanya Arvind.
"Itu tuan. Itu diluar ada yang menyerang. Beberapa penjaga terluka."
Deg..
Arvind serta yang lainnya terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari penjaga tersebut.
"Siapa mereka?" tanya Davian.
Ketika penjaga tersebut hendak menjawab pertanyaan dari majikan mudanya, tiba-tiba terdengar suara beberapa langkah kaki memasuki kediaman Wilson menuju ruang tengah.
"Kami yang datang!" seru ketiga pria paruh baya.
Arvind dan yang lainnya langsung melihat kearah dimana beberapa orang melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Baik Arvind, putra-putranya, anggota keluarganya maupun keempat belas sahabat-sahabatnya Darel terkejut ketika melihat kehadiran tiga keluarga yang sudah meresahkan hidup mereka.
"Eemm... Ternyata mereka sudah memulai permainannya," batin Davian.
"Mereka sudah tidak sabar lagi untuk menguasai semua kekayaan keluarga Wilson," batin Arvind.
Arvind, Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga menatap tajam kearah orang-orang yang berani datang ke kediamannya. Begitu juga dengan Sandy, William, Daksa dan keempat belas sahabat-sahabatnya Darel.
Yah! Yang datang ke kediaman keluarga Wilson adalah Xavier Bailey, Richard Dawson dan Stephen Martin. Mereka datang bersama dengan anggota keluarga mereka masing-masing.
Mereka adalah istri, 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan, 2 adik laki-laki serta 1 adik perempuan beserta suami, istrinya dan anak-anaknya.
Jadi baik Xavier, Stephen maupun memiliki 2 adik laki-laki dan 1 adik perempuan. Kedua adiknya itu memiliki anak masing 2 orang.
Dan mereka datang dengan membawa beberapa anak buahnya sekitar 150 orang lengkap dengan senjata di tangan masing-masing. Serta masing-masing 2 tangan kanannya.
Sementara sebagian anak buah mereka masing-masing berjumlah sekitar 100 orang. Jadi totalnya 300 orang tengah berjaga-jaga diluar.
Arvind dan keenam putra tertuanya seketika langsung berdiri dari duduknya. Dan diikuti oleh ketujuh putranya yang lain, istrinya, adik-adiknya, adik-adik iparnya, keponakannya dan keempat belas sahabat-sahabat putra bungsunya.
Para anak buah dari keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin telah menyebar di sekitar ruang tengah tersebut dan mengepung semua anggota keluarga Wilson dan keempat sahabatnya Darel.
"Kalian sepertinya sudah tidak sabar untuk menguasai kekayaan keluarga Wilson!" seru Nevan tiba-tiba dengan tatapan matanya menatap tajam kearah orang-orang yang berdiri di hadapannya.
Deg..
Xavier, Stephen dan Richard terkejut ketika mendengar ucapan dari putra kedua Arvind. Begitu juga dengan Mika, Marnella, Laudya dan anggota keluarganya yang lain. Mereka tidak menyangka jika keluarga Wilson telah mengetahui niatnya selama ini.
"Gagal mendekatiku karena selalu direcoki oleh adik sepupuku. Sekarang lo datang membawa para kotoran kesini," ucap Steven dengan kejamnya.
Mika mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan pedas yang dilontarkan oleh Steven. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Hahahaha. Dasar payah. Bisanya keroyokan seperti ini. Coba datangnya satu persatu. Belum tentu kalian berani datang kesini dengan penampilan seperti sekarang ini," ejek Marcel.
__ADS_1
Mendengar ucapan demi ucapan serta hinaan dari Nevan, Steven dan Marcel membuat Xavier, Stephen dan Richard marah. Begitu juga anggota keluarganya.
"Nyawa sudah diujung tanduk, tapi kalian masih saja memperlihatkan kekuasaan kalian!" bentak adik laki-laki pertama Richard.
"Apa tidak terbalik, hum? Nyawa kami yang sudah diujung tanduk atau justru kalian yang datang kesini mengantarkan nyawa?" tanya Brian dengan aksen mengejeknya.
Mendengar ucapan serta ejekan dari Brian. Semua anggota keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin melihat kearah Brian dengan tatapan matanya yang tajam.
"Siapa kau?!" bentak Stephen Martin.
"Aku adalah putra ketiga dari Rainart Andrean yang mana kalian semua ingin membunuhnya. Begitu juga terhadap Pamanku yaitu Miguel Andrean." Brian berucap dengan tatapan penuh amarah.
"Dan pria itu adalah ayahku!" bentak Juan Andrean yang tak kalah tajam menatap kearah tiga keluarga tersebut.
Lagi-lagi Xavier, Stephen, dan Richard terkejut ketika mendengar ucapan dari dua sahabat Darel yang mengatakan bahwa mereka akan membunuh empat belas keluarga kaya raya di kota Hamburg. Begitu juga dengan anggota keluarganya.
Xavier, Stephen dan Richard sudah mengetahui tentang para sahabat-sahabatnya Darel. Maka dari itulah kenapa mereka semua menargetkan sahabat-sahabatnya Darel dan anggota keluarganya agar Darel tidak akan lagi ikut campur dalam urusan mereka untuk masuk ke dalam keluarga dan mendekati semua kakak-kakaknya.
"Bagaimana dengan ayah dan Pamanmu sekarang, hum? Pasti mereka sudah tidur dengan tenang di alam baka," ucap Richard.
Mendengar ucapan dari Richard Dawson seketika Brian melihat kearah Juan. Begitu juga dengan Juan. Kemudian keduanya melihat kearah sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya.
Setelah itu, Brian dan Juan kembali melihat kearah ketiga keluarga busuk itu. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya.
"Hahahaha!"
Seketika Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon tertawa keras bersamaan.
"Bukan ayah-ayah kami yang tewas!" seru Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan.
"Justru orang-orang kalianlah yang mati dengan kondisi dan keadaan tubuh yang mengenaskan!" seru Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
"Kalian tidak perlu berpura-pura tidak mengetahui tentang hal itu. Kalian pasti sudah tahu bahwa orang-orang bayaran kalian kalah telak," sahut Kenzo.
"Dan kalian juga sudah tahu kelompok mana yang sudah melindungi keluarga kami," sahut Gavin.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat wajah-wajah tak mengenakkan dari musuh-musuhnya itu.
Detik kemudian..
Prokk..
Prokk..
Prokk..
Xavier, Stephen dan Richard secara bersamaan bertepuk tangan akan kejutan-kejutan yang mereka dengar. Mereka tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarganya.
"Sudah cukup bermain-mainnya ya. Sekarang biarkan kami menginformasikan maksud kedatangan kami kesini," ucap Stephen.
Stephen, Richard dan Xavier berjalan mendekati Arvind, Sandy dan William. Mereka menatap tajam ketiga Wilson bersaudara tersebut.
"Aku lanjut saja, oke! Semua kekayaan keluarga Wilson saat ini sudah menjadi milikku, milik saudara Xavier dan milik saudara Richard."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Stephen membuat Arvind, Sandy dan William terkejut. Di dalam hati mereka masing-masing tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Stephen. Justru mereka percaya jika Darel telah melindungi semua kekayaan mendiang ayahnya.
Arvind, Sandy dan William tidak menunjukkan wajah terkejutnya sama sekali. Justru wajah mereka saat tampak biasa-biasa saja. Begitu juga dengan anggota keluarga Wilson lainnya. Sama halnya dengan apa yang dipikirkan oleh Arvind, Sandy dan William. Davian serta adik-adiknya termasuk adik sepupunya, ibu, Bibi dan Pamannya meyakini bahwa Darel telah melindungi semua aset kekayaan keluarga Wilson sehingga siapa pun tidak bisa menyentuhnya apalagi merebutnya. Mereka masih mengingat kejadian dimana Mathew yang ingin merebut kekayaan keluarga Wilson dan Darel berhasil menyelamatkannya.
"Apa anda yakin jika anda dan antek-antek busuk anda itu telah berhasil merebut kekayaan keluarga Wilson dari tangan putra bungsu saya, hum?" tanya Arvind tersenyum mengejek.
"Tentu. Jika tidak, untuk apa kami datang kesini!" bentak Richard.
"Yah! Bisa saja kalian datang kesini hanya untuk mengantarkan nyawa kalian. Biar tidak ketakutan, kalian berlagak seperti seorang pejahat profesional," jawab Arvind.
"Brengsek!" bentak Richard.
__ADS_1
Bugh..
"Papa!"
"Paman!"
"Sayang!"
Richard seketika langsung memberikan pukulan keras di wajah Arvind sehingga membuat sudut bibir Arvind berdarah.
"Brengsek! Berani sekali kau memukul Papaku!" teriak Nevan.
Nevan hendak menghampiri Richard, lalu terdengar suara senjata secara bersamaan. Senjata-senjata itu mengarah kearah Nevan dan saudara-saudaranya.
Melihat hal tersebut membuat Nevan langsung diam di tempat dengan Ghali dan Elvan yang berusaha menenangkan emosi kakaknya.
"Kalau kau tidak percaya. Lihatlah ini!"
Xavier melempari sebuah berkas ke hadapan Arvind lalu ditangkap oleh Arvind. Kemudian Arvind membuka map tersebut dan membaca isinya. Begitu juga dengan Sandy dan William yang berdiri di sampingnya.
"Bukan itu saja tuan Arvind!" seru Laudya dengan melangkahkan kakinya menghampiri ayah dan kedua teman ayahnya itu dan diikuti oleh Mika dan Marnella.
"Aku berhasil mengambil perusahaan pribadi milik Nevan," sahut Laudya.
"Sementara aku juga berhasil merebut perusahaan pribadi milik Steven," sahut Mika.
"Kalau aku berhasil merebut perusahaan CJ Grup melalui Marcel. Aku tahu kalau perusahaan itu perusahaan bersama. Bukan itu saja, aku juga berhasil merebut rumah mewah serta Apartemen pribadi milik Marcel!" Marnella berucap dengan penuh bangga dan senyuman.
Mendengar ucapan dari Mika, Marnella dan Laudya membuat Nevan, Steven dan Marcel mengepal kuat tangannya dan menatap penuh amarah kearah ketiganya.
"Dasar perempuan murahan!" bentak Nevan, Steven dan Marcel bersamaan.
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Xavier, Stephen dan Richard secara bersamaan memberikan pukulan keras di wajah Nevan, Steven dan Marcel.
"Kalian!" teriak Stephen, Xavier dan Richard bersamaan.
"Ikat mereka semua, kecuali ketiga pria ini!" perintah Xavier sembari menatap kearah Arvind, Sandy dan William bergantian.
Ketika para anak buah dari Xavier, Stephen dan Richard hendak menyentuh anggota keluarga Wilson dan keempat belas sahabat-sahabatnya Darel, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang datang entah dari mana.
Dor.. Dor..
Dor.. Dor..
Dor.. Dor..
Dor.. Dor..
Semua tembakan-tembakan itu tepat sasaran mengetahui kepala dan jantung semua anak buah dari Xavier, Stephen dan Richard sehingga membuat semua anak buahnya itu tewas.
Mendengar suara tembakan dan melihat semua anak buah tewas membuat Xavier, Stephen, dan Richard terkejut dan syok. Begitu juga dengan anggota keluarganya.
Bukan hanya para musuh saja yang terkejut ketika mendengar suara tembakan yang mengakibatkan semua anak buahnya meninggal. Arvind, Sandy, William, anggota keluarga Wilson lainnya dan keempat belas sahabat-sahabatnya Darel juga terkejut.
Keempat belas sahabat-sahabatnya Darel melihat sekelilingnya. Lebih tepatnya mereka melihat ke setiap dinding rumah yang ada di ruang tengah. Mereka hanya ingin mematikan siapa tahu sahabat kelincinya itu memasang sesuatu di dinding-dinding itu. Secara mereka tahu siapa sahabat kelincinya itu sebenarnya, apalagi kalau sudah berurusan dengan teknologi.
Beberapa detik kemudian...
Lucas dan Razig melihat sosok yang mereka kenal berdiri di atas balkon lantai dua. Tepatnya sosok itu baru keluar dari dalam kamarnya Darel.
__ADS_1
Di lantai dua, sosok itu juga melihat kearah Lucas dan Razig. Kemudian sosok itu langsung memberikan kode dengan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
Mendapatkan kode tersebut membuat Lucas dan Razig langsung bersikap seperti semula dan membiarkan sosok tersebut melakukan tugasnya.