
Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan datang dan langsung mengerubungi Darel.
Melvin menarik tubuh Darel ke dalam dekapannya. Lalu tangannya mengusap lembut punggung adik sepupunya itu.
"Hiks.. hiks." Darel terisak di dalam dekapan Melvin.
Mereka yang mendengar isakan dari Darel membuat mereka menjadi tidak tega.
"Darel!" terdengar dua suara yang memanggilnya.
Kedua suara itu adalah Evan dan Raffa, kedua kakak kesayangan Darel.
Evan mengambil alih tubuh adiknya dari dekapan Melvin.
"Ada apa, hum?" tanya Evan.
Darel tidak menjawab pertanyaan dari kakak bantetnya itu. Dirinya masih terisak. Melihat adiknya makin terisak, Evan dan Raffa berusaha menenangkannya.
"Sudah, jangan nangis lagi. Nanti kepala kamu pusing. Dada kamu sesak." kata Evan sembari menghapus air mata adiknya.
"Udah nangisnya ya." ucap Raffa sembari tangannya mengusap lembut rambut adiknya.
"Darel, percayalah pada kami! Kami tidak terlibat dalam kejadian yang menimpa ketujuh sahabat-sahabatmu itu." seru Leo.
"Jika kau mencurigai salah satu dari kami. Orang itu adalah pemilik dari kalung yang kau pakai itu!" ucap Khary.
"Dia yang harus kau curigai karena dia yang paling kejam diantara kami, Darel!" seru Fahri.
Evan, Raffa, Dylan, Rendra, Melvin dan Aldan melihat kearah Khary, Leo dan Fahri.
"Siapa mereka?" tanya Evan pada Rendra.
"Mereka musuh-musuh Darel saat di SMA dulu," jawab Rendra.
"Mereka kuliah disini juga?" tanya Raffa.
"Sepertinya yang kau lihat, Raf! Mereka memang kuliah disini." jawab Dylan.
"Kalau mereka kuliah disini. Kemungkinan akan ada masalah baru yang akan menghampiri Darel. Bertambah lagi musuh Darel." ucap Raffa.
Evan menatap wajah Raffa. "Apa maksudmu, Raf?"
"Dua jam yang lalu, Darel baru saja diganggu oleh kelompok Block B." jawab Raffa.
"Apa? Maksudmu itu kelompok Block B yang diketuai oleh Nardy. Mahasiswa yang tidak pernah menyelesaikan kuliahnya itu. Dan kembali masuk kuliah hanya untuk mencari keributan. Dan sekarang statusnya sama dengan Darel?" tanya Evan.
"Iya." saut Raffa.
"Brengsek. Berani sekali bajingan itu mengganggu Darel. Mereka sama saja dengan kelompok BTOB. Sama-sama pembuat onar." gerutu Evan.
"Yak! Kau ini bodoh atau bagaimana sih, bantet." ucap Raffa sembari menatap horor Evan.
"Kenapa kau bicara seperti padaku, alien busuk? Apa maksudmu?"
"Apa kau lupa kalau kelompok BTOB dan kelompok Block B itu satu kubu. Ketua dari kelompok Block kakak kandung dari ketua dari kelompok BTOB." ucap Evan.
Evan terdiam saat mendengar penuturan dari Raffa. Namun, detik kemudian Evan memperlihatkan cengirannya. Raffa yang melihat itu hanya mendengus kesal.
Setelah itu, Raffa menarik pelan tangan adiknya untuk dibawa ke kantin. Raffa harus memastikan adiknya untuk makan siang karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.
"Ayo, Rel! Kita ke kantin. Kamu harus makan siang."
Kini mereka melangkah menuju kantin untuk makan siang.
^^^
[Kantin]
__ADS_1
Kini mereka sudah berada di kantin. Dan sudah duduk ditempat yang biasa mereka duduki. Kemudian Evan dan Aldan datang membawakan makanan dan minuman pesanan mereka.
"Nah, sekarang makanlah." Evan memberikan makanan kesukaan adik manisnya, lengkap dengan satu kotak susu pisang
"Tapi aku tidak lapar, kak Evan!." ucap Darel pelan.
Mendengar ucapan dari adiknya membuat Raffa dan Evan panik. Mereka tahu sifat adiknya itu. Jika moodnya buruk, maka nafsu makan adiknya juga buruk.
"Tapi kamu harus makan, jika tidak kamu akan lemah nantinya. Dan berarti kamu akan jatuh sakit. Apa kamu mau sakit?" bujuk Raffa.
"Sedikit saja juga tidak apa-apa." EvanĀ juga membantu untuk membujuk adiknya.
Darel menatap wajah kedua kakak kesayangannya itu. Dan dapat dilihat olehnya wajah keduanya tampak memohon agar dirinya mau makan. Darel yang melihatnya merasa bersalah.
"Baiklah. Aku akan makan. Tapi sedikit saja ya." ucap Darel pelan.
Evan dan Raffa tersenyum. Mereka hanya bisa mengangguk dan menurut apa yang diinginkan adiknya. Asal adiknya mau makan, walau hanya sedikit.
"Iya, tidak apa-apa. Asal susu pisangnya dihabiskan," sahut Evan. Darel mengangguk.
Setelah itu, mereka pun memulai makan siangnya dengan tenang.
^^^
[Kelas]
Darel sudah berada dikelasnya. Dan sudah duduk tenang di kursinya. Dirinya tidak mempedulikan keributan dari teman-teman sekelasnya.
Darel saat ini sedang memikirkan perkataan dari Khary, Leo dan Fahri.
FLASBACK ON
"Darel, percayalah pada kami. Kami tidak terlibat dalam kejadian yang menimpa ketujuh sahabat-sahabatmu itu!"
"Jika kau mencurigai salah satu dari kami. Orang itu adalah pemilik dari kalung yang kau pakai itu."
"Dia yang harus kau curigai karena dia yang paling kejam diantara kami, Darel!"
Darel saat ini benar-benar bingung. Apakah dirinya harus mempercayai perkataan dari para musuh-musuhnya itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus percaya pada mereka, jika mereka tidak terlibat dalam kejadian itu? Jika dilihat dari tatapan mata Khary, Leo dan Fahri. mereka sudah berkata yang sebenarnya padaku." batin Darel.
"Lian Jevera. Tunggu saja. Aku pasti bisa menemukanmu. Kau tidak akan bisa berlama-lama bersembunyi dariku." batin Darel.
Disaat Darel sedang memikirkan balas dendamnya pada Lian, tiba ada beberapa orang yang menghampiri tempat duduknya.
"Hai, DL!" sapa Juan.
Darel hanya melirik sekilas wajah kelima pemuda yang sudah duduk mengerubunginya. Setelah itu, Darel kembali menatap ke bawah, lebih tepatnya menatap bukunya.
"Hai, DL. Apa kabar? Sudah lama sekali kau tidak nongol di Game Chinese Ghosh Story?" tanya Razig.
"Oh iya. Kenalkan namaku Lucas. Maaf ya waktu itu. Aku tidak sengaja menabrakmu." ucap Lucas.
"Aku juga mau minta maaf padamu karena waktu itu aku tidak sengaja menabrakmu karena aku sedang buru-buru." ucap Samuel.
Tanpa menatap wajah kelima pemuda yang kini duduk mengerubunginya, Darel menjawab. "Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan. Silahkan pergi. Jangan ganggu aku."
"Tapi kami ingin dekat denganmu secara nyata, DL. Bukan hanya di dunia Game saja!" seru Zelig.
"Iya, DL. Kami ingin bersahabat denganmu," sahut Samuel.
"Sayangnya, aku tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan siapa pun, termasuk kalian."
Darel berbicara dengan wajah dingin, datar dan juga sedikit ketus.
Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig hanya bisa bersabar akan sikap dingin dan juga ketus Darel. Mereka sama sekali tidak marah atau pun tersinggung akan perkataan Darel. Mereka sangat tahu, jika saat ini Darel belum bisa membuka hatinya untuk menerima mereka. Dikarenakan di hati Darel masih tersimpan nama ketujuh sahabat-sahabatnya, lima dari ketujuh sahabatnya itu adalah kakak-kakaknya sendiri.
__ADS_1
Justru Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig bangga akan persahabatan dan kesetiaan Darel terhadap kakak-kakak mereka. Bahkan Darel saat ini tengah berjuang mendapatkan keadilan untuk ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
^^^
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 sore. Semua mahasiswa dan mahasiswi telah keluar dari kelasnya masing-masing, begitu juga dengan kelas Darel.
"Apa kamu langsung pulang atau gimana?" tanya Raffa.
"Sepertinya aku mau pergi ke toko ponsel dulu, kak Raffa." jawab Darel.
"Oh iya. Kamu kan mau beli ponsel baru!" seru Evan
"Kakak ikut ya," ucap Raffa.
"Kakak..." Darel memperlihatkan wajah sendunya.
"Raf," ucap Evan pelan.
Evan tahu, jika adiknya itu ingin pergi sendirian, tanpa ditemani atau diantar oleh siapapun.
"Baiklah. Kakak tidak akan ikut dengan kamu. Tapi kamu hati-hati ya," ucap Raffa.
"Hm." Darel mengangguk.
"Ya, sudah. Kalau begitu aku langsung pergi ya, kak! Jika aku pulang terlambat. Katakan pada Papa, Mama dan kakak-kakak yang lain kalau aku pergi membeli ponsel baru!" seru Darel dengan menatap wajah Raffa, Evan, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan.
Mereka dengan kompak menjawab dengan anggukan kepala. "Baiklah."
Setelah melihat kepergian Darel, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
***
[DI PERJALANAN]
Darel sedang mengendarai motor sport miliknya dengan kecepatan sedang. Darel memang tidak membohongi kedua kakaknya yang mengatakan bahwa dirinya akan pergi ke toko ponsel untuk membeli ponsel baru. Darel memang akan kesana.
Disaat Darel tengah fokus mengendarai motornya, tiba-tiba pandangannya tidak sengaja melihat beberapa orang yang sedang bertarung. Melihat hal itu, Darel langsung menghentikan motornya dan kemudian membuka helmnya.
Darel terus memperhatikan orang-orang yang sedang bertarung itu, dan sehingga kedua matanya membelalak sempurna saat melihat salah satu dari mereka ingin membunuh seorang pria tua yang saat ini sedang tidak berdaya. Tanpa pikir panjang lagi, Darel pun turun dari motornya dan berlari kearah pemuda yang ingin membunuh pria tua tersebut.
DUAGH..
Darel memberikan tendangan kuat di punggung pemuda itu sehingga membuat pemuda itu terhuyung ke depan. Pemuda itu dengan lihai menahan bobot tubuhnya.
Darel melihat kearah pria tua itu. "Paman tidak apa-apa?" tanya Darel.
"Iya, nak. Paman tidak apa-apa." jawab pria tua itu.
Darel membantu pria tua itu berdiri dan langsung menyuruhnya pergi, namun seketika Darel mendengar suara teriakan dari pemuda yang tadi ditendang olehnya.
"Brengsek. Siapa kau? Berani sekali kau mengganggu pekerjaanku." teriak pemuda itu.
DEG..
Tubuh Darel seketika menegang saat mendengar suara itu. Suara yang sangat Darel hafal. Suara yang sangat Darek rindukan.
Darel berlahan membalikkan badannya untuk melihat pemilik dari suara itu. Seketika mata Darel membelalak, tubuhnya yang bergetar, mata yang memerah saat melihat wajah orang yang ada di hadapannya kini.
"Ke-kenzo," lirih Darel.
"Kendrick, ayo buruan! Kita harus pergi dari sini!" teriak seseorang.
"Ya, Gerald. Tunggu sebentar!" teriak Kendrick.
"Ga-gavin," lirih Darel saat melihat kearah pemuda yang berteriak memanggil temannya.
Kendrick menatap tajam kearah Darel. "Hari ini nasibmu beruntung. Tapi lain kali, jika kita bertemu lagi. Mungkin kau tidak akan seberuntung ini. Aku pasti akan membunuhmu."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Kendrick dan Gerald pergi meninggalkan tempat tersebut. Sementara Darel tidak bisa membendung tangisannya.
"Hiks.. hiks.. Kenzo.. Gavin.. hiks.."